NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Lin Ye berjalan setengah berlari memasuki pekarangan rumahnya. Langit sore telah berubah menjadi jingga gelap, dan matahari bersiap untuk benar-benar tenggelam di balik bukit. Rumah kayunya tampak jauh lebih kokoh dengan atap baru yang terpasang rapi, namun Lin Ye tidak punya waktu untuk mengagumi hasil kerja Paman Lu sekarang. Pikirannya sepenuhnya tertuju pada benda ajaib yang ada di dalam pelukannya.

Dia bergegas menuju halaman belakang, langsung menuju ke bibir sumur batu yang baru saja selesai dikuras siang tadi.

Lin Ye meletakkan peti logam itu di atas tanah. Dia membuka penutupnya dan mengambil batu kristal sebesar kepalan tangan yang memancarkan cahaya biru terang. Udara di sekeliling batu itu terasa sangat dingin dan murni, seolah-olah batu itu memadat dari ribuan liter air es pegunungan yang paling bersih.

"Batu Inti Air Murni. Jika deskripsi sistem itu benar, masalah pengairan ladangku akan selesai selamanya hari ini juga," gumam Lin Ye.

Dia mencondongkan tubuhnya ke bibir sumur dan menatap ke bawah. Dasar sumur itu terlihat gelap, namun dia bisa mendengar suara aliran air yang perlahan mulai mengisi dasar sumur dari mata air alami di bawahnya.

Tanpa ragu lagi, Lin Ye melepaskan batu kristal biru itu dari genggamannya.

Wushhh.

Batu itu meluncur jatuh ke dalam kegelapan sumur.

Byur.

Terdengar suara cipratan air yang cukup keras saat batu itu menghantam dasar. Selama beberapa detik, tidak terjadi apa-apa. Lin Ye menahan napasnya, menunggu dengan penuh harap.

Sring.

Tiba-tiba, cahaya biru yang sangat menyilaukan meledak dari dasar sumur, menembakkan sinar terang lurus ke atas hingga menerangi wajah Lin Ye. Bersamaan dengan cahaya itu, terdengar suara gemuruh pelan dari dalam tanah, seolah-olah ada naga air raksasa yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.

Suara aliran air yang tadinya hanya berupa tetesan pelan, kini berubah menjadi suara pusaran air yang sangat deras. Lin Ye bisa melihat dengan jelas bagaimana air di dalam sumur itu naik dengan kecepatan yang tidak wajar. Air yang tadinya berwarna agak gelap karena sisa lumpur, kini berubah menjadi sejernih kristal, memancarkan pendaran cahaya biru muda yang sangat indah.

Permukaan air itu terus naik hingga berhenti tepat dua meter di bawah bibir sumur. Level air itu stabil, tidak meluap keluar, namun juga tidak berkurang sedikit pun meskipun tidak ada aliran masuk yang terlihat dari dinding sumur.

Lin Ye tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia mengambil ember kayu baru yang ditinggalkan oleh tukang bangunan, mengikatkannya ke tali tambang, dan menurunkannya ke dalam sumur. Dia menarik satu ember penuh air yang bercahaya kebiruan itu.

Aroma air itu sangat segar, mengalahkan aroma embun pagi di dataran tinggi. Lin Ye meraup sedikit air itu dengan tangannya dan meminumnya.

"Luar biasa," batin Lin Ye dengan mata terbelalak.

Rasa air itu sangat manis dan menyegarkan. Begitu air itu mengalir di tenggorokannya, rasa lelah di sekujur tubuhnya akibat menarik peti logam yang berat tadi langsung sirna. Air ini memiliki efek pemulihan energi yang hampir setara dengan Mata Air Murni, namun bedanya, sumber air ini sekarang tidak terbatas.

Ting.

Sebuah layar hijau muncul di hadapannya.

"Integrasi Batu Inti Air Murni berhasil."

"Status Sumur Tua berubah menjadi Mata Air Abadi."

"Efek Pasif: Air dari sumur ini dapat digunakan untuk menyiram tanaman sistem guna mempercepat pertumbuhan sebesar dua puluh persen tanpa batas penggunaan harian. Mengonsumsi air ini akan memulihkan sepuluh poin stamina Pengguna per liter."

"Ini adalah investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya," kata Lin Ye sambil tertawa pelan. Dia menatap ke dasar sumur yang kini terlihat jelas berkat cahaya biru dari air tersebut.

Di salah satu sisi dinding sumur, tepat di atas batas permukaan air yang baru, Lin Ye bisa melihat sebuah lempengan batu datar berukuran besar yang diceritakan oleh Lu Kang. Lempengan batu itu memiliki ukiran garis-garis geometris kuno. Di bagian tengahnya, terdapat sebuah lubang kunci kecil yang bentuknya sangat aneh.

"Jadi di sana letak pintunya. Posisinya cukup aman di atas permukaan air," ucap Lin Ye.

Malam mulai turun menyelimuti Desa Qingshui. Suara jangkrik dan katak mulai bersahutan. Lin Ye kembali ke dalam rumah, mengunci semua pintu, dan memakan sisa makanan siang untuk mengganjal perutnya. Setelah makan, dia mulai mempersiapkan peralatan untuk ekspedisi bawah tanah pertamanya.

Dia mengenakan jaket tebal, sepatu bot karet untuk melindungi kakinya dari bebatuan tajam, dan sebuah senter kepala yang dia beli dari toko material di kota kemarin. Dia juga mengikatkan sarung parang kecil di pinggang kirinya, dan tentu saja, dia membawa Cangkul Kayu Besi Hitam peninggalan sistem di tangan kanannya. Di saku jaketnya yang paling aman, dia menyimpan kunci kuningan berukir yang dia dapatkan dari peti logam.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Desa Qingshui sudah terlelap dalam kegelapan.

Lin Ye keluar dari pintu belakang dengan hati-hati. Dia memastikan tidak ada cahaya senter dari arah ladang Zhao He. Setelah memastikan semuanya aman, dia berjalan mendekati sumur.

Dia memeriksa tali tambang tebal yang terikat kuat pada tiang kayu penyangga atap sumur. Tiang itu baru saja diganti oleh Paman Lu hari ini, jadi Lin Ye sangat yakin tiang itu mampu menahan berat badannya.

"Semoga tidak ada ular atau monster mengerikan di bawah sana," batin Lin Ye menyemangati dirinya sendiri.

Dia memanjat bibir sumur, memegang tali tambang dengan kedua tangannya, dan mulai meluncur turun secara perlahan. Dinding sumur terasa dingin dan lembab. Berkat stamina fisiknya yang prima dan efek dari air sumur tadi, Lin Ye tidak menemui kesulitan berarti saat menuruni kedalaman sekitar lima meter tersebut.

Kakinya akhirnya berpijak pada sebuah tonjolan batu yang cukup lebar tepat di depan lempengan batu berukir. Di bawah kakinya, air sumur yang bercahaya biru mengalir dengan tenang.

Lin Ye menyalakan senter kepalanya. Cahaya putih terang menyorot lempengan batu raksasa di depannya. Ukiran geometris pada batu itu terlihat sangat kuno, dipenuhi lumut hijau di beberapa sela-selanya.

Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kunci kuningan berat tersebut. Tangan Lin Ye sedikit gemetar karena gugup dan antusias saat dia memasukkan kunci itu ke dalam lubang yang berada di tengah lempengan batu.

Klak.

Kunci itu masuk dengan sempurna. Lin Ye memutar kunci itu ke arah kanan dengan seluruh tenaganya. Pada awalnya kunci itu terasa macet, namun setelah terdengar bunyi klik yang nyaring dari dalam batu, kunci itu berputar hingga berbunyi keras.

Tanah di sekitar sumur bergetar pelan. Lempengan batu raksasa di depan Lin Ye tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian di tengahnya. Kedua sisi batu itu bergeser masuk ke dalam dinding sumur secara otomatis, mengeluarkan suara gesekan batu yang sangat kasar dan berat.

Kreeek.

Sebuah hembusan angin kering dan dingin langsung menerpa wajah Lin Ye dari dalam lorong yang baru saja terbuka. Bau debu tua, mineral tanah, dan logam berkarat memenuhi indera penciumannya.

Lin Ye mencabut kuncinya kembali dan melangkah masuk ke dalam lorong gelap tersebut. Begitu dia melangkah masuk, kedua sisi batu di belakangnya bergeser kembali dan menutup dengan suara dentuman keras, mengurungnya di dalam kegelapan.

"Bagus. Tidak ada jalan mundur sekarang," gumam Lin Ye.

Cahaya senter kepalanya menyapu sekeliling. Dia berada di sebuah terowongan gua buatan yang cukup lebar, ukurannya cukup untuk dilewati oleh gerobak dorong. Dinding gua tersebut tidak rata, dipenuhi oleh tonjolan-tonjolan batu kristal yang tidak bercahaya. Di lantai gua, terdapat sisa-sisa rel kereta tambang kayu yang sudah lapuk dan hancur dimakan usia.

1
Heri Susanto8246
😄😄 jadi ingat novel nelayan yang tidak pernah mendapatkan ikan saat memancing.
Gege
bukannya ada ruang penyimpanan sistem ya tor.. simpan saja sampe menggunung didalamnya...
Junior Ian
Bgus
Manusia Biasa
keren thor mekanik Sistem nya🤣 benar benar kaya game rpg
Manusia Biasa
jir kirain dapat ikan grade s atau gede🗿
Yui: harus out of the box kak/Smile/
total 1 replies
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Manusia Biasa
jir ada fitu memancing juga asik🤣
Manusia Biasa
wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!