Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sarapan pagi ini adalah nasi goreng tanpa warna. Secara teknis, ya nasi goreng. Tapi cuma nasi, bawang, dan mentega. Tidak ada telur. Tidak ada daging. Tapi ada harapan.
Setidaknya semua masih bisa makan sambil bercanda.
Hari ini kamis, tapi tak ada yang berniat masuk kelas. Semua sibuk menunggu kabar soal hasil semalam. Untungnya kelas cuma sampai siang, dan setelah jam makan, mereka langsung berkumpul di kantin.
Kali ini tidak ada kubu Ruby atau kubu Dua Belas Bulan. Mereka menyatukan meja, lalu duduk berjejer seperti pasukan rahasia yang baru keluar dari misi ilegal.
"Aku sempat cek laporan keuangan sekilas," Desi membuka tanpa basa-basi. "Aneh banget, jumlah anggarannya sama persis kayak bulan kemarin,"
"Baru satu itu," timpal Febi. "Stok barang juga fiktif. Misalnya belanja daging, tapi gak ada dagingnya. Nihil."
Ruby menaikkan alis. "Laporan itu dikirim ke pusat?"
Febi mengangkat bahu. "Gak tau juga. Soalnya alamat email-nya absurd. Nih: alayloanying55@lalalili.com. Semua laporan dikirim ke situ,"
Hening lima detik sampai Apri akhirnya bersuara, "Email itu bukan cuma asing, Bunda. Tapi absurd banget. Yang punya udah pasti alay itu mah. Pasti."
Ruby terkekeh. "Di Charley Group, absurd tuh udah kayak punya standar sendiri.'"
Janu melirik tajam, "Kok lo tau?"
Ruby mengangkat bahu santai. "Ya liat aja, ngasih tes kayak begini."
Septi menatapnya curiga. "Lo yakin ini cuma tes?"
Ruby balas dengan senyum tipis. "Ini terlalu mendadak untuk sekedar kehabisan anggaran."
Marey mengangguk. "Gw setuju sama Ruby. Staf di sini gak mungkin berani mainin dana anggaran. Dan kita bukan anak SMA yang bisa mereka kibulin, kita orang-orang terpilih,"
"Et dah. Gw demen banget sama omongan lo. Terus, next-nya gimana nih?" tanya Janu sambil nyengir.
"Semua data dikumpulin jadi satu file, sekalian sama bukti CCTV yang mati. Pilihannya cuma dua: lapor ke pusat, atau beresin di sini," ujar Ruby, nada suaranya tenang tapi matanya serius.
Beberapa detik mereka saling pandang, seolah berpikir keras.
"Gw rasa langsung aja ke pusat," kata Apri cepat, padahal jelas-jelas belum berpikir matang.
"Apa gak lebih baik selesain di sini dulu?" sahut Juli.
"Kumpulin pembimbing sama kepala staf, sodorin semua bukti. Beres di tempat."
"Aku setuju," Kimi langsung nimbrung. "Kayak simulasi perusahaan kan? Selama masih bisa diselesaikan di cabang, pusat gak perlu ikut ribet."
"Ya, kecuali mereka ngeles. Baru deh wajib lapor ke pusat," tambah Ruby dengan senyum licik. "Tapi sebelum itu.. kayaknya mereka perlu dikerjain balik."
Okta ngakak. "Setuju banget. Gw ogah sisa hari-hari kita di sini cuma makan mie instan,"
"Kita harus kasih mereka pelajaran," timpal Apri semangat.
"Mie kesukaanku udah abis tau. Abang mana mau ngirimin lagi." Ucapan Kimi itu bikin suasana tiba-tiba hening.
"Aku baru inget," kata Febi pelan. "Paket dari Mama gak nyampe-nyampe dua minggu ini. Katanya mau dikirim, tapi pas aku tanya, petugas bilang sinyal lagi gangguan. Kupikir Mama batal ngirim."
"Paketku juga gak nyampe," sahut Anela cepat.
"Sip. Kantor mana lagi yang perlu kita obrak-abrik," Juni menggosok tangannya dengan semangat.
Mereka kembali berbincang akrab, tapi ada satu orang yang sempat melirik Anela dengan tatapan curiga. Janu. Ia merasa Anela jauh lebih pendiam sekarang. Padahal biasanya gadis itu kerap mengobrol dan tertawa bersama Ruby.
Selain itu, Anela sudah jarang berada di sekitar Ruby dan lebih sering di perpustakaan sendirian.
Apa ini patah hati? batin Janu bingung sendiri.
**
Pukul delapan malamnya~
Kimi masuk ke kamar Ruby dengan ekspresi penuh tekad, sambil menyelipkan selembar kertas di belakang punggungnya. Ruby yang sedang membaca langsung menutup buku dan tersenyum kecil.
"Kenapa, sayang? Mukanya serius banget. Jangan bilang kamu punya ide aneh lagi," katanya sambil memutar kursi dan mengulurkan tangan.
Kimi maju, membiarkan Ruby menarik pinggangnya dan masuk ke pelukan.
"Hm? kamu bawa apa?" tanya Ruby sambil meraba tangan Kimi yang masih di belakang punggung.
"Ini," Kimi menyerahkan kertas yang dilipat rapi. "Aku pengen kamu jelasin,"
Ruby membuka kertas itu dan membaca sekilas. Alisnya langsung naik. "Oh, profil-ku ya. Kamu nemu di kantor?" tanyanya santai.
Kimi manyun, "Ini beneran?"
Ruby mengangguk.
"Ya jangan cuma ngangguk, By. Jelasin dong," Kimi mulai nyolot.
Ruby garuk kepala. "Apanya yang mau dijelasin, sayang? Aku emang disuruh ikut pelatihan begitu selesai kuliah. Aku kan pernah bilang lebih tua dari kamu, cuma soal lima tahunnya emang bohong."
"Oke. Oke. Aku paham yang itu. Terus nama belakang kamu beneran Charley? Itu Charley yang punya Charley Group?"
Ruby mengangguk lagi, seolah membahas hal sepele. "Chairman-nya kan si Verila. Nah, mamanya Verila punya adik kandung. Aku anaknya."
Kimi berkedip. "Maksudnya... kamu sepupuan sama chairman?"
"Iya." Ruby menyisir rambutnya ke belakang,
gayanya terlalu tenang.
"Kupikir yang punya nama Charley itu cuma keluarga chairman yang dulu."
Ruby meringis. "Keluargaku agak ribet, sayang."
"Ribet gimana?" tanya Kimi sambil naik ke pangkuan Ruby seenaknya. Pacarnya itu langsung memegangi pinggangnya agar tidak ter jungkal.
"Orang tuaku nikah sejenis."
"SERIUS?!" Kimi langsung melotot, padahal ia tahu hal itu bukan rahasia di keluarga Charley.
"Iya. Aku anak hasil bayi tabung. Mamaku keluarga Alendi, Momy dari Charley. Mereka sepakat punya dua anak. Nah, kakakku pake nama Alendi, aku Charley. Sekarang dia pegang perusahaan Alendi, sedangkan aku bantu Charley. Simpel tapi ribet kan?"
Kimi butuh waktu buat mencerna. "Eh.. jadi kalau nikah sejenis, anaknya otomatis punya dua nama keluarga ya, By?"
"Ya nggak juga, sayang. Biasanya satu aja. Cuma keluarga kami aja yang ribet. Dua-duanya keluarga bisnis besar, jadi gak mau ngalah," Ruby terkekeh. "Lagian bisnis Charley segunung, Veril gak bisa handle sendirian."
Kimi menatap Ruby beberapa detik, lalu matanya membulat. "Berarti kamu bakal jadi CE0 dong?!"
Ruby menggeleng. "Enggak."
"Terus?"
"Pengangguran."
Kimi melongo. "Serius?"
Ruby mengangguk, ekspresinya pura-pura sedih. "Masih mau sama aku?"
"Ya mau lah. Pengangguran juga tetep aja kamu kaya," jawab Kimi polos.
Ruby tertawa, tapi tatapannya lembut. Kimi memang bilang begitu, tapi ia tahu, cewek Teddy itu sudah menyukainya sebelum tahu siapa Ruby sebenarnya. Matre wajar. Tapi selama ia cinta, uang bukan hal penting yang harus ia pedulikan. Ini lebih baik ketimbang seseorang yang bilang cinta bukan karena materi, tau-tau berpisah karena alasan ekonomi.
"Uby" panggil Kimi manja, tangannya melingkar di leher Ruby.
Ruby langsung waspada. "Apa?"
Kimi tersenyum nakal. "Begituan yuk..."
Ruby nyaris tersedak udara. "Astaga, Kimi."
Ia langsung buang muka, wajahnya memanas. Cewek satu ini memang berbahaya. Dia bisa bikin seluruh pertahanan moral runtuh cuma dengan satu kalimat manja.
~
Di saat Ruby mati-matian bertahan agar tetap waras, di tempat lain Janu sedang dilanda rasa curiga.
Setelah makan malam-menu sederhana yang cuma nasi, ikan goreng, dan sosis hasil jarahan dapur-ia melihat Anela keluar dari asrama. Ia diam-diam mengintai dari jauh, dan dugaannya terbukti. Cewek itu pergi ke perpustakaan lagi.
Janu mengendap-endap mendekati jendela, lalu mengintip ke dalam. Rasa curiganya masih belum hilang. Bisa saja Anela itu mata-mata staf, sumber bocoran semua informasi yang tiba-tiba bisa diketahui pembimbing.
Tapi setelah beberapa menit mengintip, Anela cuma terlihat sibuk memilih-milih buku. Tidak ada kode aneh, tidak ada gerak mencurigakan. Cuma cewek tenang yang kelihatan terlalu biasa.
Merasa kurang puas, Janu akhirnya menarik napas panjang dan masuk ke dalam. Ia berniat pura-pura mencari buku. Meski kenyataannya, dia lebih akrab sama layar monitor ketimbang lembar kertas. Yah, IT bukan berarti anti buku kan? pikirnya sambil mencoba terlihat santai.
Anela sempat kaget saat pintu terbuka, tapi cepat- cepat bersikap biasa.
"Lo ngapain di sini malam-malam sendirian?" tanya Janu, lebih seperti basa-basi.
"Kamu lihat sendiri, aku lagi nyari buku, " jawab Anela datar.
Janu melirik rak buku di depan mereka. Ia mendekat, jarak mereka kini cuma sejangkauan tangan.
"Apa yang lo sembunyiin?" tanyanya pelan.
Anela langsung berbalik, menatap matanya tajam.
"Kamu datang-datang langsung nuduh. Memangnya apa yang bisa kusembunyikan?"
"Apa aja," jawab Janu santai. "Misalnya pesan buat orang yang entah siapa,"
Ia melangkah melewati Anela, pura-pura acuh, lalu mulai menarik satu-satu buku dari rak, menirukan gerakan Anela barusan.
"Gw pernah liat di film, mereka saling tuker pesan lewat cara kayak gini," ujarnya ringan. Ia jelas mengincar buku-buku yang tadi sempat Anela pegang.
Anela menoleh cepat. Wajahnya menegang. "Kamu mikir apa-"
Belum sempat selesai bicara, ia langsung menarik tangan Janu dan mendorongnya ke arah rak. Gerakannya cepat, spontan, tapi kuat. Janu nyaris kehilangan keseimbangan.
"Kamu itu punya kebiasaan curigaan sama orang ya?" bisik Anela, menatapnya lekat. "ke Ruby juga gitu kan? Kamu curiga dia bakal nularin ke yang lain."
Wajahnya semakin dekat. Nafasnya terasa di kulit Janu.
"Aku jadi penasaran," lanjutnya pelan, nyaris seperti desis. "Apa iya yang begini bisa menular?"
Janu mengernyit. Belum sempat paham maksudnya, Anela tiba-tiba menarik kerah kaosnya dan menempelkan bibir mereka.
Tubuh Janu langsung menegang. Matanya membulat. Otaknya panik, tapi badannya malah membeku. Dan satu-satunya hal yang bisa dia pikirkan cuma:
Gw dicium? Gw dicium cewek ? Serius ini?
Ayo lanjut agi thor jngn lama upnya🙏
Lanjut ya thor
Aku padamu