NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalur Suplai yang Hilang

Aveline tidak diberi waktu untuk menolak. Pintu mobil terbuka, dan sebelum ia sempat melangkah mundur, tangan William sudah lebih dulu menariknya masuk. Gerakannya cepat dan cekatan tanpa emosi berlebih. Seperti menyingkirkan sesuatu yang memang harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Tubuh Aveline terhuyung masuk ke dalam kabin.

Mercedes-Benz W140 S-Class berwarna hitam itu langsung menutup dunia luar begitu pintunya dibanting dari luar. Suara aula, langkah kaki, bahkan udara dingin yang tadi menempel di kulitnya seolah terputus begitu saja. Yang tersisa hanya ruang sempit dengan bau kulit mobil, napas yang belum stabil, dan keheningan yang tidak nyaman.

Aveline langsung bergerak.

Tangannya mendorong bahu William, lututnya mencoba menghantam sisi tubuh pria itu, mencari celah sekecil apapun untuk keluar sebelum mobil benar-benar berjalan.

“Lepaskan aku.”

Tidak ada jawaban.

Mobil mulai bergerak.

Klik.

Suara kecil itu terdengar di antara napas mereka.

Aveline membeku.

Ia menoleh. Pergelangan tangan kirinya sudah terpasang borgol. Rantai pendek itu tidak menggantung bebas karena ujung satunya terikat pada pergelangan tangan William.

Suasana menjadi tegang dan sunyi. Membuat rahangnya mengeras seketika.

“Kau benar-benar kehabisan cara, ya?” Suaranya rendah, tidak lagi berteriak, justru lebih berbahaya karena terlalu tenang.

Ia menarik tangannya sekali dengan kuat. Rantai itu berbunyi nyaring, tapi tidak bergerak sedikit pun.

“Kau pikir ini lucu?” Tarikan kedua lebih kasar. “Atau ini semacam kompensasi karena kau tidak bisa mengendalikan apapun tanpa alat bantu?”

Tidak ada reaksi. Aveline menatapnya tajam cukup lama. Pria itu bahkan tidak mengubah posisi duduknya.

Tawa pendek keluar dari bibirnya.

“Memalukan.”

Ia mendekat sedikit, bukan karena ingin, tetapi karena rantai itu memaksanya.

“Dengar baik-baik,” lanjutnya pelan, suaranya menurun seperti bisikan yang sengaja dibuat menekan. “Aku tidak peduli kau menyeretku ke manapun. Tapi jangan pernah berpikir ini membuatku patuh.”

Ia menarik tangannya lagi, lebih keras, sampai logam itu beradu.

“Aku tidak akan pernah patuh.”

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berubah.

Tidak ada suara selain mesin yang halus dan sesekali pergeseran kecil dari kendaraan di luar. Ajudan duduk di depan tanpa menoleh sedikit pun. Dari kaca, bayangan lampu kota lewat bergantian, membelah wajah Aveline dalam potongan cahaya yang bergerak.

Aveline akhirnya berhenti meronta. Ia tidak berniat untuk membuang-buang tenaga. Sebaliknya, tatapan gadis uty beralih ke luar, memandangi kota era semi-modern yang seharusnya bukan tempatnya sebagai seorang Soren.

Bangunan yang dilewati tidak lagi terlihat seperti kawasan bangsawan. Tidak ada gerbang rumah besar, tidak ada taman yang tertata. Yang muncul justru pagar tinggi, lampu sorot, dan bayangan seragam.

Alisnya terangkat tipis.

“Barak militer.” Bukankah William bilang mereka akan pulang? Apa pria itu berencana untuk memasukkannya ke dalam penjara? Jangan bercanda, tempat itu lebih cocok untuk Lilian yang berperan seakan sebagai korban.

Ia tidak menoleh ke samping. Namun sudut bibirnya bergerak sedikit.

Mobil kemudian melambat.

Gerbang terbuka, dan begitu mereka masuk, suasana berubah total. Prajurit berdiri di posisi masing-masing, langkah mereka teratur, suara sepatu menghantam tanah terdengar serempak namun tidak berisik.

Mobil berhenti, kemudian pintu dibuka dari luar.

Aveline tidak langsung turun. Ia melirik borgol itu sekilas, lalu berdiri tanpa berkata apa-apa.

Tarikan dari rantai itu memaksanya mengikuti langkah William. Beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka.

Bukan karena kehadiran seorang kolonel. Melainkan karena borgol yang menghubungkan mereka.

Ajudan William sudah berdiri di samping, ordonans di belakangnya, dan beberapa prajurit lain menjaga posisi dengan disiplin yang nyaris kaku.

Aveline menyapu mereka semua dengan satu pandangan singkat. Tidak ada yang berani bicara.

Bagus.

Ia melangkah masuk.

Interior barak jauh dari bayangan penjara. Ruangan luas, terang, dengan meja panjang dan peta besar yang menempel di dinding. Beberapa perwira sudah menunggu, wajah mereka tegang, jelas bukan untuk menyambut sesuatu yang ringan.

Langkah William tidak berhenti membuat Aveline ikut terseret di sampingnya, tetapi kali ini ia tidak melawan.

Ia mengamati.

Seorang perwira mendekat dengan cepat, menyerahkan berkas.

“Laporan terbaru, Tuan Kolonel. Jalur suplai sektor barat disabotase sebelum mencapai titik distribusi. Ada indikasi kebocoran internal.”

Aveline menahan langkahnya sedikit, cukup untuk membaca situasi.

Sabotase, suplai, orang dalam.

Ini bukan masalah kecil.

Beberapa nama terdengar disebut dengan cepat. Instruksi diberikan tanpa suara tinggi, tetapi jelas. Prajurit bergerak, seseorang keluar membawa dokumen, yang lain berbalik mengambil peta tambahan.

Tidak ada yang memperhatikan Aveline lagi. Kecuali fakta bahwa ia masih terikat. Ia menunduk sebentar, melihat borgol itu, lalu mengangkat pandangannya lagi.

Jadi dia tidak berniat memasukkanku ke dalam penjara.

Senyum tipis muncul.

Bahkan secara terang-terangan menyeretku ke dalam barak militer. Bukankah itu tidak sesuai aturan?

Ia melirik ke arah William, yang sejak tadi tetap fokus pada perwira-perwiranya, seolah kehadiran Aveline hanyalah detail kecil yang tidak perlu dijelaskan.

Aveline mendekat sedikit, cukup untuk membuat rantai itu bergerak.

“Menarik,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Tatapannya kembali menyapu ruangan.

“Jadi aku dibawa ke tengah masalahmu.”

Ia bersandar ringan, tidak lagi mencoba melepaskan diri. Justru kali ini ia terlihat … lebih tenang.

“Kalau ini caramu menyembunyikanku,” lanjutnya lirih. “Kau salah tempat.”

William tetap tidak menjawab segala ocehannya, dan untuk pertama kalinya sejak ia dipaksa masuk ke mobil ... Aveline berhenti meronta sepenuhnya.

Bukan karena tidak bisa, tetapi karena ia mulai tertarik pada pembahasan para anggota militer tersebut.

William berdiri tanpa terburu-buru di ujung meja, tubuhnya sedikit condong ke depan saat peta besar itu ditarik lebih dekat ke arahnya. Cahaya lampu dari atas memantul di permukaan kertas yang dipenuhi garis, simbol, dan tanda merah yang jelas baru saja ditambahkan. Tangannya tidak diam. Jari telunjuknya bergerak pelan mengikuti satu jalur, berhenti, lalu berpindah lagi, seperti seseorang yang sedang menghubungkan potongan-potongan yang sudah ada di kepalanya.

Rantai pendek yang menghubungkannya dengan Aveline ikut bergerak setiap kali ia bergeser, berbunyi pelan di tengah keheningan yang menekan. Tidak ada yang berani mengomentari itu. Tidak ada yang bahkan berani menatap terlalu lama.

“Lokasi?” tanyanya.

Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat semua yang ada di ruangan itu langsung fokus penuh.

Perwira yang berdiri paling dekat maju setengah langkah. Wajahnya tegang, tapi ia tidak ragu.

“Grimhaven, Tuan Kolonel. Jalur suplai dari pelabuhan terganggu sebelum masuk distribusi darat.”

Nama itu langsung menggantung di udara.

Aveline tidak menoleh, tapi pikirannya langsung menangkap konteksnya. Grimhaven sepertinya bukan sekadar pelabuhan biasa. Bisa jadi itu adalah jalur keluar masuk barang dengan cara kotor. Tempat di mana terlalu banyak orang punya kepentingan dan terlalu sedikit aturan yang benar-benar ditegakkan.

William tidak memberi reaksi berlebihan. Ia hanya menggeser peta sedikit, memperjelas jalur dari pelabuhan menuju dalam kota, lalu berhenti di satu titik yang ditandai lebih tebal dari yang lain.

“Bagian mana yang putus?” tanyanya.

“Dermaga timur,” jawab perwira itu. “Konvoi tidak sampai ke titik pemeriksaan. Saat tim kami tiba, sebagian muatan sudah hilang.”

William diam. Bukan karena ragu, tetapi ia hanya sedang berpikir.

“Hilang,” ulangnya pelan, seolah kata itu sendiri sedang diuji. “Atau dialihkan?”

Perwira itu menarik napas singkat, lalu menjawab, “Dialihkan, Tuan. Tidak ada tanda perusakan besar. Tidak ada kekacauan di lokasi. Semua … terlalu bersih.”

Kata terakhir itu membuat dua perwira lain di sisi meja saling melirik. Bukan reaksi besar, hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk terlihat.

William menangkap itu. Matanya terangkat sedikit, berpindah dari peta ke mereka, lalu kembali lagi.

“Jumlah pengawal?”

“Enam orang. Tiga tewas di lokasi, dua luka berat, satu hilang.”

“Yang hilang,” ulang William. “Nama.”

Perwira itu membuka berkasnya lebih dalam, jarinya bergerak cepat mencari halaman yang dimaksud.

“Prajurit Leren, Tuan.”

Nama itu jatuh begitu saja, tanpa reaksi dramatis. Tapi dari cara beberapa orang di ruangan itu menegang sedikit, jelas nama itu bukan tanpa arti.

William tidak bertanya lebih lanjut. Itu sudah cukup.

Tangannya kembali ke peta. Kali ini bukan hanya mengikuti jalur, tapi benar-benar menandai pola. Dari dermaga, ke jalur utama, lalu ke percabangan distribusi yang lebih kecil.

“Kalau ini terjadi di Grimhaven,” katanya pelan. “Maka masalahnya bukan di jalan.”

Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar semua orang benar-benar menangkap maksudnya.

“Masalahnya di akses.”

Udara di ruangan itu berubah.

Tidak ada suara, tapi ketegangan terasa jelas. Seorang kapten maju satu langkah. “Kemungkinan orang dalam, Tuan Kolonel.”

William tidak langsung menjawab. Ia memiringkan kepala sedikit, menatap peta dari sudut yang berbeda, lalu akhirnya berbicara.

“Bukan kemungkinan.”

Nada suaranya tetap datar.

“Kepastian.”

Tidak ada bantahan.

Aveline berdiri di sampingnya, diam, memperhatikan setiap detail. Cara William memotong kemungkinan. Cara ia tidak membutuhkan diskusi panjang untuk menarik kesimpulan. Cara perwira-perwira itu langsung menyesuaikan diri tanpa perlu diperintah dua kali.

Ini bukan rapat. Melainkan eksekusi.

William menutup berkas itu perlahan, lalu meletakkannya kembali ke meja.

“Grimhaven tidak bisa disentuh tanpa izin,” lanjutnya. “Kalau suplai bisa hilang tanpa jejak, berarti ada yang membuka jalur dari dalam.”

Ia mengangkat tangan, menunjuk jalur keluar dari pelabuhan.

“Tutup distribusi dari dermaga timur.”

Beberapa perwira langsung menoleh. Salah satu dari mereka bahkan sempat membuka mulut, tapi menahannya.

“Tuan, kalau jalur itu ditutup, suplai ke sektor dalam akan—”

“Suplai yang bocor lebih berbahaya daripada suplai yang terlambat.”

Kalimat itu keluar tanpa tekanan. Tapi tidak bisa dibantah.

“Alihkan ke jalur darat melalui Silvercrest,” lanjut William. “Gunakan pengawalan penuh. Ubah jadwal setiap rotasi. Tidak ada pola tetap.”

“Baik, Tuan Kolonel.”

Beberapa orang langsung bergerak. Kursi bergeser pelan. Sepatu menghantam lantai dengan ritme teratur. Seseorang keluar membawa catatan, yang lain mengambil peta tambahan dari dinding.

Rantai di pergelangan tangan Aveline berbunyi lagi saat William berpindah posisi, kali ini mendekat ke sisi lain meja. Ia tidak menarik tangan Aveline, tapi jelas tidak memberinya pilihan selain ikut bergerak.

Aveline tidak melawan.

Ia justru semakin fokus. Matanya mengikuti jalur yang ditunjuk William, lalu berhenti di titik Grimhaven. Pelabuhan. Akses. Distribusi. Polanya mulai terbentuk.

Ini bukan pencurian acak. Apalagi detailnya terlalu rapi.

“Daftar akses,” katanya lagi. “Aku ingin semua nama yang punya wewenang di dermaga timur.”

“Termasuk pihak sipil, Tuan?” tanya salah satu perwira.

“Terutama pihak sipil.”

Jawaban itu membuat beberapa orang langsung menegang lebih jelas. Itu berarti lingkupnya jauh lebih luas dari sekadar militer.

Aveline bersandar ringan di tepi meja. Rantai borgol itu berdering pelan, tapi ia tidak peduli. Tatapannya tetap di peta.

“Benar-benar cara yang rendahan,” gumamnya pelan, seolah sedang mengutuk orang yang sedang berjuang di baliknya.

Ia tidak menoleh, tapi suaranya jelas cukup dekat untuk didengar William.

“Kalau akses dalam sudah bocor, berarti ini bukan hanya soal suplai,” lanjutnya. “Tetapi soal siapa yang pegang kendali jalur.”

Ia mengangkat sedikit dagunya, matanya tetap di peta.

“Dan orang seperti itu tidak akan berhenti di satu konvoi.”

Ruangan itu tetap berjalan. Perintah tetap dieksekusi. Tapi untuk sepersekian detik, ada jeda. William tidak langsung merespons. Namun jari telunjuknya berhenti mengetuk peta.

Jari William berhenti di atas peta.

Tidak ada yang langsung menyadarinya pada detik pertama. Perintah sudah diberikan, orang-orang sudah mulai bergerak, kertas berpindah tangan, langkah sepatu terdengar pelan di lantai. Tapi perlahan, satu per satu, ritme itu melambat. Seolah tanpa disadari, semua kembali menunggu.

Aveline berdiri di sampingnya, tidak lagi memandangi jalur yang ditunjuk. Ia sudah selesai dengan itu. Garis-garis di peta itu tidak lagi penting baginya, yang penting justru siapa saja yang berdiri mengelilinginya.

Matanya bergerak perlahan.

Mayor Darius Veyne berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggung, wajahnya nyaris tidak berubah sejak awal. Tidak terlalu tegang, tidak terlalu santai ataupun terlalu stabil. Sedangkan di sisi lain meja, Kapten Roland Krüger tampak jelas berbeda. Bahunya kaku, rahangnya mengeras sejak laporan tentang korban disebutkan.

Sedikit ke belakang, Letnan Komandan Severin Hale berdiri dengan sikap yang lebih santai, tapi justru karena itu terasa aneh, terlalu tidak terpengaruh untuk situasi seperti ini.

Sementara Kapten Armand Veidt tidak bergerak sama sekali. Ia hanya berdiri dengan berkas di tangan, matanya mengamati, bukan peta—melainkan orang-orang di sekitarnya dan di ujung lain, Mayor Lucan Virel berdiri hampir tanpa suara, posisinya tidak mencolok, tapi cukup dekat untuk mendengar semuanya tanpa harus ikut bicara.

Aveline menarik napas pelan.

Rantai di pergelangan tangannya bergeser saat ia sedikit maju, suara logamnya terdengar jelas di tengah ruangan yang mulai terlalu sunyi.

“Kalau boleh jujur,” ucapnya dengan suaranya rendah tapi tidak ragu. “Yang kalian bahas dari tadi berputar di tempat yang sama.”

Beberapa kepala langsung menoleh. Tidak semua, melainkan para perwira yang benar-benar fokus mengamati kasus tersebut. Sementara Aveline sama sekali tidak menunggu bagaimana reaksi mereka.

“Jalur, jadwal, pengawalan.” Ia mengangkat sedikit dagunya, menunjuk peta tanpa benar-benar menyentuhnya. “Seolah-olah masalahnya ada di luar sistem.”

Ia berhenti sebentar.

“Padahal dari awal jawabannya sudah jelas.”

Tidak ada yang menyela ataupun memotong ucapannya, karena itu suasana terasa semakin berat.

“Konvoi tidak diserang secara terbuka. Tidak ada kerusakan besar ataupun kekacauan di lokasi.” Ia berbicara pelan, tapi setiap kata terasa tepat. “Jadi dengan kata lain barangnya tidak hilang, melainkan dipindahkan.”

Severin Hale sedikit menggeser posisi. Gerakannya kecil, tapi tidak luput.

Aveline melanjutkan.

“Dan sesuatu yang dipindahkan dengan rapi seperti itu, tidak terjadi karena kebetulan.”

Ia menoleh perlahan, kali ini benar-benar melihat satu per satu wajah di ruangan itu.

“Jadi kita berhenti berpura-pura saja.”

Suasana mendadak terasa sunyi. Bukan sunyi kosong, tapi sunyi yang penuh dan menekan, seolah semua orang tahu apa yang akan ia katakan berikutnya.

“Hanya ada dua kemungkinan,” lanjut Aveline. “Seseorang gagal menjalankan tugasnya .…”

Ia berhenti. Lalu menambahkan dengan nada yang sama datarnya.

“Atau seseorang memang sengaja membiarkan itu terjadi.”

Kalimat itu jatuh tepat di tengah ruangan.

Roland Krüger langsung mengangkat kepalanya. “Cukup,” potongnya, suaranya lebih tajam dari sebelumnya. Ia melangkah maju satu langkah, sepatu botnya terdengar jelas. “Itu sudah bukan analisis.”

Aveline menoleh padanya tanpa terburu-buru.

“Lalu apa?” tanyanya ringan.

Roland menatapnya lurus. “Tuduhan.”

Aveline diam satu detik, lalu mengangguk kecil, seolah mempertimbangkan kata itu.

“Kalau aku menuduh, maka aku akan menyebut nama,” jawabnya dengan suara pelan.

Ia melangkah sedikit mendekat. Rantai itu berbunyi lagi.

“Ini belum sampai sana.”

Roland mengeraskan rahangnya. “Kau tidak berada di lokasi. Kau tidak melihat apa yang terjadi!”

Aveline menatapnya beberapa detik lebih lama kali ini. Tidak menantang, tapi juga tidak mundur.

“Aku tidak perlu berada di sana untuk melihat polanya,” katanya.

Ia mengalihkan pandangannya kembali ke peta.

“Enam pengawal,” lanjutnya. “Tiga mati. Dua terluka dan satu menghilang.” Ia mengulangnya tanpa melihat berkas. “Kalau ini serangan biasa, hasilnya tidak akan sebersih itu.”

Tidak ada yang menjawab.

“Kalau ini perampokan, tidak akan ada korban sebanyak itu,” tambahnya.

Ia berhenti.

“Jadi ini bukan keduanya.”

“Lalu menurutmu ini apa?” Kapten Armand Veidt akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar tenang, hampir datar. Membuat Aveline menoleh padanya.

“Operasi dalam,” jawabnya singkat.

Kata itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat udara berubah lagi. Severin Hale menghela napas pendek, kali ini terdengar. “Itu berarti ada akses dari dalam,” katanya.

Aveline mengangguk pelan. “Ya.”

Lalu matanya kembali menyapu ruangan.

“Dan akses seperti itu tidak dimiliki sembarang orang,” lanjutnya dengan suara turun, namun tajam.

Apakah dia perlu menunjuk siapapun di sini?

Tidak perlu. Semua yang ada di ruangan itu tahu siapa saja yang punya akses seperti itu.

Roland tidak bergerak mundur. Ia tetap berdiri di tempatnya, tapi jelas tidak menerima arah pembicaraan itu.

“Ini wilayah militer,” katanya, dengan nada suara rendah dari sebelumnya, tapi jauh lebih berat. “Kita tidak perlu melempar kecurigaan tanpa bukti.”

Aveline mengangkat alis tipis.

“Kalau tidak ada yang merasa bersalah, seharusnya tidak ada yang terganggu.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi langsung mengenai intinya membuat Roland terdiam satu detik terlalu lama.

William akhirnya bergerak. Bukan untuk meredakan perdebatan kecil itu, melainkan ia hanya menggeser peta sedikit, jarinya kembali menandai satu jalur.

“Persempit daftar akses,” ucapnya datar, seolah semua yang baru saja terjadi tidak mengubah apapun. “Hanya yang punya otoritas langsung terhadap dermaga timur dan distribusi darat.”

Semuanya fokus mendengarkan.

“Bandingkan dengan jadwal konvoi,” lanjutnya. “Saring sampai hanya tinggal satu nama yang paling mencurigakan. Aku ingin hasilnya sebelum malam.”

“Baik, Tuan Kolonel,” jawab beberapa orang hampir bersamaan.

Perintah langsung dijalankan. Kursi bergeser, kertas diambil disertai derap langkah kaki yang mulai bergerak menjauh.

Tapi suasana tidak kembali seperti sebelumnya. Tidak ada kata santai seperti sebelumnya.

Aveline tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di samping meja, rantai di pergelangan tangannya diam sekarang.

Matanya tidak lagi ke peta, melainkan ke arah orang-orang yang tanpa sadar mulai menjaga diri mereka masing-masing.

.

.

.

Bersambung

1
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!