Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Hak Milik Maya
Lorong rusun kembali sunyi setelah ucapan Norma menggantung di udara. Maya masih berdiri di depan pintu kamar Bobby sambil menyilangkan tangan. Tatapannya bergantian antara Norma dan Jamie. Wajah keduanya terlihat jauh berbeda dibanding biasanya. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada hinaan. Justru itu yang membuat Maya semakin waspada.
“Kenapa?” tanya Maya datar.
Norma tampak ragu sesaat sebelum menjawab, “Karena rumah itu tetap rumah kamu.”
Maya hampir tertawa mendengarnya. Rumahnya? Lucu sekali.
Rumah tempat Maya asli dipukul, dihina, dan diperlakukan seperti pembantu sekarang tiba-tiba disebut rumahnya lagi.
Jamie berdeham kecil. Wajah cowok itu tampak jelas tidak nyaman. Harga dirinya mungkin sedang diinjak habis-habisan sekarang.
“Pokoknya...” katanya akhirnya sambil menggaruk tengkuk. “Balik aja dulu.”
Maya mengangkat alis tipis. “Terus?”
Jamie tampak menahan kesal sebelum akhirnya berkata, “Gue bakal... berubah.”
“Hah?”
“Ya... gue nggak bakal ganggu lo lagi.”
Maya menatap tajam. Kalimat itu keluar sangat berat dari mulut Jamie. Tapi dia tetap melanjutkan. “Kalau perlu...” rahangnya mengencang. “Gue bakal lakuin apa aja supaya lo mau maafin.”
Hening sejenak. Maya memperhatikan Jamie cukup lama. Di balik wajah kesalnya, cowok itu terlihat lelah. Mungkin karena kejadian di rumah sakit tempo hari. Mungkin juga karena akhirnya sadar Maya tidak lagi takut padanya. Namun Priska tidak sebodoh itu untuk langsung percaya.
Di dunia lamanya, permintaan maaf sering kali cuma jebakan sebelum pisau ditusukkan dari belakang.
Norma kembali membujuk pelan. “Kami serius, Maya. Pulang ya?”
Maya tidak langsung menjawab. Sebaliknya, pikirannya mulai bekerja cepat. Kalau dipikir-pikir, tinggal di rusun Bobby terus juga bukan pilihan bagus. Selain merepotkan cowok itu, tempat sempit itu sulit dipakai bergerak bebas.
Dan yang paling penting, kalau ingin membalas semua perlakuan keluarga Maya, bukankah lebih mudah melakukannya dari dalam rumah itu sendiri?
Sudut bibir Maya perlahan terangkat tipis. Sekarang dia bukan Maya lama yang hanya bisa menangis diam-diam. Kalau Jamie berani macam-macam lagi? Dia tinggal dibanting. Kalau Norma ternyata berbohong? Dia bisa melawan balik.
Maya akhirnya mendecakkan lidah kecil. “Merepotkan.”
Norma langsung menatap penuh harap. “Jadi...?”
Maya menghela napas panjang pura-pura malas. “Yaudah.”
Jamie berkedip. “Hah?”
“Gue mau kembali."
Wajah Norma langsung berubah lega sekali. “Serius?”
“Jangan bikin gue berubah pikiran.”
Norma refleks tersenyum. Bahkan matanya tampak sedikit berkaca-kaca.
Sementara Jamie terlihat seperti baru bisa bernapas lagi. “Bagus deh...” tanggapnya.
Maya membuka pintu kamar Bobby lalu masuk sebentar. Di dalam, Bobby yang sedari tadi nguping langsung pura-pura tidur sambil mendengkur berlebihan.
“Kerasa banget akting lu,” komentar Maya datar.
Bobby langsung bangun kikuk. “Hehe…”
Maya mengambil tas sekolahnya yang tergeletak di pojok kamar. Tidak banyak barang yang memang dia punya.
Bobby memperhatikan dengan wajah bingung. “Lu beneran balik?”
“Iya.”
“Yakin?”
Maya memasukkan beberapa pakaian ke tas seadanya. “Kenapa? Kangen?”
“Najis!”
Maya terkekeh kecil.
Namun Bobby perlahan terlihat serius. “Tapi...” katanya pelan. “Kalau mereka nyakitin lu lagi gimana?”
Maya berhenti sesaat. Lalu dia tersenyum kecil. Senyum tipis penuh percaya diri berbahaya.
“Sekarang beda.”
Entah kenapa jawaban itu membuat Bobby malah merinding. Karena dia sadar Maya memang berubah. Oang-orang yang menyakitinya mungkin belum sadar seberapa besar kesalahan mereka.
Beberapa menit kemudian, Maya keluar dari rusun bersama Norma dan Jamie.
Bobby berdiri di lorong sambil melambaikan tangan. “Jangan mati ya!”
Maya melirik datar. “Kalau gue mati, gue hantui lu duluan.”
“SETAN!”
Jamie mengernyit bingung melihat interaksi mereka. “Kalian akrab banget. Sejak kapan lu punya teman kayak gitu?"
Maya memilih tak menjawab. Mobil Jamie akhirnya melaju meninggalkan Rusun. Maya duduk diam di belakang sambil memandangi jalan malam kota.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan terjadi. Jamie beberapa kali tampak ingin bicara, tapi mengurungkan niatnya sendiri. Sementara Maya sibuk memikirkan banyak hal.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, kendaraan mereka akhirnya memasuki kawasan perumahan elite. Gerbang besar perlahan terbuka otomatis.
Maya menatap lurus ke depan. Rumah besar bercat putih itu masih berdiri megah seperti di ingatan Maya asli. Halaman luas. Taman rapi. Lampu-lampu taman menyala hangat di malam hari. Entah kenapa, rumah itu terasa asing sekaligus familiar.
Begitu Maya turun dari mobil, dadanya mendadak terasa sesak. Fragmen-fragmen ingatan Maya asli mulai bermunculan lagi. Seorang pria tertawa sambil mengangkat tubuh Maya kecil ke udara.
“Maya hebat!”
Suara wanita lembut dari dapur.
“Makan dulu sayang!”
Taman depan saat ulang tahun. Pelukan hangat. Rumah itu dulu penuh kebahagiaan. Langkah Maya perlahan berhenti di depan pintu utama.
Jamie menoleh bingung. “Kenapa?”
Maya tidak menjawab. Karena untuk sepersekian detik, dia bisa merasakan kesedihan Maya asli begitu jelas sampai dadanya ikut nyeri.
Priska menatap rumah itu lama. Lalu perlahan tatapannya berubah dingin. Karena semakin banyak ingatan muncul, semakin jelas satu hal terlihat.
Rumah ini seharusnya milik Maya. Bukan milik Norma. Tatapan Maya bergerak perlahan memperhatikan interior rumah saat mereka masuk. Sofa mahal baru. Lukisan diganti. Bahkan ruang kerja ayah Maya kini berubah menjadi ruang santai pribadi Norma.
Rahang Maya perlahan mengencang. Maya asli dulu adalah anak kandung pemilik rumah ini. Namun setelah ayahnya meninggal, semuanya berubah begitu cepat.
Norma mengambil alih rumah. Mengatur seluruh keuangan, dan Jamie hidup bebas seperti pewaris utama. Sementara Maya justru diperlakukan seperti beban.
“Aneh...” gumam Maya.
Norma menoleh. “Hm?”
“Enggak.”
Namun di dalam kepala Priska, semua potongan mulai tersusun. Tidak mungkin semua warisan jatuh begitu saja ke tangan Norma tanpa alasan.
Pasti ada sesuatu. Mungkin manipulasi. Mungkin surat warisan palsu. Atau mungkin Norma mempengaruhi ayah Maya sebelum meninggal.
Tatapan Maya perlahan menyipit. Kalau benar begitu, berarti bukan cuma balas dendam yang harus dia lakukan. Tapi juga merebut kembali hak Maya.
“Maya?” Suara Norma memecah lamunannya.
“Kamar kamu masih sama,” kata wanita itu hati-hati. “Kami nggak ubah apa-apa.”
Maya mengangguk kecil lalu berjalan menuju lantai atas. Namun setiap langkahnya terasa berat karena ingatan Maya asli terus bermunculan.
Tangisan di kamar, kelaparan, dikunci, serta ketakutan saat Jamie mabuk dan masuk ke kamarnya malam-malam. Maya berhenti di depan pintu kamar. Tangannya perlahan memegang gagang pintu.
Pintu terbuka pelan. Kamar itu masih sama. Tidak terlalu besar, tapi rapi. Ada meja belajar kecil di dekat jendela. Rak buku. Boneka lama di sudut kasur. Maya masuk pelahan.
Priska benar-benar bisa merasakan sisa emosi Maya asli dengan sangat kuat. Kesepian, kesedihan, dan rasa tidak adil.
Tatapan Maya perlahan berubah tajam. Dia berdiri di tengah kamar sambil mengepalkan tangan pelan. Dalam hati, Priska membuat janji diam-diam. Semua yang diambil dari Maya, akan dia rebut kembali.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔