Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di kediaman besar keluarga Prabu, sang Ayah baru saja meletakkan ponselnya setelah membaca pesan dari Xena.
Ada helaan napas lega yang panjang; beban di pundaknya terasa sedikit terangkat mengetahui putranya mulai berjuang melawan traumanya.
Namun, ketenangan malam itu pecah oleh gedoran pintu yang kasar dan beruntun.
BRAK! BRAK! BRAK!
Ayah Prabu mengerutkan kening, lalu berjalan menuju pintu utama.
Begitu pintu terbuka, sosok Ibu Nia—ibu kandung almarhumah Tryas—berdiri di sana dengan wajah yang merah padam oleh amarah.
"Di mana Prabu?! Di mana anakmu itu?!" teriak Ibu Nia tanpa basa-basi. Suaranya melengking, menembus kesunyian malam.
Ayah Prabu mencoba tetap tenang. "Sabar, Bu Nia. Ada apa malam-malam begini?"
"Sabar? Kamu bilang sabar?!" Ibu Nia merangsek masuk ke dalam teras.
"Dia harus bertanggung jawab atas kematian Tryas! Seharusnya dia yang kecelakaan, seharusnya dia yang mati, bukan putri saya yang cantik! Dia harus ganti rugi atas kehilangan masa depan anak saya!"
Mendengar keributan itu, Ibu Prabu keluar dari ruang tengah.
Wajahnya yang biasanya lembut seketika mengeras mendengar kutukan yang dilontarkan untuk putranya.
"Jaga bicara Anda, Bu Nia!" sahut Ibu Prabu dengan nada tinggi, berdiri di samping suaminya.
"Kecelakaan itu musibah. Anak saya juga hancur karena kejadian itu! Tidak ada seorang pun yang menginginkan maut menjemput."
"Hancur? Anakmu masih hidup! Anakku sudah di dalam tanah!" Ibu Nia menunjuk-nunjuk wajah Ibu Prabu.
"Prabu membunuh masa depan Tryas! Saya mau ganti rugi sekarang juga!"
Ibu Prabu yang sudah tidak tahan lagi segera melangkah maju.
Rasa sakit melihat anaknya menderita selama berbulan-bulan akibat rasa bersalah membuat kesabarannya habis.
"Cukup! Pergi dari sini sekarang!" perintah Ibu Prabu tegas.
"Kami sudah cukup banyak memberikan bantuan selama ini, tapi jika Anda datang hanya untuk menyumpahi nyawa anak saya, silakan keluar! Jangan pernah injakkan kaki di rumah ini lagi kalau hanya untuk menyebar kebencian!"
Ibu Prabu memberi isyarat pada penjaga keamanan di depan gerbang untuk mendekat.
Dengan langkah gusar dan terus mengomelkan sumpah serapah, Ibu Nia dipaksa keluar dari halaman rumah.
Setelah pintu tertutup rapat, Ibu Prabu terduduk lemas di kursi ruang tamu, air matanya menetes.
Ayah Prabu merangkul bahunya, mencoba menenangkan.
Mereka sadar, meski di pantai sana Prabu sedang berusaha sembuh bersama Xena, badai dari masa lalu masih terus mencoba meruntuhkan apa yang sedang mereka bangun kembali.
Di kediaman besar keluarga Prabu, suasana setelah kepergian Ibu Nia masih terasa mencekam.
Ibu Prabu masih terisak di pelukan suaminya, mencoba meredam rasa sakit hati yang teramat dalam.
"Yah, lebih baik kita beritahu kebenarannya kepada Prabu tentang Ibu Tryas," ucap Ibu Prabu dengan suara bergetar.
"Kita tidak bisa terus menyembunyikan ini. Kita sudah memberikan puluhan juta untuk membantu keluarga mereka, tapi lihat, dia tetap datang dan menyumpahi anak kita seolah-olah Prabu adalah seorang pembunuh."
Ayah Prabu terdiam, guratan lelah tampak jelas di wajahnya yang menua.
Ia menganggukkan kepalanya perlahan, menyadari bahwa melindungi Prabu dengan cara menutupi kenyataan justru bisa menjadi bom waktu.
"Kamu benar. Tapi kalau kita bicara langsung pada Prabu sekarang, kondisinya bisa kembali jatuh. Aku akan bicara pada Xena dulu," sahut Ayah Prabu.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ayah Prabu mengambil ponselnya dan menghubungi Xena.
Di seberang sana, di vila pantai yang tenang, Xena baru saja hendak memejamkan mata sebelum akhirnya mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Pa? Ada apa malam-malam begini?" tanya Xena khawatir.
Ayah Prabu tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya.
Suaranya pecah saat ia menceritakan tentang kedatangan Ibu Nia, sumpah serapah yang dilontarkan, hingga fakta bahwa selama ini keluarga Prabu telah memberikan uang dalam jumlah besar sebagai bentuk tanggung jawab moral, namun selalu dibalas dengan pemerasan emosional.
"Astaghfirullah, Ayah..." Xena menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak tak percaya.
"Kenapa Ayah tidak cerita kepada Xena dari awal? Kenapa Ayah menanggung ini sendirian?"
Ayah Prabu mulai menangis sesenggukan di telepon.
Suara tangis seorang ayah yang selama ini menjadi tiang kekar keluarga itu terdengar begitu menyayat hati.
"Ayah tidak mau Prabu berpikir jelek tentang keluarga Tryas, Xen. Ayah tahu dia sangat mencintai gadis itu. Ayah hanya ingin Prabu sembuh tanpa harus membenci masa lalunya. Tapi Ayah sudah tidak kuat lagi, Xen. Ibu Nia terus menganggap Prabu sebagai penyebab kematian anaknya untuk meminta uang."
Xena memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan denyut nyeri di dadanya.
Ia menatap pintu kamar Prabu yang tertutup rapat.
Di balik pintu itu, suaminya masih memuja bayangan Tryas, tanpa tahu bahwa orang tua gadis itu justru menjadi duri di dalam daging keluarganya sendiri.
"Tenang, Ayah. Jangan menangis lagi," ucap Xena dengan nada yang dikuat-kuatkan.
"Xena akan cari waktu yang tepat untuk bicara pada Prabu. Ayah dan Ibu istirahatlah. Biar Xena yang menjaga Prabu di sini."
Setelah sambungan terputus, Xena terduduk di tepi ranjang.
Ia menyadari beban yang ia pikul kini bertambah berkali-kali lipat.
Ia harus menyembuhkan trauma Prabu, sekaligus bersiap menghancurkan ilusi indahnya tentang keluarga Tryas demi menunjukkan kebenaran yang pahit.
Keesokan paginya langit tampak mendung, seolah memberi pertanda akan badai yang lebih besar dari sekadar ombak pantai.
Xena dan Prabu baru saja menyelesaikan putaran ketiga lari pagi mereka.
Napas Prabu sudah jauh lebih stabil, sebuah kemajuan fisik yang luar biasa, namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Mereka duduk di atas batang kayu besar yang terdampar di pasir.
Xena menyodorkan botol air mineral, menatap lurus ke arah laut sebelum akhirnya memberanikan diri.
"Pra, boleh aku bicara sesuatu?" tanya Xena lembut.
Prabu meneguk airnya, lalu menoleh dengan tatapan skeptis yang biasa.
"Apa? Kamu menyerah mengobati aku? Mau pergi sekarang?"
"Bukan itu, Pra," sela Xena cepat.
Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian.
"Semalam ayahmu meneleponku. Dia menceritakan semuanya, tentang kedatangan Ibu Nia ke rumah."
Mendengar nama ibu dari mendiang kekasihnya disebut, rahang Prabu seketika mengeras.
Matanya berkilat penuh amarah yang meledak dalam sekejap.
Tanpa peringatan, ia berdiri dan merangsek maju, tangannya mencengkeram leher Xena—tidak sampai menghimpit jalan napasnya sepenuhnya, namun cukup kuat untuk menunjukkan kemurkaannya.
"Kalau kamu tidak suka Tryas, jangan pernah berani mengolok-olok ibunya, Xena!" desis Prabu tepat di depan wajah Xena. Suaranya rendah dan mengancam.
"Beliau kehilangan anaknya karena aku! Dia ibu yang baik yang sedang berduka!"
"Pra, lepaskan..." rintih Xena, tangannya mencoba memegang pergelangan tangan Prabu yang kokoh.
"Kamu hanya cemburu karena kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Tryas, kan? Sampai kamu tega menjelek-jelekkan keluarganya!" Prabu semakin emosi, matanya memerah.
"Sadar, Pra!" seru Xena dengan sisa kekuatannya, menatap langsung ke dalam manik mata Prabu yang penuh kabut dendam.
"Kalau dia memang ibu yang baik, dia tidak mungkin memeras orang tua kamu! Dia datang ke rumahmu bukan untuk berduka, tapi untuk meminta uang ganti rugi atas nyawa anaknya! Ayahmu sampai menangis di telepon, Pra!"
Tangan Prabu bergetar. Kalimat "memeras" dan "ayahmu menangis" menghantam egonya dengan keras.
Ia melepaskan cengkeramannya secara mendadak hingga Xena terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang memerah.
"Kamu bohong..." gumam Prabu, melangkah mundur dengan wajah pucat.
"Ayah tidak mungkin melakukan itu. Kamu hanya ingin menghancurkan kenanganku tentang Tryas!"
"Aku punya bukti pesannya, Pra. Aku punya semua catatan pengiriman uang yang diminta Ibu Nia selama ini," ucap Xena dengan suara serak namun tegas.
"Buka matamu. Selama ini keluargamu melindungimu dari kenyataan pahit ini karena mereka tidak ingin kamu hancur, tapi wanita itu justru memanfaatkan rasa bersalahmu sebagai ladang uang!"
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣