NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 3: SMP, Ranking Satu, Teman Nol

​Kalau SD adalah tempat aku belajar cara bertahan, maka SMP adalah tempat aku belajar cara tidak terlihat.

​Dua hal yang berbeda, ternyata.

​Bertahan itu aktif. Ada usaha di sana, ada keputusan yang dibuat, ada energi yang dikeluarkan untuk membangun tameng meskipun tidak selalu terlihat dari luar. Sementara tidak terlihat, itu pasif. Kamu cukup ada tanpa terlalu ada. Cukup hadir tanpa terlalu hadir. Cukup eksis tanpa membuat siapa pun repot-repot memperhatikanmu.

​Aku cukup mahir di keduanya pada usia dua belas tahun.

​SMP Negeri yang kutuju berjarak dua kilometer dari rumah. Cukup jauh untuk tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki santai, tapi cukup dekat untuk tidak perlu naik angkot kalau cuaca sedang bagus dan aku mau berangkat lima belas menit lebih awal dengan sepeda.

​Hari pertama masuk, aku sudah tahu tempat ini akan jauh berbeda dari SD.

​Bukan karena gedungnya yang berlantai dua, atau karena seragamnya yang putih-biru terasa lebih resmi dari putih-merah. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku melangkah masuk ke sebuah ruangan di mana tidak ada satu orang pun yang kukenal.

​Di SD, setidaknya ada wajah-wajah familiar. Anak-anak yang sudah kulihat sejak ingus mereka masih meler di kelas satu. Meskipun mereka tidak pernah benar-benar jadi temanku, setidaknya aku hafal nama dan bangku mereka. Di SMP, semua orang baru. Dan di hari pertama itu, semua orang sedang menilai semua orang.

​Aku, dengan kebiasaan lamaku mengamati dari jarak aman, memilih duduk di bangku paling ujung dekat jendela. Menonton pertunjukan perkenalan massal itu dari radius netral.

​Dalam dua minggu pertama, peta sosial kelas sudah terbentuk dengan sendirinya.

​Ada kelompok anak-anak yang rupanya sudah satu SD dan langsung bergerombol dengan nyaman. Ada yang langsung populer, entah karena berisik, lucu, atau kombinasi keduanya. Ada anak-anak pendiam yang entah bagaimana berhasil menemukan satu atau dua teman yang sama pendiamnya untuk duduk bareng di kantin.

​Dan ada aku. Yang tidak masuk kategori mana pun.

​Bukan karena tidak ada yang mau berteman denganku atau setidaknya, aku meyakinkan diriku begitu. Lebih karena aku tidak tahu caranya memulai.

​Bagiku, percakapan dengan orang baru selalu terasa seperti persamaan matematika yang variabelnya terlalu banyak, dan aku takut salah hitung. Harus mulai dari mana? Topik apa yang aman? Kalau salah ngomong gimana? Kalau mereka sebenarnya tidak tertarik tapi sekadar kasihan, terus aku harus merespons gimana?

​Di rumah, Ibu mengajariku bahwa lebih aman untuk tidak memulai konfrontasi. Bahwa menunggu badai lewat jauh lebih aman daripada mengambil risiko menari di bawah hujan. Bahwa diam adalah pilihan yang paling jarang membawa konsekuensi buruk.

​Jadi di kelas, aku tidak memulai apa-apa.

​Aku duduk, aku menyalin tulisan di papan tulis, aku pulang.

​Yang mengejutkan atau mungkin tidak mengejutkan sama sekali jika kau tahu cara kerjaku nilai-nilaiku justru melejit tajam di SMP.

​Tanpa energi yang terbuang untuk urusan drama pertemanan, tanpa jam istirahat yang dihabiskan untuk menggosip di kantin, tanpa pikiran yang terbagi antara pelajaran dan dinamika sosial remaja yang rumit... aku bisa fokus sepenuhnya pada satu hal yang kubiarkan mendefinisikan hidupku.

​Belajar.

​Semester pertama, aku ranking tiga. Semester kedua, ranking satu. Dan dari situ, posisiku tidak banyak bergeser.

​Wali kelasku memuji aku habis-habisan di depan Ibu saat pengambilan rapor. Ibu duduk tegak mendengarnya. Dari sudut mataku, aku bisa melihat ada sesuatu di wajah Ibu yang berbeda dari biasanya. Sesuatu yang mendekati kata bangga, meskipun dalam perjalanan pulang ia hanya melipat rapor itu dan bilang, "Pertahankan. Jangan lengah. Nilai segitu di SMA nanti belum tentu bisa bersaing."

​Aku mengangguk. "Iya, Bu."

​Seperti biasa. Aku sudah berhenti mengharapkan kalimat yang lebih panjang dari itu.

​Tapi ada harga yang harus dibayar dari semua prestasiku yang sunyi itu. Harga yang tidak tertera di rapor mana pun.

​Jam makan siang adalah waktu yang paling menyiksa.

​Kantin SMP-ku tidak terlalu besar. Terdiri dari deretan meja panjang dengan bangku kayu yang disambung memanjang, beberapa gerobak makanan di pinggir, dan selalu ramai sampai suara obrolan ratusan anak menggema memekakkan telinga ke langit-langit seng. Semua orang makan berkelompok.

​Aku? Aku duduk sendiri.

​Aku tidak selalu duduk di tempat yang sama. Aku berpindah-pindah setiap hari supaya tidak terlalu mencolok sebagai "anak aneh yang selalu sendiri di pojokan". Kadang aku menyelip di ujung meja yang ramai, mengunyah bekal roti sambil berpura-pura sedang fokus mendengarkan obrolan mereka padahal tidak. Kadang aku memilih meja yang lebih sepi, sengaja membawa buku tebal untuk dibaca supaya ada alasan konkret kenapa aku tidak sedang berbicara dengan siapa pun.

​Aku tidak sendirian. Aku cuma sedang sibuk baca buku.

​Itu kalimat yang selalu kutanamkan ke dalam kepalaku sendiri setiap jam istirahat. Entah aku benar-benar meyakininya atau sekadar membohongi diriku, aku tidak ingat.

​Lalu, Ardito Ramadhan muncul di semester dua kelas tujuh.

​Atau lebih tepatnya, Dito memang sudah ada sejak hari pertama. Ia duduk dua bangku di sebelah kiriku. Tapi aku baru benar-benar harus berurusan dengan keberadaannya ketika wali kelas merombak formasi tempat duduk, dan Dito berakhir mendarat tepat di bangku sebelahku.

​Dito adalah anak yang, kalau aku deskripsikan dengan jujur, merupakan kebalikan dariku dalam hampir semua hal yang terlihat dari luar. Ia mudah bicara, mudah tertawa, dan punya kemampuan ajaib untuk masuk ke percakapan kelompok mana pun tanpa terlihat canggung.

​Tapi yang membuatnya berbeda dari anak-anak populer lainnya yang berisik: ia tidak memaksakan kebisingannya ke arahku.

​Hari pertama duduk bersebelahan, ia menaruh tasnya, duduk, membuka buku, dan mulai mencatat. Tidak langsung menyapaku dengan rentetan pertanyaan basa-basi yang akan membuatku harus memutar otak mencari jawaban yang aman. Tidak langsung mengajak ngobrol dengan topik sok asyik yang bagiku selalu terasa seperti ujian lisan dadakan.

​Ia cukup ada di sebelahku. Dan aku cukup ada di sebelahnya.

​Selama hampir dua minggu, dinamika kami hanya sebatas itu.

​Percakapan pertama kami, ironisnya, terjadi hanya karena sebuah pena.

​Hari itu aku lupa membawa pena cadangan. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, karena aku tipe orang yang selalu mengecek isi tas tiga kali di malam sebelum berangkat. Tapi entah kenapa, satu-satunya pena yang kubawa mendadak kehabisan tinta di tengah pelajaran Bahasa Indonesia, tepat saat guru mendiktekan materi yang lumayan panjang.

​Aku tidak mau mengangkat tangan dan meminjam ke meja guru. Aku juga tidak mau mencolek bahu teman di depanku, karena itu berarti harus memulai interaksi yang belum kusiapkan script-nya.

​Jadi aku duduk mematung. Tanganku bertumpu di meja, pura-pura mencatat dengan pena mati yang hanya menggoreskan bekas tanpa warna di atas kertas, sangat berharap tidak ada yang memperhatikan kebodohanku.

​"Penamu mati?"

​Aku menoleh. Dito sedang menatapku. Ekspresinya tidak bisa kugolongkan sebagai kasihan atau geli. Lebih seperti netral yang sungguh-sungguh murni.

​Aku menelan ludah. "Iya."

​Ia merogoh sesuatu dari tempat pensilnya yang berantakan, lalu menaruhnya di atas mejaku. Sebuah pena biru, merek pasaran, yang ujung tutupnya sudah sedikit penyok karena sering digigit.

​"Pake aja."

​Aku menatap pena itu, lalu menatapnya. "Makasih."

​"Mm."

​Ia kembali menghadap ke depan. Dan percakapan itu selesai.

​Tidak ada basa-basi lanjutan. Tidak ada pertanyaan, "Eh, kamu anak mana sih?" atau "Kok kamu pendiam banget?" Ia kembali menyalin catatannya, dan aku kembali ke catatanku dengan pena bertutup gigitan yang tintanya mengalir lancar.

​Aku mengembalikan pena itu tepat setelah bel istirahat berbunyi.

​"Makasih ya."

​"Sip."

​Itu saja.

​Tapi dari sebuah pena bertutup penyok itu, sesuatu mulai terbentuk. Sangat pelan. Sangat tanpa drama. Sangat tidak seperti awal mula pertemanan yang sering digambarkan di novel-novel atau sinetron remaja.

​Tidak ada momen 'klik' yang magis. Tidak ada percakapan deep talk yang mengubah segalanya dalam satu malam. Tidak ada deklarasi "Mulai sekarang kita berteman" yang diucapkan secara resmi.

​Hanya hari-hari yang berlalu dengan Dito di sebelah kiriku.

​Ia mulai sering bertanya soal materi yang terlewat. Bukan karena ia bodoh, tapi karena ia tipe auditori yang lebih cepat paham lewat penjelasan orang lain daripada membaca buku sendiri. Aku menjelaskannya dengan caraku yang paling efisien, pelan, dan to the point. Ia mendengarkan, lalu mengangguk.

​"Oh, gitu. Paham. Oke."

​Tidak ada pujian berlebihan. Tidak ada kalimat "Wah, Nara, kamu pinter banget sih!" yang biasanya justru membuatku tidak tahu harus merespons apa dan akhirnya salah tingkah. Hanya konfirmasi sederhana bahwa ia mengerti, lalu ia kembali mengerjakan soalnya sendiri.

​Aku ternyata jauh lebih nyaman dengan cara itu dari yang kukira.

​Lama-lama, orbit kami melebar. Kami mulai mengobrol soal hal-hal lain.

​Bukan hal-hal besar, tentu saja. Kami tidak pernah bicara soal masalah keluarga, tidak pernah soal mimpi masa depan, tidak pernah soal hal-hal berat yang membutuhkan keberanian untuk diucapkan. Tapi hal-hal kecil, yang anehnya, perlahan-lahan membuat satu jam di kantin yang biasanya menyiksa... terasa tidak sepanjang biasanya.

​Kami mulai makan berdua. Mengobrol soal guru mana yang mood-nya paling bahaya kalau didekati hari Senin. Soal tugas kelompok Biologi yang pembagian kerjanya selalu tidak adil. Soal makanan kantin mana yang aman dimakan dan mana yang harus dihindari berdasarkan pengalaman traumatis lambung masing-masing.

​"Jangan pernah beli nasi gorengnya Mas Bowo kalau hari Selasa," kata Dito suatu siang, dengan nada yang sangat serius untuk sebuah topik tentang nasi goreng. "Entah kenapa setiap Selasa rasanya beda. Lebih asin. Kayaknya dia sering patah hati tiap Senin malam. Aku pernah minum tiga gelas air putih berturut-turut habis makan itu."

​Aku mendengus, lalu tanpa sadar... aku tertawa.

​Bukan tawa sopan yang biasa kupaksakan supaya suasana tidak canggung. Tapi tawa sungguhan yang keluar dari tenggorokan karena memang lucu.

​Dito yang sedang mengaduk es tehnya langsung berhenti. Ia menatapku dengan mata sedikit melebar, seolah baru menyadari penemuan ilmiah yang luar biasa.

​"Oh," gumamnya takjub. "Kamu bisa ketawa."

​Aku langsung merapatkan bibir, tiba-tiba merasa sadar diri. "Memangnya selama ini kelihatan kayak nggak bisa?"

​"Agak."

​Aku menatapnya datar. Aku tidak tahu harus tersinggung atau tidak. Tapi Dito sudah kembali menyeruput es tehnya dengan santai, jadi aku memilih untuk tidak memikirkannya.

​Hal yang paling kuingat dari Dito dan ini mungkin terdengar sepele bagi orang lain, tapi ternyata sangat masif bagiku adalah bahwa ia tidak pernah sekalipun mempertanyakan kebisuanku.

​Maksudku begini: ada tipe orang yang ketika duduk di sebelah anak pendiam, merasa punya tanggung jawab moral untuk mengisi kekosongan suara itu. Mereka akan melempar banyak pertanyaan, mencari-cari topik, menarikmu paksa masuk ke dalam percakapan bahkan ketika kamu sedang tidak punya energi untuk berpartisipasi.

​Niat mereka mungkin baik, aku tahu. Tapi hasilnya, aku justru akan semakin kaku seperti kanebo kering. Ada tekanan besar untuk merespons dengan ekspresi yang benar, untuk tidak mengecewakan orang yang sudah "berbaik hati" mengajakku bicara.

​Dito tidak begitu.

​Kalau aku sedang ingin diam, ia akan diam juga. Atau, ia akan lanjut mengobrol sendiri tentang apa pun yang sedang lewat di kepalanya, tanpa mengharuskan aku merespons lebih dari sekadar gumaman atau anggukan. Kehadiranku di sebelahnya selalu terasa seperti sebuah pilihan, bukan kewajiban yang harus dibayar dengan keramahan.

​Dan itu... untuk seseorang yang tumbuh dengan mentalitas bahwa kehadirannya selalu perlu dijustifikasi dengan nilai atau prestasi... adalah sesuatu yang sangat langka.

​Dua setengah tahun berlalu dengan ritme seperti itu.

​Kami tidak selalu sekelas. Di kelas delapan kami dipisah, dan kami hanya bertemu di jam istirahat atau saat pelajaran olahraga yang digabung di lapangan luar. Tapi entah bagaimana, orbit kami tetap berpotongan dengan frekuensi yang konstan.

​Ia tahu aku benci suara bising suporter saat class meeting. Aku tahu ia sering lupa membawa uang saku dan selalu berakhir membeli gorengan tempe yang diutang sampai besoknya. Kami tidak pernah berfoto berdua bukan karena ada alasan dramatis, tapi karena memang tidak pernah terpikirkan. Kami juga tidak saling mem-follow di media sosial, karena sejujurnya, waktu itu aku bahkan tidak tertarik membuat akun.

​Kami hanya dua remaja yang eksis di koridor yang sama, di meja kantin yang sama, di dunia yang sama.

​Dan itu cukup.

​Kelas sembilan datang, membawa serta Ujian Nasional yang menggantung di atas kepala semua orang seperti awan mendung yang mengancam.

​Semua orang belajar seperti orang kesetanan. Brosur bimbel berserakan di mana-mana. Guru-guru mulai membicarakan tentang passing grade SMA favorit dengan nada intimidasi, seolah-olah pilihan SMA adalah penentu apakah kau akan sukses menjadi direktur atau berakhir hidup di pinggir jalan.

​Aku belajar dengan cara yang sama seperti yang sudah kulakukan sejak kelas empat SD. Konsisten, metodis, menghafal tanpa ampun, dan dengan ketenangan luar biasa yang sering disalahartikan orang lain sebagai sifat apatis.

​Dito, di sisi lain, belajar dengan cara yang jauh berbeda. Dadakan, panik menyalin catatanku dua minggu sebelum ujian, dan entah bagaimana keajaibannya, ia tetap lulus dengan nilai yang cukup aman untuk masuk SMA incarannya.

​"Kamu tuh gimana sih bisa tenang gitu?" keluh Dito suatu siang, seminggu sebelum ujian dimulai. Kami sedang duduk di bangku semen taman kecil belakang sekolah. Wajah Dito terlihat kuyu seperti seseorang yang tidak tidur dengan benar selama tiga hari. Di tangannya ada buku kumpulan soal UN yang halamannya sudah keriting.

​Aku membalik halaman buku catatanku tanpa menoleh padanya. "Aku nggak tenang," jawabku jujur. "Aku cuma nggak kelihatan panik."

​Dito menatapku ngeri. "Sumpah, Ra. Itu malah jauh lebih menakutkan."

​Aku tidak bisa tidak setuju.

​Pengumuman penerimaan SMA datang beberapa minggu setelah ujian terlewati.

​Aku diterima di SMA Negeri 1. Sekolah paling bergengsi di kota kami, yang kata tetangga-tetangga adalah tujuan yang wajar untuk anak dengan nilai mutlak seperti punyaku.

​Ibu menerima kabar itu dengan anggukan yang lima detik lebih panjang dari biasanya. Bapak menggumamkan kata "Syukurlah" dari balik gelas kopinya di teras. Dan aku... aku duduk sendirian di kamar malam itu, menatap layar komputer yang menampilkan status 'DITERIMA', dan merasa... tidak banyak.

​Bukan tidak senang. Hanya ada sedikit ruang kosong di dadaku. Rasanya seperti kau berlari mati-matian menuju sebuah garis finish selama bertahun-tahun, hanya untuk menyadari bahwa melewati garis itu ternyata tidak sepenting yang kau bayangkan.

​Dua hari sebelum tahun ajaran benar-benar berakhir dan kami resmi menjadi alumni, aku dan Dito duduk untuk terakhir kalinya di meja kantin.

​Ia diterima di SMA yang berbeda. Sebuah SMA swasta yang tidak terlalu jauh secara jarak, tapi cukup berbeda jalur untuk memastikan bahwa orbit kami tidak akan lagi berpotongan dengan sendirinya.

​Kami tidak membicarakan perpisahan itu secara langsung. Kami membicarakan hal-hal yang biasa. Rencana liburan yang tidak akan pernah terjadi, tugas mengembalikan buku perpustakaan yang merepotkan, dan prediksi tentang guru mana yang akan menangis tersedu-sedu di acara perpisahan besok.

​Tapi di akhir jam istirahat, ketika suara bel melengking dan kami berdiri untuk kembali ke kelas masing-masing, Dito berhenti melangkah.

​"Eh."

​Aku menoleh, membetulkan letak tali tasku. "Ya?"

​"SMA-mu jauh dari sini?"

​"Lumayan. Kamu?"

​"Nggak terlalu." Ia terdiam sebentar, memutar-mutar ujung botol air mineral di tangannya seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. "Nanti kontak-kontakan, ya."

​Aku mengangguk ringan. "Iya."

​Itu saja.

​Tidak ada pelukan emosional. Tidak ada acara selfie terakhir sambil menangis. Tidak ada janji-janji besar persahabatan seumur hidup yang diucapkan dengan dramatis. Kami berpisah di ujung koridor dekat tangga ia belok ke kiri menuju kelasnya, aku belok ke kanan.

​Semuanya terasa seperti hari biasa. Hari biasa yang, kebetulan saja, menjadi hari terakhir.

​Seminggu kemudian, aku menyimpan rentetan angka nomor ponselnya di HP baru yang dibelikan Ibu sebagai hadiah masuk SMA Negeri.

​Sebulan setelahnya, di masa libur panjang yang membosankan, aku mencoba menghubunginya untuk pertama kalinya.

​Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

​Aku mencoba lagi seminggu setelahnya.

​Tidak aktif.

​Sebulan kemudian lagi, tepat sebelum hari pertama masuk SMA.

​Tidak aktif.

​Aku tidak pernah tahu kenapa nomornya tidak bisa dihubungi. Apakah ia ganti nomor, ganti HP, atau memang sengaja membuang SIM card lamanya aku tidak tahu, dan tidak ada cara untuk mencari tahu. Tidak ada media sosial yang bisa kutelusuri. Tidak ada teman bersama yang bisa kumintai informasi. Hanya suara operator robot yang menjawab panggilanku setiap kali kucoba.

​Lama-lama, aku berhenti mencoba meneleponnya.

​Yang paling lucu atau mungkin yang paling menyedihkan dari diriku adalah kenyataan bahwa aku sama sekali tidak terkejut.

​Bukan karena aku tidak peduli pada Dito. Tapi karena ada bagian besar di dalam diriku yang memang sudah terbiasa dengan konsep 'ditinggalkan'. Aku terbiasa dengan Bapak yang selalu pergi ke sawah sebelum aku bangun. Aku terbiasa dengan cuaca cerah Ibu yang selalu berakhir dan menghilang tanpa peringatan.

​Aku belajar sejak kecil, bahwa hal-hal yang terasa stabil pada akhirnya akan kembali menjadi tidak stabil.

​Dito tidak berbeda dari pola itu, ternyata. Ia datang tanpa drama. Ia pergi pun tanpa drama.

​Dan aku melanjutkan hidupku seperti yang selalu kulakukan. Dengan menyimpan kehilangannya di dalam kepalaku, tanpa pernah repot-repot menunjukkannya ke dunia luar.

​Tapi ada satu hal yang ia tinggalkan, yang tidak ikut menghilang bersama nomornya yang mati.

​Bukan benda. Bukan foto. Bukan juga ingatan yang sangat spesifik tentang tawanya.

​Tapi sebuah kesadaran baru. Sebuah pengetahuan bahwa kehadiranku, ternyata, bisa diterima tanpa syarat. Bahwa ada orang di dunia ini yang sanggup duduk di sebelahku tanpa memintaku menjadi versi yang lebih baik, lebih pintar, atau lebih berisik dari diriku sendiri. Bahwa 'cukup ada' bisa menjadi fondasi dari sesuatu yang nyata.

​Aku tidak tahu nama yang tepat untuk apa yang pernah kami punya.

​Pertemanan, mungkin. Atau mungkin sesuatu yang lebih sederhana dari itu: dua remaja canggung yang kebetulan menemukan tempat berteduh di kehadiran satu sama lain, tanpa perlu menempelkan label apa pun.

​Apa pun itu, ia adalah yang pertama. Dan untuk waktu yang sangat, sangat lama sesudahnya... ia juga yang terakhir.

​Masa SMP resmi berakhir.

​Raporku keluar dengan deretan angka sembilan yang memuaskan ego Sri Wahyuni. Ibu menyimpan rapor itu di laci lemari bajunya tidak di tempat yang sangat tersembunyi, tapi tidak juga di tempat yang langsung terlihat. Di suatu tempat netral di antara keduanya, seperti banyak hal lain dalam rumah kami.

​Aku mem-packing tasku untuk masuk SMA yang dimulai dua minggu lagi.

​Buku baru bersampul rapi, seragam putih-abu-abu yang masih kaku, dan satu nomor kontak usang yang akhirnya kuhapus dari direktori HP karena sudah terlalu lama menganggur di sana.

​Tapi aku tidak menghapusnya dari ingatanku. Logika tidak bekerja sesederhana itu.

​Dua minggu kemudian, aku menginjakkan kaki di lapangan SMA Negeri 1.

​Masa Orientasi Siswa. Ratusan anak baru berkumpul, dan di hari pertama itu di antara semua wajah tegang yang sedang sibuk menilai satu sama lain dari ujung rambut sampai ujung kaki pandanganku terkunci pada satu objek.

​Ada seorang gadis berseragam kedodoran yang sedang berdiri kaku di pojok depan kantin sekolah. Ekspresinya terlihat seperti seseorang yang nyaris menangis, tapi sedang berusaha keras menahannya agar tidak terlihat menyedihkan.

​Aku tidak tahu namanya waktu itu. Aku tidak tahu bahwa gadis berisik itu kelak akan mengubah sisa masa remajaku.

​Tapi aku sangat tahu ekspresi yang ada di wajahnya.

​Aku sudah hafal ekspresi itu sejak lama. Karena itu adalah ekspresi yang kulihat setiap kali aku bercermin di rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!