Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak yang kembali
Jeritan Kirana memecah ruangan.
Bukan jeritan histeris biasa. Ini jeritan seseorang yang melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat oleh mata manusia.
"Suster, pegang dia!" Dokter jaga malam itu langsung turun tangan. Tangannya mencoba menekan bahu Kirana yang mulai melengkung ke atas, otot-ototnya tegang seperti kawat yang dipanaskan. "Kirana! Kamu di ICU! Dengar suara saya!
Sosok itu tidak bergerak. Berdiri diam di sudut ruangan, tepat di bawah retakan langit-langit yang hanya bisa dilihat Kirana. Sosok itu tinggi, tapi bukan tinggi manusia biasa proporsinya salah. Lengannya terlalu panjang. Jari-jarinya menggantung di sisi tubuh, tidak bergerak, tidak mengancam. Hanya… diam. Menjaga.
Tapi yang paling mengerikan adalah wajahnya.
Tidak ada wajah.
Hanya bayangan pekat yang bergeser seperti asap tebal di dalam toples kaca. Tapi Kirana tahu entah bagaimana dia tahu sosok itu sedang melihatnya.
Dan sosok itu sadar.
Kirana bisa melihatnya.
"Dok, tekanannya naik lagi! 180 per 110!"
Dokter itu mendongak ke monitor. Angka-angka di layar bergerak liar tekanan darah, detak jantung, saturasi oksigen semuanya menari di luar batas normal manusia. Perawat muda di sebelahnya, seorang suster dengan nama tag yang tidak sempat dibaca siapa pun malam itu, tangannya gemetar saat memasang manset tekanan darah ulang.
"Ini nggak mungkin," bisiknya. "Baru lima menit yang lalu stabil…"
Dokter itu tidak menjawab.
Matanya beralih dari monitor ke wajah Kirana. Gadis itu sekarang diam. Jeritannya berhenti. Tapi matanya masih terbuka lebar, terkunci pada satu titik di sudut ruangan yang menurut pandangan dokter itu kosong.
Tidak ada apa-apa di sana.
Hanya dinding putih. Lemari obat. Tiang infus.
Tapi Kirana melihat sesuatu.
Dan dokter itu cukup tua, cukup lama bekerja di ruang gawat darurat, untuk mengenali ketakutan yang nyata. Bukan ketakutan akibat halusinasi obat. Bukan ketakutan akibat demam tinggi. Ini ketakutan primal. Ketakutan seekor rusa yang mencium bau harimau di semak-semak.
"Suster," suara dokter itu turun satu oktaf. "Catat semua. Detik per detik. Jangan ada yang terlewat."
Suster itu menelan ludah wajahnya pucat pasi karena ketakutan. "Catat… apanya, Dok?"
"Semua." Dokter itu tidak berkedip. "Termasuk kalau lampu mati lagi."
🌑 CUT KE LORONG ICU, LIMA MENIT SEBELUM JERITAN
"Lo harus ngerti posisi gue." Risa menyilangkan tangan, bersandar di dinding lorong yang dingin. Lorong rumah sakit di kota asing ini terasa lebih sunyi, lebih steril, lebih… tidak bersahabat. Mereka bertiga Wei, Risa, dan Kirana berada di sini untuk program magang. Seharusnya ini pengalaman membanggakan. Seharusnya mereka sibuk dengan laporan dan presentasi kerja, bukan menunggu kabar dari balik pintu ICU.
Lampu neon di atas kepala Risa berdengung pelan suara yang biasanya tidak terdengar, tapi malam ini terasa seperti bor di telinga.
"Ibunya Kirana itu udah tiga hari nggak bisa dihubungi," Risa melanjutkan, suaranya lebih pelan sekarang. "Gue udah coba berkali-kali. Nomornya nggak aktif. Mungkin lagi di daerah yang nggak ada sinyal. Entahlah."
Dia berhenti sejenak.
"Dan bapaknya…" Risa tidak menyelesaikan kalimatnya.
Wei mengangguk pelan. Dia tahu. Mereka semua tahu. Ayah Kirana sudah meninggal dua tahun lalu. Serangan jantung mendadak. Kirana tidak pernah benar-benar membicarakannya, tapi Wei ingat bagaimana gadis itu berubah setelah pemakaman lebih pendiam, lebih suka menyendiri, lebih sering menatap kosong ke jendela.
"Lo mau tanggung jawab kalau terjadi apa-apa?" Risa mendorong tubuhnya dari dinding, mendekati Wei. "Gue serius. Kita di negara orang. Kirana nggak punya keluarga di sini. Cuma kita."
Wei berdiri dua langkah dari Risa. Punggungnya menempel ke dinding seberang. Tangannya masuk ke saku jaket jeans yang sudah lusuh di bagian siku.
"Gue cuma minta waktu."
"Waktu buat apa?" Risa mendekat. "Buat nunggu dia bangun dan bilang 'gapapa, cuma mimpi'? Wei, gue ada di sana. Gue yang megang tangannya pas dia kejang .
"Gue tau ini bukan mimpi."
Suara Wei datar. Tapi Risa berhenti bicara.
Karena dia mengenal Wei cukup lama sejak orientasi mahasiswa internasional, sejak mereka bertiga tidak sengaja satu kelompok untuk proyek pertama untuk tahu: kalau Wei sudah bicara dengan nada seperti itu, ada sesuatu yang dia simpan. Sesuatu yang tidak bisa atau tidak mau dia keluarkan.
"Terus?" Risa menantang. "Lo tau sesuatu. Spill."
Wei menatap pintu ICU. Pintu ganda dengan jendela kaca buram. Dari balik kaca, dia bisa melihat bayangan samar orang bergerak. Cepat. Panik.
"Sebelum dia pingsan," Wei mulai, suaranya lebih pelan sekarang, "dia bilang sesuatu ke gue."
Risa menunggu.
"Dia bilang: 'Wei, dia di sini. Li Wei di sini. Tapi bukan cuma dia.'"
Risa mengernyit. "Maksudnya?"
"Gue nggak tau." Wei menggeleng. "Tapi muka dia waktu itu" Dia berhenti. Mencari kata yang tepat. "bukan muka orang ketakutan. Itu muka orang yang ngerasa bersalah."
Lorong hening.
Nama "Li Wei" menggantung di udara
Wei tidak menjawab.
Lampu neon di atas mereka berkedip. Sekali. Dua kali.
Keduanya mendongak bersamaan.
"Lampu rumah sakit emang sering gini?" Risa berbisik.
Wei tidak menjawab.
Karena di detik yang sama, dari dalam ICU
Jeritan.
Jeritan Kirana.
Dan lampu lorong mati total selama satu detik penuh.
🌑 KEMBALI KE DALAM ICU
Suster itu mencatat semuanya.
22:47 - Pasien menjerit. Tidak ada stimulus eksternal yang terlihat.
22:48 - Tekanan darah naik 180/110. Detak jantung 140 bpm. Pupil melebar.
22:49 - Lampu ruangan mati selama 1,2 detik (perkiraan).
Tapi yang tidak dia catat karena dia tidak bisa menjelaskannya adalah suhu ruangan.
Ruang ICU seharusnya dijaga pada suhu 22 derajat Celcius. Stabil. Termometer digital di dinding menunjukkan angka itu.
Tapi suster itu menggigil.
Dan napasnya membentuk uap tipis.
Di depan matanya sendiri.
"Dok," suaranya bergetar. "Suhu ruangan,"
"Saya tahu." Dokter itu memotong. Matanya masih terkunci pada Kirana yang sekarang kembali diam. Tubuhnya lemas. Matanya setengah tertutup. Tapi bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu yang tidak bersuara.
Dokter itu mendekatkan telinganya.
"…dia… bukan…"
"Bukan apa, Kirana?"
"…bukan Li Wei…"
Dokter itu menarik napas panjang. Dia menegakkan tubuhnya, menatap monitor sekali lagi. Dua ritme. Masih ada dua ritme.
Satu milik Kirana. Cepat, tidak teratur, seperti burung yang menabrak kaca.
Satu lagi… lambat. Sangat lambat. Seperti detak jantung seseorang yang sedang tidur. Atau… sesuatu yang meniru detak jantung.
Dokter itu memijat pelipisnya. Dia lelah. Sudah 36 jam dia belum tidur. Tapi ini bukan halusinasi karena kurang tidur. Monitor itu menunjukkan dua gelombang. Dua puncak. Dua lembah. Seolah-olah ada dua jantung di dalam satu tubuh.
"Suster."
"Ya, Dok?"
"Panggil Teknisi Medis. Sekarang. Saya mau alat ini dicek."
Suster itu mengangguk dan bergegas keluar.
Dokter itu menatap Kirana.
Gadis itu sekarang diam. Matanya tertutup. Napasnya teratur.
Tapi dokter itu tidak merasa lega.
Karena sebelum matanya tertutup, Kirana sempat melihat ke sudut ruangan sekali lagi. Dan kali ini, bibirnya membentuk satu kata yang jelas.
Pergi.
Bukan ke dokter. Bukan ke suster.
Ke sudut ruangan yang kosong itu.
🌑 CUT KE – LORONG ICU, SEKARANG
Pintu ICU terbuka. Suster itu keluar dengan langkah cepat, hampir setengah berlari.
Wei dan Risa langsung mendekat.
"Gimana?!" Risa duluan yang bicara.
Suster itu berhenti sejenak, matanya beralih antara Wei dan Risa. Wajahnya tegang bukan hanya karena situasi darurat, tapi karena sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. "Kalian keluarga pasien?"
"Teman," jawab Wei cepat. "Kita semua mahasiswa internasional. Keluarganya di Indonesia. Ibunya belum bisa dihubungi."
Suster itu ragu sejenak. Ada protokol untuk ini. Informasi medis hanya untuk keluarga. Tapi sesuatu di mata Wei mungkin keteguhan, mungkin ketakutan yang ditahan membuatnya memutuskan untuk bicara.
"Pasien stabil sekarang. Tapi…" Dia berhenti. Mencari kata yang aman. "…ada sesuatu."
"sesuatu apa?" Risa mendesak suster itu.
Suster itu tidak menjawab langsung. Dia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan lorong sepi.
"Saya tidak seharusnya bilang ini. Tapi… alat di dalam sana menunjukkan dua detak jantung."
Wei dan Risa saling pandang.
"Dua?" Wei mengulangi. Bahasa Inggrisnya sempurna, tapi kata itu keluar dengan aksen yang tiba-tiba terdengar sangat Indonesia sangat asing di lorong rumah sakit negeri orang ini.
"Seperti ada dua orang di dalam satu tubuh."
Hening.
Lalu Risa dengan suara yang tiba-tiba kecil bertanya, "Itu… mungkin secara medis? Maksud gue, ada kondisi kayak gitu?"
Suster itu menggeleng. "Tidak. Tidak ada."
Dia melanjutkan langkahnya, meninggalkan Wei dan Risa berdiri kaku di lorong.
Lampu neon di atas mereka berkedip lagi.
Kali ini lebih lama.
Dan ketika lampu kembali menyala
Wei melihat sesuatu di ujung lorong.
Bayangan.
Tinggi.
Dengan lengan terlalu panjang.
Berdiri di depan pintu darurat.
Melihat ke arahnya.
Hanya sedetik. Lalu menghilang.
Wei tidak bilang apa-apa ke Risa.
Tapi tangannya di dalam saku jaket
Mengepal.
Perlahan.
Ruangan sepi. Hanya suara monitor dan dengung AC. Suster itu sudah kembali, duduk di sudut dengan buku catatan di pangkuan. Kepalanya terangguk-angguk setengah tertidur.