Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zahra Sadar Hidupnya Benar-benar Terjabak
Zahra tidak langsung masuk kamar waktu sampai di rumah. Rafandra sudah naik duluan. Pintu kamarnya menutup dengan bunyi klik yang pelan.
Tapi Zahra masih berdiri di foyer sendirian gaun hitam, kalung emas putih di leher, kepala yang terlalu penuh untuk langsung tidur.
"Sudah lama." Satu kata itu tidak mau pergi.
Dia berjalan ke dapur, menuang air putih, meminumnya berdiri sambil menatap jendela yang dapur gelap. Di luar tidak ada apa-apa hanya bayangan taman yang tidak kelihatan bentuknya. Sama seperti semua jawaban yang dia coba cari malam ini.
.
.
.
Keesokan paginya Zahra sudah ada di meja makan jam 05.50. Kopi di tangan. Punggung tegak. Siap. Enam kurang sepuluh, langkah kaki dari tangga.
Rafandra muncul setelan biru tua, kemeja putih, siap keluar. Dia berhenti waktu melihat Zahra.
"Kamu sudah bangun?"
"Gue nunggu Om." Langsung. Tanpa basa-basi. "Gue mau lanjutin obrolan semalam."
Sesuatu di mata Rafandra bergerak.
"Aku ada meeting jam tujuh."
"Lima menit, Om. Duduk dulu." Rengek seperti anak kecil minta permen.
Rafandra menatapnya beberapa detik. Lalu menarik kursi dan duduk.
Zahra menarik napas. "Om bilang pernikahan ini sudah direncanakan sudah lama." Menatap langsung.
"Lama itu artinya berapa lama? Dan siapa yang merencanakannya?"
Hening. Rafandra meletakkan kedua tangan di atas meja, jari-jari dikaitkan.
"Ayahmu dan ayahku," katanya akhirnya.
"Ayah Om?"
"Almarhum. Meninggal dua belas tahun lalu."
Zahra diam sebentar. "Dan ia yang merencanakan ini?"
"Bukan merencanakan." Rafandra memilih kata-katanya hati-hati. "Lebih ke ada kesepakatan lama antara dua keluarga. Tidak pernah resmi, tidak pernah ditulis. Tapi ada."
"Kesepakatan soal apa?"
"Kerjasama bisnis jangka panjang. Dan ikatan yang lebih dari sekadar bisnis."
Zahra membiarkan kalimat itu mendarat dulu. "Jadi gue sudah di-plot buat jadi istri Om sejak gue kecil?"
Rafandra tidak menjawab. Dan diam itu sudah cukup jadi jawaban.
"Mas tau ini dari kapan?" Suaranya lebih pelan sekarang. Terkontrol.
"Sudah sangat lama."
"Om tau soal gue sebelum semua ini terjadi" Bukan pertanyaan.
"Ya." Satu suku kata. Tapi terasa seperti lantai yang amblas di bawah kaki Zahra.
.
.
.
Zahra naik ke kamarnya setelah Rafandra pergi. Duduk di kursi baca. Buku di pangkuan tapi tidak dibuka. Matanya menatap taman belakang tanpa benar-benar melihat.
'Jadi ini bukan kebetulan.'
Rafandra sudah tahu jauh sebelum Zahra tahu. Setiap kali dia datang ke rumah keluarga Hendra, setiap kali ada di foto-foto lebaran itu...
Dia sudah tahu. Dan Zahra tidak tahu apa-apa. HP bergetar. Menujukkan ada pesn masuk. Sinta.
"Zah, lo kemarin malam—"
"Sin." Zahra memotong. "Gue baru tau sesuatu."
Sinta langsung berhenti. "Apa?"
"Pernikahan gue ini sudah direncanakan sejak lama. Bukan cuma soal bisnis yang bermasalah seperti sekarang. Dan Rafandra tau dari jauh sebelum gue tau."
Hening di seberang.
"Dia tau soal lo... sebelum lo tau soal dia?"
"Iya."
"Zah." Pelan. "Lo baik-baik aja?"
Zahra menatap taman yang rindang di luar jendela.
"Jujur? Gue nggak tau, Sin."
Seharian Zahra tidak keluar kamar kecuali makan siang. Makannya hampir tidak berkurang Mbak Reni tidak berkomentar, hanya tersenyum dan pergi.
Makan malam Zahra sendirian juga. Rafandra kirim pesan jam delapan:
"Ada rapat mendadak. Jangan tunggu."
Zahra menatap pesan itu. Pertama kali Rafandra kirim pesan duluan. Bukan instruksi. Bukan logistik. Hanya supaya Zahra tidak menunggu.
Zahra meletakkan HP dan berbaring di kasur. Tidak mau mikir. Tapi pikirannya tidak mau dengar.
'Rafandra sudah tahu sejak lama. Tapi tidak pernah mendekati, tidak pernah memberi tahu, tidak melakukan apapun sampai situasi memaksanya.'
'Ada Pak Irwan yang mempercepat semuanya.'
'Dan Rafandra bilang alasannya bukan hanya bisnis.'
Potongan-potongan itu ada. Tapi gambaran besarnya masih kabur.
Jam sepuluh malam, ketukan di pintu.
"Masuk."
Rafandra masuk kemeja kantornya sudah dibuka paling atas, terlihat lelah. Di tangannya ada kotak kecil dari kedai kopi yang Zahra suka, yang ada di dekat kantornya.
Dia meletakkannya di meja rias tanpa banyak kata.
"Kamu tidak makan malam dengan benar."
Zahra menatap kotak itu. "Mbak Reni cepuin?"
"Makanan dipiringmu hampir tidak berkurang."
Hening sebentar.
"Aku tahu ini berat." Rafandra menatapnya langsung. "Informasi tadi pagi. Aku tahu itu tidak mudah diproses."
"Berat?" Zahra menemukan suaranya. "Gue baru tau hidup gue sudah diatur sejak gue bahkan belum ngerti artinya diatur, Om. Itu bukan cuma berat. Itu bikin gue ngerasa kayak nggak punya hak atas hidup gue sendiri." Rafandra tidak memalingkan muka.
"Kamu punya hak atas hidupmu."
"Tapi kenyataannya—"
"Kenyataannya kamu ada di sini sekarang." Suaranya tidak naik, tapi ada sesuatu yang lebih serius di baliknya. "Dan apa yang terjadi mulai sekarang itu pilihanmu. Bukan kesepakatan dua orang tua yang sudah tidak ada."
Zahra menatapnya. Matanya mulai panas. Dia tidak mau nangis, bukan di depan Rafandra.
"Kenapa om mau menyetujui kesepakatan itu?" tanyanya. Suara yang dijaga sekuat mungkin. "Om bisa nolak. Om punya posisi, punya kekuatan. Kenapa mau?"
Rafandra diam. Lama sekali. Dan di dalam diam yang panjang itu Zahra melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat di wajah itu bukan ketenangan yang terkontrol. Tapi sesuatu jauh di baliknya. Sesuatu yang terlihat seperti perasaan yang sudah ditahan terlalu lama.
"Karena ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika bisnis," jawabnya akhirnya.
Zahra membuka mulut.
"Aku belum siap menjelaskannya malam ini." Rafandra memotong tegas tapi tidak kasar. "Tapi aku akan jelaskan. Pada waktunya."
Dia berbalik ke pintu.
"Makan." Menunjuk kotak di meja rias. "Istirahat yang cukup."
Pintu menutup.
Zahra membuka kotak itu sendirian. Sandwich dari kedai kopi favoritnya. Rasa yang benar. Ukuran yang biasa dia pesan.
"Dia tahu kesukaan gue." Zahra tidak ingat pernah menyebutkannya. Tapi Rafandra tahu. Duduk di tepi kasur, sandwich di tangan, kamar yang terlalu sunyi di sekelilingnya.
Terjebak iya. Tapi terjebak di dalam sesuatu yang ternyata lebih kompleks dari sekadar penjara. Dindingnya mulai terasa bukan hanya tembok. Di beberapa sudutnya yang aneh dan tidak terduga terasa seperti rumah.
"Dan itu," pikir Zahra, "jauh lebih menakutkan dari apapun."
.
.
.
Author cuma mau bilang kalau hari-hari padat, up-nya paling 1 sampai 2 bab aja sehari. Nah, kalau weekend author usahakan max 4 bab sehari. Kalian jangan bosan-bosan ya. Jangan lupa comment agar author lebih semangat. cmw
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼