Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Gencatan Senjata Fana dan Nama Sang Penenun Takdir
Ketegangan di Lantai 50 perlahan mengendap, menyisakan udara dingin dan bau ozon yang menyengat akibat benturan sihir serta energi antariksa.
Dan Heng menyentuh pelan alat komunikasi di kerah bajunya. Alat kecil seukuran kancing itu memancarkan cahaya biru redup yang langsung menarik perhatian Finn, Loki, dan bahkan Freya. Di mata para penduduk dunia fana, benda tanpa Magic Stone yang bisa memancarkan cahaya adalah sebuah anomali.
"Himeko. Tuan Welt. Kalian bisa mendengarku?" suara Dan Heng memecah keheningan yang tersisa.
Dari komunikator itu, terdengar suara static sesaat sebelum suara seorang wanita yang dewasa dan elegan merespons. Suaranya terdengar sangat jernih, seolah ia berdiri tepat di sebelah Dan Heng.
"Syukurlah komunikasi kita terhubung kembali, Dan Heng. Pelacakan spasial kami sempat terputus oleh semacam gangguan peretasan yang sangat canggih. March bersamamu? Bagaimana dengan... pemuda yang kalian temukan?"
March 7th maju selangkah, menunduk lesu. "Aku di sini, Himeko. Tapi... pemuda abu-abu itu diculik. Ada wanita aneh berambut ungu dan gadis hacker yang tiba-tiba muncul dan membawanya pergi lewat portal."
Hening sejenak dari ujung komunikasi. "Begitu. Pemburu Stellaron rupanya sudah bergerak selangkah lebih maju. Kalau begitu tebakanku benar, ini memang ulah Kafka dan Silver Wolf."
Loki, yang sedari tadi menyimak dengan tangan terlipat, tak bisa menahan diri lagi. Dewi berambut merah itu melangkah maju. "Oi, Nona di dalam kotak suara! Kami di sini baru saja selamat dari kiamat kecil gara-gara anak itu. Aku butuh penjelasan, sekarang. Apa itu 'Stellaron', dan kenapa wanita bernama Kafka itu bisa menidurkan Aiz-ku hanya dengan kata-kata?!"
Terdengar helaan napas pelan dari komunikator. Tiba-tiba, alat di kerah Dan Heng memproyeksikan cahaya hologram kebiruan ke udara kosong, membentuk siluet seorang wanita cantik berambut merah terang yang sedang duduk di kursi berlengan, menyesap secangkir kopi.
Para petualang Orario tersentak mundur. Bahkan Ottar sedikit melebarkan matanya. Sihir proyeksi jarak jauh sejelas ini membutuhkan lingkaran sihir yang sangat besar dan Mind yang masif, tapi benda kecil itu melakukannya tanpa fluktuasi Mana sedikit pun.
Hologram Himeko tersenyum lembut ke arah Loki. "Salam, para Dewa dari dunia fana. Namaku Himeko, Navigator dari Kereta Astral. Dan Heng benar, kita memiliki musuh yang sama saat ini. Jika kalian ingin tahu segalanya... aku mengundang kalian untuk turun ke Lantai 100. Kereta kami cukup besar untuk menjamu kalian semua."
Finn Deimne menatap mata hologram itu, lalu beralih menatap anggota aliansi yang kelelahan. Aiz masih pingsan di punggung Riveria, Tsubaki masih mengatur napas, dan sisa pasukan tidak dalam kondisi prima untuk bertarung.
"Tawaran diterima," ucap Finn tegas, menyarungkan tombaknya. "Tapi kami akan turun dengan syarat. Jika kami menemukan bahwa kalian adalah ancaman bagi Orario... aliansi ini berakhir di detik itu juga."
Hologram Himeko mengangguk anggun. "Tentu. Kami adalah Penjelajah, bukan Penakluk. Dan Heng, March... tolong pandu tamu-tamu kita."
Di Sebuah Dimensi Saku – Lokasi Tidak Diketahui
SRAASH!
Portal piksel terbuka di tengah sebuah ruangan yang terlihat seperti perpustakaan tua bergaya gothic, dipenuhi rak-rak buku menjulang dan jendela kaca patri yang tidak menampilkan apa-apa selain kekosongan ungu di luarnya. Ini bukan bagian dari Dungeon; ini adalah Safehouse digital yang diciptakan oleh Silver Wolf dari ketiadaan, meretas ruang kosong di antara dimensi.
Aku melangkah keluar dari portal, merasakan gravitasi normal kembali memeluk tubuhku. Kakiku mendarat di atas karpet merah tebal.
Tak lama, Kafka muncul, masih menuntun sang Trailblazer yang menatap kosong ke depan. Di belakang mereka, Silver Wolf melompat keluar dari portal dengan papan selancarnya sebelum portal itu menutup rapat di belakangnya.
"Kerja bagus, Anonym," ucap Kafka. Ia menuntun pemuda berambut abu-abu itu ke sebuah sofa kulit yang panjang dan mendudukkannya di sana. Dengan satu jentikan jari Kafka, kelopak mata pemuda itu tertutup, memasuki tidur lelap yang damai. "Kanker Semua Dunia kini ada di tangan kita. Elio pasti akan senang melihat naskahmu berpadu sempurna dengan ramalannya."
Aku meletakkan tas kulitku di atas meja kayu di tengah ruangan, lalu duduk di kursi seberangnya. Tinta di tanganku sudah mulai mengering, menyisakan noda kehitaman di ujung jari-jariku. Aku menatap telapak tanganku sendiri.
Ini gila. Aku benar-benar berada di antara mereka. Karakter-karakter yang dulunya hanya eksis di layar monitor, kini bernapas, berbicara, dan bertarung di depanku—dan akulah yang menulis dialog mereka di dunia ini.
"Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat, Penulis," Silver Wolf menjatuhkan diri di kursi beanbag di sudut ruangan, mengeluarkan konsol portabelnya. Bunyi pew-pew dari game 8-bit mulai terdengar. "Jangan bilang kau kehabisan ide untuk babak selanjutnya?"
Aku menatap gadis hacker itu, lalu beralih menatap Kafka yang kini sedang merapikan sarung tangannya.
"Rencananya sudah ada di kepalaku," jawabku, menyandarkan punggung ke kursi. Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dimensi saku ini memenuhi paru-paruku. "Tapi Kafka... ada satu hal yang ingin kuluruskan."
Mata ungu Kafka beralih padaku. Ia memiringkan kepalanya dengan anggun, menanti. "Oh? Silakan."
"Berhenti memanggilku Anonym," ucapku datar, menatap lurus ke arahnya tanpa gentar. "Di dunia asalku, mungkin aku bukan siapa-siapa. Tapi di dunia ini, di cerita yang sedang kutulis ulang ini... aku punya nama."
Kafka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan ketertarikan misterius. "Sebuah nama adalah jangkar bagi jiwa, Penulis. Apa nama yang ingin kau gunakan untuk mengikat dirimu di dunia fana ini?"
Aku memejamkan mata sesaat. Bayangan kehidupanku sebelum bereinkarnasi sekilas melintas—tugas-tugas sekolah, rutinitas membosankan, dan khayalan di depan layar komputer. Semua itu sudah mati. Kini, aku adalah pemegang pena takdir.
Aku membuka mata, menatap sang Pemburu Stellaron.
"Sato," ujarku mantap. "Sato Aris."
Kafka terdiam sejenak, mengeja nama itu di dalam mulutnya tanpa suara, seolah sedang mencicipi aromanya. Lalu, ia tertawa pelan. Tawa yang merdu namun menyimpan bahaya.
"Sato Aris," ulang Kafka, mengangguk pelan. "Nama yang terdengar manusiawi untuk seseorang yang memegang kekuatan setara dewa pencipta. Baiklah, Aris. Aku akan mengingatnya."
"Cih, nambah-nambahin database memori saja," gerutu Silver Wolf dari sudut ruangan tanpa mengalihkan pandangan dari layar konsolnya. "Jadi, Aris. Apa langkah kita selanjutnya? Mengurung diri di sini sampai kota di atas sana hancur dimakan Fragmentum?"
Aku menggeleng pelan, meraih sebuah perkamen kosong yang baru dari dalam tas.
"Tidak. Cerita yang bagus membutuhkan klimaks yang memuaskan," ucapku sambil memutar pena bulu di jari-jariku. "Saat ini, Aliansi Orario dan Kereta Astral sedang menuju Lantai 100. Mereka akan bertukar informasi, menyadari betapa berbahayanya Fragmentum, dan mencari cara untuk menemukan kita."
"Lalu?" tanya Kafka, berjalan perlahan mendekati meja.
"Lalu... kita akan membiarkan mereka melacak kita," aku tersenyum, senyum seorang penulis yang tahu akhir dari penderitaan karakternya. "Mereka butuh keputusasaan untuk benar-benar bersatu. Kita akan memberikan wadah Stellaron ini sebuah trigger. Saat mereka datang menjemputnya nanti, mereka tidak akan menghadapi bocah kebingungan yang memegang tongkat bisbol."
Mataku beralih ke arah Trailblazer yang tertidur pulas di sofa. Di balik dadanya yang naik turun dengan tenang, kekuatan Destruction yang masif sedang tertidur.
"Kita akan membangunkan Kanker Semua Dunia itu sepenuhnya," bisikku, meresapkan ujung pena ke dalam botol tinta. "Dan membiarkan Orario merasakan, apa artinya melawan sebuah bintang yang sekarat."