NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Pasien Mencurigakan

Setelah tiga hari libur, hari senin klinik Aditya Medika kembali buka, tapi telat sedikit, jam 12 siang.

Bapak-bapak, ibu-ibu sudah antre panjang dari tadi, tapi mau bagaimana, dokternya baru saja sampai.

"Ayo, minta nomor ke Mbak Sari. Yang buat ribut pulang saja."

Mereka langsung baris seperti anak TK. Alvian memanggil sesuai nomor, sementara Mbak Sari masih nyeduh kopi di belakang setelah mengatur antrean.

"Permisi, Dok."

Pintu terbuka, seorang bapak-bapak 40 tahunan masuk dengan memakai jaket jeans, celana kargo, topi kupluk coklat. Mukanya biasa saja. Tidak batuk, tidak pucat.

"Dokter Alvian ya?" Dia duduk tanpa disuruh. Suaranya berat, tapi pura-pura lemah seperti orang kehabisan nafas.

Alvian menatap bapak itu beberapa detik, tersenyum sekilas sebelum meraih bolpointnya di ujung meja. "Iya, Pak. Saya sendiri. Ada keluhan apa?"

"Batuk, Dok. Tenggorokan kering, sudah 3 hari ganggu tidur."

Meski berkata begitu tetapi sejak masuk dia tidak pernah batuk.

Alvian diam satu detik, matanya menangkap tangan pasien itu yang lecet-lecet, kayak bekas perkelahian. Di leher, tampak tato tertutup oleh kerah. Sementara di saku jaket ada tonjolan kotak. HP atau recorder?

Alvian menggelengkan kepala samar. "Wah, batuk 3 hari itu nggak enak ya, Pak. Sini saya periksa."

Dia pasang stetoskop. "Buka jaketnya, Pak. Biar saya dengarkan paru-nya."

Namun bapak itu menolak. "Nggak usah, Dok. Lewat kaos aja."

"Jika begitu tidak akan akurat, Pak. Nanti salah diagnosa. Bapak mau sembuh cepat, kan?" Senyum lebar, terlihat konyol.

Bapak itu akhirnya buka jaket. Di kaos hitamnya ada tulisan, "Security", sedangkan tato di leher ternyata gambar ular.

Alvian berusaha menyembunyikan reaksinya dan menempelkan stetoskop. Satu detik, dua detik. Hasil periksa semua bersih. Jantung normal, tidak ada batuk.

Alvian lepas stetoskop dan berkata, "Paru Bapak bagus. Atlet ya?"

"Mantan," ucapnya singkat.

Alvian mengambil kertas, langsung menulis resep. "OBH Combi, Paracetamol." Obat standar.

"Ini obatnya, Pak. Nanti yang banyak minum air putih. Jika bisa ngerokoknya dikurangi."

Bapak itu menerima resep. Tapi tidak langsung pergi. Matanya keliling klinik, melihat rak obat, melihat ijazah Alvian di tembok, melihat pouch hitam A.W. di laci yang tidak tertutup rapat.

"Dokter di sini sendirian?" tanya bapak itu.

"Iya. Oh, berdua, sama Mbak Sari di dalam."

Bapak itu mengangguk. "Kliniknya kecil ya. Tapi rame katanya, kemaren masuk TV."

Alvian tak bicara lagi. Bapak itu pamit dan langsung keluar.

"Makasih, Dok. Permisi."

Dia jalan, tidak batuk, tidak lemas lagi.

Saat itu Mbak Sari keluar sambil membawa kopi.

"Kok cepet, Dok? Sudah tidak batuk?"

Alvian mengedikkan bahu. "Sudah sembuh mungkin," jawabnya, sambil ketawa.

Mbak Sari geleng-geleng, lalu keluar memanggil pasien selanjutnya.

"..."

Saat tidak ada orang di sekitarnya, raut muka Alvian berubah. Dia menarik laci yang setengah terbuka, mengambil pouch A.W. dan mengeluarkan patch H.D. yang tersimpan di dalamnya. Menatapnya cukup lama sebelum menyimpannya di dalam saku celana.

Tidak berhenti di sana, Alvian mengeluarkan SIM card lama dari HP, mematahkannya jadi dua, menggantinya dengan yang baru.

Jam tiga siang, Alvian baru selesai dengan pasien terakhir. Dia menutup sementara klinik untuk makan siang. Nasi padang, ayam pop.

Namun baru satu suapan HP-nya sudah bunyi. Terlihat sebuah pesan dari "Istri Galak Tapi Cantik".

"Hari ini pulang telat. Ada meeting. Jangan kemana-mana."

Alvian membacanya sambil tersenyum. Membalasnya dengan emoji. "Siap. Masak apa nanti?"

"Tidak perlu. Beli aja."

Alvian membalas, "Oke. Sate ya?"

Clarissa tidak balas, hanya centang biru dua.

"Lagi kirim pesan sama siapa, Dok? Sama Dok Clara, ya?"

Tiba-tiba Mbak Sari kepo dan menjulurkan lehernya untuk mengintip. Namun Alvian sudah mematikan hpnya, dan menaruhnya di samping.

"Iya lah. Istri saya siapa lagi," ucap Alvian, terlihat bangga.

Mbak Sari yang melihat sikap itu langsung memiringkan bibirnya, mencibir sambil mengejek.

Alvian hanya tertawa, kemudian meminta Mbak Sari ikut makan siang bersamanya.

___

Jam sembilan malam, pintu klinik sudah setengah tertutup. Lampu sudah mati, Mbak Sari sudah pulang lima menit yang lalu.

Alvian masih di dalam, masih beres-beres. Dia mengambil tas, bersiap untuk pulang, tapi pintu didorong oleh seseorang. Begitu melihatnya, ternyata itu bapak jaket jeans yang tadi siang.

"Lho, Pak? Batuk lagi?" Alvian bertanya dengan nada dibuat terkejut.

"Eh, enggak, Dok. Cuma dompet saya ketinggalan." Dia tolah-toleh menatap ke meja, ke laci, dan ke lemari.

"Boleh saya cari, Dok?" izinnya.

Alvian tidak mempersulit, dan hanya bilang, "Oh. Silakan, Pak." Sambil menggeser posisinya, memberi jalan. Sedangkan tangan kanyan masuk ke saku celana, memegang patch H.D. sambil mengusapnya.

"Sudah ketemu, Pak?" tanya Alvian, setelah beberapa lama.

Tapi bapak itu masih buka-buka meja, buka-buka laci. Sampai sekarang tidak menemukan apapun.

"Be-belum, Dok."

Alvian menatap gelagatnya yang mencurigakan. "Dompet Bapak warnanya apa?"

"Hitam."

"Oh. Hitam ya. Kalo begitu saya tidak melihatnya. Coba cek di motor, siapa tau jatuh."

Bapak itu diam, menatap Alvian 3 detik. Tak disangka Alvian balas menatap, tersenyum konyol.

Ekspresi bapak itu langsung berubah. Dia pura-pura tertawa, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Oh iya ya. Bisa jadi. Makasih ya, Dok. Maaf ganggu."

Dia keluar.

Alvian menatap punggungnya sampai pergi. Kemudian menutup pintu, menutup gorden. Dia ambil HP, menghubungi satu nomor baru.

"Pak RT? Saya Alvian, mau lapor. Tadi ada orang ngaku dompetnya ketinggalan, tapi gerak-geriknya mencurigakan ... Iya. Ciri-cirinya jaket jeans, topi kupluk, tato ular di leher ... Siap. Makasih, Pak RT."

___

Rumah. Jam setengah sepuluh malam.

Alvian baru saja sampai, tapi Clarissa ternyata sudah ada di rumah. Dia duduk di ruang tamu, menonton televisi, tetapi ekspresinya seperti istri yang siap omelin suami karena pulang malam habis main futsal.

"Istri, sudah pulang?"

Clarissa diam, matanya menatap bungkusan di tangan Alvian.

"Mana satenya?" Bukan tanya kabar, tapi makanan yang benar-benar dia pedulikan.

Alvian nyengir sambil garuk-garuk kepala. "Sate ya, tukang satenya lagi pulang kampung. Jadi terpaksa, beli soto ayam dan tengkleng."

Hening. Clarissa diam, membuat Alvian berpikir soto dan tengkleng-nya tidak akan dimakan. Tapi Clarissa sudah bangun dari sofa, kemudian berjalan menuju meja makan.

"Tengkleng tidak apa. Yang penting ada yang dimakan. Oh ya, matikan televisinya sebelum ke sini."

Alvian tersenyum, mengambil remot berniat mematikan televisi. Tepat saat itu sebuah berita terkini dilaporkan, tag-line nya, "Polisi Tangkap Komplotan Pengedar Obat Palsu Yang Diduga Kuat Termasuk Dalam Jaringan Kartel Farma."

Tangan Alvian berhenti sejenak dan fokus menatap televisi. Lima detik, sebelum suara Clarissa terdengar, dan dia langsung mematikan televisi.

"Berita itu, kamu pernah dengar Kartel Farma?" Clarissa tiba-tiba saja bertanya. Membuat Alvian tertegun, dan berhenti menuangkan kuah soto ke dalam mangkok.

"Hah? Apa itu? Nama band?" Alvian tertawa, meski terlihat sekali itu agak dipaksakan.

"Tidak. Lupakan saja."

Clarissa tahu ada sesuatu yang aneh dari Alvian. Tapi dia tidak berpikir terlalu jauh, apalagi menghubungkan Alvian dengan Kartel Farma, perusahaan internasional yang memiliki jejak hitam dan kelam.

Habis makan, Clarissa cuci piring sementara Alvian beresin meja.

Suasana terlalu hening membuat Clarissa ingin membuka pembicaraan. Dia mau bertanya tentang klinik, sampai perhatiannya tertuju ke tangan Alvian yang sudah tidak ada luka.

"Luka palsunya, kenapa sudah dilepas?"

Alvian melihat jempol kanannya, nyengir kuda "Iya. Terkelupas terendam air. Jelek kalo masih dipakai."

Clarissa hanya membulatkan bibirnya berkata "Oh", sebelum kembali ke kamar setelah selesai mencuci semua piring.

Alvian juga masuk ke kamarnya. Namun tidak tidur, dia membuka rekaman pengawas CCTV mini yang dipasang di depan klinik melalui laptopnya.

Dia menunggu sampai jam setengah dua belas malam, orang yang ditunggu, bapak jaket jeans lewat lagi. Pelan-pelan, mengendap-endap, tengok ke klinik terus pergi.

Alvian menggosok pelipisnya, bersandar, dan berkata, "Belum bertindak, masih ku pantau."

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!