Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Cepat
Rayga mematung di sofa, menatap Aurellia dengan wajah tegang.
Ekspresi Rayga seperti begitu kaget karena dia tidak yakin Aurellia akan hamil secepat itu.
Pernikahan mereka belum genap satu bulan, tetapi Aurellia sudah langsung hamil, itu seperti sulit untuk dia percaya.
Sangat-sangat susah untuk dia meyakinkan pendengarannya.
"Kami menikah belum genap satu bulan. Mana mungkin dia hamil," kata Rayga setelah satu menit berlalu dia bergelut dengan pikirannya.
Dokter Alana menoleh pada Rayga, tetapi dia tidak berani menatap lama pria itu.
"Itu bisa saja terjadi, Tuan," jawab Dokter Alana, setelah itu dia kembali menoleh pada Aurellia yang sudah duduk di atas tempat tidur.
"Kami menikah baru tiga minggu, Dok," sela Aurellia.
"Jika di saat melakukan HB kondisi Non Aurellia ada di masa subur, maka kehamilan bisa saja terjadi walau pernikahan kalian belum genap satu bulan," jelas Dokter Alana.
Rayga mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh dokter Alana.
Walau dia masih belum yakin, tetapi dia tidak menyanggah penjelasan singkat yang diberikan Dokter Alana.
"'Apa pemeriksaannya sudah selesai? Kalau sudah, silahkan keluar," ujar Rayga pada Dokter Alana.
"Oh, iya. Maaf... sudah, pemeriksaannya sudah selesai," jawab Dokter Alana tergagap dan tak habis pikir dengan sikap Rayga yang tidak ada ramahnya sedari pertama Dokter Alana masuk ke dalam kamar itu untuk memeriksa Aurellia.
"Kalau begitu, aku permisi," pamit Dokter Alana yang tidak digubris Rayga.
"Terima kasih ya, Dok," ucap Rayga saat dokter Alana hendak pergi meninggalkan kamar itu.
"Sama-sama." Dokter Alana menoleh pada Aurellia dengan senyuman tulusnya sebagai Dokter yang memang bertugas melayani pasiennya.
"Jangan makanan dan istirahatnya ya, Non. Selamat atas kabar baik ini."
Pesan dan ucapan selamat dilontarkan Dokter Alana sebelum dia benar-benar keluar dari kamar Rayga.
Setelah dokter Alana keluar dari kamarnya, Rayga dan Aurellia sama-sama diam.
Sehingga di dalam kamar itu terasa hening dan mencekam.
Aurellia memilih untuk kembali berbaring, menarik selimut sampai bahu dan mencoba untuk memejamkan mata dengan perasaan campur aduk.
Dia tidak berharap sama sekali dapat ucapan selamat dari Rayga atas kabar kehamilannya ini, karena Aurellia merasa itu sangat tidak mungkin.
Apalagi kabar kehamilan itu juga belum pasti, baru praduga karena ada garis dua samar saat dia testpack tadi.
Di antara rasa senang akhirnya dia hamil walau belum pasti, ada rasa cemas dan takut yang menyerang pikirannya.
Aurellia mengusap perutnya yang masih rata dan belum ada merasakan apa-apa di dalamnya.
Gerakan janin seperti orang hamil besar juga belum ada.
"Jika aku beneran hamil, bagaimana kalau nantinya anak yang aku kandung adalah perempuan? Apakah anakku ini nantinya kalau lahir perempuan akan diberikan pada orang lain oleh Rayga atau mungkin akan dia bunuh?" batin Aurellia dengan segala kecemasannya.
Aurellia tidak bisa membayangkan jika nanti yang dia kandung bukanlah seorang anak laki-laki melainkan anak perempuan.
Matanya langsung menghangat dengan bulir bening keluar dari sudut matanya menetes ke atas bantal.
"Mungkin saja dia akan melakukan aborsi jika nanti ketahuan sebagai perempuan saat masih dalam kandungan." Praduga demi praduga negatif bermunculan di hati dan pikiran Aurellia, sehingga dada dan perutnya terasa penuh menahan sakit dan sedih yang mendalam.
Rayga yang meminta agar Aurellia melahirkan anak laki-laki untuknya membuat Aurellia terbebani saat telah dinyatakan berkemungkinan hamil seperti saat ini.
Di antara Aurellia yang bergulat dengan praduganya, ada Rayga yang duduk di sofa juga dengan berbagai monolog di dalam pikirannya.
"Apa aku akan sanggup jadi seorang ayah?" tanya Rayga dalam hati pada dirinya sendiri.
"Apa yang nanti aku ajarkan pada anakku saat dia sudah lahir nanti. Aku ini hanya manusia payah, kenapa harus secepat ini jadi seorang ayah?" Rayga memejamkan matanya, memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut.
Pernikahan yang tidak dia rencanakan, dan meminta anak kepada Aurellia yang juga tidak dia planning sebelumnya, membuat Rayga tidak tahu harus menyikapi seperti apa saat dia mendengar dari Dokter Alana kalau Aurellia berkemungkinan hamil.
Rayga merasa terjebak oleh tindakannya sendiri yang dia anggap begitu ceroboh.
Rayga teringat sosok papanya yang pekerja keras.
Mavien, seorang pria bijaksana yang mempersembahkan dirinya sebagai sosok papa yang luar biasa kepada Rayga selaku anak semata wayangnya.
Semua kebutuhan dan keinginan Rayga selalu tercukupi.
Rayga diberi cinta dan kasih yang sangat luar biasa dan Rayga juga sangat dimanja.
Mengenang sosok sang Papa, membuat Rayga rindu masa kecilnya sekaligus juga benci masa-masa itu kalau dia lihat dari sisi yang lain.
"Apa aku bisa seperti papa yang punya kasih dan cinta untuk anaknya?" Rayga meragukan dirinya sendiri.
Kedua insan di dalam kamar itu saling bermonolog dengan diri sendiri, tetapi pikiran negatif dari keduanya tertuju pada Rayga seorang.
Rayga meragukan dirinya tidak akan bisa jadi sosok papa yang baik untuk anaknya, sedangkan Aurellia malah menyangka pada Rayga yang akan melenyapkan anak mereka kalau nanti berjenis kelamin perempuan.
Rayga kembali mengambil ponselnya yang dia letakkan begitu saja di atas sofa dekatnya.
Dia mencari nomor Xander, kalau saat-saat seperti ini, hanya Xander yang muncul dalam pikirannya.
"Halo, Bos," sapa Xander saat panggilan telepon mereka tersambung.
"Aurellia hamil." Saat mendengar suara Rayga dari ponselnya, Rayga langsung memberitahu apa yang saat ini mengguncang pikirannya.
"Wow, hebat! Ternyata bibitmu subur juga Bos. Bisa langsung tumbuh dalam waktu yang singkat," sahut Xander yang terdengar bersemangat.
"Ke sini!" Rayga tidak menghiraukan Xander yang dia rasa sedang mencemoohnya, padahal Xander di seberang sana begitu bahagia mendengar kabar tersebut.
"Baik, Bos. Meluncur ..." Xander terdengar bersemangat sekali, sehingga oktaf suaranya tak sengaja meninggi.
Rayga memutus panggilan teleponnya pada Xander.
Dia melirik Aurellia yang tidur membelakang padanya.
Baru kali ini Rayga merasa bingung harus ngapain dan tak punya kosa-kata untuk sekedar berbicara pada Aurellia.
Setengah jam lamanya, Rayga dan Aurellia masih saja belum ada yang bertegur sapa walau berada di tempat yang sama.
Masih dengan pikiran masing-masing, Rayga saling membelakangi.
Aurellia tidur di ranjang membelakangi Rayga, sedangkan Rayga duduk di sofa juga merubah posisinya jadi membelakangi Aurellia.
Pintu kamar diketuk dari luar, Aurellia sudah menduga kalau itu Xander yang sudah sampai di rumahnya.
"Masuk," ujarnya mempersilahkan yang mengetuk pintu untuk masuk, karena yang ada dalam pikirannya itu adalah Xander.
Saat pintu terbuka, dari balik pintu itu muncul seorang pria yang bukanlah Xander.
Mata Rayga membulat sempurna, tetapi dia tetap terlihat sangat berwibawa.
"Ini pasti ulah Xander. Dasar asisten tak berguna!" umpat Rayga dalam hatinya.