Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Tenggat Waktu Tujuh Hari
Hana masih terisak di pelukan Umi Pak Arlan, namun perlahan ia menarik diri. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer. Keheningan di ruang tamu itu seolah menunggu satu patah kata yang akan menentukan arah hidup semua orang di sana.
Hana mendongak, menatap Pak Arlan dengan tatapan yang kini lebih jernih meski masih menyimpan luka.
"Beri saya waktu... satu minggu untuk memutuskannya," ucap Hana. Suaranya tidak lagi bergetar, terdengar cukup lantang di tengah kesunyian ruangan itu.
Pak Arlan terpaku, ia mengangguk pelan sebagai tanda hormat atas permintaan Hana.
"Terima kasih sudah datang," lanjut Hana seraya bangkit berdiri.
Hana menyalami Umi dan orang tuanya dengan sopan, lalu berpamitan masuk ke dalam kamar tanpa menoleh lagi. Pintu kamar tertutup pelan, meninggalkan beban berat yang kini berpindah ke pundak para orang tua.
Setelah kepergian Hana, suasana menjadi lebih cair namun tetap serius. Pak Arlan menarik napas panjang, lalu menatap orang tua Hana dengan raut penuh permohonan maaf.
"Pak, Bu... saya benar-benar memohon maaf karena harus membawa kabar seberat ini ke rumah kalian," ucap Arlan lirih.
"Kami mengerti, Nak Arlan," sahut Papa Hana bijak.
"Tapi... bagaimana dengan keluarga almarhumah Mbak Inggit? Bukankah mereka menolak keras pernikahan ini? Kami tidak ingin Hana masuk ke lingkungan yang membencinya."
Arlan tersenyum getir, sebuah senyum yang menyimpan banyak kepahitan.
"Mereka memang menolak secara lisan dengan makian. Tapi, ketika mereka mendengar isi wasiat tentang warisan dan aset yang ditinggalkan Inggit... mereka langsung berbalik arah. Mereka bahkan mendesak saya untuk segera menikahi Hana agar uang tersebut bisa segera mereka cairkan."
Mama Hana sontak mengelus dada, wajahnya kaget bukan main.
"Ya Allah... sebegitukah mereka karena harta? Padahal Mbak Inggit baru saja pergi."
Ada rasa sesak di hati Mama Hana. Ia mulai menyadari sesuatu, mungkin alasan kenapa Inggit begitu dekat dengan dirinya dan Hana adalah karena di dalam keluarganya sendiri, Inggit tidak benar-benar merasa memiliki sandaran yang tulus. Inggit merasa lebih "pulang" saat bersama Hana daripada dengan saudaranya sendiri.
"Saya tidak ingin membebani Hana, Pak, Bu," lanjut Arlan dengan nada bicara yang lebih terbuka.
"Jujur, saya hanya ingin menjalankan permintaan terakhir istri saya. Dan di sisi lain, saya juga ingin segera lepas dari segala tuntutan dan tekanan keluarga Inggit yang terus menerus mengejar aset tersebut."
Arlan, dosen muda yang biasanya selalu tampak tenang dan berwibawa di podium kelas, kini terlihat seperti pria biasa yang sedang kelelahan menghadapi drama kehidupan yang tak kunjung usai.
"Tapi Pak Arlan, mau bagaimanapun keputusannya tetap di tangan Hana. Kami sebagai orang tua hanya ingin Hana bahagia," ucap Mama Hana tegas namun lembut.
Arlan mengangguk paham.
"Saya mengerti, Bu. Kami akan menunggu keputusan Hana dengan sabar."
Setelah obrolan itu selesai, Arlan beserta orang tuanya pamit untuk pulang. Rumah Hana kembali sunyi, menyisakan aroma parfum ruangan yang samar dan beban pikiran yang nyata.
Di balik pintu kamar yang terkunci, Hana tidak mendengar kepulangan mereka. Ia sudah tergeletak di atas ranjang dengan sisa air mata yang mengering di pipi. Hana tertidur karena kelelahan, bukan lelah fisik, melainkan lelah mental karena harus menangisi nasib yang datang bertubi-tubi dalam satu malam.
Dalam tidurnya, ia seolah berharap ketika bangun nanti, semua ini hanyalah mimpi buruk yang lenyap tertelan pagi.