NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Tekad yang tertanam kuat di hati Ani setelah percakapan dengan Ibunya bukanlah sekadar janji kosong. Ia sadar betul, untuk benar-benar bangkit, melupakan masa lalu yang pahit, serta membungkam mulut-mulut tetangga yang suka menggunjing, ia harus melakukan sesuatu. Ia harus berdiri di atas kakinya sendiri, mandiri secara finansial, dan membuktikan bahwa ia bisa hidup jauh lebih baik dan bahagia meski tanpa Dimas di sisinya.

Pagi itu, setelah membantu Ibu membereskan rumah dan menyiapkan sarapan, Ani berpakaian rapi namun sederhana. Ia mengenakan kemeja putih polos dan rok selutut, penampilan yang sopan dan pantas. Di dalam tas kecilnya, terselip berkas-berkas penting, ijazah, dan surat keterangan yang ia bawa saat meninggalkan rumah dulu. Dulu, sebelum menikah, Ani pernah bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Keahlian menulis, menghitung, dan mengelola berkas masih ia ingat betul, dan itu adalah bekal utamanya sekarang.

"Ayo semangat, Nak. Jangan malu, jangan takut. Rezeki itu sudah diatur Tuhan, tinggal kita yang berusaha menjemputnya," kata Ibu sambil merapikan kerah baju putrinya, memberikan dorongan semangat. Ayah pun menepuk bahu Ani pelan, menatapnya dengan pandangan penuh keyakinan.

"Ingat, apa pun hasilnya, kamu tetap anak kami yang hebat. Jangan patah semangat kalau nanti ada kesulitan," tambah Ayah.

Dengan mengangguk mantap dan tersenyum, Ani berangkat. Tujuannya adalah ke pusat kecamatan, tempat di mana biasanya banyak toko, usaha dagang, dan kantor-kantor kecil yang mungkin membutuhkan tenaga kerja. Perjalanan ke sana ditempuhnya dengan naik angkutan umum sederhana, duduk berdesak-desakan dengan warga lain, namun hal itu sama sekali tak membuatnya risih atau malu. Dulu saat menjadi istri pegawai kota, ia memang jarang naik kendaraan umum, tapi sekarang, ia menyadari bahwa tidak ada pekerjaan atau perjuangan yang hina, selama halal dan jujur.

Perjalanan pertama ia tujukan ke sebuah toko kelontong besar yang juga menjual bahan bangunan, milik salah satu warga yang cukup terpandang di daerah itu. Pemiliknya, Pak Slamet, dikenal sebagai orang yang tegas tapi adil. Ani masuk ke dalam toko itu dengan napas teratur, berusaha menenangkan rasa gugup yang sedikit menyelinap. Ia menyapa dengan sopan, lalu menyampaikan niatnya untuk melamar pekerjaan.

Pak Slamet menatap Ani dari ujung kepala hingga kaki, lalu melirik berkas yang disodorkan Ani. Wajah pria paruh baya itu tampak berpikir, namun kemudian ia menggeleng pelan.

"Maaf ya, Mbak Ani... Sebenarnya kebetulan saya butuh orang yang bisa mengurus pembukuan, tapi..." Pak Slamet terdiam sejenak, seolah ragu melanjutkan. "Tapi jujur saja, sudah banyak orang di sini yang bilang-bilang soal keadaan Mbak. Katanya Mbak baru saja pulang karena bercerai sama suami. Saya tidak apa-apa sih, tapi ibu-ibu di rumah dan beberapa langganan saya agak... gimana ya, khawatir nanti ada omongan macem-macem kalau saya terima Mbak kerja di sini. Saya minta maaf sekali ya, bukan karena kemampuan Mbak, tapi soal pandangan orang."

Kata-kata itu terasa seperti pukulan halus namun menyakitkan. Lagi-lagi, masa lalunya, statusnya sebagai wanita yang berpisah dari suami, menjadi penghalang. Bukan karena ia tidak mampu, bukan karena ia buruk kinerjanya, tapi semata-mata karena penilaian dan omongan orang lain yang picik. Ani mengangguk paham, menyembunyikan rasa kecewanya di balik senyum sopan, lalu berpamitan keluar.

Sepanjang hari itu, Ani berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Mulai dari kantor pos pembantu, koperasi desa, hingga pabrik tahu kecil yang cukup besar di pinggir desa. Namun hasilnya hampir sama saja. Ada yang menolak dengan alasan sudah penuh, ada yang menolak karena merasa ia tidak cocok, tapi sebagian besar penolakan itu terselip alasan tersembunyi: mereka takut dianggap berurusan dengan wanita yang "bernasib buruk", atau takut menjadi bahan gunjingan jika mempekerjakannya.

Matahari sudah condong ke barat, sinarnya mulai meredup, sama seperti semangat Ani yang perlahan menurun. Kakinya terasa pegal dan lelah berjalan berkilometer-kilometer, hatinya pun terasa berat. Ia duduk sejenak di pinggir jembatan kecil di pinggir jalan, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Air mata rasanya ingin jatuh lagi, tapi ia tegas menahannya. Aku tidak boleh menyerah hanya karena satu hari gagal, batinnya berteriak menguatkan diri.

Saat sedang duduk termenung, pandangan Ani tertuju pada sebuah bangunan sederhana di seberang jalan. Itu adalah toko roti dan kue milik Bu Ratna, seorang janda paruh baya yang tinggal sendirian dan dikenal memiliki tangan yang sangat ahli membuat kue-kue lezat. Toko itu tidak terlalu besar, tapi selalu ramai pembeli karena kualitas kuenya yang enak. Ani melihat Bu Ratna sedang kewalahan sendirian di depan toko, melayani pembeli, mengemas pesanan, sekaligus mencatat sesuatu di buku besarnya yang tebal.

Tanpa pikir panjang lagi, Ani bangkit berdiri dan menyeberang jalan. Ia memberanikan diri masuk ke dalam toko itu, menunggu sampai keramaian sedikit reda.

Bu Ratna, wanita berbadan gemuk dengan wajah bulat dan ramah itu, mengusap keringat di dahinya saat melihat Ani berdiri menunggu.

"Ada yang bisa dibantu, Nak? Mau pesan kue apa?" tanya Bu Ratna ramah.

"Eh, bukan begitu, Bu," jawab Ani sopan sambil tersenyum. "Saya Ani, Bu. Sebenarnya saya ke sini mau menawarkan diri, kalau-kalau Ibu butuh bantuan di sini. Saya lihat Ibu sendirian dan kelihatan agak kewalahan. Saya bisa bantu melayani pembeli, mengemas barang, mencatat pembukuan, atau apa saja yang Ibu butuhkan."

Bu Ratna menatap Ani lekat-lekat, seolah mengenali wajah itu. Ia tentu saja sudah mendengar gosip-gosip yang sama seperti orang lain. Namun, alih-alih menatap dengan pandangan iba atau curiga, Bu Ratna justru tersenyum lebar.

"Oalah, kamu anaknya Pak Harun ya? Yang baru pulang dari kota itu?" tanya Bu Ratna. Saat Ani mengangguk malu-malu, Bu Ratna justru tertawa kecil. "Sudah, Nak, tidak usah menunduk begitu. Saya sudah dengar semua omongan ibu-ibu desa itu. Katanya kamu dibuang, katanya kamu gagal, dan macam-macam lagi. Tapi tahukah kamu? Dulu saat suamiku meninggal dan aku harus mengurus toko ini sendirian, mereka juga ngomong hal yang sama. Katanya aku nggak akan kuat, katanya toko ini bakal bangkrut, katanya aku wanita sial."

Bu Ratna menghela napas, lalu menatap Ani dengan tatapan tajam namun penuh pengertian.

"Omongan orang itu tidak ada habisnya, Nak. Kalau kita dengerin terus, kita nggak bakal bisa jalan selangkah pun. Saya tidak peduli kamu sudah bercerai atau belum, saya tidak peduli apa alasanmu pulang. Yang saya lihat sekarang, kamu wanita yang terpelajar, kelihatan rajin, dan berani cari kerja sendiri. Itu sudah cukup buat saya."

Hati Ani terasa menghangat luar biasa mendengar ucapan itu. Seolah ada secercah cahaya yang masuk menerangi sudut hatinya yang mulai gelap karena keputusasaan.

"Saya memang sedang butuh orang, Nak. Tulis-tulisan saya ini sudah berantakan, uang sering hilang tidak tahu ke mana, dan saya capek sekali melayani pembeli sekaligus mengaduk adonan," lanjut Bu Ratna. "Kalau kamu mau, mulai besok kamu sudah bisa masuk kerja. Gajinya mungkin tidak sebesar kalau kamu kerja di kota, tapi cukup buat kebutuhanmu sendiri. Yang penting jujur, rajin, dan mau belajar. Gimana?"

Air mata bahagia dan haru tumpah begitu saja dari mata Ani. Ia mengangguk kuat-kuat, senyumnya merekah paling lebar sejak ia meninggalkan rumah Dimas.

"Mau, Bu! Ani mau sekali. Terima kasih banyak, Bu... Terima kasih sudah percaya sama Ani," ucap Ani dengan suara bergetar penuh rasa syukur.

"Sudah, jangan menangis dong. Kerjakan saja dengan baik, itu sudah cukup balasannya," kata Bu Ratna sambil menepuk bahu Ani.

Pulang ke rumah sore itu, langkah Ani terasa begitu ringan dan penuh semangat. Matahari yang mulai terbenam terlihat begitu indah dan berwarna-warni. Ia pulang bukan hanya membawa kabar gembira untuk Ayah dan Ibu, tapi juga membawa kembali rasa percaya dirinya yang sempat hilang.

Ia punya pekerjaan. Ia punya penghasilan sendiri. Dan yang paling penting, ia membuktikan bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh status pernikahannya, melainkan oleh kerja keras, kejujuran, dan kemauannya untuk bangkit. Di toko roti sederhana itu, Ani tahu, ia tidak hanya akan mencari nafkah, tapi juga akan menemukan kembali jati dirinya yang berharga.

bersambung ,,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!