Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.
Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.
Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.
"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejahatan yang melampaui batas
Waktu terus berjalan. Berkat kerja keras dan ketekunannya, kondisi ekonomi Adel mulai membaik signifikan. Gajinya sebagai asisten admin sudah naik berkali-kali lipat, ditambah uang lembur dan bonus proyek.
Ia sudah mulai bisa menabung lumayan banyak di bank. Uang itu ia simpan bukan untuk foya-foya, tapi murni untuk biaya pengobatan ibunya dan tabungan masa depan agar mereka bisa pindah rumah secepatnya.
Namun, rezeki yang mulai mengalir itu justru menjadi mata air bagi kejahatan orang-orang di sekitarnya. Rasa iri di hati Om Darmo, Tante Sari, dan tetangga jahat seperti Bu Ratna kini sudah mencapai puncaknya. Mereka tidak bisa diam melihat Adel dan ibunya mulai hidup tenang.
Suatu siang, saat Adel sedang pergi kuliah dan bekerja, meninggalkan Ibu Adel sendirian di rumah yang sedang sakit, Om Darmo dan Tante Sari datang dengan wajah penuh niat buruk. Mereka tidak sendiri, kali ini mereka membawa beberapa orang preman yang mereka sewa.
"Masuk! Cari uangnya! Pasti gadis itu simpan di sini atau di bank!" seru Om Darmo dengan mata melotot.
Mereka mendobrak pintu rumah yang terkunci. Ibu Adel terkejut dan ketakutan melihat kerumunan orang masuk seenaknya.
"Kak... Om... Apa yang kalian lakukan? Ini rumah kami, tolong keluar!" teriak Ibu Adel lemah sambil batuk-batuk.
Tante Sari langsung mendorong Ibu Adel hingga jatuh terduduk di lantai. "Diam kau wanita sial! Kami tahu anakmu sekarang banyak duit! Dia dapat dari mana juga kami nggak peduli! Sebagai keluarga, kami berhak dapat bagian!"
"Cari semuanya! Buka lemari, buka kasur! Cari buku tabungan atau uang tunainya!" perintah Om Darmo.
Mereka mengobrak-abrik rumah kecil itu. Baju-baju berserakan, perabot dirusak, dan suasana menjadi sangat kacau. Akhirnya, mereka menemukan sebuah buku tabungan atas nama Adel yang terselip di bawah bantal.
"INI DIA! BUKU TABUNGANNYA!" teriak Tante Sari sambil melompat kegirangan seperti orang gila. "Wah, saldonya lumayan banyak juga nih! Pantesan sombong!"
Ibu Adel berusaha merebutnya kembali. "Itu bukan hak kalian! Itu uang Adel! Uang keringatnya! Kembalikan!!"
"SIALAN!" Om Darmo langsung menampar pipi Ibu Adel dengan keras hingga wanita itu terguling dan menangis kesakitan. "Berani-beraninya kau melawan kami?! Mulai hari ini uang ini jadi milik kami! Anggap saja itu bayar budi karena sudah membesarkan kalian dulu!"
"Minggir! Kita ambil uangnya sekarang!"
Belum sempat mereka pergi membawa buku tabungan itu, tiba-tiba Adel pulang. Melihat rumahnya berantakan dan ibunya menangis dengan pipi merah bekas tamparan, serta melihat Om Darmo memegang bukunya, dunia Adel seakan berhenti berputar.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriak Adel histeris. Ia langsung memeluk ibunya lalu menatap tajam ke arah pamannya. "KEMBALIKAN ITU! ITU MILIK SAYA!"
"Berani kamu teriak-teriak sama pamanmu?!" Om Darmo malah berteriak lebih keras. "Uang ini kan hasil curian kamu?! Kamu mencuri dari kantor atau dari orang lain kan?! Makanya kami sita supaya tidak dipakai buat hal buruk!"
"APA?! Adel tidak pernah mencuri!"
"Masih membela! Dengar sini warga!" Tante Sari langsung berlari keluar rumah dan berteriak memanggil tetangga. "TOLOONG! ANAK SAYA DICURI! ANAK SAYA DICURI!"
Bu Ratna dan tetangga lain yang sudah bersiap langsung datang berkerumun.
"Ada apa Tan? Siapa yang curi?"
"Dia! Adel dan ibunya! Mereka mencuri uang simpanan suami saya! Mereka masuk ke rumah kami dan mengambilnya! Lihat buktinya, buku tabungan ini ada di tangan mereka padahal itu milik kami!" bohong Tante Sari dengan wajah tak tahu malu.
Bu Ratna langsung ikut bermain drama. "Ya ampun! Gila ya kalian! Berani-beraninya mencuri sama saudara sendiri! Dasar keluarga tidak punya harga diri! Pantas kaya mendadak, ternyata duit curian!"
"Mereka harus dilaporin polisi! Masukkan penjara ibu dan anak itu! Biar mereka kapok!" teriak Om Darmo.
Dug!
Hati Adel hancur. Mereka tidak hanya mau merampas hartanya, tapi mereka mau menghancurkan masa depannya dengan fitnah pencurian! Mereka mau memasukkan Adel dan ibunya ke penjara!
"KALIAN JAHAT! KALIAN PEMBOHONG BESAR!" Adel menangis marah. "Ini tabunganku sendiri! Ini nama saya tertulis jelas di sini! Kalian mau fitnah apa lagi?!"
"Ah itu palsu! Itu kamu paksa bank buat tulis nama kamu! Atau kamu tipu orang!" Om Darmo mencoba merebut buku itu dan menyobeknya, tapi Adel lindungi dengan tubuhnya sendiri.
Keributan makin besar. Preman-preman yang dibawa Om Darmo mulai bertindak kasar. Mereka melempar barang-barang Adel ke jalan.
"KELUAR KALIAN DARI SINI! MULAI HARI INI KONTRAK INI KAMI SEWA! KALIAN GAK PANTAS TINGGAL DI SINI!" teriak salah satu preman.
"Iya! Usir pencuri! Usir pembawa sial!" teriak massa yang sudah dihasut.
Mereka bahkan mulai melempar batu ke arah Ibu Adel dan Adel.
"AKU TIDAK TAKUT!" Adel berdiri di depan ibunya melindungi tubuh ibunya dari lemparan batu. "KALIAN BISA LEMPAR AKU DENGAN BATU, KALIAN BISA FITNAH AKU SEBURUK ITU, TAPI KALIAN TIDAK AKAN PERNAH BISA MATIKAN SEMANGAT KU!"
"OM DARMO! TANTE SARI! INGAT KATA-KATA KU HARI INI! KALIAN SUDAH MENYAKITI IBU KU, KALIAN SUDAH MERAMPAK HAK KU, KALIAN SUDAH BERBUAT ZALIM! ALLAH ITU MELIHAT! SUATU HARI NANTI BALASANNYA AKAN SANGAT PAHIT UNTUK KALIAN!"
Akhirnya, karena kalah jumlah dan tidak ingin ibunya semakin sakit, Adel memutuskan untuk mengalah sementara. Dengan membawa pakaian seadanya dan menuntun ibunya yang lemah, mereka diusir dengan hinaan dan cercaan di tengah hujan deras.
Mereka terpaksa mengungsi ke teras mushola kecil di ujung gang karena tidak ada tempat lain yang mau menerima mereka saat itu.
Di bawah atap yang bocor, basah kuyup, dan kedinginan, Adel memeluk ibunya yang mulai menggigil.
"Bu... Ibu tahan ya... Kita bertahan sebentar lagi. Kita tidak akan pernah kembali ke tempat itu lagi. Tempat itu neraka buat kita," bisik Adel gemetar.
Ibu Adel menangis tersedu-sedu, wajahnya pucat pasi.
"Maafkan Ibu ya Nak... Ibu tidak bisa lindungi kamu... Ibu malah jadi beban... Kenapa kita harus disiksa begini... Kita tidak pernah berbuat jahat sama siapapun..."
Adel mencium kening ibunya, air matanya bercampur air hujan.
"Bu... Dengarkan Ibu. Orang boleh zalim, tapi Tuhan tidak akan pernah tidur. Hari ini mereka tertawa melihat kita menangis dan kelaparan. Tapi percayalah Bu..."
"Mereka yang hari ini mendorong kita ke dalam jurang, akan menjadi orang yang paling pertama memohon pertolongan pada kita saat mereka jatuh nanti."
"Uang yang mereka coba rampas itu tidak akan membawa berkah. Justru itu akan jadi api yang membakar mereka pelan-pelan."
"Mulai detik ini, aku tidak akan lagi membiarkan siapapun menginjak kita. Aku akan berjuang lebih keras. Aku akan bikin mereka menyesal seumur hidup karena pernah mengusir dan menyakiti Ratu hatiku, Ibu ku."
Malam itu panjang, gelap, dan penuh rasa sakit. Tapi di tengah kegelapan itu, tekad Adel mengeras bagai berlian. Ia tahu, badai terbesar ini adalah tanda bahwa keajaiban besar sudah sangat dekat.