NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jika (ketika hati harus memilih)

"Kamu mau jujur sama Mas, atau sama penghulu nanti?"

Pertanyaan Mas Wisnu itu seperti palu. Menghantam semua dinding yang kubangun dua minggu terakhir.

Aku menatapnya. Lelaki yang 7 bulan ini menungguku di meja makan tiap malam. Yang hapal aku alergi udang. Yang nyetirin Mama ke rumah sakit jam 3 pagi tanpa ngeluh. Yang tidak pernah sekalipun membuatku menangis... sampai hari ini.

"Mas..." Suaraku habis. Air mata jatuh.

Mas Wisnu genggam tanganku. Dingin. Tangannya yang biasanya hangat, kini sedingin cincin yang akan dia pasangkan nanti.

"Sell, Mas bukan orang bodoh. Mas lihat kamu berubah. Tatapanmu kosong pas fitting. Senyummu nggak nyampe mata pas foto prewed. Mas pikir kamu nervous calon pengantin. Ternyata..." Dia menunjuk HP-ku. Chat dari Arka masih menyala di layar.

_“Mas Wisnu orang baik, Sell. Kamu berhak bahagia.”_

Aku remuk. Arka aja membelaku untuk Mas Wisnu. Lalu aku? Aku malah menusuk dua lelaki sekaligus.

"Maafin aku, Mas..." cuma itu yang bisa keluar.

Tanteku nyelonong masuk, "Lho, kok pada diem? Penghulu udah nunggu, Sayang. Tamu udah penuh!"

Mas Wisnu menoleh. Senyum. Senyum yang sama saat dia melamarku di depan orang tuaku. "Iya, Tante. 5 menit lagi."

Pintu ditutup lagi. Tinggal kami berdua.

"Sell, dengar Mas." Dia jongkok, sejajar denganku yang duduk di kursi rias. Air matanya akhirnya jatuh juga. Lelaki setegar dia, hancur karena aku. "Mas bisa batalin ini sekarang. Mas bisa bilang ke semua orang kalau Mas yang nggak siap. Mas bisa tanggung malu. Asal..."

Napas kucekat.

"...asal kamu jawab jujur. Kamu masih mau jalan ke depan sama Mas? Dengan hati yang Mas nggak tahu isinya siapa?"

Hening. Hanya suara kipas angin dan detak jantungku yang mau pecah.

Di kepala, ada dua film berputar.

*Film 1*: Aku jalan ke altar. Ijab kabul. Sah. Malam pertama dengan Mas Wisnu. Dia mencium keningku, bilang "Akhirnya". Tapi tiap malam, aku tutup mata dan yang kebayang Arka. Aku jadi istri yang berkhianat dalam diam. Seumur hidup.

*Film 2*: Aku cabut kebaya ini sekarang. Lari ke stasiun. Ngejar Arka. Bilang "Aku pilih kamu". Kami bahagia... selama 2 minggu. Setelah itu keluargaku tidak merestui. Kesehatan Mama memburuk. Papa tidak mengakui aku. Arka diteror sosial karena merebut tunangan orang. Kami hancur, dan cinta saja tidak cukup.

Tuhan... kenapa pilihannya cuma antara luka dan luka yang lebih dalam?

Aku genggam balik tangan Mas Wisnu. Menatap matanya. Dan di situ aku lihat rumah. Bukan istana, tapi rumah. Tempat pulang. Tempat yang tidak akan pernah menyakitiku.

Sementara Arka... Arka adalah puisi. Indah, membekas, tapi tidak bisa ditinggali.

"Mas..." Aku usap air matanya. "Kalau Mas masih mau aku... dengan segala rusakku... aku janji belajar mencintai Mas. Sepenuhnya. Bukan karena terpaksa. Tapi karena Mas pantes dapet itu."

Mas Wisnu memejamkan mata. Dadanya naik turun. Lalu dia peluk aku. Erat. Kebayaku kusut. Bodo amat.

"Mas terima rusakmu, Sell. Karena Mas juga bukan orang yang sempurna. Kita saling memperbaiki ya?"

15 menit kemudian, aku jalan ke altar tempat ijab qabul. Papaku menggandeng tanganku. Di ujung sana, Mas Wisnu berdiri. Gagah. Matanya bengkak, tapi senyumnya tulus.

"Ijab..."

_"Saya terima nikahnya..."_

Sah.

Tepuk tangan. Peluk. Cium tangan. Selamat.

Tapi di sela tawaf pengantin, HP Mas Wisnu di saku jasnya bunyi. Dia cek sebentar, lalu bisik ke aku: "Dari Arka."

Jantungku berhenti.

Dia buka HP, menunjukkan chatnya. Cuma satu kalimat:

_"Titip Sella ya, Mas. Bahagiakan dia. Saya pamit."_

Lalu, centang satu. Nomor Arka sudah tidak aktif.

Malem pertama. Kamar pengantin. Mas Wisnu keluar dari kamar mandi, pakai sarung. Aku duduk di pinggir ranjang, masih pakai mukena. Gugup. Takut.

Dia duduk di sebelahku. Tidak menyentuh. Hanya bilang, "Sell, Mas tahu hari ini berat buat kamu. Mas nggak akan minta lebih dari yang kamu bisa kasih hari ini."

Aku nangis lagi. "Mas, aku jahat ya?"

Dia geleng. "Kamu manusia. Yang bisa khilaf. Yang penting kamu pulang. Ke Mas."

Dia ketuk keningku dengan ujung jarinya. "Tidur ya. Besok kita mulai dari nol. Pelan-pelan."

*6 Bulan Kemudian.*

Aku di dapur, masak sayur asem kesukaan Mas Wisnu. Dia pulang kerja, bawa martabak. Dari belakang dia peluk pinggangku. "Bau istriku udah kayak Ibu-ibu PKK."

Aku ketawa. Beneran ketawa. Bukan pura-pura.

Pelan-pelan, hati yang kubagi dua itu sembuh. Bukan karena lupa Arka. Tapi karena Mas Wisnu tidak pernah nuntut aku lupa. Dia cuma minta aku tinggal.

Arka tidak pernah hubungi lagi. Dari teman, kudengar dia pindah kerja ke Batam. Jadi kepala cabang. Tidak menikah.

Sesekali, kalau hujan turun dan aku sendirian, namanya masih lewat. Dadaku masih nyeri. Tapi cuma sedetik. Setelah itu aku ingat: di ruang tamu ada Mas Wisnu yang nungguin aku nonton drakor. Ada rumah yang harus kujaga.

Malam ini, hujan deras. Mas Wisnu selimutin aku di sofa. TV nyala, tapi kami nggak nonton.

"Mas," panggilku pelan.

"Hm?"

"Makasih ya... udah mau nerima aku yang hatinya nggak utuh."

Dia kecup ubun-ubunku. "Hati Mas juga pernah nggak utuh, Sell. Dulu Mas pernah ditinggal nikah sama cewek yang Mas sayang banget. Tapi Mas belajar, cinta itu bukan soal siapa yang datang duluan. Tapi siapa yang nggak pergi pas kamu paling ancur."

Aku peluk dia erat. Di luar hujan, di dalam dadaku, akhirnya reda.

Arka tetap pemenang di satu ruang kecil hatiku. Ruang yang kusegel, kukunci, dan kuberi nama Kenangan.

Tapi Mas Wisnu... Mas Wisnu pemenang di hidupku. Yang menemaniku bangun tidur. Yang kubangunkan kalau demam. Yang akan menua bersamaku.

Dan mungkin... memang begitulah hidup. Tidak semua cinta harus memiliki. Beberapa cinta cukup dikenang, lalu dilepas... untuk menghormati cinta lain yang memilih bertahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!