NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Pengganti

Bukan Sekedar Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.

Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?

Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?

Saksikan kisahnya disini….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.3

Dengan langkah pelan, Alisa pun berjalan menuju meja akad dengan didampingi oleh Bu Yuni dan juga adik laki-lakinya, yang bernama Yudha Wibisono.

Adik satu ayah, beda ibu dengan Alisa. Yudha lahir dua tahun setelah Bu Yuni dan Pak Ali menikah. Kini, pemuda itu tengah memasuki usia remaja.

Alisa berjalan dengan wajah yang menunduk. Ia benar-benar tidak berani mengangkat wajah, dan melihat sekeliling.

Perasaan gugup dan juga takut membuat kepalanya terasa berat untuk terangkat. Membuat Alisa terus menunduk, bahkan sampai ia duduk di kursi akad. Berdampingan dengan pria yang akan menikahinya hari ini.

Sebelum pergi meninggalkan meja akad, Bu Yuni tampak meremas pundak Alisa. Gerakan itu seolah menjadi peringatan diam-diam agar Alisa tidak macam-macam dan tidak mengacaukan semuanya.

“Berhubung mempelai wanitanya sudah ada disini, bisa kita mulai ijab kabulnya?” tanya Pak penghulu yang akan menikahkan Harlan dan juga Alisa.

“Bisa, Pak penghulu. Namun, sebelum itu ada yang ingin saya bicarakan sebentar dengan Bapak,” jawab Harlan.

“Apa itu? Apa yang ingin Nak Harlan sampaikan?”

Harlan pun berdiri. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu berbisik pelan kepada Pak Penghulu. Beberapa detik kemudian, Pak Penghulu menatapnya dengan raut ragu.

“Nak Harlan yakin dengan keputusan ini?” tanyanya pelan.

“Yakin, Pak.”

Pak Penghulu pun kembali membuka lembar demi lembar berkas yang ada di hadapannya. Setelah itu, ia mengambil pena dan mulai menuliskan sesuatu di sana.

“Sebentar!” seru Pak Ali cepat.

Pria itu langsung menahan tangan Pak Penghulu ketika melihat perubahan pada berkas tersebut. Nama mempelai wanita yang semula tertulis Marisa Wibisono, kini diganti menjadi Alisa Husna Wibisono.

“Kenapa nama mempelai wanitanya diganti?” tanya Pak Ali dengan nada tegang.

Harlan menoleh ke arah Pak Ali. Menatap pria baya itu dengan tatapan yang dingin dan datar.

“Kenapa? Bukankah, yang saya nikahi sekarang itu Alisa, bukan Marisa. Jadi, dimana letak salahnya?” jawab Harlan, balik bertanya kepada Pak Ali.

“Iya, tapi…”

“Pak Ali. Bukankah, tadi sudah saya katakan. Saya, tidak ingin ada drama lagi.” sela Harlan membuat Pak Ali terdiam.

Bibir pria itu terbuka, seolah masih ingin mengatakan sesuatu, namun tak satu kata pun akhirnya keluar. Suasana di dalam ruangan mendadak terasa canggung.

Beberapa tamu undangan mulai saling berbisik pelan, menatap ke arah meja akad dengan rasa penasaran. Pak Penghulu berdehem kecil, mencoba menenangkan keadaan.

“Kalau memang kedua belah pihak sudah sepakat, maka kita lanjutkan saja prosesi akadnya.” ucapnya bijak.

Pak Ali menelan ludah. Rahangnya mengeras, tetapi pada akhirnya ia mengangguk pelan. Ia tahu, di hadapannya begitu banyak tamu undangan, ia tidak mungkin membuat keributan yang justru akan mempermalukan keluarganya sendiri.

Di kursinya, Alisa masih setia dengan menundukkan kepalanya. Tangannya berada di atas pangkuannya, sedikit gemetar, dan demi menahan getaran itu agar tidak terlihat jelas. Alisa pun menautkan jemarinya erat-erat.

Ia mendengar semua percakapan itu dengan jelas. Dadanya terasa sesak.

Nama yang seharusnya diisi oleh nama Kakaknya… kini benar-benar telah digantikan oleh namanya.

Sementara itu, Harlan kembali duduk di tempatnya. Wajah pria itu tetap tenang, tanpa menunjukkan sedikit pun emosi. Tatapannya lurus ke depan. Seolah semua yang baru saja terjadi hanyalah hal kecil yang tidak berarti baginya.

Pak Penghulu kemudian kembali membuka berkas di hadapannya, memastikan semuanya sudah benar.

“Baiklah, saudara Harlan, apakah sudah siap untuk melaksanakan ijab kabul?” tanyanya sambil menatap ke arah Harlan.

Harlan mengangguk singkat, lalu menjawab dengan tegas.

“Siap, Pak.”

Pak Ali perlahan mengambil posisi di hadapan Harlan. Tangannya sedikit bergetar ketika ia mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Harlan.

Di sampingnya, Yudha berdiri dengan wajah tegang. Pemuda itu sesekali melirik ke arah Alisa, yang masih menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya sedikitpun.

Seluruh ruangan kini menjadi hening.

Semua mata tertuju pada dua pria yang akan melangsungkan ijab kabul. Pak Penghulu mulai memberi aba-aba.

“Silakan, Pak Ali.” ucapnya, mempersilahkan Pak Ali mengucapkan ijab.

Pak Ali menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Lalu ia menggenggam tangan Harlan dengan erat.

“Bismillah. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Harlan bin Hendrik Mahendra dengan putri saya, Alisa Husna Wibisono dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan juga satu set perhiasan berlian dengan berat tiga karat, dibayar tunai,”

“Saya terima, nikah dan kawinnya Alisa Husna Wibisono binti Ali Wibisono dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai,”

“Bagaimana saksi? Sah?”

“Sah,”

“Sah,”

“Alhamdulillah.”

Suara para saksi dan tamu undangan yang mengucapkan hamdalah terdengar hampir bersamaan. Tepuk tangan pelan pun mulai terdengar di beberapa sudut ruangan.

Tes.

Tanpa terasa, air mata kembali menetes dari sudut mata Alisa. Dengan cepat, ia mengangkat tangan dan mengusap air mata itu. Ia tidak ingin siapapun melihatnya menangis di saat seperti ini.

Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia. Hari pernikahannya. Hari yang dinanti setiap pasangan yang menjalin hubungan asmara yang romantis. Namun, mereka bukanlah sepasang kekasih yang romantis yang sedang menunggu momen itu.

Jangankan memadu kasih, bertemu pun baru hari ini, di hotel ini, dan di meja akad ini, meja yang baru saja menjadi saksi bisu bersatunya mereka dalam ikatan suci pernikahan. Keduanya bahkan belum sempat berkenalan dan saling sapa satu sama lain, dan kini, tiba-tiba status mereka sudah berubah saja. Sudah resmi menjadi suami istri yang sah dimata hukum dan agama.

Di sampingnya, Harlan masih duduk dengan tegak dan tenang. Wajah pria itu terlihat datar, tanpa ekspresi. Tatapannya lurus ke depan, seolah tidak menyadari air mata yang baru saja jatuh dari mata wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.

“Alhamdulillah, dengan ini Saudara Harlan dan Saudari Alisa telah sah menjadi pasangan suami istri.” ucap Pak Penghulu sembari tersenyum tipis.

Dan ucapan itu, cukup membuat seorang wanita baya yang sejak tadi duduk dengan tenang di barisan para tamu itu tersentak, lalu refleks membuatnya berdiri dari kursinya.

Saking tegang dan takut jika Alisa akan mengacaukan pernikahan itu, Bu Yuni sampai tidak menyadari jika nama yang disebut dalam ijab kabul bukan lah nama putrinya, melainkan nama putri sambungnya, Alisa.

Dan hal itu baru di sadari oleh Bu Yuni saat mendengar Pak penghulu mengucapkan nama kedua mempelai yang kini resmi menjadi pasutri, untuk kedua kalinya.

“Tunggu…” ucapnya, cukup menarik perhatian semua orang yang hadir di sana. Membuat semua mata pun akhirnya tertuju padanya.

Merasa jika sang istri akan memprotes nama sang mempelai wanita yang tiba-tiba saja berubah. Pak Ali pun bergegas pergi, menghampiri istrinya dan membisikkan sesuatu yang membuat wanita baya itu membelalakan matanya.

Namun, detik kemudian, ia pun terlihat pasrah dan kembali duduk di kursinya dengan tatapan yang semakin tajam kearah Alisa.

Beberapa tamu undangan kembali bertepuk tangan. Suasana yang sempat tegang perlahan berubah menjadi lebih hangat. Meski begitu, ada beberapa tamu yang mulai bergosip dengan perubahan nama mempelai wanita.

Mereka terlihat kebingungan, karena nama mempelai wanita yang ada di surat undangan dengan mempelai wanita yang saat ini tengah duduk di meja akad berdampingan dengan Harlan, benar-benar berbeda.

“Selanjutnya, mempelai pria dipersilakan untuk memasangkan cincin pernikahan kepada mempelai wanita.” lanjut Pak Penghulu. Kembali menarik perhatian para tamu, termasuk para tamu yang sedang bergosip tentang pasutri baru itu.

Tidak lama, seorang petugas WO pun datang menghampiri meja akad dan menyerahkan sebuah kotak beludru kecil kepada Harlan.

Pria itu membuka kotak tersebut.

Di dalamnya, terletak sebuah cincin berlian yang berkilau indah.

Perlahan, Harlan mengambil cincin itu.

Baru di saat itulah, keduanya saling bertukar pandangan.

“Boleh, pinjam dulu tanganmu.” ucap Harlan dengan suaranya pelan, namun masih bisa didengar oleh Alisa.

1
Uba Muhammad Al-varo
siapa tuh orang yang sedang ngintip dan menguping Harlan dan Alisa 🤔🤔🤔
Teh Yen
ngeri banget yah suasana d rmh kakek Harlan
Titik Ristiana
up lg kpn??
🌸 Triyani 🌸: maaf, insya Allah malam ini. aku nya sakit kak. jdi belum sempet nulis 🙏
total 1 replies
Teh Yen
smngta Alisa d Harlan kalian pasti bisa melewati semuanya bersama
Ariany Sudjana
kan kamu itu pelacur murahan Yuni, yang hanya ingin kekayaan pak Ali
Uba Muhammad Al-varo
harus lebih tegas lagi pak Ali kalau ngomong sama bu Yuni
Teh Yen
gegara siapa tuh pak Ali d Bu yuni jadi cekcok.terus gegara putri semata wayang mu lah Bu Yuni yg kabur d hari pernikahan 😏 sadar diri dong sedikit putrimu yg salah nyalahin Alisa terus heran 😏
Teh Yen
lah jd ikutan bingung aku hehe 😁,, tp jangan terlalu banyak berpikir Alisa suamimu kan kaya sekarang kamu istri pengusaha loh setidaknya itu salah satu bentuk tanggung jawab Harlan suamimu kalau kamu mau sekolah desain lagi ya kan jd terima saja
Eti Alifa
semoga anak2 author segera sehat kembali.
Eva Karmita
sama otor di tempat ku juga lagi musim demam bapil mungkin karena cuaca hujan panas ... aku aja satu rumah kenak semua 🥺 ..,, semoga otor dan keluarga cepat sembuh aamiin 🤲🤲
maya ayu
semoga lekas sembuh thoorrr.. amiiinn🙏🙏🙏
Uba Muhammad Al-varo
iya kakak Author 👍👍👌 yang diutamakan semuanya pada sehat, aamiin...🙏❤️💪💪💪
vita
sll suka karya2nya
Teh Yen
engg pa pa thor ,, smoga lekas sembuh yah semuanya
Elisabeth Ratna Susanti
like, subscribe plus 🌹 untuk karya keren jni🥰
🌸 Triyani 🌸: makasih kak 🤗🥰🙏
total 1 replies
Teh Yen
Alisa bingung yah mau pesen yg mana abisnya harganya.mahal" untuk dia hihii
Uba Muhammad Al-varo
Harlan apa benar kamu udah memahami Alisa, makanya sekalian kamu selidiki Alisa Harlan,ada apa sebenarnya yang terjadi pada Alisa 🤔🤔🤔
maya ayu
semangat othooorrrrr aku suka novel2 mu❤️❤️❤️👍👍
Uba Muhammad Al-varo
kini saatnya Alisa bahagia semenjak dari kecil ditinggalkan dan tanpa kasih sayang bpknya sekarang ada Harlan yang akan menyayangi, mencintai dan membahagiakan mu Alisa
Uba Muhammad Al-varo
semoga cepat sembuh kakak, aamiin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!