NovelToon NovelToon
Duda Pemuas Hasrat

Duda Pemuas Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Duda / Playboy / Cerai
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.

Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".

Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Munculnya Luka Masa Lalu

Suasana di ruang bermain itu masih panas dan penuh ketegangan yang terpendam, bahkan setelah sapuan kuas terakhir diletakkan di dahi Arlan. Mika datang kembali dengan handuk kecil, menghapus keheningan yang berat namun manis itu.

"Sudah selesai!" seru Ghea, suaranya sedikit bergetar saat dia segera menjauh dari Arlan. Dia berusaha merapikan palet cat airnya dengan gerakan yang cepat, mencoba menutupi wajahnya yang masih kemerahan.

Arlan berdiri, sosoknya yang tinggi terlihat kontras dengan gambar naga biru dan emas di wajahnya yang tampan. Dia melihat Ghea yang kini sibuk membawa tas ranselnya.

"Pak, Mika... saya pamit pulang dulu ya. Sudah hampir jam enam," kata Ghea tanpa berani menatap mata Arlan terlalu lama. Dia kembali memperhatikan noda cat berantakan di ujung kaosnya. "Yah, pakaianku jadi korbannya."

Mika memeluk kaki Ghea erat. "Besok datang lagi ya, Kak Ghea? Jangan sampai telat!"

Ghea mengelus kepala Mika, lalu melirik ke arah Arlan yang masih diam, mengamatinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Iya, Mika. Kak Ghea akan pastikan ban motornya tidak ngambek lagi."

Arlan melangkah mendekat saat Ghea hendak ke pintu. Dia menghalangi jalan Ghea sejenak, membuat gadis itu mendongak.

"Saya antar sampai depan," kata Arlan dengan suara rendah.

Di teras rumah yang mulai redup dengan cahaya lampu taman, Ghea menyalakan mesin motor matiknya yang suaranya masih sedikit serak. Sebelum memakai helm, dia menoleh ke arah Arlan yang bersandar di pilar besar dengan wajah penuh cat air.

"Pak Arlan," panggil Ghea. Dia menyodorkan bibirnya sedikit sambil menunjukkan wajah Arlan. "Jangan lupa cuci wajah. Nanti kalau Bapak tidur dengan wajah naga, bantal mahal Bapak bisa jadi sarang naga."

Arlan terkekeh pelan, terdengar sangat maskulin di keheningan sore itu. "Ghea," panggilnya sebelum gadis itu menurunkan kaca helmnya. "Hati-hati di jalan. Dan... terima kasih untuk 'harta karun' cokelatnya tadi."

Ghea memberikan jempol, lalu memacu motornya keluar dari gerbang mewah itu. Di spion, dia melihat Arlan masih berdiri tegak memerhatikannya sampai dia menghilang di tikungan jalan.

Arlan menyentuh bekas jari Ghea di dagunya yang kini tertutup cat. Ada rasa kehilangan aneh saat aroma vanila itu menjauh. Dia masuk ke dalam rumah dan melihat bayangannya di cermin aula. Dia terlihat konyol dengan coretan warna-warni itu, tetapi untuk pertama kalinya, Arlan Pramudya merasa jauh lebih hidup dibandingkan sebelumnya.

"Gadis kecil yang nakal," gumamnya dengan senyuman yang tak kunjung pudar, mengingat betapa manisnya bibir Ghea yang mengerucut saat mengancamnya tadi.

Arlan berdiri di depan cermin besar di kamar mandinya, masih mengenakan kaos polo yang sedikit kusut. Dia melihat pantulannya—seorang CEO dan arsitek yang biasanya sangat perfeksionis dengan setelan jas mahal, kini malah memiliki coretan naga biru dan emas di pipi dan rahangnya.

Dia menyentuh tepian garis cat yang sudah mulai mengering di dekat sudut bibirnya. Di sanalah tangan Ghea sempat tertahan, meninggalkan rasa hangat yang seolah masih berdetak di bawah kulitnya.

Arlan mengambil napas dalam-dalam, lalu senyum tipis mulai muncul di wajahnya. Itu bukan senyum sukses di bidang bisnis, melainkan senyum seorang pria yang baru saja menemukan kembali sesuatu yang ia kira hilang: cinta untuk merasakan hal-hal kecil yang tampak tidak penting.

"Naga, ya?" bisiknya pelan.

Dia terbayang bagaimana Ghea tadi mengerucutkan bibirnya dengan serius saat menggambar garis di dahi Arlan. Ia menyadari bahwa selama ini hidupnya hanya dipenuhi oleh material seperti beton, baja, dan angka. Namun sore ini, seorang mahasiswi dengan sepeda motor tua telah masuk ke dalam hidupnya dan memberi warna dengan cara yang paling aneh dan paling menggoda yang pernah ia rasakan.

Arlan membuka keran wastafel, mencuci tangannya dengan air hangat. Namun, sebelum ia menghapus lukisan di wajahnya, ia mengambil ponsel dan memotret pantulannya di cermin. Ini adalah sesuatu yang sangat tidak biasa untuk 'Arlan Pramudya' lakukan.

Ia menatap foto itu kembali—wajahnya yang menarik dikelilingi oleh jejak warna-warni. Bagi Arlan, itu bukan hanya cat, melainkan tanda bahwa tembok pertahanan yang ia bangun selama tiga tahun mulai runtuh, dan ia tidak berniat untuk memperbaikinya.

"Besok," ucapnya pada cermin yang mulai berkabut, "kita lihat seberapa jauh kamu dapat menjinakkan naga ini, Ghea."

Ia lalu mulai mengelap wajahnya perlahan, membiarkan air menghapus warna biru itu, tetapi tidak dengan bayangan bibir Ghea yang manis yang terus berputar dalam pikirannya.

Senyuman hangat dalam diri Arlan mendadak membeku saat sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Nama yang sudah lama tersimpan dalam ingatannya muncul: Siska.

Sudah hampir setahun sejak terakhir kali wanita itu menghubungi Arlan, biasanya hanya untuk masalah tunjangan atau memastikan status sosialnya tetap baik di Paris.

Arlan duduk di tepi tempat tidur, handuk masih menggantung di bahunya yang basah. Ia membuka pesan tersebut dengan rahang yang menegang.

"Arlan, aku mendengar dari Bi Ijah bahwa kamu mempekerjakan guru privat baru lagi untuk Mika? Mahasiswi biasa dengan motor tua?

Tolong jangan buat namaku malu dengan membiarkan orang kelas bawah mengajarkan putriku. Mika perlu pendidikan yang baik, bukan teman bermain yang hanya bisa mencoret wajah ayahnya seperti badut. Aku akan kembali ke Jakarta bulan depan untuk urusan bisnis, dan aku harap kamu sudah menemukan pengganti yang lebih... pantas. Jangan sampai aku harus melibatkan pengacara lagi mengenai hak asuh ini."

Arlan menggenggam ponselnya hingga jari-jarinya memucat. Matanya yang tajam menatap setiap kata yang penuh dengan ejekan itu. Kemarahan dingin mulai mengisi dadanya. Siska, yang meninggalkan Mika demi karier fesyen di Eropa, kini berani mengatur cara ia membesarkan putrinya.

Arlan berdiri, menatap pemandangan malam Jakarta yang berkilau namun terasa sepi melalui jendela kaca. Ia teringat tawa Mika sore tadi—tawa yang tidak pernah diberikan Siska selama bertahun-tahun mereka bersama. Ia juga teringat wajah Ghea yang manis, yang berani menantangnya demi kebahagiaan Mika.

Tanpa ragu, jari panjang Arlan mengetik balasan singkat dan tajam, sebuah pesan yang menunjukkan siapa yang memiliki kendali di rumah ini.

"Jangan coba-coba mengawasi rumahku lewat pembantu, Siska. Sang guru menawarkan sesuatu yang tak pernah bisa kamu berikan, yaitu kebahagiaan untuk Mika. Mengenai siapa yang layak tinggal di sini, itu bukan urusanmu lagi. Cukup fokus pada bisnismu di sana. Jangan sekali-kali berani mengancamku tentang hak asuh, atau aku pastikan kamu tidak akan bisa melihat Mika, bahkan dari jauh."

Arlan melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. Nafasnya pendek dan cepat. Namun, di balik kemarahannya, ada satu tekad yang semakin menguat. Ia tidak akan membiarkan siapapun, termasuk mantan istrinya, mengganggu keberadaan Ghea.

Pria itu tersenyum sinis. Siska menganggap Ghea sebagai orang yang 'rendahan', tetapi bagi Arlan, gadis dengan bibir yang sering merengut itu jauh lebih berharga dibandingkan semua harta kosong yang dimiliki Siska. Malam itu, Arlan tidak hanya merasa ingin melindungi Mika, tetapi dia juga menemukan alasan baru untuk bertindak sebagai naga yang sangat berbahaya bagi siapa saja yang mencoba merusak ketenangannya yang baru saja ia raih.

1
Soleh Mekanik
/Smile/
Heriyansah: Masih lanjut kok kak ceritanya, di tunggu ya. Semoga ga kecewa 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!