Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Naya tidak langsung menjawab. Tatapannya mengunci wajah Adinda, mencoba memastikan… apakah yang ia lihat sekarang masih kebingungan, atau justru sudah mulai menyusun semuanya. Dan yang ia lihat bukan lagi kebingungan.
Adinda sudah mulai mengerti.
“Aku dulu gak pernah mikir sejauh ini…” lanjut Adinda pelan. “Aku pikir hidupku ya… ya gitu aja. Normal.”
Ia tersenyum tipis. Tapi hambar.
“Ternyata… aku cuma lagi dijaga supaya tetap gak tahu.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Naya menghembuskan napas pelan. “Kalau itu benar… berarti mereka bukan cuma memanfaatkan keadaan kamu.”
Ia berhenti sejenak. “…mereka menciptakan keadaan itu.”
Adinda tidak langsung menyangkal. Karena semakin ia memikirkan semakin semuanya terasa masuk akal.
“Papa tahu,” gumamnya pelan. “Makanya dia gak kasih langsung ke aku…”
Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya.
“Dia takut.”
“Takut sama siapa?” tanya Naya pelan.
Adinda terdiam. Nama itu ada, jelas. Tapi lidahnya belum berani mengucapkannya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbisik— “…orang yang tinggal satu rumah sama aku.”
Naya langsung memahami tanpa perlu penjelasan panjang, matanya sedikit membulat ada keterkejutan yang sulit untuk diungkapkan.
Dan untuk pertama kalinya, arah masalah ini benar-benar jelas. Bukan orang luar atau hanya kebetulan semata. Tapi orang dalam.
“Din…” suara Naya berubah lebih hati-hati. “Kalau memang ini soal harta yang dititipkan itu… berarti selama ini mereka nunggu waktu.”
Adinda mengangguk pelan.
“Atau…” lanjut Naya, “mereka lagi cari cara supaya semuanya pindah tanpa kamu sadar.”
Kalimat itu membuat napas Adinda tertahan. Karena— itu sangat mungkin.
“Makanya aku harus tetap ‘gak tahu’,” ucap Adinda pelan, kini lebih yakin. “Makanya ingatan itu… gak boleh balik.”
Tangannya perlahan naik ke pelipisnya sendiri. Seolah menyentuh bagian yang selama ini “dikunci”.
“Tapi sekarang mulai kebuka…”
Ia menatap Naya. Dan ada sesuatu yang berubah di sana. Bukan lagi takut. Namun waspada.
“Berarti mereka juga akan sadar,” lanjutnya. “Kalau aku mulai ingat.”
Naya langsung mengangguk. “Iya.”
Sunyi sebentar. Lalu Naya mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Din, mulai sekarang kamu harus hati-hati.”
“Kenapa?”
“Kamu gak tahu sejauh apa mereka mau pergi demi itu.”
Adinda menelan ludah. Kalimat itu bukan menakut-nakuti. Tapi mengingatkan. Dan justru karena itu terasa lebih nyata.
Ia menghembuskan napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke bangku.
“Aku gak bisa langsung hadapi mereka,” ucapnya akhirnya. “Kalau aku salah langkah…”
“…mereka bisa nutup semuanya lagi,” sambung Naya.
Adinda mengangguk. “Jadi aku harus pura-pura.”
“Pura-pura… masih gak tahu apa-apa," sambungnya lagi.
Ucapan itu terdengar sederhana, karena artinya Adinda harus kembali lagi ke rumah itu melihat wajah-wajah yang mungkin sudah mengkhianatinya. Dan tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Naya yang memperhatikan ekspresi Adinda ia langsung mengelus bahu tangan temannya itu.
"Kamu gak boleh nyerah," ucap Naya
"Tapi kadang aku kesal, karena harus menyaksikan semua," keluhnya pelan.
"Sabar sedikit, langkah kita tinggal sejengkal lagi," sahut Naya. "Kalau sedikit saja salah ambil keputusan, maka semuanya akan end," lanjut Naya.
Suasana sedikit mereda dan sepertinya Adinda mulai memahami saran dari Naya. Ia bangkit dari duduknya.
“Bisa?” tanya Naya pelan.
"Harus." jawabnya yakin.
Ia mengangkat wajahnya. Tatapannya sudah tidak goyah lagi, dan perlahan langkah keduanya benar-benar meninggalkan lorong rumah sakit.
“Aku pasti bisa."
Nada suaranya tidak tinggi, juga tidak emosional. Dan itu cukup untuk menjadi pondasi awal ketahanan tekadnya.
Naya mengangguk pelan. “Oke.”
Ia menarik napas. “Kita mulai dari satu hal dulu.”
Adinda menoleh. “Apa?”
“Orang kepercayaan Papa kamu.”
Adinda langsung diam, tangannya yang hampir memegang pintu mobil tertahan, saat orang itu mulai disebut, seolah memastikan area sekelilingnya aman.
“Iya…” bisiknya pelan. "Kita masuk dulu ya," lanjutnya.
“Itu kunci,” lanjut Naya. “Kalau dia masih pegang semuanya… berarti dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Adinda mengepalkan tangannya lagi. “Tapi… aku gak pernah kepikiran ke sana…”
Naya mengernyit. “Maksudnya?”
Adinda menatap ke depan, pikirannya bergerak cepat, menyusun potongan-potongan yang selama ini terasa biasa… tapi sekarang justru mencurigakan.
“Orangnya… aku tahu,” ucapnya pelan.
Naya langsung menoleh. “Siapa?”
Adinda menarik napas dalam.
“Dulu sering ke rumah,” lanjutnya. “Sering ngobrol sama Papa di ruang kerja. Aku bahkan pernah beberapa kali disuruh manggil dia.”
Ia berhenti sejenak.
“Namanya…” bibirnya sedikit terbuka, lalu akhirnya menyebut, “…Pak Arbani.”
Naya langsung fokus. “Dia siapa?”
“Orang kepercayaan Papa,” jawab Adinda lebih yakin sekarang. “Papa selalu bilang… kalau ada apa-apa, hubungi dia.”
Tangannya perlahan mulai memegang kunci mobilnya.
“Tapi selama ini…” suaranya melemah sedikit. “Aku gak pernah mikir sejauh itu.”
Naya mengangguk pelan. “Karena gak ada yang memicu kamu untuk sadar.”
“Iya,” sahut Adinda.
Matanya sedikit menyipit. “Dan mungkin… memang sengaja gak dikasih kesempatan buat sadar.”
Hening.
Kalimat itu terasa lebih berat sekarang.
Karena bukan lagi dugaan kosong.
Tapi mulai punya arah.
“Din,” ucap Naya pelan. “Kalau dia masih pegang semua yang dititipkan ayah kamu…”
Adinda langsung menyambung, “…berarti dia kunci dari semuanya.”
Naya mengangguk. “Dan kemungkinan besar… dia tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah kecelakaan itu.”
Adinda mengedikkan bahunya. "Gak tahu juga." katanya pelan. “Tapi aku harus ketemu dia, sebelum mereka sadar,” ucapnya kali ini lebih tegas.
Naya langsung menatapnya. “Kamu tahu dia di mana?”
Adinda berpikir sejenak. “Aku ingat…” ucapnya perlahan. “Dulu Papa pernah bilang… kalau dia pegang kantor lama keluarga.”
“Alamatnya?”
“Masih aku ingat,” jawab Adinda.
Tidak ragu karena bagian itu— tidak pernah hilang dari ingatannya.
Naya tersenyum tipis. “Bagus.”
“Tapi sebelum itu…”
Adinda menoleh.
“Kamu tetap harus hati-hati di rumah,” lanjut Naya. “Karena sekarang… kamu sudah mulai ngerti.”
Adinda tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan. Tatapannya tenang lalu mulai mengemudi dengan pelan.
Untuk kali ini ia benar-benar sadar. Bukan hanya ingatan yang harus ia kejar tapi kebenaran.
Bersambung ....
Maaf sudah malam baru up karena sambil revisi buku Disayangi Anak Mantan.
.