Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Mimpi
Zivanna terengah-engah. Tenggorokannya kering. Nafasnya tersengal diiringi keringat yang membasahi hampir seluruh tubuhnya.
Sudah satu bulan sejak dia mendapatkan donor mata, setiap malam Zivanna selalu bermimpi yang membuatnya terbangun di tengah-tengah tidurnya.
Terkadang hanya mimpi biasa tetapi terkadang mimpi itu begitu menakutkan sehingga membuatnya terbangun dalam keadaan pucat pasi seperti sekarang ini.
"Mimpi buruk lagi, Zi?" Anita, sang mama ikut terbangun lalu menoleh melihat putrinya dengan raut cemas.
Sejak mengalami mimpi buruk Zivanna tidak berani tidur sendirian. Alhasil dia tidur bersama mamanya sementara papanya mengalah dan tidur di kamar lain.
"Sebenarnya aku kenapa, Ma? Aku tidak kuat kalau seperti ini terus," Zivanna putus asa. Karena mimpi-mimpi itu Zivanna jadi kurang tidur dan itu membuat kondisi kesehatannya menurun. Dia sering lemas dan nafsu makannya juga berkurang.
Anita mengelus punggung anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia sendiri tidak memiliki jawaban kenapa Zivanna jadi sering bermimpi buruk akhir-akhir ini.
Zivanna kehilangan penglihatannya setahun yang lalu ketika mengalami kecelakaan. Setelah menunggu selama satu tahun, akhirnya Zivanna berhasil mendapatkan donor mata dan sekarang bisa kembali melihat dunia.
Tetapi sayangnya, kembalinya penglihatannya diikuti dengan mimpi buruk yang begitu asing tetapi bagi Zivanna terasa begitu nyata.
"Apa mungkin ini karena kamu masih memikirkan Rio?"
Zivanna menggeleng. Dia bahkan sudah tidak pernah memikirkan laki-laki pengecut, kekasih yang meninggalkannya begitu mengetahui dia buta itu.
"Mimpi ini seperti tidak ada hubungannya dengan kita, Ma. Orang-orang yang ada di dalam mimpiku tidak ada satupun yang aku kenal."
"Sebaiknya kita pergi ke psikolog. Mungkin bisa membantu."
Pagi harinya...
"Zizi belum bangun?" Wisnu menyapa Anita yang sedang menyajikan makanan di atas meja makan.
Melihat istrinya tidak segera menjawab, Wisnu menyimpulkan sendiri. "Dia mimpi buruk lagi?"
"Dia baru bisa tidur jam lima tadi."
Wisnu menghembuskan nafasnya. "Ada apa sebenarnya?"
"Dia kecelakaan lalu buta, setelah itu ditinggalkan Rio. Papa lihat sendiri selama Zizi buta kemarin dia selalu murung dan jadi menutup diri. Sekarang penglihatannya sudah kembali, tetapi tidak bisa mengembalikan Rio karena laki-laki itu sudah bertunangan dengan perempuan lain. Bahkan dia sudah mau menikah. Kejadian itu menimpanya secara bertubi-tubi. Apa mungkin Zizi depresi?"
"Itu mungkin saja, Ma."
"Lalu bagaimana caranya agar Zizi bisa melupakan Rio? Sementara di sini teman-teman Zizi adalah teman Rio juga. Mereka pasti sering membicarakan Rio yang sudah bertunangan dan akan segera menikah. Zizi mau tidak mau pasti mendengarnya. Bagiamana dia akan melupakannya?"
"Bagaimana kalau untuk sementara Zizi tinggal di desa bersama neneknya? Suasananya tenang. Mungkin Zizi bisa pelan-pelan melupakan Rio di sana."
Anita tampak berpikir. "Kita tanya saja nanti kalau dia sudah bangun."
"Selamat pagi." Zivanna muncul tepat ketika Anita selesai bicara.
Zivanna sudah mandi dan terlihat lebih segar. Tetapi lingkaran hitam di sekitar mata Zivanna terlihat begitu jelas membuat Anita benar-benar khawatir.
Anita menatap suaminya seolah bertanya apa yang harus mereka lakukan untuk menolong putri semata wayangnya itu.
"Bagaimana tidurmu, Zi?"
"Sama seperti kemarin-kemarin, Pa," jawab Zizi malas.
"Kita jadi ke psikolog, Sayang? Mama sudah buatkan janji," sahut Anita.
Zivanna menggeleng. "Aku rasa tidak perlu, Ma. Tidak ada yang salah dengan kondisi kejiwaanku. Aku yakin itu. Papa dan mama tanyakan apapun kepadaku, aku pasti bisa menjawabnya."
"Aku yakin aku tidak depresi seperti yang mama khawatirkan. Aku punya papa dan mama yang sangat menyayangiku, aku tidak kurang apapun, bahkan aku sudah bisa melihat lagi. Lalu apa alasannya aku mengalami depresi?"
Anita dan Wisnu saling pandang. Zivanna tidak akan bisa didebat jika sudah mengutarakan pendapatnya.
"Mungkin kalau aku kerja lagi, aku tidak akan mimpi buruk. Siapa tahu aku mimpi buruk karena tidak memiliki kegiatan. Selama setahun kerjaku hanya makan dan tidur."
"Doktermu belum mengizinkan kamu untuk kembali bekerja. Masih berbahaya bagi matamu jika menatap layar monitor terlalu lama. Sementara pekerjaanmu mengharuskan berurusan dengan laptop dan komputer," sanggah Wisnu.
Sebelumnya, Zivanna bekerja di perusahaan papanya. Jadi dia bebas masuk kapanpun dia mau.
"Sayang, bagaimana kalau untuk sementara kamu tinggal bersama nenek di desa? Di sana suasananya tenang. Siapa tahu kamu bisa tidur nyenyak di sana. Hitung-hitung liburan sekalian menemani Oma. Sudah lama kan kamu tidak mengunjungi Oma?"
"Dua atau tiga tahun ya, aku lupa," ucap Zivanna sambil berusaha mengingat. "Sepertinya ide bagus. Bolehlah. Aku akan bersiap-siap. Kapan papa mau antar aku ke rumah nenek?"
Anita dan Wisnu saling pandang. Keduanya terlihat lega.
"Terserah kamu maunya kapan."
"Kalau nanti sore gimana, Pa? Biar aku mengemasi barang-barang yang akan aku bawa dulu sekarang."
Wisnu mengangguk saja. Lebih baik segera diiyakan keinginan anaknya itu sebelum berubah pikiran.
Zivanna membayangkan desa tempat neneknya tinggal yang masih begitu asri. Kiri kanan jalan menuju rumah neneknya adalah sawah yang ditanami padi. Pagi hari udara sangat sejuk dan dipenuhi kabut tipis. Siangnya, matahari akan bersinar terik tetapi tidak terasa panas. Akan ada sekumpulan bangau mencari mangsanya di antara pohon-pohon padi yang belum lama di tanam.
Mengingat desa tempat tinggal neneknya membuat Zivanna teringat mimpinya semalam. Sawah-sawah yang ada di mimpinya terasa begitu mirip dengan persawahan di desa neneknya.
Di dalam mimpinya semalam, Zivanna melihat seorang gadis dikejar oleh seorang laki-laki yang mengenakan jaket bertudung (hoodie) dan menutup wajahnya dengan masker hitam. Hanya gambar di jaket itu yang bisa Zivanna lihat dengan jelas. Selebihnya hanya samar-samar.
Gadis itu berlari sambil berteriak minta tolong tetapi tidak ada seorangpun yang mendengar karena dia berada di area persawahan yang jauh dari pemukiman penduduk.
Gadis itu sudah kehabisan tenaga ketika laki-laki yang mengejarnya berhasil menangkapnya. Laki-laki berjaket hitam itu mencekal tangan gadis itu lalu menyeret tubuhnya cukup jauh. Tanpa terasa yang tadinya mereka berada di area persawahan terbuka kini sudah berpindah di area perkebunan tebu yang lebat dan tertutup.
Laki-laki bertudung membawa gadis malang itu menyusup diantara pohon tebu lalu merobek baju dan menindih tubuhnya. Selanjutnya Zivanna tidak mau mengingatnya lagi.
Zivanna tidak pernah menceritakan mimpinya secara detail. Dia hanya mengatakan jika dia mimpi buruk, itu saja. Anita dan Wisnu lantas menduga jika mimpi itu ada hubungannya dengan mantan kekasih Zivanna, Rio. Hal itu pula lah yang membuat Anita dan Wisnu menyimpulkan jika Zivanna depresi karena ditinggal oleh Rio.
Zivanna menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba keringat dingin membanjiri pelipisnya. Tubuhnya gemetar dan wajannya pucat. Itu hanya mimpi tetapi rintihan gadis itu dan teriakan minta tolongnya terdengar begitu nyata seperti Zivanna sendiri yang sedang mengalami kejadian itu. Hanya dengan mengingatnya saja jantung Zivanna berdebar tidak karuan.
"Zi, kamu kenapa, nak?" Suara Anita terdengar khawatir.