Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Jual Emas dan Kabur dari Preman
Lembaran uang lima puluh ribuan dalam genggamannya terasa seperti tiket untuk bertahan hidup.
Saskia menghitung sekali lagi di dalam angkutan desa yang berdecit di setiap lubang jalan. Lima belas juta. Tangan kasir toko emas di Pasar Besar Malang masih terbayang di kepalanya, jemari tua dengan kuku kuning itu mengetuk-ngetuk kalkulator sebelum menyodorkan amplop coklat.
"Kalung sama gelang paling berat, Mbak. Anting sama cincinnya kecil. Total lima belas koma dua. Saya bulatkan lima belas saja."
Saskia tidak membantah. Padahal ja tahu harga emas sedang naik, tapi ia tidak punya waktu untuk tawar-menawar. Setiap menit yang ia habiskan di kota adalah menit di mana Bibi Laras bisa menyadari keberadaannya yang menghilang dari rumah. Setiap jam adalah risiko bahwa seseorang di desa akan melaporkan melihatnya naik angkutan ke kota.
Uang itu sekarang tersimpan di balik kain jaritnya, dibungkus plastik kresek hitam, diikat karet gelang dua lapis. Lima belas juta. Cukup untuk membeli pakan bergizi dan obat cacing. Cukup untuk bertahan satu atau dua bulan ke depan. Tapi tidak cukup untuk membeli bibit Wagyu Fullblood.
"Berhenti di pertigaan, Pak," panggilnya pada sopir.
Angkutan desa itu berhenti dengan rem yang memekik. Saskia turun, kakinya menapak jalan aspal yang sudah mulai berubah jadi jalan tanah berbatu. Pertigaan ini masih dua kilometer dari rumahnya. Jalur alternatif. Ia sengaja tidak turun di depan gang rumah. Bibi Laras bisa saja menyuruh seseorang menunggu di sana.
Matahari sudah condong ke barat. Cahaya jingga menerpa pepohonan jati di sepanjang jalan. Saskia berjalan cepat, terlalu cepat untuk tubuhnya yang masih lemah. Dadanya mulai sesak setelah lima ratus meter pertama. Tapi ia memaksakan langkahnya.
Lalu ia mendengar suara di belakangnya.
Langkah kaki. Bukan satu orang. Dua.
Saskia tidak menoleh. Ia mempercepat langkahnya. Jantungnya mulai berdebar lebih kencang, dan itu bukan karena kelelahan fisik. Nalurinya berteriak. Naluri yang sama yang dulu membantunya selamat dari sapi pejantan yang mengamuk. Naluri yang mengenali bahaya sebelum otak sempat menganalisanya.
"Eh, Mbak Saskia!"
Suara itu. Laki-laki. Parau karena rokok. Bukan suara yang ia kenali dari memori Saskia Utami.
Saskia terus berjalan.
"Eh, dia kabur! Kejar!"
Kali ini ia berlari. Tidak ada gunanya pura-pura tidak dengar. Kakinya yang kurus memompa tanah berbatu sekuat tenaga. Udara masuk dan keluar dari paru-parunya seperti sembilu. Rasa perih langsung menjalar di seluruh rongga dadanya. Asam lambung naik lagi, kali ini bercampur rasa logam.
Tapi ia tidak berhenti.
Di tikungan berikutnya, ia melesat ke kiri, masuk ke jalan setapak yang lebih kecil. Semak-semak di kiri kanan. Pohon pisang yang daunnya lebar. Parit kecil yang mengalirkan air irigasi. Ia hafal daerah ini. Bukan dari memorinya, tapi dari memori Saskia Utami yang dulu sering main di sini waktu kecil.
"Ke mana dia?!"
"Ke kiri! Cepat!"
Suara langkah di belakangnya semakin dekat. Dua orang. Laki-laki dewasa. Postur tubuh mereka jauh lebih besar darinya. Dalam kondisi fisik normal, Saskia Mahendra yang dulu mungkin bisa melawan atau setidaknya berlari lebih cepat. Tapi tubuh ini... tubuh ini bahkan tidak bisa naik tangga tanpa terengah-engah.
Otaknya berputar cepat.
Mereka pasti suruhan Bibi Laras. Tidak ada yang lain. Wanita itu pasti sudah curiga begitu melihat Saskia tidak ada di rumah dan kandang. Atau mungkin ia menyuruh orang mengawasi sejak semalam, sejak ia berdiri di pagar dengan mata menyipit.
"Berhenti, Mbak! Kami cuma mau bicara!"
Bohong. Dua laki-laki tidak akan mengejar seorang gadis di jalan sepi hanya untuk bicara.
Saskia melihat sebuah gubuk tua di depan. Gubuk penyimpanan jerami milik petani setempat, sudah lama tidak dipakai. Atapnya bolong. Dinding anyaman bambunya berlubang di sana-sini. Tapi cukup untuk bersembunyi.
Ia menerobos masuk.
Di dalam, aroma jerami busuk dan kotoran tikus langsung menyerang hidungnya. Cahaya matahari sore menembus dari lubang-lubang di atap, menciptakan pola-pola terang di lantai tanah. Saskia menyelip di balik tumpukan jerami, tubuhnya menciut sekecil mungkin.
"Di mana dia?!"
"Masuk ke gubuk! Ayo periksa!"
Langkah kaki mendekat. Dua bayangan muncul di ambang pintu gubuk.
Saskia menahan nafas. Tangannya merogoh ke balik jaritnya. Bukan mencari uang. Uang itu sudah ia pindahkan ke dalam ruang spasial begitu turun dari angkutan. Ia belajar dari pengalaman. Ruang itu bukan cuma untuk Air Suci. Ia bisa menyimpan benda lain di sana.
Jarinya menyentuh sesuatu yang kecil dan padat. Bungkusan kertas minyak.
Cabai bubuk.
Ia membelinya di pasar tadi, bersama sebungkus nasi rames dan dua botol air mineral. Niat awalnya untuk campuran pakan ternak, meningkatkan palatabilitas. Sekarang ia akan menggunakannya untuk hal lain.
"Kau periksa sebelah sana. Aku sebelah sini."
Langkah kaki mendekat. Jerami berderak diinjak sepatu.
Saskia merobek bungkusan kertas minyak itu. Cabai bubuk merah menyengat langsung menguar, membuat hidungnya sendiri pedih. Ia menahannya. Jemarinya mencubit sebagian besar bubuk itu, menggenggamnya di telapak tangan kanan.
"Eh, ada bau apa ini?"
Langkah kaki semakin dekat. Bayangan tinggi muncul di balik tumpukan jerami. Wajah laki-laki berusia tiga puluhan, kulit gelap, jaket jeans lusuh, mata yang menyipit begitu melihat tubuh Saskia yang meringkuk.
"Nah, ketemu. Ayo, Mbak. Kita cuma disuruh nyampein pesan."
Saskia mendongak. Matanya bertemu dengan mata laki-laki itu. Ia tidak bicara. Ia menunggu.
Laki-laki itu membungkuk, tangannya terulur untuk meraih lengan Saskia.
Sekarang.
Saskia meniupkan cabai bubuk dari telapak tangannya tepat ke wajah laki-laki itu.
"AAAAARGH! MATANYA! MATANYA!"
Laki-laki itu terhuyung mundur, kedua tangannya mencakar-cakar wajah sendiri. Cabai bubuk yang sangat halus langsung menempel di bola mata, di kelopak, di selaput lendir. Sensasi terbakar yang tidak tertahankan.
Saskia tidak menunggu. Ia melesat melewati laki-laki yang masih menjerit. Temannya yang di sebelah sana berteriak, "Ada apa?!", tapi Saskia sudah keluar dari gubuk. Kakinya berlari sekencang mungkin, menerobos semak-semak, melompati parit kecil, masuk ke kebun pisang yang lebih lebat.
Di belakangnya, suara jeritan masih terdengar. Lalu suara temannya, "Kejar! Jangan biarkan dia kabur!"
Tapi mereka tidak tahu jalan di kebun pisang ini. Saskia Utami tahu. Ia dulu sering bermain petak umpet di sini. Jalur tikus. Lorong-lorong kecil di antara pohon pisang. Jalan setapak yang tidak terlihat dari luar.
Saskia berlari sampai paru-parunya serasa terbakar. Sampai kakinya gemetar dan pandangannya mulai berkunang-kunang. Sampai ia yakin tidak ada lagi suara langkah di belakangnya.
Ia berhenti di dekat sebuah sumur tua. Tangannya bertumpu pada bibir sumur, tubuhnya membungkuk, nafasnya tersengal seperti orang kehabisan oksigen. Jantungnya berdebar terlalu kencang untuk tubuh anemia ini. Tapi ia masih hidup.
"Bibi Laras," desisnya di antara nafas yang memburu. "Wanita itu tidak main-main."
Malam sudah turun ketika Saskia akhirnya tiba di kandangnya.
Ia tidak masuk melalui jalan depan. Ia memutar lewat kebun belakang, melewati pagar bambu yang sudah reyot, menyelinap di antara pohon singkong yang daunnya lebar-lebar. Setiap langkahnya waspada. Setiap bayangan membuatnya menegang.
Tapi tidak ada yang menunggunya di kandang.
Si Belang masih tidur di sudutnya. Ndut dan Limosin satunya berdiri berdekatan, mungkin untuk menghangatkan diri di malam yang dingin. Lampu minyak sudah padam.
Saskia menutup pintu kandang. Dua daun pintu dari kayu lapuk yang engselnya sudah copot satu. Ia mencari sesuatu untuk mengganjal, menemukan sebatang kayu bekas tiang, dan menyelipkannya di antara pintu dan lantai. Kunci darurat. Tidak akan menahan orang dewasa yang benar-benar ingin masuk, tapi cukup untuk memberinya waktu beberapa detik.
Lalu ia duduk di atas jerami. Punggungnya menyandar ke dinding. Nafasnya masih memburu, tapi perlahan mulai tenang.
Ia menutup matanya, memfokuskan pikirannya ke dalam.
Ruang spasial itu muncul lagi. Langit keemasan. Rumput hijau. Batu besar dengan mata airnya. Di dekat batu itu, plastik kresek hitam berisi uang lima belas juta tergeletak aman.
Saskia membuka mata. Ia kembali ke dunia nyata. Tapi uang itu tetap di sana, di dalam ruang spasialnya. Tempat teraman yang ia punya.
"Besok," bisiknya pada Si Belang yang masih tidur. "Besok aku ke Pasar Dampit. Cari pakan. Cari obat cacing. Mungkin cari informasi tentang bibit sapi."
Si Belang tidak menjawab. Hanya telinganya yang bergerak-gerak, mungkin bermimpi tentang rumput hijau di padang penggembalaan.
Napasnya tersengal di balik pintu kandang yang terkunci rapat. Ini baru permulaan.