Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANGKAR YANG RETAK
Langit Inggris hari ini seolah ikut berkabung. Awan kelabu menggantung rendah di atas pemakaman mewah itu, meneteskan gerimis tipis yang menusuk tulang. Di depan nisan marmer yang masih basah, seorang gadis bersimpuh dengan tubuh gemetar.
"Hiks... Ayah... kenapa tinggalin Ana sendirian... hiks..."
Isakan itu pecah dari bibir Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun itu meremas tanah yang masih basah, mengabaikan gaun hitam mahalnya yang kini kotor. Rambut cokelat sebahunya lepek terkena air hujan, membingkai wajahnya yang pucat dan mata yang sembab. Baginya, dunia seolah berhenti berputar saat peti mati Brandon Warming diturunkan ke liang lahat.
"Nona Tiana, ayo kita pulang. Biarkan Ayah Anda tenang di sana," ucap salah satu pengawal setia Brandon dengan suara rendah, mencoba memberikan penghiburan yang sia-sia.
Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Tiana mengikuti pengawal itu menuju mobil. Sepanjang perjalanan menuju mansion keluarga Warming, Tiana hanya menatap kosong ke luar jendela. Dia tidak tahu bahwa neraka yang sebenarnya baru saja dimulai.
Begitu pintu besar mansion terbuka, langkah Tiana mendadak terhenti. Di ruang tengah yang megah, dua sosok yang sangat ia kenal sudah berdiri menghadangnya dengan senyum sinis yang mengerikan.
Angelia, bibinya, dan Liona, putri dari bibinya, berdiri angkuh sambil melipat tangan di dada. Tak ada lagi topeng kesedihan yang mereka pakai saat di pemakaman tadi.
"Tiana, sekarang kamu sendirian. Tidak ada lagi yang bisa membelamu di rumah ini," ucap Liona dengan nada meremehkan. Gadis itu melangkah maju, menatap Tiana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan penuh kebencian.
Angelia terkekeh pelan, suaranya terdengar dingin di keheningan mansion. "Benar, Liona. Dan kita bisa lihat sekarang... seberapa menderitanya dia tanpa perlindungan Brandon."
Tiana tertegun, air matanya tertahan di pelupuk mata. "Bibi... Liona... apa maksud kalian? Ayah baru saja dikuburkan..."
"Justru karena itu, Sayang," potong Angelia sambil mendekat dan mencengkeram dagu Tiana dengan kuat. "Masa kejayaanmu sudah berakhir bersama napas terakhir ayahmu. Mulai detik ini, kamulah yang akan melayani kami."
"Bawa dia ke kamarnya!" bentak Angelia pada para pengawal. Suaranya yang melengking bergema di lorong mansion yang sunyi.
Para pengawal itu saling lirik dengan ragu. Mereka tahu Tiana adalah putri majikan mereka, tapi dengan Brandon yang sudah tiada dan kendali harta yang kini beralih ke tangan Angelia, mereka tak punya pilihan. Dengan terpaksa, mereka mencekal lengan Tiana dan membawanya naik ke lantai atas.
"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" Tiana meronta, namun tenaganya habis karena duka yang mendalam.
Sesampainya di kamar Tiana yang luas dan mewah, Liona sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum penuh kemenangan. Ia melangkah masuk seolah-olah ruangan itu sudah sah menjadi miliknya.
"Tiana, ambil pakaianmu semua. Kamarmu akan menjadi milikku sekarang," ucap Liona sambil bersedekap dada, menatap dekorasi kamar Tiana dengan rakus.
Tiana membelalak. "Tapi ini kamarku, Liona! Ayah membuatkan ini khusus untukku!"
"Ayahmu sudah jadi tanah, Tiana! Dan mulai detik ini, kau akan menjadi pelayanku!" sahut Liona lagi dengan nada menghina.
Air mata Tiana kembali luruh, rasa sesak di dadanya kian menghimpit. Ia menatap bibinya yang berdiri di belakang Liona dengan tatapan tak percaya. "Kenapa kalian seperti ini? Aku putri dari kakak iparmu, Bibi... kenapa kalian jahat?"
Angelia hanya tertawa sinis, tidak ada sedikit pun rasa iba di matanya. "Justru karena kamu putri Brandon, kamu harus membayar semua rasa iri yang kami simpan selama ini. Cepat kemasi barangmu dan pindah ke kamar pelayan di basemen!"
Tiana hanya bisa menunduk, tangannya gemetar saat memasukkan beberapa helai pakaian dan boneka pemberian ayahnya ke dalam koper kecil. Boneka itu satu-satunya pelukan hangat yang ia miliki sekarang.
Namun, belum sempat ia menutup kopernya, sebuah kain kasar mendarat tepat di wajahnya.
"Pakai ini. Ini pakaianmu sekarang selama di mansion," ucap Liona dengan nada meremehkan. Ia baru saja melemparkan seragam pelayan berwarna hitam putih yang kusam.
Tiana memegang kain itu dengan mata berkaca-kaca. "Ini... baju pelayan?"
"Tentu saja! Kamu pikir kamu masih tuan putri yang bisa duduk manis?" Liona bersedekap dada, menatap Tiana seolah gadis itu adalah sampah. "Mulai besok pagi, kamu harus sudah bangun sebelum matahari terbit untuk membersihkan seluruh lantai bawah. Kalau ada debu sedikit saja, jangan harap bisa makan."
Tiana memeluk bonekanya erat-erat, mencoba mencari kekuatan di tengah badai yang menghancurkannya. Ia tidak menyangka, di rumah tempat ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang, kini ia justru menjadi orang asing yang paling rendah.
PENOKOHAN
ALEX FERGUSON
TIANA LUXEMBURG WARMING
LIONA ANASTASYA
ANDRIANA DAVIDSON
ALEN CYAN FERGUSON
Segitu dulu ya guys penokohan ku , nanti kalua udah banyak tokoh nya aku kasih ya .. baca ya