Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Dengan penuh semangat, Arka pun berdiri tegak.
"Hah!"
Dengan satu lompatan kecil, ia mulai mencoba berlari. Dan... Wusss!
Larinya sangat cepat! Lebih cepat dari anak-anak seusianya! Dalam sekejap mata, tubuh kecil itu lenyap dari pandangan Arhan karena kecepatannya.
"Eh? Kemana anak itu menghilang?" tanya Arhan kebingungan sambil memutar-mutar kepalanya mencari keberadaan putranya.
Belum sempat Arhan mencari, tiba-tiba sosok itu muncul lagi di depan pintu kamar dengan napas sedikit terengah namun wajahnya berseri-seri.
"Papa! Lihatlah Papa!" teriak Arka melompat-lompat kegirangan. "Sekarang aku bisa berlari dengan sangat cepat! Kakiku tidak sakit lagi! Tidak pincang lagi!"
Arhan tersenyum lebar melihat kegembiraan anaknya. Hatinya terasa hangat dan lega.
"Ah benarkah? Itu luar biasa sekali Nak! Kalau begitu, nanti kalau ada yang berani jahat atau mau memukulmu, kau tinggal lari saja secepat kilat. Pasti mereka tidak akan bisa menangkapmu!" puji Arhan. Ia lalu berbisik pelan bercanda.
Arka tertawa renyah, lalu matanya berbinar penuh cita-cita.
"Iya Pa! Nanti aku bisa ikut lomba lari di sekolah! Aku pasti bisa menang!" katanya penuh percaya diri.
"Benar sekali!" sahut Arhan bangga. "Papa yakin sekali, suatu hari nanti kamu pasti menjadi atlet lari cepat yang terkenal dan hebat!"
Arhan lalu menatap botol obat di tangannya. Masih tersisa cukup banyak cairan ajaib itu.
"Sayang kalau dibuang," pikirnya.
Tanpa pikir panjang, Arhan pun menuangkan sisa cairan itu ke telapak tangannya, lalu mengoleskannya merata ke kedua tangan, dada, dan seluruh tubuh Arka.
"Ini biar badannya makin sehat dan kuat," gumamnya.
Beberapa saat kemudian...
Dug! Dug!
Arhan terbelalak kaget melihat perubahan yang terjadi. Di bawah kulit mulus Arka, mulai terlihat guratan-guratan otot yang terbentuk sempurna! Tubuh anak itu menjadi lebih padat, berotot, dan terlihat sangat kuat.
"Ehhh? Tubuh kamu menjadi lebih kekar dan kuat sekali Arka!" seru Arhan tak percaya dengan efek obat sistem yang luar biasa itu.
Arka menggerakkan tangannya, memukul-mukul udara dengan pelan.
"Hm... iya Pa," jawabnya antusias. "Tangan dan badanku terasa sangat ringan, tapi terasa penuh tenaga! Seperti ada kekuatan besar di dalam tubuhku!"
Arhan tersenyum lebar, kini ia bukan hanya sembuh, tapi ia menjadi anak yang paling kuat dan cepat di dunia!
"Ayo Nak, tes kekuatanmu! Pukul Papa sekarang! Tunjukkan seberapa kuat tanganmu!" tantang Arhan dengan percaya diri, sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri sebagai sasaran.
Ia berpikir, anak sekecil itu mana mungkin bisa menyakiti dirinya yang sudah terlatih. Paling banter hanya rasa geli saja.
Namun...
BUK!!
Tanpa aba-aba, tanpa suara, tangan mungil itu melayang cepat dan menempel keras tepat di pipi Arhan!
Gedebuk!
Arhan terhuyung mundur satu langkah! Matanya membelalak lebar, mulutnya terbuka karena keterkejutan yang luar biasa.
Rasanya bukan seperti dipukul anak kecil! Rasanya persis seperti ditonjok oleh petinju profesional atau orang dewasa yang kekar! Sakitnya luar biasa, sampai telinganya berdenging dan matanya mengeluarkan air mata!
"ADUUUUHHHH!! SAKIT SEKALI!!" teriak Arhan panjang lebar, tangannya langsung memegangi pipinya yang memerah panas.
"Ya ampun... kerasnya bukan main!" gerutunya dalam hati, masih tidak percaya dipukul sakit oleh anak kelas 1 SD.
Melihat Papa yang berteriak kesakitan, Arka justru bingung setengah mati. Ia mendekat dengan wajah polos dan penuh tanda tanya.
"Papa... Papa tidak apa-apa?" tanya Arka. "Tapi... Arka kan memukulnya pelan saja Pa? Kenapa Papa teriak begitu? Arka rasa tidak terlalu kuat kok..."
Ia benar-benar tidak mengerti, karena baginya ia hanya mengayunkan tangan biasa saja. Ia tidak sadar bahwa obat itu telah melipatgandakan kekuatannya berkali-kali lipat!
"Sakitnya... tuh jadi merah begini..." keluh Arhan lagi sambil terus menggosok-gosok pipinya yang terasa panas dan berdenyut.
Dalam hati ia bergumam, "Gila... ini anak kalau marah bisa berbahaya! Untung tadi cuma percobaan, kalau sungguhan mungkin rahangku copot!"