No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di kedalaman Tanah
Lorong bawah tanah Kota Tanpa Wajah terasa jauh lebih dingin daripada yang dibayangkan Yuan. Bau tanah basah bercampur dengan aroma karat yang menyengat dari pipa-pipa tua yang melintang di langit-langit rendah. Satu-satunya cahaya berasal dari pendaran redup busur naga milik Yuan yang sesekali berdenyut, seolah mengikuti detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
"Secara logika," suara Ming Luo memecah keheningan, meskipun napasnya masih tersengal. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding beton yang lembap, sambil tetap memegangi pedang gioknya yang kini tinggal setengah. "Bunker ini seharusnya memiliki sistem sirkulasi udara mandiri. Tapi melihat betapa tuanya tempat ini, aku khawatir kita hanya sedang menunda kematian."
Yue Yin tidak menanggapi. Ia sedang sibuk mengikat tangan Komandan Feng dengan kawat tipis yang terbuat dari logam khusus anti-energi. Gerakannya efisien dan dingin. "Berhenti mengoceh soal logika, Jenderal. Logika tidak akan menghentikan Grid Pemusnah di atas sana. Kita butuh jalan keluar menuju sektor luar kota, dan satu-satunya cara adalah melewati Labirin Pembuangan."
Yuan menatap Komandan Feng yang masih pingsan. Pria itu adalah simbol dari kekuatan yang selama ini memburunya. "Kenapa kita tidak menghabisinya saja sekarang? Dia akan terus menjadi pelacak bagi armada di atas."
"Jangan bodoh, Bocah Naga," Yue Yin menatap Yuan dengan mata tajamnya yang berkilat dalam kegelapan. "Dia adalah tiket keluar kita. Dia memiliki kode otorisasi biometrik di zirahnya. Tanpa dia, pintu keluar di ujung Labirin tidak akan pernah terbuka. Dia hidup karena dia berguna, bukan karena aku kasihan padanya."
“DIA BENAR, YUAN,” suara Ao Kuang bergema di batinnya, lebih berat dari biasanya. “KAU TERLALU BANYAK MENGGUNAKAN ENERGIKU. JIKA KAU BERTARUNG LAGI DALAM SEPULUH MENIT KE DEPAN, TUBUHMU AKAN HANCUR SEBELUM MUSUHMU MENYENTUHKU.”
Yuan mengepalkan tinjunya. Rasa sesak di dadanya belum hilang. Setiap kali ia menarik napas, rasanya seperti menghirup serpihan kaca. Ia merasa tidak berdaya, dan itu adalah perasaan yang paling ia benci.
"Ming Luo," Yuan menoleh ke arah si pria berkacamata yang kini sedang mencoba memperbaiki bingkai kacamatanya yang retak. "Tadi kau menyebut teknik 'Audit'. Apa sebenarnya yang kau lakukan pada kabut Yue Yin? Itu tidak terasa seperti sihir biasa."
Ming Luo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat tidak pas di tengah situasi hidup dan mati ini. "Ah, kau memperhatikannya? Itu adalah esensi dari kemampuanku. Dunia ini, Yuan, dibangun di atas struktur dan aturan. Teknik Audit-ku memungkinkanku melihat kesalahan atau 'celah' dalam struktur tersebut. Aku tidak menciptakan api atau angin; aku hanya menemukan bagian yang paling lemah dari elemen yang sudah ada dan memanipulasinya agar bekerja sesuai keinginanku. Secara logika, aku hanyalah seorang kurator yang memperbaiki—atau merusak—alur dunia."
"Terdengar seperti teknik seorang pengecut," gumam Yuan.
"Mungkin," Ming Luo tidak tersinggung. "Tapi pengecut ini baru saja menyelamatkan nyawamu dengan mengubah racun menjadi pusaran pemusnah drone. Di dunia yang sedang hancur ini, menjadi kuat saja tidak cukup. Kau harus menjadi efisien."
Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang bunker tersebut. Debu-debu jatuh dari langit-langit, dan suara dentuman yang sangat dalam terasa hingga ke tulang mereka. Elang Induk di atas sana mulai menjatuhkan bom seismik. Mereka sedang mencoba meruntuhkan bunker tersebut secara manual.
"Mereka mulai menggali," Yue Yin berdiri dengan cepat, menarik tubuh Komandan Feng seperti menyeret karung beras. "Ikuti aku. Labirin ini memiliki jebakan tekanan air. Jangan menyentuh apa pun kecuali jika aku menyuruhmu."
Mereka bergerak masuk lebih dalam. Labirin itu benar-benar seperti namanya; lorong-lorong sempit yang bercabang tanpa akhir, dengan air setinggi mata kaki yang terasa sedingin es. Yuan bisa merasakan kehadiran drone-drone kecil yang mulai masuk lewat celah-celah ventilasi di atas. Suara mesin berdengung samar mulai terdengar di belakang mereka.
"Mereka mengirim Unit Pelacak Mikro," bisik Yuan. Ia mengangkat busurnya, namun tangannya bergetar.
"Jangan gunakan energimu!" Ming Luo menahan tangan Yuan. Ia meraba dinding, mencari sesuatu. "Secara logika, ada pipa tekanan uap di area ini. Jika aku bisa memicu kebocorannya..."
Ming Luo menemukan sebuah katup tua yang sudah berkarat. Dengan satu sentuhan teknik auditnya, ia memutar katup tersebut tanpa suara. Sesaat kemudian, uap panas menyembur keluar dengan tekanan tinggi, memenuhi lorong di belakang mereka. Drone-drone yang mencoba mengejar langsung kehilangan sensor panas mereka dan menabrak dinding hingga hancur.
"Kerja bagus, Kurator," puji Yue Yin singkat.
Namun, keberuntungan mereka tidak bertahan lama. Di ujung lorong, sebuah pintu baja raksasa berdiri kokoh. Di sampingnya terdapat sebuah panel kendali dengan lampu merah yang berkedip-kedip.
"Itu pintunya," Yue Yin menunjuk. "Bawa si sombong ini kemari."
Yue Yin memaksa tangan Komandan Feng ke panel pemindai. Namun, panel itu mengeluarkan suara denging kegagalan.
“AKSES DITOLAK. PROTOKOL DARURAT DIAKTIFKAN. IDENTITAS KOMANDAN FENG DIBEKUKAN OLEH KOMANDO PUSAT.”
Mata Ming Luo melebar. "Secara logika... itu tidak mungkin. Kecuali kalau..."
"Kecuali kalau Kekaisaran sudah menganggap Feng sebagai pengkhianat karena tertangkap," potong Yuan dingin. "Mereka tidak ingin kita keluar, meskipun harus mengorbankan komandan mereka sendiri."
Suara langkah kaki berat terdengar dari balik pintu baja. Bukan suara manusia, melainkan suara kaki logam yang menghantam lantai dengan ritme yang teratur. Sesuatu yang jauh lebih besar dari prajurit biasa sedang menunggu mereka di balik pintu itu.
“SIAPKAN DIRIMU, BOCAH,” suara Ao Kuang mendesis penuh antisipasi. “PEMBANTU KEKASARAN SUDAH TIBA. DAN KALI INI, MEREKA MEMBAWA PEMBURU NAGA YANG SEBENARNYA.”
Pintu baja itu mulai terbuka perlahan, bukan karena dibuka dari dalam, melainkan karena dipotong oleh pedang laser berenergi tinggi. Sosok raksasa dengan zirah hitam pekat muncul di balik asap pemotongan. Di tangannya, ia memegang rantai yang terhubung dengan tombak yang memancarkan aliran listrik statis.
"Unit Eksekutor 01," bisik Ming Luo, wajahnya pucat pasi. "Mereka mengirim algojo paling haus darah di Kekaisaran."
Yuan melangkah maju, busur naga di tangannya kini menyala dengan api hitam yang lebih pekat dari sebelumnya. Rasa sakit di dadanya ia abaikan. Logika sudah tidak berguna lagi di sini. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk bertahan hidup.
"Yue Yin, jaga si Jenderal," perintah Yuan tanpa menoleh. "Biarkan aku yang membuka jalan."
Pertempuran di kedalaman tanah baru saja dimulai. Di atas, langit masih merah oleh api Grid Pemusnah, namun di bawah sana, kegelapan akan menjadi saksi apakah sang Pemanah Naga akan terkubur selamanya atau bangkit menjadi bencana yang lebih besar bagi Kekaisaran.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏