Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Ratu Bangkit & Kebenaran Terungkap
Keadaan menjadi semakin mencekam saat Zio tergeletak tak berdaya di atas lantai dingin, napasnya tersengal-sengal hingga akhirnya matanya terpejam rapat dan ia kehilangan kesadaran sepenuhnya. Darah yang menetes dari sudut bibirnya mulai membasahi lantai, membuat hati Ziva terasa dicabik-cabik. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk tetap memainkan perannya. Saat sosok pemimpin utama melangkah mendekat, Ziva segera menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar hebat, dan matanya menatap lantai seolah diliputi ketakutan yang luar biasa.
Pemimpin itu adalah Nicolas, sosok yang selama ini menjadi bayang-bayang terbesar yang lolos dari kejaran Ziva bertahun-tahun lalu. Dengan senyum sinis yang penuh kejam, ia melangkah perlahan mendekati Ziva, mengamati gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ternyata masih ada tikus yang mencoba meloloskan diri dan mengganggu rencanaku," ucap Nicolas dengan suara berat dan menggelegar yang membuat udara di sekitar terasa semakin dingin.
Namun, saat pandangan matanya akhirnya bertemu langsung dengan manik mata Ziva, senyum di bibirnya seketika lenyap. Tatapannya berubah menjadi penuh keterkejutan yang mendalam. Ia melangkah lebih dekat lagi, menatap wajah Ziva seolah tak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Wajahmu... Wajah ini sangat familier," gumam Nicolas pelan, suaranya terdengar kaku. "Kamu mirip sekali dengan wanita brengsek yang dulu menghancurkan separuh kekuatanku di luar negeri. Wanita yang paling aku benci di dunia ini."
Salah satu bawahannya yang berdiri di sampingnya segera tertawa kecil sambil mencoba menenangkan tuannya.
"Tenang saja Bos, itu mustahil. Wanita itu masih jauh di sana, dan bahkan jika dia ada di sini, mana mungkin dia terlihat lemah dan ketakutan seperti ini? Lihat saja, dia gemetar seperti daun tertiup angin. Kalau dia benar Ratu Mafia yang ditakuti itu, dia tidak akan membiarkan dirinya diperlakukan seperti ini," katanya dengan nada meremehkan.
Nicolas mengangguk perlahan, meski rasa curiganya masih belum hilang sepenuhnya. Ia memberi isyarat, dan dua orang bawahannya segera menarik lengan Ziva dengan kasar, menyeretnya hingga berlutut tepat di hadapan pemimpin itu.
Namun, sebelum Nicolas sempat berbicara lagi, suara teriakan dan derap langkah kaki yang sangat cepat terdengar dari segala arah. Suasana seketika berubah lagi. Dari pintu-pintu masuk dan jendela, ratusan sosok berpakaian seragam gelap lengkap dengan perlengkapan tempur canggih tiba-tiba muncul dan mengepung seluruh ruangan. Mereka bergerak dengan disiplin tingkat tinggi, lebih terlatih bahkan dibandingkan pasukan Nicolas sendiri.
Ziva yang melihat kedatangan mereka tertegun sesaat, matanya membelalak penuh kebingungan. "Ini bukan pasukanku... Ini bukan anak buah Gabriel. Organisasi apa ini yang memiliki kekuatan sebesar ini? Dari mana mereka datang tiba-tiba?" batinnya bertanya dalam hati.
Seorang pria berwajah tegas melangkah maju ke depan, mengacungkan senjatanya dengan posisi siap serang.
"Lepaskan Nona Ziva sekarang juga! Jika kalian menurut, kami masih bersedia memberi kesempatan untuk mengampuni nyawa kalian!" teriak pria itu dengan suara lantang dan berwibawa.
Belum sempat Nicolas menjawab, dua sosok lagi melangkah melewati barisan pasukan itu, membuat hati Ziva berdebar kencang karena menyadari siapa mereka.
Di sana berdiri James, ayahnya, dan di sampingnya ada Kevin. Keduanya tidak lagi mengenakan pakaian rapi milik pengusaha kaya. Mereka memakai seragam tempur lengkap yang mirip gaya semi-militer, dipenuhi peralatan canggih, dan aura kekuasaan yang terpancar dari tubuh mereka jauh lebih kuat dibandingkan apa yang pernah dilihat Ziva selama ini.
"Astaga... Benar sekali dugaan hatiku selama ini. Seluruh keluargaku memang menyembunyikan identitas asli mereka," pikir Ziva.
Wajah Kevin memerah menahan amarah yang meluap hingga meledak. Matanya memandang tajam ke arah Nicolas seolah ingin membakarnya hidup-hidup.
"LEPASKAN ADIKKU SEKARANG! Kalau ada goresan sedikit pun di tubuhnya, aku pastikan kalian semua tidak akan keluar dari tempat ini hidup-hidup!" teriak Kevin dengan suara menggelegar yang membuat banyak anggota Cakrawala mundur ketakutan.
Nicolas tertawa getir sambil tetap mencengkeram lengan Ziva erat. "Kalian pikir aku bodoh? Kalau aku lepaskan dia, kalian pasti akan menangkapku dan membunuhku dengan kejam! Aku tidak akan melepaskan tawanan ini sampai aku keluar dari sini dengan selamat!"
James melangkah maju sedikit, suaranya tenang namun membawa bobot kekuasaan yang tidak bisa ditolak siapa pun. "Aku berjanji padamu. Jika kamu serahkan Ziva dengan selamat, aku berikan jalan keluar aman bagimu. Aku tidak akan memburumu untuk saat ini. Percayalah pada kata-kata James Sterling."
Namun, sebelum sempat Nicolas menjawab lagi, suara lembut namun dingin dan penuh wibawa tiba-tiba terdengar dari tengah keributan itu. Semua orang langsung terdiam serentak.
Ziva perlahan berdiri tegak, melepaskan cengkeraman tangan orang yang memegangnya seolah itu hanyalah tali benang biasa. Ia menepuk-nepuk debu yang menempel di celana dan bajunya dengan gerakan santai, seolah baru saja bangun dari tidur panjang, bukan dari situasi penyanderaan.
"Sudahlah... Tidak perlu lagi janji-janji dan tawar-menawar yang tidak berguna ini. Permainan ini sudah cukup lama berlangsung, sekarang waktunya kita akhiri semuanya," ucap Ziva dengan nada santai namun membuat seluruh bulu kuduk orang yang mendengarnya meremang.
Suasana menjadi sunyi senyap. James, Kevin, hingga Nicolas sama-sama menatap gadis itu dengan pandangan tak percaya. Ekspresi ketakutan dan kelemahan yang ada di wajah Ziva tadi hilang seketika, digantikan oleh tatapan tajam, dingin, dan penuh kekuasaan yang sama persis seperti sosok legendaris yang selama ini ditakuti seluruh dunia kriminal.
Wajah Nicolas seketika memucat pucat pasi. Ia melangkah mundur selangkah, matanya terbelalak lebar.
"Kamu... Kamu benar-benar... Bagaimana mungkin kamu ada di sini? Bukankah kamu berada ribuan kilometer jauhnya?!" seru Nicolas dengan suara bergetar karena ketakutan.
"Itu bukan urusanmu. Satu hal yang harus kamu ingat mulai detik ini: aku sudah berada di sini. Dan perintahku hanya satu untukmu—segera menyerahkan diri dan berlutut di hadapanku. Itu satu-satunya jalan agar kau masih bisa bernapas besok pagi," jawab Ziva tegas dan dingin.
Nicolas yang sadar sedang dipermainkan seketika meledak dalam amarahnya. Wajahnya memerah karena marah dan malu.
"Tidak akan pernah ada kata menyerah bagi orang sepertiku! SEMUA ORANG, SERANG MEREKA SEKARANG JUGA!!!" teriak Nicolas sekuat tenaga.
Dalam sekejap, pertempuran meletus di seluruh ruangan. Suara benturan senjata, teriakan, dan suara serangan memenuhi udara. Namun, apa yang dilihat James dan Kevin selanjutnya membuat mata mereka terbelalak kagum dan bangga.
Di tengah keributan itu, Ziva bergerak bak angin yang tak terlihat. Setiap serangan yang datang padanya ia hindari dengan gerakan lincah dan presisi yang luar biasa. Pukulan dan tendangannya terarah tepat pada titik lemah lawan, membuat siapa saja yang berani mendekat langsung terjatuh dalam hitungan detik. Ilmu bela dirinya mengalir begitu alami, cepat, dan mematikan—sesuatu yang tidak mungkin didapatkan hanya dari latihan biasa saja.
James menatap putrinya itu dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikan. Ia menoleh ke arah Kevin yang juga terpesona melihat aksi Ziva.
"Benar kata pepatah, darah lebih kental daripada air. Walaupun dia tumbuh jauh terpisah dari kita, keahlian dan insting bertarung itu adalah warisan asli keluarga Sterling. Tidak peduli seberapa jauh dia pergi, identitas dan kekuatannya akan selalu muncul saat dibutuhkan," gumam James pelan, matanya bersinar bangga melihat sang putri telah tumbuh menjadi sosok yang hebat dan tangguh melebihi ekspektasi siapa pun.