Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami yang tak diinginkan
“Lo kenapa, Bro?”
Xavero menoleh saat Radit, rekan kerjanya, menghampirinya.
Xavero hanya membalas dengan gelengan kepala.
Radit tersenyum tipis, lalu duduk di sampingnya. “Gue tahu lo lagi nggak baik-baik saja, Bro.” Ia menepuk pelan bahu Xavero. “Kalau lo ada masalah, lo bisa cerita ke gue. Mungkin gue bisa bantu.”
Xavero terdiam sejenak, lalu menatap Radit, rekan kerjanya yang dikenal baik dan peduli. Dengan suara berat, ia berkata, “Ini tentang istri gue.”
“Apa?! Istri? Lo udah nikah?” ucap Radit dengan nada terkejut.
Xavero mengangguk. “Iya, gue udah nikah dua bulan yang lalu.”
Radit melebarkan matanya. Ia benar-benar tidak menyangka Xavero sudah menikah. Setahunya, Xavero tidak pernah dekat dengan siapa pun. “Sejak kapan? Kenapa lo nggak ngundang gue, Bro?”
Xavero terdiam sejenak, menatap lurus ke depan. “Gue menikah karena terpaksa.”
“Terpaksa?”
Xavero mengangguk. “Iya.”
Radit terdiam, menunggu lanjutan cerita dari Xavero.
“Waktu itu, gue berteduh di tempat kosong sepulang kerja, saat hujan deras. Gue pikir cuma gue sendiri di sana, ternyata ada seorang wanita yang juga ikut neduh.”
Xavero menjeda, ingatannya kembali ke masa itu.
“Kami nggak saling tegur. Sampai akhirnya, waktu hujan reda, kami ke kendaraan masing-masing. Tapi… wanita itu nggak sengaja jatuh. Gue refleks menolong dia…” Xavero kembali menjeda sejenak. “Tiba-tiba ada warga. Mereka pikir gue sama wanita itu melakukan hal yang nggak senonoh di tempat kosong itu. Gue sudah berusaha menjelaskan, tapi mereka nggak percaya. Kami disuruh menikah, malam itu juga.”
Radit terdiam.
Beberapa detik… cukup lama sampai suara bising di sekitar mereka terasa menjauh.
“Gila…” gumamnya pelan, masih mencerna cerita itu.
Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Xavero dengan ekspresi yang berubah, dari santai menjadi serius.
“Jadi… lo nikah cuma karena itu?” tanyanya, memastikan.
Xavero tidak menjawab, tapi tatapannya sudah cukup memberi jawaban.
Radit menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Dan sekarang… lo hidup sama dia? Sama keluarga dia juga?” lanjutnya lagi, nada suaranya mulai berat.
Xavero mengangguk.
Radit menggeleng pelan, seolah tidak habis pikir.
“Gue kira hidup gue aja yang ribet, ternyata lo…” ia terkekeh hambar. “Lebih parah, Bro.”
Radit menoleh lagi ke arah Xavero, kali ini dengan tatapan penuh perhatian.
“Terus, masalahnya apa? Sampai lo nggak konsen kerja beberapa hari ini, gue lihat.”
Xavero terdiam. Lidahnya terasa kaku untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi ia sudah terlanjur bercerita pada Radit.
“Gue menikahi putri keluarga Mahendra.”
“Apa?!” Radit kembali terkejut. “Gue nggak salah dengar?”
Xavero menggeleng.
“Hebat lo, Bro. Bisa menikahi keluarga kaya raya itu,” ucap Radit sambil tersenyum.
Namun senyum di wajah Radit perlahan memudar saat melihat ekspresi Xavero yang tetap datar.
"Tapi dari muka lo, ini bukan kabar bagus, ya?" lanjutnya pelan.
Radit menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap lurus ke depan sejenak sebelum kembali menoleh.
“Jangan bilang… mereka nggak menerima lo,” ucapnya, kali ini lebih serius.
Xavero terdiam.
Dan itu sudah cukup sebagai jawaban.
Radit menghela napas panjang, tangannya mengusap tengkuknya pelan.
“Gue udah bisa nebak,” gumamnya. “Keluarga kayak gitu… pasti penuh standar.”
Ia menatap Xavero lagi, sorot matanya kini penuh simpati.
“Istri lo gimana?” tanyanya hati-hati.
Xavero tak langsung menjawab. Ia teringat bagaimana Liora selalu merendahkannya di depan keluarganya.
“Dia selalu merendahkan gue,” ucapnya pelan. “Apa pun yang gue berikan ke dia, nggak ada nilainya di matanya.”
Radit mengangguk pelan, seolah mengerti tanpa perlu penjelasan panjang.
“Berarti… lo sendirian di sana,” katanya lirih.
Beberapa detik hening.
Lalu Radit menepuk bahu Xavero lagi, kali ini lebih mantap.
“Denger, Bro,” ucapnya tegas. “Lo mungkin masuk ke keluarga besar… tapi bukan berarti lo harus ngebiarin diri lo diinjak.”
Ia mencondongkan tubuh, menatap tajam.
“Lo kerja keras tiap hari. Lo bertanggung jawab. Itu udah lebih dari cukup buat nunjukin siapa lo.”
Radit menarik napas, lalu menambahkan dengan nada sedikit lebih santai.
“Tapi serius… gue salut sih sama mental lo. Kalau gue di posisi lo, mungkin udah meledak dari dulu.”
Ia terkekeh pelan, tapi matanya tetap serius.
“Cuma satu yang perlu lo ingat,” lanjutnya. “Lo nikah karena keadaan, bukan karena lo lebih rendah dari mereka.”
Xavero mengangguk. Ada rasa lega di hatinya setelah bercerita pada Radit.
“Cie, udah nggak perjaka nih. Gue kira cupu, ternyata suhu,” ucap Radit dengan nada menggoda, berusaha mencairkan suasana.
Xavero menggeleng pelan. “Sampai sekarang, gue nggak pernah tidur bareng dia,” ucapnya lirih.
“Serius?” ucap Radit dengan nada tidak percaya.
Xavero mengangguk. “Di matanya, gue cuma kayak kotoran yang merusak masa depannya,” ucapnya sambil tersenyum pahit.
Radit terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia tidak langsung menanggapi dengan candaan. Wajahnya berubah serius, benar-benar serius.
“Anjir…” gumamnya pelan, kali ini bukan karena kaget, tapi karena paham betapa beratnya posisi Xavero.
Ia menghembuskan napas panjang, lalu menepuk bahu Xavero lebih kuat dari sebelumnya.
“Denger gue baik-baik, Bro,” ucapnya tegas.
Xavero menoleh.
Radit menatapnya lurus, tanpa sedikit pun bercanda.
“Kalau orang lain nggak bisa lihat nilai lo… bukan berarti lo nggak punya nilai.”
Kalimat itu sederhana, tapi dalam.
“Lo kerja. Lo bertanggung jawab. Lo nggak ninggalin dia walaupun diperlakuin kayak gitu.” Radit menggeleng pelan. “Itu bukan laki-laki lemah, Ver. Itu laki-laki kuat.”
Xavero terdiam.
Radit melanjutkan, nadanya lebih dalam.
“Masalahnya sekarang bukan di lo, tapi di mereka yang buta.” Ia menepuk dada Xavero pelan. “Lo jangan ikut-ikutan jadi buta sama nilai diri lo sendiri.”
Beberapa detik hening.
“Lo boleh sabar,” lanjut Radit. “Tapi jangan sampai harga diri lo hilang.”
Xavero menunduk sedikit.
Radit menyandarkan tubuhnya, lalu menatap ke depan sejenak sebelum kembali bicara.
“Dan satu lagi…” ujarnya pelan. “Jangan selamanya lo di posisi ini.”
Xavero mengangkat kepala.
“Bangkit, Bro... atau lo bakal hidup jadi bayangan," kata Radit tegas. “Bukan buat mereka… tapi buat diri lo sendiri.”
Ia tersenyum tipis, kali ini penuh makna.
“Biar suatu hari nanti…” Radit berhenti sejenak, lalu menyeringai. “Mereka yang dulu meremehkan lo… jadi orang pertama yang menyesel.”
Radit menepuk bahu Xavero sekali lagi.
“Dan kalau hari itu datang,” tambahnya santai, “gue pengen jadi saksi.”