Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pukul delapan malam, semua kembali berkumpul di rooftop. Lampu kelap-kelip menyala, kue ulang tahun hasil kerja buru-buru koki sudah siap di atas meja.
Malam ini minuman yang disajikan bukan lagi minuman rendah alkohol seperti biasa. Kali ini kandungan alkoholnya cukup tinggi untuk membuat semua orang tiarap. Katanya sih, mereka ingin menjadikan malam ini spesial. Tiga minggu lagi pelatihan ini akan berakhir, jadi tak ada salah nya bersenang- senang.
Clarissa hanya bisa menghela napas dan mengingatkan agar semua minum secukupnya. Lalu saat Nove digiring oleh Desi dan Apri, semua berteriak bersamaan.
"SURPRISE!!"
Suasana langsung hening.
Nove hanya menatap balon berbentuk hati yang membentuk namanya, lalu berkata datar, "Makasih ya."
"Datar bet, anjir," bisik Janu pada Okta yang sudah menahan tawa sampai bahunya naik turun.
Acara ber jalan lancar untuk lima belas menit pertama. Setelah itu, kekacauan dimulai. Minuman mengalir tanpa kendali, dan separuh peserta mulai mabuk berat.
Febi, Desi, Mei, dan Kimi-yang paling alem dan polos soal minum-sibuk mencegah hal-hal bodoh ter jadi, seperti "ayo kita loncat bareng biar dramatis". Bisa-bisa besok area pelatihan ini geger, karena setengah pesertanya bergelimpangan setelah terjun bebas dari rooftop.
"Tenang, gw masih sadar. Segini mah belum apa- apa," ujar Septi dengan mata separuh terpejam, separuh berbinar entah kenapa.
"Kalian ini pemabuk apa gimana sih? Katanya pada gak ngerti minum, kenapa malah sok-sokan kayak udah pro gini," omel Desi sambil menahan Agus yang terus berusaha berdiri.
Clarissa menepuk dahinya lelah. "Aduh, saya salah besar ngasih izin.
"Bu Salma. malah tertawa. "Gak apa-apa, Rissa. biarin aja. Sekali-sekali mereka buang stres."
Tapi saat Nove mulai sempoyongan, Clarissa bangkit dari kursi. "Aduh, ini yang punya acara malah tumbang. Febi, bantu bawa dia ke asrama ya."
"Iya, Bu," jawab Febi cepat sambil menuntun Nove turun tangga.
Kimi yang dari tadi cuma minum soft drink mulai resah juga.
"Kenapa pada mabuk semua sih? Ini di rooftop, bukan di ruang karaoke. Mau gelindingan di tangga nanti?" gerutunya sambil menatap sekeliling.
Janu yang duduk di sebelahnya sudah oleng total, tertawa-tawa sambil merangkul Kimi. Sesekali ia mengecup pipinya sambil bilang, "adek gw nih, adek gw."
"Santai, kim. Anggep aja ini malam terakhir kita di dunia "
"Kamu bau, Jan. Serius. Bau kayak limbah dosa," kata Kimi kesal sambil mendorong pelan.
"Parah banget lo," Janu terkekeh, lalu nyaris jatuh ke belakang dan spontan memeluk Kimi sebelum tumbang.
Semuanya masih lucu, sampai Ruby yang dari tadi diam memperhatikan tiba-tiba berdiri. Ia sudah cukup menahan diri. Tak peduli apapun selera Janu, ia juga bisa kesal kalau pacarnya dikecup, di rangkul, dan dipeluk di depan matanya.
Ia langsung menarik tangan Janu dan melepaskan pelukannya dari Kimi, lalu menggenggam bahu Kimi seperti hendak memastikan pacarnya baik-baik saja.
Udara di sekitar Ruby tiba-tiba berubah. Meskipun semua orang sudah setengah mabuk, dua orang-Desi dan Mei-masih cukup sadar untuk merasakan aura menegangkan itu. Anela sendiri sudah berdiri sambil menahan napas.
"Lo boleh mabuk, tapi jangan kelewatan," kata Ruby dengan nada dingin.
Janu mencoba. Berdiri, tapi badannya limbung. "Lo apaan sih, sok asik banget? Lepasin Kimi!"
"Janu, udah! Uby juga, jangan ladenin orang mabuk," ujar Kimi panik.
"Heh, cewek gatel!" seru Janu, telunjuknya teracung ke arah Ruby. "Lo suka Kimi kan? Gw liat lo sering ngelirik dia diam-diam! Orang kayak lo tuh doyan nyeret orang biar ketularan! Eh, atau lo emang suka-"
"JANU!" potong Kimi keras. "Dia pacar aku, tau! " Suara Kimi menggema, memantul di antara dinding rooftop yang sepi.
Ruby menegang, wajahnya tetap datar tapi matanya menyala. Sementara Desi dan Mei melotot dan menahan napas. Syok tingkat akhir.
Juli yang sudah mabuk total malah tertawa terbahak-bahak sampai nyaris menumpahkan minumannya.
"Mereka emang udah jadian, kocak!" serunya sambil jalan sempoyongan ke arah Bu Salma yang berdiri dengan tatapan setengah waspada.
Tanpa aba-aba, Juli langsung memeluk Bu Salma sambil masih cekikikan.
"Nah, yang îni pacar gw," katanya santai seolah baru mengumumkan hal biasa.
"JUL?!" Desi dan Mei mendelik bersamaan, Double syok.
"Hei, Juli. Sadar kamu," kata Bu Salma tegas, menahan panik tapi tetap berusaha menjaga wibawa. Ia menoleh ke semua yang masih setengah sadar. "Oke, cukup untuk malam ini. Kalian kembali ke kamar masing-masing ya. Yang masih sadar, tolong bantu temannya."
Semuanya langsung bergerak. Ruby menggandeng tangan Kimi denngan santai, seolah tidak peduli siapa yang memperhatikan. Hubungan mereka sudah ketahuan. Untuk apa repot-repot sembunyi lagi, pikirnya.
"Uby, aku bantu mereka balik dulu ya?" kata Kimi sambil menoleh ke arah Desi yang sedang memapah Agus.
Ruby terus berjalan tanpa melepaskan tangan Kimi.
"Biarin. Mereka yang mau mabuk."
"Tapi kasian, By. Kalau gak dibantu nanti malah jatuh."
Langkah Ruby berhenti di anak tangga ketiga. Ia menoleh, matanya tajam tapi suaranya tenang, jenis nada yang justru lebih berbahaya dari marah terbuka.
"Kalau kamu gak mau balik sama aku, berarti aku balik sama Anela."
Kimi langsung melotot. "Kok gitu sih?"
"Kamu sadar gak? Aku udah ninggalin satu-satunya temanku cuma buat kamu. Tapi kamu malah sibuk mikirin orang lain,"
Kimi terdiam. Ia tahu Ruby sedang cemburu dan marah, tapi logika Ruby kalau sudah kesal itu tak bisa dilawan. Salahnya sih karena tadi keceplosan soal status mereka, tapi sudah terlanjur dan ia tak cukup menyesal.
"Iya, iya, maaf. Aku gak sengaja ngomong soal Pacaran-"
"Menurut kamu gara gara itu?" potong Ruby cepat.
"Kamu tuh harusnya tahu batas. Jangan deket-deket Sama orang mabuk,"
Kimi cemberut, tapi sebelum sempat membalas, Ruby sudah melanjutkan turun tangga. Meski kesal, genggamannya di tangan Kimi tidak pernah lepas. Erat, nyolot, tapi hangat.
.