Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Setelah pintu gudang terkunci dari luar dengan menggunakan sebuah gembok besi besar yang Duke Alaric pikir bisa menahan putri "gagal" nya, Elara tidak lantas menangis. Dia justru menyalakan lampu minyak kecil satu-satunya di ruangan itu dan membuat bayangannya menari-nari di dinding batu yang lembap.
Dua hari 48 jam. Waktu yang cukup untuk mengubah takdir "Satin midnight blue ini warnanya bagus tapi modelnya terlalu 'sopan' dan membosankan" gumam Elara sambil membentangkan gaun sampel yang ia dapat dari Nina di atas meja kayu yang sudah lapuk.
Dia menepuk-nepuk kain itu dan menerbangkan debu tipis.
Elara mengambil gunting berkarat yang sudah ia asah semalaman menggunakan batu asahan yang dia temukan di pojok gudang sampai tajam. Tanpa ragu dia memotong bagian kerah yang terlalu tinggi, mengubahnya menjadi model off-shoulder yang memperlihatkan garis bahu dan tulang selangka Mirabel yang tegas.
Tubuh Elara Mirabel mungkin kurus karena kurang gizi, tapi Elara tahu persis bahwa dalam dunia mode struktur tulang yang tajam adalah modal utama kemewahan.
"Sekarang bagian ajaibnya..."
Elara mengeluarkan sisa kain Aurora Silk pemberian Nina dari balik bantalnya. Kain itu unik, jika terkena cahaya redup ia berwarna perak tapi jika terkena cahaya terang, ia akan bersinar ungu kebiruan. Dengan ketelitian seorang teknisi, Elara menyobek kain itu menjadi helaian panjang lalu melilitkannya di bagian pinggang hingga menjuntai ke bawah sebagai aksen drapery yang dramatis.
Jemarinya bergerak lincah. Dia tidak menjahit dengan pola kuno kerajaan yang rumit dan kaku. Dia menggunakan teknik jahitan minimalis dunia modern yang membuat kain itu jatuh dengan siluet yang sangat pas di badan bodyfit. Setiap tusukan jarum adalah sebuah janji, Janji untuk menghancurkan panggung Lilian.
Krek... krek...
Suara gunting memotong kain satin terdengar ritmis, satu-satunya suara yang memecah keheningan gudang malam itu. Sambil menjahit Elara sesekali mendengar suara teriakan Lilian dari kejauhan yang memarahi pelayan soal dekorasi pesta.
Elara hanya tersenyum dingin "Teriaklah selagi bisa Lilian. Karena besok aku yang akan memegang kendali pestamu itu, sudah cukup untuk membiarkanmu menang selama ini, aku akan membalaskan dendam Putri Elara Mirabel Astoria yang sebenarnya"
___
Malam kedua pun tiba. Gaun itu sudah tergantung rapi di sudut paling gelap, tertutup kain kumuh agar tidak ketahuan pengawal yang sesekali mengintip lewat celah pintu.
Elara mengoleskan ramuan kelopak bunga liar dicampur minyak zaitun sisa jatah makanannya ke wajahnya untuk sedikit merawat kulit yang kusam.
"Tubuh sudah lebih segar setelah olahraga ringan dan baju sudah siap" Elara menatap jendela ventilasi kecil di langit-langit gudang yang sudah ia longgarkan bautnya hingga tinggal sekali dorong "Kalian pikir gembok besi di pintu bisa menahan seseorang yang pernah lolos dari kejaran debt collector di kehidupan sebelumnya?"
Elara meraih linggis kecil yang tergeletak di pojok gudang. Dia tidak akan mendobrak pintu, itu terlalu berisik. Dia akan keluar melalui celah ventilasi di atas.
"Lilian mungkin akan terlihat seperti kue tart pink yang terlalu banyak krim" bisik Elara pada kegelapan, matanya berkilat penuh tekad "Tapi aku... aku akan menjadi galaksi yang menelannya"
Besok adalah hari di mana seluruh keluarga Astoria akan belajar satu hal, Jangan pernah memojokkan seseorang yang sudah tidak memiliki apa pun untuk dipertaruhkan.
___
Kamar Lilian beraroma mawar yang menyengat. Tiga pelayan sibuk di kakinya, satu menghaluskan kuku, satu memasangkan sepatu hak tinggi, dan satu lagi merapikan lipatan gaun pink nya yang luar biasa megah.
Lilian menatap pantulannya di cermin dengan dagu terangkat "Pastikan ikat pinggangnya kencang. Aku ingin terlihat paling ramping malam ini" perintahnya ketus.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Duchess Beatrice melangkah masuk dengan langkah terburu-buru wajahnya yang penuh bedak itu tampak berseri-seri dan matanya berkilat penuh kemenangan. Dia melambaikan tangan memberi kode agar para pelayan keluar ruangan.
"Lilian Sayang! Ibu punya kabar yang akan membuatmu menjadi wanita paling beruntung di seluruh kerajaan malam ini!" bisik Beatrice sambil memegang kedua bahu Lilian.
Lilian menoleh penasaran "Kabar apa Bu? Apa ayah menambah anggaran pesta?"
"Lebih dari itu!" Beatrice merendahkan suaranya "Ayahmu baru saja menerima konfirmasi dari istana. Pangeran Mahkota Kaelen... dia akan hadir di pestamu"
Lilian terlonjak kaget sampai hampir terjatuh dari kursinya "Pangeran Kaelen?! Pangeran Pertama yang dingin itu? Yang tidak pernah mau datang ke pesta mana pun selain pesta istana?"
"Benar!" Beatrice tersenyum licik "Ayahmu harus menukar beberapa konsesi tambang di wilayah perbatasan hanya untuk memastikan dia meluangkan waktu satu jam di sini. Ini kesempatanmu Lilian. Jika kau bisa menarik perhatiannya posisi kita di kerajaan tidak akan tergoyahkan. Kau akan menjadi calon Permaisuri!"
Dada Lilian membusung. Ambisinya langsung melambung ke langit "Pangeran Kaelen sangat menyukai wanita yang berkelas dan memiliki sihir yang murni. Aku akan menunjukkan padanya bahwa aku adalah satu-satunya berlian di keluarga Astoria"
Beatrice mengangguk puas, lalu wajahnya berubah dingin "Itulah sebabnya kita harus memastikan si 'hama' di gudang itu tidak muncul. Ibu sudah menyuruh pengawal menambah penjagaan dan memberikan dosis penenang ekstra di makanannya. Dia akan tidur seperti mayat sementara kau berdansa dengan calon raja"
Lilian tertawa kecil, suara tawanya terdengar manis tapi penuh racun "Tentu saja Bu. Biarkan Elara bermimpi di atas jeraminya sementara aku memikat Pangeran di bawah lampu kristal. Dia bahkan tidak akan tahu kalau dunianya sudah kiamat"
Lilian kembali menghadap cermin, memoles bibirnya dengan warna merah muda yang mencolok. Di kepalanya dia sudah membayangkan dirinya berdiri di samping Pangeran Mahkota, sementara Elara diseret keluar dari mansion untuk selamanya.
___
Di dalam gudang, Elara sudah selesai merias wajahnya. Dia menatap bayangannya di cermin retak untuk terakhir kalinya. Gaun midnight blue itu terasa pas di tubuhnya, memberinya kekuatan yang belum pernah dirasakan Elara sebelumnya. Dia juga terlihat cantik dengan riasan sederhana, kulit putih dan rambutnya yang di sanggup dengan mengingat-ingat cara di dunianya dulu.
"Oke, waktunya keluar dari sarang tikus ini" gumam Elara.
Dia tidak berjalan ke arah pintu kayu yang digembok itu. Sebaliknya dia menarik meja kayu lapuk ke bawah jendela ventilasi di langit-langit. Dengan gerakan tangkas, hasil dari latihan plank dan squat dua hari terakhir Elara memanjat meja itu.
Baut-baut yang sudah dia longgarkan sejak kemarin lepas dengan sekali tarik. Elara mendorong terali besi ventilasi itu perlahan agar tidak menimbulkan suara decit yang mencurigakan. Di luar dia bisa mendengar suara sepatu bot pengawal yang sedang berpatroli.
Tap. Tap. Tap.
Begitu suara langkah itu menjauh, Elara menarik tubuhnya ke atas melewati celah sempit ventilasi dan mendarat di atas atap gudang dengan seringan kucing. Angin malam yang dingin menyapu bahu terbukanya tapi dia tidak gentar.
Dari ketinggian atap dia bisa melihat aula utama mansion yang terang benderang. Suara musik orkestra terdengar sayup-sayup, kontras dengan kegelapan di bagian belakang mansion.
"Tunggu aku Lilian. Pestamu baru akan dimulai saat aku datang" bisik Elara dengan senyum miring.
Dia menuruni atap melalui pipa pembuangan air yang kokoh lalu menyelinap di antara bayangan pohon-pohon besar di taman belakang. Saat hampir sampai di pintu samping paviliun dua orang pengawal tiba-tiba lewat sambil mengobrol.
"Kasihan juga Nona Pertama ya, dikunci tanpa makan enak sementara di dalam sana ada pesta besar" kata salah satu pengawal.
"Halah dia kan nggak punya sihir, buat apa muncul di pesta kalau cuma bikin malu Duke?" timpal yang lain sambil tertawa.
Elara mendengus pelan di balik pohon Kalian pikir sihir adalah segalanya? Dasar amatir
Setelah kedua pengawal itu pergi, Elara mempercepat langkahnya menuju pintu masuk samping, pintu rahasia yang sudah Nina siapkan untuknya, ya mereka bekerja sama untuk persiapan ini. Benar saja, pintu itu sedikit terbuka. Elara menyelinap masuk ke koridor dalam yang sepi karena semua pelayan sedang fokus melayani tamu di aula utama.
Dia berdiri di depan pintu besar aula samping. Dia bisa mendengar suara pembawa acara mengumumkan kedatangan Pangeran Mahkota. Elara menarik napas dalam, membetulkan letak gaunnya yang berpendar indah di kegelapan koridor.
"Elara Mirabel Astoria yang asli mungkin sudah mati karena kesedihan" gumamnya sambil memegang dadanya "Tapi Elara yang sekarang... akan memastikan nama Astoria bergetar malam ini"......
_______________________________________________
Haii teman-teman jangan lupa tinggalin like sama komen yaaa biar aku tambah semangat update🌹
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
⊂_ヽ
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🗿
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* moga-moga nggak ada genre haramnya
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* hancurkan dan bumi hanguskan wanita murahan itu
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 👍
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* up
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Smile/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🙂
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Shy/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/