NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Dunia Lain / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.

Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.

Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - Ruang Itu Muncul

Kesadaran Aureliana Virestha kembali perlahan, seperti seseorang yang terbangun dari tidur yang terlalu dalam, tetapi tanpa kepastian apakah ia benar-benar sudah membuka mata. Sensasinya tidak seperti bangun biasa, tidak ada rasa segar atau ringan, justru ada jeda kosong yang membuatnya tidak langsung memahami apa yang sedang terjadi. Pikirannya terasa lambat, seolah harus menempuh jarak yang panjang hanya untuk mengenali dirinya sendiri.

Hal pertama yang ia rasakan adalah sunyi, tetapi bukan sekadar tidak ada suara seperti malam yang tenang. Keheningan itu terasa hidup, seolah ruang di sekitarnya menyerap segalanya tanpa menyisakan apa pun, termasuk napasnya sendiri. Ia mencoba bergerak, tetapi tubuhnya terasa aneh, ringan sekaligus asing, seperti bukan sepenuhnya miliknya.

Aureliana membuka mata dengan perlahan, meskipun ia tidak yakin apakah sebelumnya matanya benar-benar tertutup. Pandangannya tidak langsung jelas, tetapi yang ia lihat bukanlah langit-langit rumah sakit atau lampu jalan yang biasa ia kenal. Di sekelilingnya hanya ada ruang luas tanpa batas, warna yang sulit dijelaskan, antara terang yang terlalu putih dan gelap yang terlalu dalam, bercampur tanpa garis pemisah.

Ia duduk perlahan, gerakannya terasa ringan tetapi tidak sepenuhnya stabil. Tidak ada permukaan yang jelas, tetapi ia bisa merasakan sesuatu menopang tubuhnya, sesuatu yang tidak terlihat tetapi cukup untuk membuatnya tidak jatuh. Sensasi itu membuatnya semakin tidak nyaman, karena tidak ada yang bisa ia pegang sebagai kepastian.

“Ini… di mana?”

Suaranya terdengar, tetapi tidak memantul atau kembali ke telinganya. Seolah kata-katanya menghilang begitu saja setelah keluar, ditelan oleh ruang yang tidak memiliki batas.

Aureliana menoleh ke kanan dengan perlahan, berharap melihat sesuatu yang bisa ia kenali. Namun yang ia temukan hanyalah kekosongan yang sama, tanpa bentuk atau arah yang jelas. Ia menoleh ke kiri, hasilnya tidak berbeda, tetap kosong tanpa petunjuk.

Jantungnya mulai berdegup lebih cepat, bukan karena ada ancaman yang terlihat, tetapi karena tidak adanya apa pun yang bisa ia pahami. Perasaan panik muncul pelan, merayap tanpa terburu-buru, tetapi cukup kuat untuk mengganggu pikirannya.

“Ada orang di sini?”

Tidak ada jawaban, tidak ada perubahan, bahkan tidak ada gema yang biasanya muncul di ruang kosong. Semua tetap sama, seolah pertanyaannya tidak pernah diucapkan.

Ia berdiri dengan cepat, meskipun gerakan itu membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan. Kakinya terasa ringan, tetapi setiap langkah seperti tidak benar-benar menyentuh sesuatu. Seperti berjalan di atas permukaan yang tidak ada.

“Apa ini mimpi?”

Kalimat itu keluar tanpa ia pikirkan lebih dulu, tetapi bahkan setelah mengatakannya, ia tidak merasa lebih yakin. Jika ini mimpi, rasanya terlalu jelas dan terlalu konsisten untuk sekadar imajinasi yang lewat.

Ia menekan pelipisnya dengan jari, mencoba mengingat apa yang terakhir terjadi sebelum semua ini. Ingatan itu datang perlahan, tidak langsung utuh, tetapi cukup untuk membentuk gambaran.

Jalan sepi.

Lampu kendaraan yang menyilaukan.

Suara benturan yang keras.

Tubuhnya menegang ketika potongan ingatan itu tersusun dengan lebih jelas.

“Aku… tertabrak.”

Kesadaran itu muncul dengan cepat, membuat dadanya terasa sesak meskipun ia tidak benar-benar bernapas dengan cara yang biasa. Jika itu benar, maka tempat ini bukan sekadar ruang kosong tanpa arti.

Pikirannya berhenti di titik itu, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk melanjutkan.

Aureliana melangkah ke depan, meskipun ia tidak tahu ke mana arah itu akan membawanya. Setiap langkah terasa sama, tidak ada perubahan, tidak ada perbedaan yang bisa ia jadikan petunjuk.

“Ini bukan tempat nyata,” gumamnya pelan.

Namun justru karena itu, rasa takutnya semakin jelas. Ia tidak memiliki apa pun untuk dipegang, tidak ada batas yang bisa ia sentuh, tidak ada suara yang bisa ia dengar selain dirinya sendiri.

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri, meskipun tidak yakin apakah itu benar-benar membantu. Ia tidak bisa hanya diam dan menunggu, karena tidak ada yang akan datang jika ia tidak bergerak.

Langkahnya menjadi lebih cepat, hampir seperti berlari, tetapi sensasi aneh itu kembali muncul. Tubuhnya bergerak, tetapi tidak ada perubahan posisi yang benar-benar terasa, seolah ia hanya bergerak di tempat yang sama.

“Apa ini…”

Nada suaranya mulai bergetar, dan panik yang tadi ia tahan kini mulai mengambil alih. Pikirannya tidak lagi teratur, dipenuhi oleh pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

“Ada yang dengar aku? Tolong!”

Suaranya lebih keras, tetapi hasilnya tetap sama. Tidak ada yang menjawab, tidak ada perubahan, bahkan tidak ada tanda bahwa suara itu pernah ada.

Aureliana berhenti, napasnya terasa tidak teratur meskipun ia tidak yakin bagaimana cara ia bernapas di tempat ini. Ia menunduk, mencoba mengendalikan dirinya, tetapi justru semakin sadar bahwa ada sesuatu yang salah.

Tempat ini tidak masuk akal.

Situasi ini tidak bisa dijelaskan.

Dan dirinya sendiri terasa berbeda.

Di tengah kekacauan itu, sesuatu mulai berubah.

Awalnya samar, seperti gangguan kecil yang hampir tidak terlihat. Namun perlahan, perubahannya menjadi lebih jelas, cukup untuk menarik perhatiannya.

Di depan.

Ada sesuatu.

Aureliana mengangkat kepala perlahan, matanya mencoba fokus pada titik yang berbeda dari sekitarnya. Awalnya ia mengira itu hanya ilusi, tetapi semakin ia memperhatikan, semakin jelas bentuk itu.

Sebuah titik kecil, bercahaya redup, mengambang di ruang kosong yang tidak memiliki batas. Cahaya itu tidak terang, tetapi cukup untuk membuatnya berbeda dari segala hal di sekitarnya.

Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan hanya karena takut, tetapi juga karena ada sesuatu yang akhirnya bisa ia lihat. Sesuatu yang bukan sekadar kekosongan.

Ia ragu untuk mendekat, tetapi tidak ada pilihan lain. Itu satu-satunya hal yang berbeda di tempat ini, satu-satunya kemungkinan untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Langkahnya bergerak pelan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Titik itu tetap diam, tidak berubah, tidak bergerak menjauh atau mendekat. Cahaya yang dipancarkannya tetap stabil, tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk menarik perhatian.

Semakin dekat, Aureliana mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Getaran halus yang hampir tidak terasa, seperti denyut yang sangat lemah, tetapi cukup untuk disadari.

Ia berhenti tepat di depannya, menatap titik itu dengan hati-hati. Tangannya terangkat perlahan, ragu-ragu, seolah ada bagian dalam dirinya yang menahan.

“Apa ini…”

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan yang sama.

Aureliana menelan ludah, lalu akhirnya menyentuh titik cahaya itu dengan ujung jarinya.

Sentuhan itu terasa nyata.

Hangat.

Bukan sekadar sensasi biasa, tetapi sesuatu yang terasa hidup, seperti ada energi yang bergerak di dalamnya.

Namun dalam detik berikutnya, semuanya berubah.

Cahaya itu berdenyut lebih kuat, getarannya meningkat dengan cepat. Sensasi itu menjalar dari ujung jarinya ke seluruh tubuhnya, membuatnya tersentak.

Ia ingin menarik tangannya, tetapi tidak bisa.

Seolah ada sesuatu yang menahannya di tempat.

Ruang di sekitarnya mulai berputar, warna putih dan gelap bercampur menjadi satu pusaran yang semakin cepat. Cahaya dari titik itu membesar, menelan seluruh pandangannya tanpa sisa.

Aureliana merasakan dirinya ditarik, bukan ke arah tertentu, tetapi keluar dari ruang itu sendiri. Tarikannya kuat, tidak memberi kesempatan untuk melawan.

Ia mencoba bertahan, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan.

Segalanya bergerak terlalu cepat.

Di tengah kekacauan itu, suara mulai muncul kembali.

Awalnya samar.

Kemudian semakin jelas.

“Tekanan darah turun!”

“Cepat, bawa ke ruang tindakan!”

“Aureliana, dengar saya?”

Suara-suara itu terasa jauh, tetapi perlahan mendekat, seperti sesuatu yang kembali dari tempat yang sangat jauh. Cahaya yang menyilaukan itu semakin terang sebelum akhirnya menghilang.

Gelap kembali.

Namun kali ini tidak sama.

Aureliana membuka mata dengan napas terengah, tubuhnya terasa berat seolah baru saja ditarik dari tempat yang dalam. Langit-langit putih menyambut pandangannya, lampu terang membuat matanya sedikit perih.

Suara mesin terdengar pelan di sampingnya, ritme yang stabil memberi sedikit kepastian bahwa ia berada di tempat nyata. Ia mencoba bergerak, tetapi tubuhnya masih lemah, tangannya terhubung dengan infus yang membatasi gerakannya.

Aroma antiseptik memenuhi udara, cukup kuat untuk membuatnya langsung mengenali tempat itu.

Rumah sakit.

Ia kembali.

“Aureliana?”

Suara itu lembut, penuh kelegaan yang tidak disembunyikan. Aureliana menoleh perlahan, melihat sosok yang berdiri di samping tempat tidurnya.

Renataz Arvello.

Wajahnya terlihat lega, meskipun masih menyisakan kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang.

“Syukurlah… kamu akhirnya bangun.”

Aureliana menatapnya beberapa detik, mencoba menyatukan kembali potongan pikirannya yang masih terpisah. Bibirnya bergerak pelan, tetapi suaranya terdengar serak.

“Aku…”

Renataz mendekat sedikit, suaranya lebih tenang. “Kamu kecelakaan. Tertabrak mobil semalam. Kondisimu sempat kritis.”

Kata-kata itu masuk perlahan, tidak langsung dipahami sepenuhnya. Ia mengingat benturan itu, cahaya yang menyilaukan, dan rasa kehilangan kendali.

Namun yang terjadi setelahnya…

“Aku ada di tempat lain,” ucapnya pelan.

Renataz mengerutkan kening, mencoba memahami. “Maksudmu?”

“Ada ruang kosong. Terang, tapi juga gelap. Dan…” ia berhenti sejenak, mencoba memastikan ingatannya, “ada sesuatu di sana.”

Renataz terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis dengan ekspresi yang berusaha menenangkan.

“Mungkin itu efek dari cedera. Kamu kehilangan kesadaran cukup lama.”

Penjelasan itu terdengar masuk akal, bahkan terlalu mudah diterima. Siapa pun pasti akan mengatakan hal yang sama jika mendengar cerita seperti itu.

Aureliana menoleh kembali ke langit-langit, mencoba menerima penjelasan itu sebagai jawaban. Namun ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

Sensasi saat menyentuh titik cahaya itu.

Hangatnya.

Getarannya.

Semua terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi.

Ia perlahan mengangkat tangannya yang bebas, menatap ujung jarinya dengan lebih serius. Tidak ada perubahan yang terlihat, tidak ada sesuatu yang berbeda secara kasat mata.

Namun ia bisa merasakannya.

Sangat halus.

Hampir tidak ada.

Tetapi cukup untuk membuat napasnya tertahan sejenak.

Ia tidak tahu apa itu.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Namun satu hal terasa pasti.

Apa pun yang ia alami di tempat itu tidak sepenuhnya tertinggal di sana.

Dan meskipun ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah efek dari pikirannya yang lelah, bagian terdalam dari dirinya menolak untuk menerima begitu saja.

Terlalu jelas.

Terlalu nyata.

Seolah sesuatu benar-benar telah ia sentuh.

Dan sesuatu itu belum selesai dengannya.

1
SENJA
hapalin cara masuk dan keluar ruang dimensi nya 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Andira Rahmawati
kok bisa keluar masuk dgn bebas pdhl ststusnya msh pasien..
Andira Rahmawati
hadir thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!