NovelToon NovelToon
BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mochamad Fachri

Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.

Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.

Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Kakek tua

“Lalu, kegunaan batu itu untuk apa?”

Lalu Zira menjelaskan secara detail, tentang batu di tangannya itu. Bahwa red stone yang ada di tangannya hanya dapat di gunakan ketika seorang kultivator berada di ranah tinggi, dan tak bisa sembarangan orang bisa memurnikan batu itu, sekalipun seorang yang berada di ranah kaisar.

Karena batu itu akan memilih tuannya sendiri, dan mencari wadah yang cocok dengan energi yang ada di dalamnya.

Nova mengangguk paham, kemudian ia memperhatikan red stone dengan seksama. Energi yang ada di dalamnya berputar dengan tenang, ia dapat merasakan itu, tapi ada sesuatu yang berdenyut samar dari batu itu seakan merasakan kehadirannya.

Zira yang menyadari itu, menjadi heran kenapa energi batu di tangannya tiba-tiba meningkat drastis saat Nova mendekat ke arahnya.

“Ini aneh, bagaimana bisa?” gumamnya.

Nova yang mendengar itu lantas bertanya.

“Aneh? Apa maksudmu?”

“Batu ini, tak pernah menunjukan reaksi apapun kepadaku. Tapi... saat kau mendekat, batu ini seakan merespon dan dapat merasakan keberadaan mu,” jelasnya.

Nova mundur beberapa langkah, tapi... energi yang ada di dalam batu merah itu, seakan menarik auranya dan membuat ia terus ingin mendekat.

“Batu itu menarik energiku...” ucap Nova.

Zira kemudian mengulurkan tangannya dan membiarkan Nova menyentuh permukaan batu berbentuk oval itu.

“Coba, sentuh lah.”

Saat Nova mengulurkan tangannya, benar saja energi di dalam batu itu meningkat drastis. fluktuasi energi di sekitarnya melonjak, membuat Nova tersentak mundur saat merasakan tekanan dari batu sebesar kepalan tangan bayi itu.

Zira tiba-tiba merasakan energi panas yang membakar membuatnya langsung menjatuhkan batu itu dari lengannya.

Nova refleks menangkap batu itu dan tepat saat menyentuh tangannya, energi panas dari batu itu menyebar ke seluruh tubuh Nova membuatnya merasakan rasa terbakar yang menyakitkan.

“Aaarrrggghh!”

Bruk...

“Nova!” teriak Zira saat tubuh Nova limbung dan jatuh terbaring di atas lantai marmer tempat ia berdiri.

Dan saat itu juga pandangan Nova berubah perlahan dan mengabur bergantikan tempat lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“D-dimana ini?” gumamnya sambil melihat ke sekelilingnya.

Nova bangkit, dan batu berbentuk oval itu masih berada di genggamannya berpendar samar dengan kilau merah yang menyala di dalamnya. ia terus memperhatikan batu itu, kemudian kembali melihat ke sekitarnya.

Sejauh mata memandang hanya hamparan rumput ilalang serta pegunungan berlapis emas serta warna matahari senja serta angin lembut yang menerpa tubuhnya.

Di tengah kebingungan itu, angin seketika terhenti dan bergantikan suara tawa renyah dengan aura yang penuh dengan wibawa dan kekuasaan.

“Siapa itu?!” ucap Nova seraya melihat ke sekitarnya, namun tak ada siapapun. Hanya rumput ilalang yang bergoyang melambai yang dapat dilihatnya.

Tawa itu terhenti, disusul sebuah cahaya keemasan melesat menuju ke arah Nova, lalu membentuk menifestasi tubuh seorang kakek berjubah putih dengan akses emas di setiap sisinya. Serta tongkat giok dengan aura kekuasaan yang penuh dengan tekanan, membuat Nova mundur beberapa langkah ke belakang.

“S-siapa kau?” ucap Nova sambil menutupi matanya dengan satu tangan saat cahaya menyilaukan memantul dari tubuh sosok dihadapannya.

Suara tawa kembali terdengar, lalu kedua sudut bibirnya terangkat dan menatap ke arah Nova.

“Anak ku...” ucapnya dengan suara pelan namun terdengar tegas. Kakek tua berjanggut panjang itu melangkah lebih dekat, “aku... hahaha, aku hanyalah seorang kakek tua, yang memerlukan bantuan kecil darimu, anak ku.”

Anak ku?

Nova mengernyitkan keningnya lalu menatap kakek tua di hadapannya itu.

“Apa maksudmu kakek tua? Kenapa kau memanggilku seperti itu?” tanyanya dengan wajah bingung penuh pertanyaan.

Kakek tua itu menghela napas lalu menatap ke arah langit, dari balik matanya seperti menyimpan sebuah rahasia besar yang tidak di ketahui oleh siapapun dan hanya di simpan olehnya.

“Aku menitipkan setetes darahku pada sosok bayi yang terlahir belasan tahun lalu, aku menyimpan kekuatan di dalamnya. Agar kelak, bayi itu dapat mengubah pandangan dunia, dan membuat dunia kembali pada hakekatnya...” jelasnya terjeda, sementara Nova masih mendengarkan dengan seksama. “kini bayi itu, sudah tumbuh dewasa, sudah saatnya kekuatan itu dibangkitkan dan mengembalikan keseimbangan dunia.”

Nova menunduk sesaat lalu kembali menatap kakek tua itu.

“Apakah bayi yang kau maksud adalah aku?”

Kakek tua itu mengangguk di iringi tawa kecil serta senyumnya yang khas.

“Benar, bayi itu adalah kau, anak ku. Dan aku mengirim Zira, untuk membantumu melatih kekuatan yang kau miliki, tapi... jangan pernah menggunakan kekuatan ini untuk melakukan tindakan yang merugikan manusia, seorang kultivator harus menjaga keseimbangan dunia dan melindunginya, ingatlah itu anak ku.”

Nova menunduk menatap kedua tangannya lalu mengepalkan keduanya, lalu ia mendongak melihat ke arah si kakek tua.

“Jadi... selama ini, aku sudah memiliki kekuatan?”

Si kakek tua tertawa lebar, lalu mendekat ke samping ali dan menatap ke arah gunung yang berkilauan.

“Benar, tapi tetap saja kau harus di latih, agar mampu mengendalikan kekuatanmu sendiri, jika tidak maka kekuatan itu akan membunuhmu suatu saat nanti.”

“Sekarang... kembalilah, gunakan kekuatanmu dengan bijaksana,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan dan seketika sulur cahaya keemasan mengalir lembut menuju kening Nova dan masuk dengan perlahan.

Ssstt!

Perasaan sejuk membajiri sekujur tubuhnya saat energi itu masuk perlahan melalui pori-pori tubuh Nova.

Sementara manifestasi kakek tua itu perlahan mengabur, berubah menjadi serpihan cahaya di iringi tawa yang menggema lalu seluruh pandangannya mengabur perlahan.

“T-tunggu!”

Nova langsung terbangun, tubuhnya di penuhi keringat yang sudah membasahi sekujur tubuhnya. Zira yang sedang menyiapkan sesuatu refleks menoleh dan langsung menghampirinya.

“Apa kau baik-baik saja?!” tanya Zira.

Nova mengangguk lalu terdiam sesaat, kemudian melihat ke arah tangannya sesaat, batu merah yang ia genggam sudah tak ada di genggamannya. Hanya meninggalkan sedikit bekas merah seperti terbakar.

“Dimana batu itu?” tanyanya.

Zira menghela napasnya sesaat sebelum dia menjawab.

“Batu itu melebur, dan terserap oleh tubuhmu... dan nyaris membunuh mu...” jawabnya.

Nova mengerutkan keningnya. “Tapi... bagaimana bisa?”

Zira bingung harus menjawab apa, dia saja tak tahu apa yang membuat batu itu di serap oleh tubuh Nova.

“Sudah, sebaiknya pulihkan dulu kondisimu,” ucapnya langsung mengalihkan pembicaraan. “Ayo ikut denganku.”

Nova pun bangkit, dan mengikuti kemana Zira pergi. Dan saat ia melangkah, Nova baru menyadari bahwa dirinya berada di sebuah gua... gua yang sangat berbeda dari gua biasanya. Lebih terang, dan memiliki dinding yang berkilauan seperti berlian, membuatnya terpukau dengan keindahan tempat itu.

Setelah sampai di luar, Zira menujuk sebuah batu yang sama seperti dinding di gua tadi.

“Duduklah disini,” ucapnya.

Nova mengangguk, dan mengikuti instruksi dari Zira ia lalu mengikuti gerakan Zira. Duduk dan melakukan meditasi sesuai arahannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!