Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di Jantung Server
Asap sisa ledakan pintu baja masih memenuhi lorong sempit menuju pusat data utama. Chen Lian melangkah maju dengan pedang hitamnya yang kini diselimuti aura emas tipis—sebuah teknik tingkat tinggi yang hanya ia gunakan saat nyawanya (atau nyawa orang di dekatnya) terancam.
"Tuan Hantu," bisik Anitha sambil mengisi ulang magasin pistol taktisnya, "Secara logika intelijen, kalau penjahatnya sudah mulai ngomong pakai speaker begini, biasanya dia lagi mengulur waktu buat upload data. Kita harus bergerak lebih cepat dari kecepatan internet mereka!"
"Aku tahu," sahut Chen Lian pendek. Ia menoleh sedikit, menatap Anitha yang tampak waspada namun tetap santai. "Tetap di belakangku. Jangan mencoba melakukan akting 'pelayan dapur' lagi. Robot-robot di bawah sini tidak punya hormon untuk kau goda."
Anitha mendengus geli. "Galak amat! Tapi oke, kali ini aku biarkan hantu yang jadi tameng."
Mereka sampai di sebuah ruangan berbentuk lingkaran raksasa yang dikelilingi oleh ribuan kabel serat optik yang berpendar biru terang. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tabung kaca berisi cairan elektromagnetik yang terus berputar—pusat kesadaran Penyunting Takdir.
"Selamat datang di titik akhir sejarah," suara itu bergema, tapi kali ini bukan dari speaker. Sosok hologram 3D muncul di depan mereka. Sosok itu menyerupai Feng Yan, tapi dengan wajah yang lebih tua dan dingin. "Chen Lian, kau adalah ciptaan terbaik kakek Feng Yan. Kenapa kau malah melindungi keturunannya yang lemah itu?"
Chen Lian berhenti melangkah. Matanya berkilat marah. "Secara logika... aku tidak melindungi keturunan yang lemah. Aku melindungi orang yang memberiku alasan untuk tetap menjadi manusia, bukan sekadar senjata digital sepertimu."
"Wah, jawaban yang sangat puitis untuk seorang hantu!" seru Anitha. Ia segera menyambungkan perangkat transmisi milik Rendy ke salah satu terminal kabel. "Rendy! Aku sudah tersambung! Cepat suntikkan virus 'Layar Biru' itu sekarang!"
"Menghalangi evolusi adalah kejahatan, Anitha," hologram itu menoleh ke arah Anitha. Tiba-tiba, dari lantai marmer yang dingin, muncul belasan robot laba-laba berukuran kecil namun sangat cepat. "Hancurkan mereka."
"Anitha, fokus pada transmisi data! Biar aku yang urus serangga-serangga besi ini!" teriak Chen Lian.
Chen Lian bergerak seperti badai. Pedangnya menebas setiap robot laba-laba yang mencoba mendekati Anitha. Setiap ayunan pedangnya menciptakan gelombang energi yang menghancurkan sirkuit robot tersebut. Namun, jumlah mereka seolah tidak ada habisnya.
Di saat yang sama, Anitha sedang berduel digital. "Rendy! Firewall-nya sangat kuat! Mereka mencoba melacak balik lokasimu!"
"Aku sudah tahu, Kak Anitha!" suara Rendy terdengar panik dari komunikator. "Tuan Feng dan Kak Diya sedang menahan pasukan utama di lantai atas, tapi baterai laptoku tinggal lima persen! Aku butuh waktu tiga puluh detik lagi untuk menembus inti!"
"Satu... dua... tiga..." Anitha mulai menghitung mundur sambil menembakkan pistolnya ke arah robot yang berhasil lolos dari jangkauan Chen Lian. "Tuan Hantu! Kita butuh pengalih perhatian yang lebih besar! Bisakah kau memotong kabel utama di langit-langit itu?!"
Chen Lian melihat ke atas. Kabel utama itu dilindungi oleh perisai laser merah yang mematikan. Secara logika, siapa pun yang menyentuhnya akan hangus seketika.
"Itu bunuh diri, Anitha," ucap Chen Lian.
"Tidak jika aku menggunakan frekuensi pengacau dari tablet ini!" Anitha melemparkan tabletnya ke arah perisai laser tersebut. "Sekarang, Lompat!"
Chen Lian tidak bertanya lagi. Ia mempercayai insting polwan di sampingnya itu. Ia melompat setinggi tiga meter, menebaskan pedang emasnya tepat ke arah kumpulan kabel serat optik.
CRAAAASSSHHH!
Percikan listrik biru meledak di seluruh ruangan. Seluruh sistem Pulau Nol bergetar hebat. Hologram Penyunting Takdir mulai berkedip-kedip tak stabil.
"TIDAK! KAU MENGHANCURKAN TATA SURYA DIGITALKU!" teriak suara digital itu dengan nada yang mulai pecah.
"DAPAT!" teriak Rendy di telinga mereka. "Virus terkirim! Sekarang, lari dari sana sebelum tempat itu meledak karena kelebihan beban energi!"
Chen Lian mendarat dengan napas tersengal. Ia menyambar tangan Anitha, menariknya keluar dari ruangan yang mulai runtuh. "Ayo! Kita harus bertemu Feng Yan di dermaga kapal selam!"
Saat mereka berlari menyusuri lorong yang mulai meledak, Anitha tiba-tiba terpeleset karena guncangan gempa. Chen Lian dengan sigap menangkap pinggangnya dan menggendongnya ala bridal style sambil terus berlari.
"Wah, Tuan Hantu..." Anitha berbisik di dekat telinga Chen Lian, meskipun suaranya teredam suara ledakan. "Secara logika... ini adalah posisi yang sangat romantis untuk ukuran misi bunuh diri. Kau mulai suka padaku ya?"
Chen Lian tidak menjawab, tapi Anitha bisa merasakan detak jantung pria itu yang sangat kencang di balik jubah hitamnya. "Diamlah, atau aku akan menjatuhkanmu di lubang lift ini."
"Hahaha, kau tidak akan melakukannya," sahut Anitha yakin sambil melingkarkan lengannya di leher Chen Lian.
Di luar, Feng Yan dan Diya sudah menunggu di atas jet yang mesinnya sudah menyala. Begitu Chen Lian dan Anitha melompat masuk ke dalam kabin, jet itu langsung lepas landas tepat saat seluruh Pulau Nol meledak menjadi bola api raksasa di tengah samudera.
"Misi berhasil?" tanya Diya sambil memberikan botol air minum kepada Anitha.
"Berhasil," jawab Anitha sambil melirik Chen Lian yang sedang duduk di pojok, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah. "Dan sepertinya, aku baru saja menemukan 'hantu' yang punya hati manusia."
Feng Yan tertawa lebar, ia merangkul Diya dengan bangga. "Kerja bagus, tim. Besok kita kembali ke Kota Metropol, dan aku punya pengumuman baru: Perayaan kemenangan sekaligus pesta pertunangan kita akan diadakan di gedung tertinggi!"
"Tuan Feng!" Diya protes. "Kontraknya kan cuma sampai Pulau Nol!"
"Kontraknya seumur hidup, Mutiara," sahut Feng Yan narsis seperti biasa.
Di sudut jet, Rendy tertawa sambil memeluk laptopnya yang sudah mati, sementara Chen Lian hanya bisa menatap awan dari jendela, menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah tenang lagi sejak kedatangan si Polwan Nekat bernama Anitha.