karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEN BERNIAT MELAMAR SERA
Ken berdiri di depan jendela kantornya yang tinggi, menatap gemerlap lampu kota yang perlahan mulai menyala seiring senja yang turun. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, seolah keputusan yang akan ia ucapkan melalui panggilan itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Nafasnya ditarik dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan sebelum akhirnya ia menekan nomor yang sudah sangat ia hafal.
“Selamat malam, Pak Ken,” suara lembut dari seberang terdengar cepat, profesional seperti biasa.
“Rifa,” ucap Ken tanpa basa-basi, suaranya tenang namun tegas, “siapkan semua keperluan lamaran. Besok aku akan melamar Sera.”
Hening sejenak di seberang. Rifa tampak terkejut, meski ia berusaha menutupinya. “Besok, Pak? Apakah tidak terlalu mendadak?”
“Tidak,” jawab Ken singkat. “Ini sudah kupikirkan matang. Aku tidak ingin menunda lagi.”
Rifa segera mengubah nada suaranya menjadi lebih serius. “Baik, Pak. Untuk seserahan, apakah ada konsep tertentu yang Anda inginkan?”
Ken berbalik dari jendela, berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Ia duduk, menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Sera. “Aku ingin semuanya sempurna. Siapkan baju terbaik—gaun untuk Sera, kain tradisional, perhiasan lengkap. Jangan yang biasa. Aku ingin yang terbaik.”
“Baik, Pak. Untuk perhiasan, apakah menggunakan koleksi dari butik langganan Anda atau ingin sesuatu yang lebih eksklusif?”
“Pesan yang paling eksklusif,” jawab Ken tanpa ragu. “Kalung berlian, gelang, cincin, dan anting. Pastikan desainnya elegan, bukan yang berlebihan. Sera tidak suka sesuatu yang terlalu mencolok.”
Rifa mencatat dengan cepat. “Baik. Untuk barang lainnya?”
Ken berpikir sejenak. “Tambahkan tas dan sepatu dari brand ternama. Lalu… produk perawatan diri yang premium. Aku ingin menunjukkan bahwa aku serius.”
“Dipahami, Pak. Bagaimana dengan jumlah kotak seserahan?”
“Buat dalam jumlah ganjil. Tujuh atau sembilan. Susun dengan rapi dan artistik. Aku tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun.”
Rifa mengangguk meski Ken tidak bisa melihatnya. “Saya akan koordinasikan dengan vendor terbaik malam ini juga. Semua akan siap besok pagi.”
Ken membuka matanya, menatap meja kerjanya yang rapi namun terasa kosong. “Rifa.”
“Ya, Pak?”
“Pastikan semuanya tiba tepat waktu. Aku sendiri yang akan datang melamar.”
“Baik, Pak. Apakah keluarga Anda juga akan ikut?”
Ken terdiam sejenak. Pertanyaan itu membuatnya berpikir lebih dalam. “Belum. Ini langkah awalku. Aku ingin melakukannya dulu. Setelah itu, baru kita bicarakan secara resmi dengan keluarga.”
“Dipahami, Pak.”
Suasana kembali hening. Namun kali ini bukan karena kebingungan, melainkan karena keputusan besar yang sedang dipikul.
“Rifa,” lanjut Ken dengan suara yang sedikit lebih pelan, “ini bukan hanya formalitas. Aku benar-benar ingin menikahinya.”
Rifa tersenyum kecil di seberang sana. “Saya tahu, Pak. Anda tidak pernah terlihat seserius ini sebelumnya.”
Ken tersenyum tipis, meski tidak ada yang melihat. “Karena ini berbeda.”
“Baik, Pak. Saya akan memastikan semuanya berjalan sempurna.”
“Terima kasih.”
Panggilan terputus. Ken meletakkan ponselnya perlahan di atas meja. Ia berdiri kembali, berjalan ke arah jendela. Kota di bawahnya kini sudah sepenuhnya hidup, lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Dalam pikirannya, bayangan Sera terus muncul. Senyumnya, caranya berbicara, bahkan sikapnya yang kadang sulit ditebak. Semua itu justru membuat Ken semakin yakin.
“Besok,” gumamnya pelan, “aku akan memastikan kamu menjadi milikku.”
Namun di balik keyakinan itu, ada sesuatu yang tidak ia sadari—bahwa langkah yang ia ambil mungkin akan mengguncang lebih banyak hati daripada yang ia kira.
Sementara itu, di tempat lain, Rifa sudah sibuk menghubungi berbagai pihak. Tangannya bergerak cepat, menyusun daftar, mengatur jadwal, dan memastikan setiap detail sesuai dengan standar tinggi Ken.
“Gaun elegan, perhiasan eksklusif, tas branded… semuanya harus sempurna,” gumam Rifa sambil menuliskan catatan terakhirnya.
Ia berhenti sejenak, menatap layar ponselnya. “Lamaran mendadak seperti ini… pasti ada sesuatu yang besar di baliknya.”
Namun sebagai asisten, tugasnya bukan mempertanyakan, melainkan memastikan semuanya berjalan tanpa cela.
Malam itu menjadi awal dari sesuatu yang besar—sebuah rencana yang tampak indah di permukaan, namun menyimpan kemungkinan konflik yang belum terungkap.
Dan besok… segalanya akan dimulai.
😉🤍