NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Labirin Bakau dan Janji yang Tersisa

​Suara letusan senjata di belakang kami tidak lagi terdengar seperti ledakan yang tajam; di tengah rimbunnya hutan bakau Sumatera yang mencekik, suara itu berubah menjadi dentuman tumpul yang diredam oleh dinding pepohonan dan lembapnya udara fajar. Setiap kali peluru menyalak, jantungku terasa seolah dicabut paksa dari rongganya. Devan ada di sana. Devan, dengan bahu yang bersimbah darah dan pistol yang mungkin kehabisan peluru, sedang menantang maut sendirian demi memberikan waktu beberapa menit bagiku untuk melarikan diri.

​"Anya! Jangan berhenti! Angkat kakimu!"

​Teriakan Vincent menyentakku kembali ke realitas yang brutal. Aku tersungkur, wajahku nyaris mencium lumpur hitam yang berbau busuk dan anyir. Akar-akar bakau melilit kakiku seperti tentakel raksasa yang tidak ingin melepaskan mangsanya. Aku terengah, paru-paruku terasa terbakar oleh udara yang jenuh dengan uap garam dan pembusukan vegetasi. Mantel pelayan yang kukenakan kini sudah tidak berbentuk, robek di sana-sini dan berat karena beban lumpur yang menempel.

​Aku memeluk tas server itu lebih erat ke dadaku. Logamnya yang dingin terasa kontras dengan kulitku yang membara karena demam dan adrenalin. Tas ini bukan lagi sekadar penyimpan data; ini adalah nyawa ibuku, nyawa Devan, dan satu-satunya alasan kenapa aku masih bernapas hari ini.

​"Aku tidak bisa, Vincent... Devan..." isakku, air mata menyatu dengan keringat dan air laut yang membasahi wajahku.

​Vincent berhenti, ia berbalik dan menyambar lenganku, menarikku berdiri dengan paksa. Matanya yang biasanya hanya menatap layar monitor kini memancarkan ketakutan yang murni, namun juga tekad yang keras. "Jika kau berhenti sekarang, pengorbanan Devan akan menjadi lelucon paling pahit di dunia ini! Kau mau dia mati sia-sia di atas sekoci itu?!"

​Kata-katanya menghantamku lebih keras daripada peluru mana pun. Aku menggertakkan gigi, mengabaikan rasa perih di pergelangan kakiku yang mungkin sudah terkilir sejak kami melompat dari sekoci tadi. Aku mulai berlari lagi, atau lebih tepatnya, menyeret tubuhku menembus labirin akar yang semakin rapat.

​Hutan bakau ini adalah tempat di mana cahaya matahari pun seolah enggan masuk. Pohon-pohonnya berdiri seperti barisan prajurit yang mati, memberikan perlindungan sekaligus jebakan bagi siapa pun yang berani melintas. Di atas kepala kami, suara helikopter kembali terdengar, menderu rendah, membelah awan fajar yang berwarna ungu pucat. Lampu sorotnya sesekali menyapu tajuk pohon, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari mengerikan di atas lumpur.

​"Mereka menggunakan pemindai termal," bisik Vincent saat kami bersembunyi di bawah rimbunnya daun nipah yang lebar. "Kita harus tetap basah. Lumpur ini... ini perlindungan kita. Lumuri tubuhmu, Anya. Cepat!"

​Tanpa ragu, aku menyiduk lumpur hitam yang dingin dan mengoleskannya ke wajah, leher, dan tanganku. Bau busuknya tidak lagi membuatku mual; aku sudah melampaui batas di mana rasa jijik memiliki makna. Di dunia ini, kebersihan adalah kemewahan milik mereka yang menindas, sementara lumpur adalah tempat berlindung bagi mereka yang mencoba bertahan hidup.

​"Kau ingat arah mercusuar itu?" tanya Vincent, napasnya pendek-pendek.

​Aku mencoba memejamkan mata, memanggil kembali potongan "kaset rusak" di kepalaku. Memori tentang Ibu di taman belakang rumah sepuluh tahun lalu muncul kembali.

​“Anya... carilah angka itu di tempat yang paling tinggi. Ibu sudah menyimpannya di sana.”

​Lalu, potongan lain muncul. Sebuah peta tua yang pernah kulihat sekilas di dalam brankas Ayah sebelum kecelakaan itu terjadi. Sebuah mercusuar yang tidak terdaftar di peta navigasi modern, terletak di titik koordinat yang disamarkan sebagai tanggal ulang tahunku.

​"Ke arah timur laut," ujarku, suaraku kini lebih stabil. "Lewati rawa asin ini, ada sebuah bukit karang kecil yang menonjol di tengah bakau. Mercusuar itu ada di sana."

​Kami melanjutkan perjalanan dengan sisa tenaga yang ada. Setiap langkah adalah perjuangan melawan gravitasi lumpur yang seolah ingin menelan kami bulat-bulat. Aku terus memikirkan Devan. Aku membayangkan bagaimana ia berdiri di atas sekoci itu, menantang kapal-kapal cepat Orion. Aku teringat luka di punggungnya—pengorbanannya selama tiga tahun saat aku melupakannya. Rasa bersalah itu kini menjadi bahan bakar yang membakar setiap sel di tubuhku untuk tetap bergerak.

​Tiba-tiba, suara komunikasi radio terdengar sangat dekat.

​"Unit 2, penyisiran area bakau sektor C. Target diduga bergerak menuju elevasi tinggi. Izin menggunakan kekuatan mematikan diberikan."

​Aku dan Vincent membeku. Di balik deretan pohon bakau, aku melihat kilatan senter taktis yang menyapu permukaan air rawa. Mereka hanya berjarak kurang dari tiga puluh meter dari posisi kami.

​Vincent memberikan isyarat agar aku tetap diam. Kami merayap di antara akar-akar, menahan napas agar uap hangat dari paru-paru kami tidak terdeteksi. Aku bisa melihat sepatu laras panjang mereka yang berkilat, melangkah dengan presisi militer di atas akar. Salah satu dari mereka berhenti tepat di depan tempat persembunyian kami. Aku bisa mencium aroma rokok dan minyak senjata dari arahnya.

​Tanganku meraba lencana perak di leherku. Jika aku tertangkap sekarang, aku akan menelan kunci penyimpanan data ini agar mereka tidak pernah bisa memilikinya.

​Namun, sebuah ledakan keras tiba-tiba terdengar dari arah pantai tempat kami mendarat tadi. Sebuah bola api besar membubung ke langit, disusul oleh suara rentetan tembakan yang semakin intens.

​"Kontak di sektor pantai! Semua unit, kembali ke titik pendaratan! Bajingan itu meledakkan tangki bahan bakar!"

​Para pengejar itu berbalik dan berlari kembali ke arah laut. Hatiku mencelos. Devan. Itu pasti perbuatannya. Ia sengaja menarik perhatian mereka kembali ke arahnya agar kami punya jalan bersih menuju bukit.

​"Devan..." bisikku, air mata kembali menetes, menciptakan garis bersih di wajahku yang berlumpur.

​"Ayo, Anya! Sekarang atau tidak sama sekali!" Vincent menarikku keluar.

​Kami berlari seperti orang gila. Aku tidak peduli lagi pada duri-duri yang menyayat kulitku atau akar yang membuatku tersandung berkali-kali. Kami mencapai kaki bukit karang tepat saat matahari mulai menyembul sepenuhnya di ufuk timur. Dan di sana, di puncak bukit yang gersang, berdirilah bangunan itu.

​Sebuah mercusuar tua yang terbuat dari batu bata merah yang sudah menghitam karena lumut dan usia. Bangunannya tampak rapuh, namun berdiri tegak dengan sisa-sisa keangkuhan masa lalu. Pintunya yang terbuat dari besi berat sudah berkarat, namun saat aku menyentuhnya, aku merasakan sebuah getaran familiar.

​Aku mengeluarkan lencana perak dari leherku. Di bagian belakang lencana itu, ada sebuah pola kunci kecil yang menyerupai bentuk bunga kamboja. Aku memasukkannya ke dalam lubang kunci yang tersembunyi di balik engsel pintu.

​Klek.

​Pintu besi itu terbuka dengan suara derit yang memilukan. Di dalamnya, suasana sangat sepi dan berdebu. Namun, yang membuatku terperangah bukanlah debunya, melainkan apa yang ada di tengah ruangan utama.

​Bukan lampu navigasi, melainkan sebuah perangkat transmisi satelit militer kuno yang telah dimodifikasi dengan teknologi modern. Di sampingnya, terdapat sebuah meja kerja dengan bingkai foto kecil yang sangat kukenal.

​Foto Ibu, menggendongku saat aku masih bayi.

​"Ibu sudah menyiapkan ini semua..." gumamku, jatuh berlutut di depan meja itu.

​Vincent segera bergerak menuju perangkat tersebut. "Ini lebih dari sekadar pemancar satelit, Anya. Ini adalah pusat komando darurat. Ibumu menggunakan jaringan fiber optik bawah laut yang ditinggalkan perusahaan minyak lama. Ini adalah jalur yang tidak bisa dideteksi oleh Orion atau pemerintah mana pun!"

​Vincent mulai menghubungkan server kami ke perangkat itu. "Jika kita melakukan siaran dari sini, sinyalnya akan langsung menyasar ke semua pusat data intelijen di dunia tanpa bisa diblokir oleh algoritma penghapus milik Orion. Ini adalah serangan total."

​"Berapa lama waktu yang dibutuhkan?" tanyaku, berdiri di dekat jendela mercusuar, menatap ke arah laut.

​"Sepuluh menit untuk sinkronisasi satelit," jawab Vincent, jari-jarinya menari di atas papan ketik yang berdebu.

​Aku menatap ke arah laut lepas. Di kejauhan, kepulan asap hitam masih terlihat dari arah pantai. Aku mencari tanda-tanda sekoci Devan, namun yang kulihat hanyalah kapal-kapal cepat Orion yang kini mengepung area tersebut.

​Tiba-tiba, sebuah suara statis terdengar dari pengeras suara di ruangan itu. Sebuah transmisi masuk.

​"Anya... kau di sana?"

​Itu suara Devan. Suaranya terdengar sangat lemah, terputus-putus oleh deru mesin dan suara angin.

​"DEVAN! Ya, aku di sini! Kami sudah di mercusuar! Kau di mana?!" teriakku ke arah mikrofon perangkat itu.

​"Bagus... kau aman... itu yang paling penting," ada jeda panjang, disusul oleh suara batuk yang menyakitkan. "Anya, dengarkan aku. Jangan menungguku. Begitu siaran selesai, kau pergi lewat jalur darat ke arah utara. Ada orang Satria yang menunggu di sana."

​"Tidak! Kami akan menunggumu! Kau harus ke sini, Devan!"

​"Aku tidak bisa, Nya," suaranya merendah, menjadi sebuah bisikan yang memilukan. "Bahan bakarku habis... dan mereka sudah sangat dekat. Aku baru saja melihat helikopter itu menurunkan tim taktis tepat di atas posisiku."

​"Devan, tolong... jangan tinggalkan aku lagi..." tangisku pecah.

​"Aku tidak pernah meninggalkanmu, Anya Kusuma," ujar Devan, dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar begitu damai di tengah badai. "Aku sudah menunggumu selama seribu hari hanya untuk melihatmu mengingat namaku. Dan kau sudah melakukannya. Itu sudah cukup bagiku. Tugas 'Hantu' sudah selesai."

​Suara ledakan keras terdengar dari arah radio, disusul oleh suara statis yang berkepanjangan.

​"DEVAN! DEVAN, JAWAB AKU!"

​Aku berteriak hingga tenggorokanku terasa berdarah, namun tidak ada jawaban. Aku berlari ke jendela mercusuar, menatap ke arah laut. Sebuah ledakan kecil terlihat di titik di mana asap hitam tadi membubung. Kapal sekoci itu sudah tidak terlihat lagi.

​"Satu menit lagi, Anya... siaran akan dimulai," Vincent berbisik, air mata mengalir di pipinya saat ia menatap monitor.

​Aku jatuh terduduk di lantai mercusuar yang dingin. Duniaku seolah runtuh sekali lagi. Namun, di tengah kehancuran itu, aku merasakan sebuah kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kemarahan yang begitu murni hingga ia mendinginkan darahku.

​Aku bangkit berdiri. Aku berjalan menuju mikrofon.

​"Nyalakan videonya, Vincent," ujarku dengan nada yang sangat stabil. "Dunia harus melihat apa yang mereka lakukan pada manusia. Dunia harus mendengar elegi ini sampai nada terakhirnya."

​Vincent menekan tombol Enter.

​Di seluruh dunia, di jutaan layar yang tadi sempat dibersihkan oleh Orion, sebuah siaran baru muncul. Bukan lagi data digital, melainkan rekaman mentah tentang penderitaan, korupsi, dan kejahatan kemanusiaan yang selama ini disembunyikan di balik aroma lavender dan gedung-gedung kaca.

​Elegi kami kini telah berganti menjadi vonis mati bagi para penindas.

​Namun, saat cahaya matahari pagi menyinari ruangan mercusuar, aku melihat sebuah benda yang tertinggal di atas meja kerja Ibu. Sebuah kaset pita tua dengan label bertuliskan: 'UNTUK ANYA - JIKA DUNIA MENJADI SUNYI'.

​Aku mengambil kaset itu, memegangnya erat-erat di dadaku. Di bawah mercusuar yang berdiri di tepi jurang, di tengah kehilangan yang tak terukur, aku menyadari bahwa kaset rusaku kini telah benar-benar utuh. Dan kali ini, aku akan memastikan lagunya tidak akan pernah berhenti berputar, demi Devan, demi Ibu, dan demi kebenaran yang menolak untuk mati.

​[KILAS BALIK SINEMATIK - MOMEN TERAKHIR MELATI]

​FADE IN:

​INT. MERCUSUAR SUMATERA - MALAM HARI (10 TAHUN LALU)

​Suasana sangat gelap, hanya diterangi oleh lampu badai kecil. MELATI (Ibu Anya) sedang duduk di meja kerja yang sama, sedang menyolder komponen terakhir dari perangkat transmisi satelit. Wajahnya sangat pucat, ia sesekali terbatuk mengeluarkan darah—tanda awal dari "obat" yang dipaksakan Hendra padanya.

​Ia menoleh ke arah jendela, menatap laut lepas ke arah Jakarta.

​MELATI

"Hendra... kau pikir kau bisa menghapus jejakku? Kau salah. Aku sudah menanamkan kebenaran ini di dalam jiwa putri kita. Dan suatu hari nanti, dia akan datang ke sini untuk menyalakannya."

​Melati mengambil sebuah alat perekam kecil dan mulai merekam suaranya sendiri.

​MELATI (V.O)

"Anya, jika kau mendengarkan ini... berarti Ibu sudah tidak ada. Jangan bersedih. Karena setiap kali kau mendengar suara piano itu, setiap kali kau melihat bintang di ufuk timur, itu adalah Ibu yang sedang menjagamu. Kebenaran adalah elegi yang menyakitkan, tapi ia adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan."

​Melati menyimpan kaset itu ke dalam laci rahasia, lalu ia berdiri menuju puncak mercusuar, menatap bintang-bintang untuk terakhir kalinya sebelum ia kembali ke Jakarta untuk menghadapi nasibnya.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!