NovelToon NovelToon
SERIBU JARUM EMAS

SERIBU JARUM EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.

Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.

Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.

Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.

Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.

"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."

Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.

Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?

Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: RAHASIA DI BALIK SEGALANYA

Angin dingin masih berhembus kencang menyapu seluruh sisa kehancuran di puncak gunung tempat pertarungan hebat baru saja berakhir. Kabut tebal yang selama ini menyelimuti wilayah Istana Kematian perlahan-lahan menipis dan lenyap sepenuhnya, memperlihatkan langit biru yang jernih dan matahari yang bersinar hangat di atas sana. Namun meski suasana di luar sudah kembali damai dan terang, hati dan pikiran Bai Yue masih terasa gelisah dan penuh rasa cemas yang mendalam. Ia masih duduk bersimpuh di atas tanah yang keras dan penuh batu tajam, tubuhnya yang penuh luka dan darah terasa sangat nyeri dan lelah luar biasa, tapi ia sama sekali tidak peduli pada keadaan dirinya sendiri. Seluruh perhatian dan isi hatinya saat ini hanya tertuju pada sosok pemuda yang terbaring lemas di pangkuannya.

Wajah Mo Fei tampak sangat pucat bagaikan selembar kertas putih, napasnya terdengar sangat lemah, tersengal-sengal dan nyaris tak terdengar seolah nyawanya bisa meninggalkan tubuhnya kapan saja. Di seluruh bagian tubuhnya terlihat bekas luka yang dalam dan parah, darah merah masih terus menetes perlahan membasahi tanah di sekeliling mereka. Meski musuh utama sudah dikalahkan dan bahaya langsung sudah berlalu, namun kenyataannya kondisi Mo Fei justru berada di ambang batas antara hidup dan mati yang sangat berbahaya.

"Mo Fei... Bertahanlah, kumohon padamu," bisik Bai Yue dengan suara yang bergetar dan terputus-putus karena air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya. Tangannya yang gemetar perlahan mengusap pelan wajah pemuda itu, membersihkan noda darah dan debu yang menempel di sana. "Kau sudah berhasil mengalahkannya... Kau sudah menyelesaikan tugas beratmu dan membalaskan dendam semua orang yang gugur. Sekarang saatnya kau beristirahat dan sembuh kembali. Jangan tinggalkan aku sendiri di sini, aku belum sanggup menjalani hidup tanpamu..."

Di saat kesedihan dan keputusasaan itu melanda hatinya sepenuhnya, tiba-tiba terdengar suara samar dan berat memecah keheningan di sekitar tempat itu. Suara itu bukan berasal dari Mo Fei, juga bukan dari makhluk lain yang baru datang, namun terdengar seolah menggema dari udara kosong di hadapannya, tepat saat sisa-sisa energi hitam dari tubuh Kakek Tian Lao yang sedang lenyap perlahan terbawa angin.

"Kau kira dengan mengalahkanku segalanya sudah selesai dan berakhir dengan bahagia? Dasar anak muda yang polos dan bodoh... Kau baru saja mematahkan rantai terkecil, namun seluruh belenggu yang sebenarnya masih kokoh dan kuat menahan dunia ini di tempat yang gelap dan suram."

Suara itu persis sama dengan suara Kakek Tian Lao, namun kali ini terdengar lebih dingin, lebih dalam, dan sarat dengan makna yang tak terbayangkan. Bai Yue terkejut luar biasa, matanya terbelalak lebar menatap ke sekelilingnya, mencari asal suara itu namun tidak terlihat sosok siapapun di sana.

"Selama ini aku hanyalah alat, hanyalah bagian kecil dari rencana raksasa yang sudah disusun dan dijalankan selama ribuan tahun lamanya. Segala yang kulakukan, segala ambisiku, dan bahkan kematianku saat ini pun semuanya sudah diperhitungkan dan diatur sedemikian rupa oleh pihak yang jauh lebih hebat dan berkuasa daripada yang bisa kau bayangkan... Di atas langit yang kau lihat cerah dan damai ini, masih ada langit lain yang jauh lebih tinggi, lebih gelap, dan jauh lebih mengerikan... Dan kekuatan yang dimiliki oleh tuan-tuan sejati di sana berkali-kali lipat lebih dahsyat dan tak tertandingi dibandingkan dengan apa yang pernah kumiliki atau keluarkan seumur hidupku."

Mendengar kata-kata itu, seluruh tubuh Bai Yue terasa membeku dan merinding seketika. Rasa bahagia dan lega yang baru saja muncul di hatinya karena kemenangan yang diraih seketika lenyap sepenuhnya, digantikan oleh rasa kaget, bingung, dan ketakutan yang luar biasa beratnya. Selama ini mereka berpikir bahwa Kakek Tian Lao adalah sumber dari segala kejahatan dan bahaya yang menimpa dunia persilatan. Mereka mengira begitu ia musnah, segalanya akan berakhir dan damai akan kembali selamanya. Tapi kenyataan yang baru saja didengarnya itu benar-benar menghancurkan seluruh pemikiran dan keyakinan yang selama ini mereka miliki.

"Istana Kematian hanyalah pintu gerbang paling bawah dari seluruh struktur kekuasaan yang tersembunyi. Dan aku hanyalah penjaga gerbang yang paling rendahan posisinya... Di tempat tertinggi yang dikenal sebagai Istana Surga Gelap, di sanalah tinggal para penguasa sejati yang mengatur dan menentukan nasib seluruh makhluk hidup di bumi ini. Mereka yang menciptakan aturan, mereka yang membagi kekuatan, dan mereka yang memutuskan siapa yang harus hidup, siapa yang harus mati, serta jalan apa yang harus diambil oleh sejarah dunia ini... Dan sejak lama mereka sudah mengincarmu, anak muda... Karena apa yang kau miliki di dalam tubuh dan darahmu adalah kunci utama yang paling penting untuk menyelesaikan rencana besar mereka yang terakhir dan terbesar..."

Suara itu perlahan makin melemah dan makin samar, seiring dengan sisa energi hitam yang lenyap tak tersisa terbawa angin. Namun kalimat terakhir yang terdengar begitu jelas dan menusuk tepat ke dalam lubuk hati Bai Yue, membuatnya gemetar hebat hingga tulang-tulang di seluruh tubuhnya terasa mau pecah karenanya.

"Jadi bersiaplah... Karena mulai detik ini, matanya sudah tertuju tepat padamu, dan mereka tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang atau membiarkanmu tumbuh semakin kuat di luar kendali mereka... Kau pikir kemenanganmu hari ini adalah akhir dari segalanya? Salah besar... Sebenarnya, baru hari ini perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai... Hahahahaha..."

Tersisa suara tawa panjang yang perlahan menghilang sepenuhnya, meninggalkan keheningan yang berat dan menyesakkan hati di puncak gunung itu. Bai Yue masih terdiam kaku di tempatnya, matanya menatap kosong ke arah langit di atas sana, pikirannya kacau balau dan sulit sekali untuk disusun kembali. Selama ini mereka merasa hebat dan kuat karena mampu mengalahkan musuh yang dianggap paling berbahaya dan terkuat di seluruh dunia, namun kenyataan pahit yang baru saja terungkap ini memberitahukan padanya bahwa kekuatan yang mereka miliki saat ini hanyalah sebutiran debu kecil yang tak berarti apa-apa di hadapan kekuatan yang sebenarnya berkuasa dan mengendalikan segalanya.

"Jadi selama ini kita hanyalah mainan dan bidak catur dalam permainan raksasa yang tidak kita ketahui sama sekali..." bisiknya pelan dengan suara parau dan lemah. Ia menundukkan wajahnya kembali menatap sosok Mo Fei yang masih terbaring tak sadarkan diri di pangkuannya, matanya kembali basah namun kali ini bukan karena rasa sedih semata, melainkan karena rasa takut dan khawatir yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. "Dan kau... Kau yang menjadi sasaran utama dari semua rencana jahat itu... Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mo Fei? Bagaimana caranya kita menghadapi bahaya yang bahkan wujudnya saja belum pernah kita lihat atau ketahui sedikitpun?"

Namun di saat ia merasa bingung dan hampir putus asa sepenuhnya, tiba-tiba terasa sedikit gerakan halus dari tubuh yang dipegangnya erat itu. Mo Fei perlahan membuka matanya sedikit demi sedikit, meski pandangannya masih kabur dan lemah, namun ia bisa melihat dengan jelas wajah gadis di hadapannya yang tampak sangat cemas dan sedih luar biasa. Bibirnya bergerak perlahan seolah mencoba mengucapkan sesuatu meskipun suaranya nyaris tak terdengar sama sekali.

"Jangan... khawatir," bisiknya dengan sisa tenaga yang sangat sedikit. Matanya menatap tajam dan jernih tepat ke dalam mata Bai Yue, seolah ia sudah mengerti dan merasakan segalanya yang baru saja terjadi dan didengar oleh gadis itu. "Aku... masih hidup... Dan selama aku masih bernapas... Aku tidak akan membiarkan siapapun atau kekuatan apapun menyakitimu atau menghancurkan apa yang kita miliki..."

"Mo Fei!" seru Bai Yue terkejut sekaligus gembira luar biasa melihatnya sadar kembali, namun rasa khawatirnya belum sepenuhnya hilang dari hatinya. "Kau dengar kan apa yang dikatakannya tadi? Bahwa di luar sana masih ada kekuatan yang jauh lebih besar dan mengerikan, dan mereka sudah mengincarmu sejak dulu... Bahwa semua yang kita lalui selama ini hanyalah bagian kecil dari rencana mereka yang sangat besar... Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita bahkan belum cukup kuat untuk menghadapi mereka!"

Mendengar pertanyaan itu, Mo Fei mencoba tersenyum tipis meski rasa sakit yang luar biasa masih menyengat di seluruh tubuhnya. Ia menggerakkan tangannya perlahan, mencoba menyentuh tangan Bai Yue yang memegang erat tangannya.

"Aku tahu... Aku sudah merasakan hal itu sejak lama," ucapnya perlahan dan tenang. "Sejak aku mulai belajar ilmu Seribu Jarum Emas dan membuka kemampuan mataku, aku sering merasakan ada tatapan tak terlihat yang selalu mengawasi dan mengikutiku dari jauh. Kadang aku merasa ada kekuatan tak kasat mata yang memengaruhi jalan pikiran dan keputusan orang-orang di sekitarku, seolah semuanya sudah diatur sedemikian rupa menuju satu tujuan tertentu. Dulu aku pikir itu hanya perasaanku saja atau sisa pengaruh energi jahat guruku... Tapi ternyata perasaanku itu benar adanya dan jauh lebih berat dari yang aku sangka."

Ia menarik napas panjang dan berat sebelum melanjutkan ucapannya dengan suara yang makin tegas dan penuh tekad.

"Namun, bukankah hal itu sudah menjadi jalan takdir kita sejak awal? Selama ini kita terus berjuang melawan ketidakadilan dan kejahatan, meskipun lawan yang kita hadapi jauh lebih kuat dan lebih hebat dari kita. Dulu kita berpikir Kakek Tian Lao adalah yang terkuat dan tak terkalahkan, tapi akhirnya kita mampu mengalahkannya dengan kerja keras dan keyakinan kita. Dan kali ini pun, meski musuh kita jauh lebih besar dan lebih menakutkan, aku percaya asalkan kita berjalan bersama, saling mendukung dan percaya satu sama lain... Tidak ada hal yang mustahil atau tak sanggup kita hadapi dan taklukkan, Bai Yue."

"Mo Fei..." Mata Bai Yue kembali berlinang air mata, namun kali ini air matanya adalah air mata rasa haru dan semangat yang kembali bangkit di dalam dadanya. Ia mengangguk kuat-kuat, mencengkeram tangan pemuda itu semakin erat seolah takkan pernah mau melepaskannya lagi seumur hidupnya. "Benar sekali... Selama kita bersama, tidak ada yang tak sanggup kita hadapi dan taklukkan. Ke mana pun kau pergi, apa pun bahaya yang menantang di depan mata, aku akan selalu ada di sampingmu dan bersamamu sampai akhir hayatku."

"Terima kasih... Bai Yue," jawab Mo Fei lembut dan tersenyum tulus melihat kesetiaan dan kasih sayang gadis itu padanya. "Sekarang bantu aku bangun dan pergi dari tempat ini. Tubuhku memang terluka parah dan tenagaku habis sepenuhnya, tapi aku masih sanggup berjalan dan bertahan untuk sementara waktu. Kita tidak boleh berlama-lama berada di sini, karena aku yakin berita kematian Kakek Tian Lao pasti sudah sampai ke telinga mereka yang berada di tempat tinggi itu, dan pasti mereka akan segera mengambil langkah atau tindakan apa pun untuk menghentikan atau mengendalikan kita."

Dengan susah payah dan perlahan, Bai Yue membantu Mo Fei berdiri tegak. Tubuhnya masih goyah dan berat, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk tetap berdiri dan berjalan dengan kekuatannya sendiri. Sebelum meninggalkan tempat itu, Mo Fei menoleh sejenak melihat sisa puing dan reruntuhan Istana Kematian di belakangnya, matanya menatap tajam dan penuh tekad yang baru dan jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"Kakek Tian Lao... Terima kasih atas peringatan terakhirmu itu," bisiknya pelan di dalam hatinya. "Kau benar, bahaya sebenarnya baru saja dimulai dan jalan yang harus kutempuh masih sangat panjang dan penuh duri tajam di depanku. Tapi ketahuilah satu hal... Kau dan mereka yang mengira bisa mengatur hidup dan nasib orang lain sesuka hati... Kali ini kalian salah sasaran. Karena sejak saat ini, aku akan berjuang bukan hanya untuk membalas dendam atau melindungi orang yang kusayangi saja, tapi aku akan berjuang untuk meruntuhkan seluruh sistem, seluruh aturan, dan seluruh kekuasaan gelap yang selama ini menindas dan mempermainkan nyawa jutaan orang di seluruh penjuru dunia ini."

Ia menarik napas panjang seolah mengumpulkan seluruh semangat dan kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya, lalu membalikkan badannya dan berjalan perlahan namun pasti menjauh dari tempat itu bersama Bai Yue di sampingnya, menuju perjalanan baru yang jauh lebih besar dan jauh lebih menantang di masa depan.

"Pergilah... Kita akan mencari tahu segala rahasia yang tersembunyi, memperkuat diri kita sampai ke tingkatan tertinggi, dan suatu hari nanti kita akan menuju ke tempat itu, ke Istana Surga Gelap yang kau sebutkan itu," ucap Mo Fei dengan suara rendah namun tegas dan bergema di hati Bai Yue. "Dan saat hari itu tiba, aku akan membuat kalian semua sadar dan paham... Bahwa manusia yang memiliki hati nurani dan keyakinan yang kuat, jauh lebih hebat dan tak tertandingi dibandingkan makhluk manapun yang memiliki kekuatan besar namun hatinya kosong dan gelap gulita."

Mereka berdua perlahan menghilang di balik semak belukar dan bukit batu, meninggalkan tempat itu yang kini sepenuhnya sunyi dan damai, namun membawa serta beban berat dan tujuan besar yang kini menjadi pegangan hidup mereka berdua di masa depan yang masih panjang dan penuh misteri.

1
anggita
Mo Fei...👌 ikut ng👍like aja, ☝iklan. moga novelnya lancar.
putra ilham: ​"Amin! Terima kasih banyak atas dukungannya dan sudah kasih 'like'. Doa seperti ini sangat berarti buat saya sebagai penulis. Stay tuned terus ya!"
total 1 replies
Fwyz
ih apalah nih judul ngerii amatt, btw ceritanya epick sih, thc thor
putra ilham: ​"Hehe, judulnya memang sengaja dibuat bikin penasaran. Makasih ya sudah bilang epik! Tunggu saja bab-bab selanjutnya, bakal lebih seru lagi!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!