NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Tinta Terakhir Sebelum Fajar

Ketegangan setelah "alarm palsu" di minggu ke-37 perlahan mencair, berganti dengan keheningan yang meditatif di dalam rumah.

Adrian, yang biasanya mengandalkan logika dan struktur, kini mulai menyentuh sisi spiritual yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ia menyadari bahwa di balik kemegahan gedung-gedung yang ia bangun, ada satu arsitektur yang tak bisa ia kuasai: waktu Tuhan.

Minggu ke-38 berjalan dengan ritme yang sangat lambat. Arumi lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan, bukan untuk menulis plot baru, melainkan untuk membaca ulang buku-buku lama yang memberikan kedamaian. Di setiap sudut ruangan, kini terselip jejak-jejak persiapan—bola yoga di sudut ruang tamu, tumpukan handuk lembut di kamar mandi, dan wangi minyak telon yang mulai samar-samar tercium karena Ratna sempat mengoleskannya pada perlengkapan bayi sebelum pulang.

Suatu malam, sekitar pukul dua dini hari, Adrian tidak bisa memejamkan mata. Ia melihat Arumi tertidur lelap dengan napas yang teratur, tampak begitu tenang meskipun beban di rahimnya pasti sangat menyiksa. Adrian beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju meja kerja Arumi di pojok kamar.

Ia mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pena. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang terbiasa menulis memo internal dan kontrak triliunan rupiah ini ingin menulis sebuah surat pribadi. Surat untuk Abimanyu.

“Untuk putraku, Abimanyu Pramoedya...

Saat aku menulis ini, kamu masih berada di dalam perlindungan ibumu. Aku ingin kamu tahu satu hal: kamu tidak lahir dari sebuah kebetulan yang direncanakan. Kamu lahir dari sebuah badai yang berubah menjadi pelangi.

Dulu, ayahmu adalah pria yang berpikir bahwa dunia bisa dibeli dan perasaan bisa diatur. Sampai akhirnya Ayah bertemu dengan ibumu. Dia bukan wanita yang direncanakan untuk berada di sisi Ayah, tapi dia adalah satu-satunya wanita yang dibutuhkan Ayah untuk menjadi manusia seutuhnya.

Jangan pernah merasa terbebani dengan nama besar Pramoedya. Jadilah seperti ibumu—berani berkata jujur saat dunia penuh dengan kepura-puraan. Jadilah seperti ibumu—yang mampu melihat keindahan di balik luka.

Ayah mungkin tidak bisa menjanjikan dunia yang tanpa masalah untukmu, tapi Ayah berjanji akan menjadi tiang yang paling kokoh saat kamu butuh bersandar. Kami menunggumu, Abimanyu. Datanglah saat kamu siap, kami sudah sangat mencintaimu.”

Adrian melipat surat itu dan menyelipkannya di dalam jurnal kehamilan Arumi. Ia merasa sebuah beban besar terangkat dari pundaknya. Ia telah berdamai dengan ketakutannya sendiri.

Pukul empat pagi, sebuah rintihan kecil membangunkan Adrian. Ia segera terduduk tegak, insting "Siaga"-nya langsung aktif. Di temaram lampu tidur, ia melihat Arumi sedang memegangi pinggiran tempat tidur, wajahnya sedikit berkeringat.

"Mas..." bisik Arumi. Suaranya berbeda dari malam sebelumnya. Lebih dalam, lebih tenang, namun penuh tekanan.

Adrian tidak bertanya "apa yang sakit" atau "apakah ini palsu lagi". Ia melihat jam tangannya, menghitung durasi. "Sudah berapa kali, Sayang?"

"Sejak jam tiga tadi. Sekarang setiap lima menit sekali. Dan... rasanya ada sesuatu yang pecah," ujar Arumi sambil mencoba mengatur napasnya.

Adrian menyentuh seprai. Basah. Air ketuban.

"Oke. Tarik napas, Arumi. Jangan terburu-buru.

Kita punya waktu," ujar Adrian, mencoba menenangkan dirinya sendiri lebih dari ia menenangkan Arumi. Ia segera membantu Arumi berdiri, memakaikan pakaian yang nyaman, dan menyambar tas persalinan yang sudah "bermukim" di dekat pintu selama berminggu-minggu.

Kali ini, perjalanan ke rumah sakit dilakukan dalam kesunyian yang khidmat. Jalanan Jakarta di waktu subuh masih sangat lengang.

Lampu-lampu jalan menyinari wajah Adrian yang fokus ke depan. Ia tidak lagi membunyikan klakson dengan emosi. Ia mengemudi dengan kehalusan seorang pilot, memastikan Arumi tidak merasa terguncang di kursi samping.

"Mas, aku takut..." bisik Arumi tiba-tiba saat kontraksi hebat kembali menyerang.

Adrian meraih tangan Arumi, menggenggamnya erat dan mencium punggung tangannya. "Aku di sini. Aku tidak akan melepaskan tanganmu sedetik pun. Ingat kata Bapak? Kamu tanah yang kuat. Kamu bisa melewati ini."

Tiba di rumah sakit, semuanya bergerak seperti mesin yang terlumasi dengan baik. Dokter Maya sudah menunggu di ruang bersalin. Setelah pemeriksaan singkat, dipastikan bahwa Arumi sudah masuk ke pembukaan empat.

"Ini yang sesungguhnya, Pak Adrian. Ibu Arumi sangat kooperatif, kemajuannya bagus," ujar Dokter Maya dengan nada optimis.

Jam-jam berikutnya adalah ujian ketahanan fisik dan mental yang paling nyata bagi keduanya. Adrian tetap berada di sisi Arumi, membiarkan tangannya diremas hingga memerah, membasahi bibir Arumi dengan air, dan membisikkan kata-kata penguatan setiap kali kontraksi memuncak.

"Tarik napas, Arumi... satu... dua... buang pelan," pandu Adrian, mengikuti instruksi kelas prenatal yang dulu ia ikuti dengan setengah hati namun kini menjadi senjatanya yang paling berharga.

Di sela-sela rasa sakit, Arumi menatap Adrian. Ia melihat butiran keringat di dahi suaminya, ia melihat gurat kecemasan namun juga ketegaran yang luar biasa. Ia menyadari bahwa pria ini benar-benar telah berubah. Ia bukan lagi CEO yang memerintah; ia adalah seorang pria yang bersedia berbagi beban rasa sakit.

Pukul sepuluh pagi, pembukaan sudah lengkap. Suasana di ruang bersalin menjadi lebih intens. Tim medis bersiap, lampu-lampu diarahkan ke posisi yang tepat.

"Ayo, Arumi. Sedikit lagi. Dorong saat aku bilang, ya?" instruksi Dokter Maya.

Arumi mengumpulkan seluruh sisa tenaganya. Ia merasa seolah seluruh hidupnya—dari saat ia merasa menjadi bayangan Siska, saat ia menandatangani kontrak pernikahan, hingga saat ia menemukan suaranya sebagai penulis—semuanya mengalir menjadi satu kekuatan untuk menghadirkan nyawa ini ke dunia.

Adrian memeluk kepala Arumi dari belakang, membisikkan doa-doa yang diajarkan Baskoro.

"Kamu hebat, Arumi. Kamu wanita terkuat yang pernah aku kenal. Sedikit lagi..."

Tepat pukul sepuluh lewat lima belas menit, sebuah suara memecah ketegangan di ruangan itu. Sebuah tangisan yang melengking, kuat, dan penuh kehidupan.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Adrian. Ia melihat seorang bayi mungil yang masih kemerahan diletakkan di atas dada Arumi untuk proses inisiasi menyusui dini. Arumi menangis, namun kali ini adalah tangisan yang paling murni dalam hidupnya. Ia mencium kepala bayinya yang masih basah.

"Selamat datang, Abimanyu," bisik Arumi parau.

Adrian menunduk, mencium kening Arumi dan bayinya secara bergantian. Ia tidak bisa menahan air mata yang jatuh ke pipinya. Keajaiban itu nyata. Semua kontrak, semua drama, semua keraguan masa lalu, seolah terhapus habis oleh kehadiran manusia kecil yang kini menggeliat di pelukan ibunya.

Adrian memotong tali pusat dengan tangan yang sedikit bergetar namun pasti. Itu adalah simbol terakhir dari keterlepasan masa lalu dan dimulainya tanggung jawab baru sebagai seorang Ayah.

Sore harinya, ruangan perawatan Arumi dipenuhi oleh bunga-bunga. Baskoro dan Ratna sedang dalam perjalanan menuju Jakarta dengan kereta api tercepat. Siska dan Bayu mengirimkan video ucapan selamat yang penuh haru.

Arumi berbaring di tempat tidur, tampak lelah namun memancarkan kecantikan yang luar biasa—kecantikan seorang ibu yang baru saja memenangkan pertempuran hidup. Di sampingnya, dalam boks bayi transparan, Abimanyu tertidur dengan tenang.

Adrian duduk di kursi samping tempat tidur, memegang jurnal kehamilan Arumi. Ia tersenyum melihat Arumi sudah menemukan surat yang ia tulis semalam.

"Surat yang indah, Mas," ujar Arumi lemah.

"Abimanyu akan sangat bangga saat membacanya nanti."

"Dia harus tahu betapa hebatnya ibunya," balas Adrian. "Dan Arumi... mulai hari ini, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi bayang-bayang. Hanya ada kita bertiga."

Adrian mengecup tangan Arumi. Ia menyadari bahwa babak persalinan ini bukanlah akhir dari novel mereka, melainkan awal dari jilid kedua yang jauh lebih menantang. Namun, dengan Arumi di sisinya, Adrian tahu bahwa tidak ada badai yang tidak bisa mereka lalui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!