Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Anomali dalam Sistem
Malam itu, Jakarta terasa seperti sirkuit elektronik yang kelebihan beban.
Elena duduk di kursi penumpang Range Rover hitam milik Reza, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela.
"Subjek 01." Kata-kata itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Kau melamun lagi," suara Reza memecah kesunyian.
Tangannya yang bebas dari kemudi menggenggam jemari Elena yang dingin.
"Aku cuma mikir, Rez," Elena menghela napas, suaranya sedikit parau karena sisa asap kebakaran rumah tadi.
"Selama ini aku bangga karena bisa 'bangun' dari kematian. Aku pikir aku ini pejuang. Ternyata aku cuma produk yang gagal diprogram."
Reza membanting setir ke kiri, memarkir mobil secara mendadak di bahu jalan tol yang sepi.
Dia menatap Elena tepat di mata.
"Dengar. Kalau kau cuma produk, kau bakal patuh kayak Elara. Kalau kau cuma program, kau nggak akan nangis waktu panti asuhanmu diresmikan. Kode DNA mungkin bisa dibuat, tapi keberanian buat menghancurkan keluarga Adiguna itu murni milikmu. Kau bukan 01, kau Elena. Titik."
Elena tersenyum pahit, tapi hatinya sedikit menghangat.
"Oke, pujiannya disimpan buat nanti. Sekarang, kita punya masalah lebih besar. Kalau Elara itu 02, dan aku 01, berarti masih ada kemungkinan 03, 04, dan seterusnya. 'The Origin' nggak akan berhenti di dua prototipe."
Berdasarkan data terakhir yang disedot Paman Han sebelum rumah di Bogor meledak, mereka melacak sinyal frekuensi radio unik yang hanya digunakan oleh peralatan medis tingkat tinggi.
Sinyal itu mengarah ke sebuah gedung perkantoran tua di kawasan industri Pulogadung.
Gedung itu tampak seperti pabrik garmen bangkrut, tapi sistem keamanannya menggunakan enkripsi kuantum.
"Kita sebut tempat ini The Hive," bisik Paman Han lewat jalur komunikasi pribadi.
Dia memantau dari van komando yang terparkir satu kilometer jauhnya.
"Nona, sensor panas menunjukkan ada aktivitas di tiga lantai bawah tanah. Dan satu lagi... detak jantung Elara terdeteksi di sana. Dia selamat dari ledakan tadi."
"Tentu saja dia selamat," gerutu Elena sambil memasang peredam suara ke pistolnya.
"Dia punya metabolisme yang sama denganku. Susah mati."
Elena dan Reza menyelinap melalui saluran ventilasi.
Udara di dalam sana terasa sangat steril, bau ozon dan pemutih lantai.
Saat mereka berhasil turun ke lantai bawah tanah pertama, pemandangan di depan mereka membuat Elena mual.
Bukan mesin pabrik, melainkan barisan tabung inkubasi besar.
Di dalamnya, dalam cairan bening yang berpendar biru, terdapat tubuh-tubuh yang belum sempurna.
Beberapa terlihat seperti anak kecil, beberapa sudah remaja.
Dan semuanya... memiliki struktur wajah yang sama dengan Sarah Adiguna.
"Ini bukan pabrik," Reza berbisik, wajahnya pucat. "Ini kebun bibit."
"Indah, bukan? Sebuah simfoni genetika."
Suara itu tenang, berwibawa, dan sangat familiar.
Elena berbalik dan melihat seorang pria paruh baya keluar dari balik bayang-bayang.
Dia mengenakan jas lab putih yang sangat bersih.
"Dokter Aris?" Elena tertegun. Pria ini adalah dokter bedah plastik yang menangani operasinya di Swiss dua tahun lalu.
Pria yang selama ini dia anggap sebagai penolongnya.
"Panggil aku Arsitek, Elena. Sebutan Dokter terlalu membatasi peranku," ujar Aris sambil berjalan santai di antara tabung-tabung itu.
"Haryo Adiguna hanyalah investor kecil yang serakah. Dia ingin istri yang patuh, jadi dia memintaku menciptakanmu. Tapi aku punya visi lebih besar. Aku ingin menciptakan manusia tanpa cacat emosi untuk 'The Origin'."
"Kau gila," desis Elena. "Kau menggunakan sel ibuku untuk membuat tentara?"
"Ibumu adalah mahakarya biologi. Tapi dia lemah karena cinta," Aris berhenti di depan satu tabung kosong bertanda 02 R.
"Elara sedang dalam proses pemulihan. Dia sedikit kecewa karena kau mendorongnya keluar jendela. Dia sangat ingin membuktikan bahwa versi terbaru lebih unggul."
Tiba-tiba, pintu baja di belakang mereka tertutup rapat.
Lampu ruangan berubah menjadi merah darah.
"Sayangnya, Elena, sebagai 01, kau punya terlalu banyak residu memori Alana. Itu membuatmu tidak stabil. Dan variabel tidak stabil harus... dihapus."
Dari balik tabung-tabung, muncul para penjaga dengan seragam hitam, tapi kali ini mereka bukan klon.
Mereka adalah tentara bayaran profesional yang dipersenjatai dengan senapan kejut listrik.
"Reza, lindungi server pusat! Aku urus Arsitek!" teriak Elena.
Elena menerjang Aris, tapi pria tua itu ternyata sangat lincah.
Dia menggunakan tongkat besi pendek yang bisa mengeluarkan aliran listrik tegangan tinggi.
Elena berguling di bawah meja laboratorium, menyambar botol asam klorida dan melemparkannya ke arah kabel-kabel listrik di dinding.
KRETEK!
Lampu-lampu meledak, menciptakan kegelapan yang menguntungkan Elena.
Dalam kegelapan, dia bergerak seperti predator.
Dia tidak lagi memedulikan etika; dia bertarung untuk eksistensinya.
Sementara itu, Reza terlibat baku tembak sengit dengan para pengawal.
"Elena! Aku nggak bisa tahan lama di sini! Ada protokol self-destruct yang aktif kalau servernya dicoba diretas!"
Elena berhasil menyudutkan Aris di dekat tabung Elara yang sedang diperbaiki.
Dia mencengkeram kerah jas lab pria itu.
"Matikan protokolnya, sekarang!" perintah Elena.
Aris tertawa, darah mengalir dari bibirnya yang pecah.
"Kau nggak paham, Elena. Kematianmu di sini adalah bagian dari data yang kubutuhkan. Rasa takutmu, kemarahanmu... semuanya akan diunggah ke cloud sebagai referensi buat 03 dan seterusnya."
"Kalau begitu, biarkan mereka belajar cara mati," Elena menghantamkan kepala Aris ke tabung kaca Elara.
PRANG!
Kaca tebal itu pecah.
Cairan biru tumpah membanjiri lantai.
Elara yang belum sepenuhnya sadar merosot keluar, terengah-engah mencari oksigen.
Gedung mulai bergetar.
Suara sirene tanda ledakan akan segera terjadi memekakkan telinga.
"Reza! Ambil semua data drive-nya! Kita nggak bisa biarkan riset ini tetap ada!" Elena berteriak sambil menyeret Aris yang pingsan.
"Udah dapet! Ayo cabut!" Reza menyambar tangan Elena.
Mereka berlari menuju lift barang, tapi Elara tiba-tiba bangkit dari lantai.
Dengan mata yang liar dan gerakan yang patah-patah, dia menerjang Elena.
Elara tidak bicara, dia hanya mengerang marah.
"Dia bukan lagi manusia, Elena! Dia cuma sisa-sisa program yang rusak!" Reza mencoba menarik Elena.
Elena menatap Elara untuk terakhir kalinya.
Ada rasa kasihan yang mendalam.
Mereka berdua adalah korban dari ambisi pria-pria gila.
"Maafkan aku, 'kakak'," bisik Elena.
Elena melepaskan tembakan ke arah tangki gas oksigen di dekat Elara.
Ledakan kecil tercipta, mendorong Elara kembali ke dalam api sementara Elena dan Reza melompat masuk ke lift barang yang mulai naik.
Saat mereka keluar dari gedung Pulogadung itu, ledakan besar terjadi di bawah tanah.
Tanah bergetar hebat, dan perlahan-lahan bagian tengah pabrik tua itu amblas ke dalam bumi, menelan semua tabung inkubasi, riset gila Aris, dan sejarah kelam The Hive.
Elena berdiri di kejauhan, napasnya memburu.
Paman Han sudah menunggu dengan ambulans pribadi.
"Data risetnya ada di tangan kita sekarang, Nona," Paman Han berkata dengan nada lega.
"Hanya kita yang punya kunci buat menghancurkan 'The Origin' sampai ke akar-akarnya."
Reza merangkul bahu Elena yang gemetar.
"Kita menang, Elena. Kali ini benar-benar menang."
Elena menatap matahari yang mulai mengintip di cakrawala Jakarta.
Dia meraba angka 01 di pergelangan tangannya.
Luka itu mulai mengering.
"Ini bukan kemenangan, Rez. Ini adalah pembersihan," ucap Elena tenang.
"Dan mulai sekarang, nggak ada lagi 01. Nggak ada lagi prototipe. Hanya ada Elena Adiguna, wanita yang bakal mastikan nggak akan ada lagi manusia yang diciptakan cuma buat jadi pion."
Ia mengambil pemantik api dari saku Reza, menyalakan sebatang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara pagi.
Dia menoleh ke arah Paman Han.
"Paman, siapkan pengumuman untuk dewan direksi. Kita akan menjual seluruh aset 'The Hive' yang tersisa dan mendonasikannya untuk riset genetika yang legal. Aku mau nama ibuku dikenal karena menyembuhkan orang, bukan menghancurkan mereka."
Elena berjalan menuju mobil, langkahnya mantap.
Dia mungkin diciptakan di lab, tapi dia memutuskan untuk hidup di dunia nyata.
Dan dunia nyata harus bersiap, karena sang Nyonya yang Terbuang kini punya misi baru: Menjadi penjaga bagi mereka yang tidak punya suara.
"Ayo pulang, Rez," ajak Elena.
"Aku lapar. Dan kali ini, aku mau makan bubur ayam di pinggir jalan yang paling enak di Jakarta."
Reza tertawa lepas.
"Siap, Bos Ratu. Bubur ayam termewah di dunia, segera meluncur!"
Bersambung...
Ayo buruan baca...