Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zamrud
Jumat malam tiba dengan ketegangan yang terasa mencekik.
Di dalam kamarnya yang mewah dan sunyi, Aurora duduk di depan meja rias. Pantulan wajahnya tampak pucat di balik cermin berbingkai emas itu.
Elena, pelayan pribadinya, bekerja dalam keheningan yang ritmis. Jemarinya sibuk menata rambut hitam bergelombang milik Aurora menjadi sanggul yang elegan dan terstruktur.
Aurora memoles riasannya dengan gerakan tangan yang terlatih dan halus. Ia memilih warna mawar lembut untuk bibirnya.
Namun, matanya tidak bisa berbohong. Ada kecemasan yang terpancar di sana.
Setiap beberapa detik, ia melirik ke arah pintu. Ia menunggu pakaian yang bersikeras dipilihkan oleh Lucien. Rasa antisipasi itu terasa seperti lilitan kawat yang semakin mengencang di dadanya.
Ketukan lembut akhirnya bergema di penjuru ruangan.
Dua orang pelayan masuk dengan membawa sebuah tas pakaian dari sutra hitam yang tebal. Mereka meletakkan gaun itu di atas sofa panjang dengan penuh rasa hormat yang hampir menyerupai ketakutan.
Aurora berdiri. Jantungnya berdegup kencang saat ia menarik ritsleting tas itu perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah gaun dari beludru berwarna hijau zamrud gelap. Warna itu tidak sekadar melengkapi kecantikannya, namun seolah menelan sosoknya sepenuhnya.
Potongan gaun itu sangat terstruktur, canggih, dan berani. Siluetnya terlihat tajam dan tegas, mencerminkan intensitas yang dimiliki oleh Lucien sendiri.
"Dia memilihkan ini..." bisik Aurora sambil menyentuh permukaan kainnya.
Sentuhan beludru itu terasa dingin namun mewah di bawah ujung jarinya. Ia bisa merasakan selera Lucien yang penuh perhitungan pada setiap jahitan gaun tersebut.
Gaun ini bukan sekadar pakaian. Ini adalah pernyataan kepemilikan.
Aurora menempelkan kain beludru itu ke kulitnya, lalu melirik ke arah Elena melalui cermin.
"Jujurlah padaku. Apa ini terlalu berlebihan? Apa aku terlihat seperti pajangan perusahaan?"
Elena menghentikan gerakannya yang sedang memasang pin rambut. Matanya membelalak lebar saat memperhatikan gaun itu secara utuh. Ia menarik napas dramatis sambil memegang dadanya sendiri.
"Nyonya, tolong! Anda terlihat seperti dewi. Jika Tuan Valehart melihat Anda memakai ini, dia mungkin akan lupa cara bernapas. Dan itu akan jadi tragedi, karena dialah yang membayar gajiku."
Aurora mengerjap, tawa kecil yang tulus akhirnya lolos dari bibirnya. "Elena!"
"Aku serius!" bisik pelayan itu dengan semangat. "Gaun ini benar-benar bisa mematikan, Nyonya. Siapa pun yang melihat Anda pasti akan langsung bertekuk lutut."
Aurora memutar bola matanya. Sebuah desah pelan keluar saat ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Berhenti bicara begitu," gumamnya. Suaranya diwarnai ironi yang pahit namun sedikit jenaka.
"Dia tidak akan pernah merasa begitu. Dia itu batu yang bisa berjalan, ingat? Tembok es yang dibalut setelan jas mahal."
Aurora meratakan kain beludru itu di atas pinggulnya. Ekspresi wajahnya berubah sedikit cemberut.
"Dia tidak punya 'perasaan' atau 'reaksi'. Yang dia punya hanyalah perhitungan strategis. Aku yakin dia memilih warna ini hanya untuk kepentingan visual di acara nanti, bukan karena dia menganggapku cantik."
"Sudahlah! Ayo kita selesaikan ini," tegas Aurora, mencoba mengibaskan bayangan pria itu dari kepalanya.
Ia kembali fokus pada meja rias, memastikan garis eyeliner-nya terlukis dengan presisi. Elena kembali bekerja, bersenandung pelan sambil menyematkan jepit rambut berkilau terakhir pada tatanan rambut Aurora yang rumit.
Setelah gaun itu benar-benar melekat di tubuhnya, Aurora menatap cermin dan nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.
Ia terlihat kuat, namun sekaligus rapuh. Seperti sebuah mahakarya yang sedang menunggu untuk dipamerkan.
Aurora menarik napas dalam-dalam. Kain beludru itu memeluk kulitnya dengan sempurna saat ia mulai melangkah menuju pintu.
......................
Pintu mahoni yang berat di lobi terbuka perlahan.
Lucien sudah berdiri di sana. Ia tampak seperti perwujudan kekuasaan yang monokromatik dalam balutan tuksedo hitam. Sepasang mata abu-abunya memindai Aurora dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Keheningan membentang, terasa berat dan tebal. Lucien melangkah mendekat, aroma koloninya yang khas mendahului kehadirannya sebelum ia sempat bersuara.
"Persis seperti yang kubayangkan," gumamnya. Suaranya rendah, membawa getaran posesif yang samar.
Ia menyodorkan lengannya, sementara tatapannya tertahan sejenak di bibir Aurora. "Kontrasnya sempurna. Ayo pergi. Majelis sudah menunggu, dan aku benci menjadi orang terakhir yang tiba."
Aurora tidak segera bergerak. Ia menatap lengan yang disodorkan itu dengan senyum kecil yang lelah. Keteraturan sikap pria ini hampir terasa menenangkan karena sifatnya yang begitu kaku dan mudah ditebak.
"Klasik," bisik Aurora dengan nada sinis.
"Selalu saja benci terlambat. Sejujurnya, apa kau punya kosakata lain selain kata perintah dan keluhan soal efisiensi? Kau membosankan."
Ia tidak menyandarkan tubuhnya pada Lucien. Sebaliknya, ia hanya meletakkan tangannya di atas lengan pria itu dengan formalitas yang sangat berjarak. Ia nyaris tidak menyentuhnya.
"Mari kita selesaikan ini."
Ekspresi Lucien tetap datar. Namun, pegangannya pada lengan Aurora mengencang hampir tak kentara saat ia menuntunnya menuju limusin yang sudah menunggu.
"Efisiensi adalah hal yang memastikan kelangsungan hidup. Sebuah konsep yang akan kau hargai setelah laporan triwulanan museummu selesai nanti."
......................
Perjalanan di dalam mobil itu menjadi simfoni keheningan yang berat. Cahaya lampu kota Aurelia memudar menjadi garis-garis emas dan perak di balik jendela.
Begitu kendaraan itu berhenti di depan gedung megah milik Majelis, kilatan kamera langsung menyambar malam.
"Ingat," gumam Lucien sambil membukakan pintu mobil. "Malam ini kau adalah istriku. Bersikaplah selayaknya."
Aurora melepaskan tawa kecil yang terdengar kering. Ia keluar dari mobil dengan keanggunan yang murni miliknya sendiri.
"Aku tahu persis apa yang harus kulakukan, Lucien," bisiknya dengan nada yang menyembunyikan ketajaman.
Ia condong ke arah Lucien, cukup dekat untuk membiarkan aroma parfumnya tertinggal di sana. Aurora memberinya senyuman yang tidak sampai ke mata—sebuah topeng sempurna dari seorang istri yang patuh.
"Aku akan memainkan peran sebagai aksesori yang anggun dan pendiam. Lagipula, kau adalah masternya kalau soal naskah."