[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam Terbaik adalah Mempercantik Diri
Olyvia berdiri di depan cermin panjang yang menempel di dinding kamarnya. Cermin itu bukan cermin mewah dengan bingkai ukiran. Hanya cermin biasa yang dibeli ibunya di pasar loak seharga Rp3,-. Tapi pantulan yang ia lihat di dalamnya adalah dirinya sendiri, sejujurnya, tanpa filter.
Ia menatap tubuhnya dari atas ke bawah. Rambut hitamnya yang panjang sepunggung tampak kusam dan bercabang. Alisnya tebal alami tapi tidak terawat. Kulit wajahnya sebenarnya mulus, bebas jerawat, tapi berminyak dan kusam karena tidak pernah tersentuh skincare. Pakaian yang ia kenakan masih kaus oblong pudar dan celana training belel. Penampilannya persis seperti mahasiswi akhir bulan yang sedang berhemat.
Sejujurnya gue cukup cantik. Tinggi, langsing, muka gak pas-pasan amat. Tapi gue kurang jaga penampilan. Banget.
Ia mengelus dagunya sendiri, berpikir. Balas dendam terbaik untuk semua orang yang pernah meremehkannya, untuk keluarga Arjuna yang menganggapnya miskin dan tidak pantas, seharusnya bukan dengan kata-kata atau konfrontasi langsung. Balas dendam terbaik adalah mempercantik diri, membuat semua orang terpesona, dan menunjukkan bahwa ia tidak membutuhkan siapapun untuk bersinar.
Arjuna dulu suka ngeluh gue jarang dandan. Katanya gue cantik tapi males ngurus diri. Sekarang? Gue bakal bikin dia menyesal pernah ngelepas gue.
Olyvia berbalik dan duduk di tepi kasur. Pikirannya melayang sejenak pada asal-usulnya. Ia memang berbeda dari kedua adiknya. Siska dan Galang mewarisi gen Jawa yang kuat dari ibu. Kulit sawo matang, rambut ikal, mata agak besar. Tapi Olyvia? Ia mewarisi darah Tionghoa dari ayahnya lebih dominan.
Ayahnya, Li Feng, adalah pria Tionghoa yang jatuh cinta pada Bu Sumarni, perempuan Jawa yang dulu merupakan kembang desa. Keluarga Li Feng menentang keras hubungan itu, bahkan sampai mengusirnya dari rumah. Li Feng memilih cinta dan mengganti namanya menjadi Harjo Sentono. Ia memulai hidup dari nol sebagai petani penggarap.
Dari ayahnya itulah Olyvia mewarisi tinggi badan 170 cm, kulit putih bersih, rambut hitam lurus, dan wajah dengan fitur Tionghoa yang lembut. Hanya saja matanya tidak sipit. Ada sentuhan Jawa di sana yang membuatnya terlihat eksotis. Kombinasi yang sebenarnya memukau, tapi tidak pernah ia rawat dengan baik.
Gue ini blasteran. Harusnya gue bisa lebih cantik dari cewek-cewek lain. Tapi gue terlalu sibuk mikirin Arjuna sampe lupa sama diri sendiri.
Ia berdiri dan meraih dompet kecilnya. Untung libur masih ada seminggu lagi. Karina sama Sela juga udah pulkam. Gue bisa fokus transformasi tanpa ada yang ganggu.
Tujuannya hari ini: salon, butik, dan klinik dokter kulit.
Tempat Pertama: Salon "Hair Majesty"
Olyvia berjalan masuk ke sebuah salon mewah di pusat kota. Tempat ini terkenal sebagai langganan para sosialita Surabaya. Aroma essential oil langsung menyambutnya begitu pintu kaca terbuka. Sofa beludru merah, lampu kristal, dan cermin-cermin besar dengan bingkai emas. Mewah, tapi tidak berlebihan.
Seorang resepsionis dengan senyum profesional menyambutnya. "Selamat siang, Mbak. Ada appointment?"
Olyvia menggeleng. "Belum. Saya mau perawatan rambut lengkap. Creambath, hair mask, potong ujung, sama smoothing."
Resepsionis itu mengetik di komputernya. "Baik, Mbak. Total biaya sekitar Rp129,-. Apakah Mbak setuju?"
Murah banget. Dulu mungkin jutaan. Sekarang harga gorengan.
"Setuju."
Olyvia dibawa ke kursi salon. Seorang hairstylist wanita bernama Susan menanganinya. Wanita itu menatap rambut Olyvia dengan mata berbinar. "Rambut Mbak bagus banget, lho. Tebal, lurus alami. Cuma kurang nutrisi aja. Nanti kita kasih vitamin biar makin kinclong."
Olyvia tersenyum. "Terserah Mbak aja. Saya percaya."
Selama dua jam, Olyvia dimanjakan. Rambutnya dicuci dengan sampo mahal, diberi masker rambut, lalu di-creambath dengan pijatan kepala yang membuatnya hampir tertidur. Setelah itu, Susan memotong ujung rambutnya yang bercabang dan memberikan smoothing ringan agar lebih berkilau.
Begitu selesai dan menatap cermin, Olyvia tertegun. Rambutnya kini tampak sehat, hitam berkilau, dan tergerai lembut di bahu. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
"Ini... gue?"
Susan tersenyum puas. "Mbak cantik banget. Cuma dikit aja perawatannya, hasilnya udah beda."
Olyvia membayar di kasir: Rp129,-. Ia memberikan tip Rp5,- pada Susan. "Makasih, Mbak. Saya pasti balik lagi."
Ia keluar salon dengan perasaan ringan. Satu langkah selesai. Next: baju.
Tempat Kedua: Butik "La Belle Paris"
Olyvia menuju butik yang pernah ia kunjungi sebelumnya, Elite Atelier. Tapi kali ini ia ingin sesuatu yang berbeda. Ia memilih butik bernama La Belle Paris, yang terkenal dengan koleksi pakaian elegan ala wanita Prancis.
Begitu masuk, seorang pramuniaga menyambutnya dengan ramah. Tidak ada tatapan meremehkan seperti sebelumnya. Mungkin karena rambut Olyvia yang baru berkilau memberinya aura berbeda.
"Saya mau cari beberapa pakaian. Mulai dari atasan, bawahan, dress, sampai outer. Yang elegan, tapi tetap nyaman dipakai sehari-hari," jelas Olyvia.
Pramuniaga itu mengangguk dan mulai memilihkan beberapa potong. Satu per satu Olyvia mencoba di fitting room.
Pertama, blus sutra putih dengan detail renda di kerah: Rp49,-.
Kedua, celana palazzo hitam berbahan sifon: Rp37,-.
Ketiga, dress midi floral dengan warna pastel: Rp79,-.
Keempat, blazer krem oversize: Rp60,-.
Kelima, rok A-line motif polkadot: Rp30,-.
Keenam, dua potong atasan katun untuk sehari-hari: Rp20,- per potong.
Totalnya? Rp275,-. Olyvia menambah beberapa aksesoris seperti kalung mutiara imitasi (Rp50,-), anting mutiara (Rp30,-), dan sepatu flat balerina (Rp69,-).
Ia membayar semuanya dengan kartu debit tanpa ekspresi. Pramuniaga itu membungkus belanjaannya dengan rapi. "Mbak, selamat menikmati. Mbak cocok banget sama gaya begini. Anggun."
Olyvia tersenyum. "Makasih."
Saat keluar butik, ia sudah membawa empat paper bag besar. Ia memesan taksi online untuk pulang ke apartemen, menurunkan belanjaan, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat ketiga.
Tempat Ketiga: Klinik Kecantikan "DermaGlow"
Klinik ini adalah klinik kulit ternama yang biasa didatangi artis-artis ibukota. Olyvia masuk dan disambut oleh resepsionis berseragam putih bersih.
"Selamat sore, Mbak. Ada janji?"
"Saya mau konsultasi dokter kulit untuk perawatan wajah. Sama treatment kalo ada yang cocok."
Olyvia diantar ke ruang tunggu yang nyaman. Tidak lama, ia dipanggil masuk ke ruang dokter. Dokter cantik berusia tiga puluhan menyambutnya dengan ramah.
"Halo, saya Dokter Nadia. Silakan duduk. Ada keluhan apa?"
Olyvia menjelaskan bahwa ia ingin merawat kulit wajahnya agar lebih sehat, tidak berminyak, dan lebih glowing. Dokter Nadia memeriksa wajahnya dengan alat pembesar.
"Kulit Mbak sebenarnya bagus, lho. Pori-pori kecil, gak ada jerawat. Cuma memang agak kusam dan produksi minyak berlebih karena kurang hidrasi. Saya sarankan facial reguler, chemical peeling ringan, sama pakai skincare basic: cleanser, toner, moisturizer, sunscreen."
Olyvia mengangguk. "Boleh. Sekalian treatment-nya sekarang aja, Dok."
Dokter Nadia tersenyum. "Baik. Saya akan berikan paket perawatan untuk tiga bulan ke depan. Facial setiap dua minggu sekali, chemical peeling sebulan sekali. Total biayanya sekitar Rp35,- per bulan."
Tiga puluh lima rupiah per bulan. Dulu mungkin puluhan juta. Sekarang... murah banget.
"Saya ambil, Dok."
Olyvia langsung menjalani treatment facial dan chemical peeling. Wajahnya dibersihkan, diberi serum, dipijat lembut, lalu diberi masker dingin. Ia nyaris tertidur karena saking nyamannya.
Setelah selesai, ia menatap cermin di ruang treatment. Wajahnya tampak lebih cerah, segar, dan glowing. Minyak berlebih berkurang drastis. Ia tersenyum pada pantulannya.
Gila. Gue cantik juga ya ternyata.
Ia membayar paket perawatan tiga bulan di kasir: Rp105,-. Ia juga membeli rangkaian skincare yang direkomendasikan dokter: Rp12,-. Total Rp117,-. Ia menggesek kartu tanpa beban.
Sore Hari di Apartemen
Olyvia duduk di depan cermin kamarnya. Kali ini ia mengenakan dress midi floral yang baru dibeli, kalung mutiara, dan rambutnya tergerai berkilau. Wajahnya terlihat cerah dan sehat. Ia nyaris tidak percaya itu adalah dirinya sendiri.
Dari tadi gue cuma habis sekitar Rp705,- buat semua ini. Dalam dunia normal, itu setara puluhan juta. Tapi bagi gue, itu recehan. Dan hasilnya... Wow.
Ia mengambil ponsel barunya dan berfoto diri. Beberapa pose, beberapa angle. Ia mengirim satu foto ke grup sahabat tanpa konteks.
Olyvia: [Foto Olyvia dengan dress floral dan rambut berkilau]
Karina: WOY! INI SIAPA?!
Sela: ASTAGFIRULLAH. LO KOK BEDA BANGET?!
Olyvia: Transformasi. Balas dendam terbaik adalah mempercantik diri. 😌
Karina: Gila, Vy. Lo cantik banget. Arjuna pasti nyesel.
Sela: Kalo gue jadi cowok, gue langsung lamar lo sekarang.
Olyvia tertawa membaca respons heboh sahabatnya. Ia meletakkan ponsel dan kembali menatap cermin.
Arjuna, lo belum liat apa-apa. Ini baru permulaan. Tunggu sampe gue masuk kampus nanti. Lo bakal ngerasain jadi orang yang nyesel seumur hidup.
Ia menyentuh wajahnya sendiri di cermin. Dan yang lebih penting, gue akhirnya sayang sama diri gue sendiri. Ini bukan cuma buat balas dendam. Ini buat gue.
Malam itu, Olyvia tidur dengan perasaan puas. Transformasi fisiknya sudah dimulai. Dan ini baru langkah kecil dari rencana besarnya.
jadilah perempuan yang menyayangi diri sendiri sebelum menyayangi seseorang laki-laki yang belum tentu sehidup-semati