NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemerlap yang Menyesatkan dan Ujian Kesetiaan

​Tiga bulan berlalu sejak perpisahan hangat di London. Musim semi menyapa New York dengan kelopak sakura di Central Park, sementara London mulai menghangat di bawah langit biru yang langka. Namun, seiring dengan mekarnya bunga, godaan di kota-kota besar dunia mulai merayap masuk ke celah-celah kesibukan Arkan dan Ziva.

​Jarak bukan lagi sekadar angka di peta, melainkan ruang kosong yang mulai diisi oleh orang-orang baru, tawa baru, dan tantangan yang menguji fondasi pernikahan mereka.

​New York: Pesona Sang Editor Muda

​Di Columbia University, Ziva semakin bersinar. Liputannya tentang imigran di Bronx mendapat perhatian dari sebuah majalah berita ternama. Mentornya adalah Julian, seorang editor muda keturunan Prancis-Amerika yang karismatik, cerdas, dan memiliki visi jurnalisme yang sama persis dengan Ziva.

​Sore itu, mereka duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Upper West Side untuk mendiskusikan draf tulisan terbaru Ziva.

​"Ziva, kamu punya insting yang tidak dimiliki mahasiswa lain," ucap Julian sambil menatap Ziva dalam-dalam, mengabaikan kopi hitamnya yang mendingin. "Kamu berani, tapi tetap punya empati. New York butuh jurnalis seperti kamu."

​Ziva tersenyum tipis. "Makasih, Julian. Ini semua karena bimbingan kamu juga."

​"Malam ini ada pameran fotografi jurnalisme di Soho. Aku punya dua tiket VVIP. Kamu mau ikut? Kita bisa bertemu dengan beberapa kepala editor dari koran nasional," tawar Julian. Suaranya rendah, penuh peluang yang sulit ditolak oleh jurnalis ambisius mana pun.

​Ziva melirik ponselnya. Di London, saat ini sudah jam satu pagi. Arkan pasti sudah tidur atau sedang sibuk dengan deadline analisis pasarnya. Selama seminggu terakhir, percakapan mereka hanya sebatas "Apa kabar?" yang singkat.

​"Cuma untuk jaringan kerja, Ziva. Tidak lebih," tambah Julian dengan senyum yang tampak tulus, meski matanya menyiratkan kekaguman yang lebih dari sekadar profesional.

​London: Godaan di Menara Gading

​Di seberang samudra, Arkan sedang menghadapi tekanannya sendiri. Sebagai mahasiswa unggulan di LSE, ia terpilih masuk ke dalam tim elit untuk kompetisi simulasi perdagangan saham tingkat Eropa. Rekan setimnya adalah Elena, seorang mahasiswi cerdas asal Rusia yang juga putri dari salah satu pemegang saham terbesar di firma tempat Arkan magang.

​Mereka sering menghabiskan malam di ruang belajar kampus yang sepi. Elena adalah versi wanita dari Arkan: logis, dingin, dan sangat ambisius.

​"Analisis kamu tajam, Arkan. Tapi kamu terlalu kaku," ucap Elena sambil menyandarkan punggungnya, menatap Arkan yang masih fokus pada layar monitor. "Hidup di London itu singkat. Jangan cuma habiskan waktumu di depan angka. Ayahku mengundang tim kita ke pesta perayaan di The Shard besok malam. Kamu harus datang."

​"Aku punya janji video call dengan istriku," jawab Arkan tanpa menoleh.

​Elena tertawa kecil, tawa yang terdengar elegan namun tajam. "Istrimu di New York, kan? Dia sedang mengejar mimpinya, Arkan. Aku dengar dia sering terlihat bersama editor mudanya itu di acara-acara jurnalisme. Kenapa kamu harus menahan diri sementara dia mulai menikmati dunianya sendiri?"

​Tangan Arkan berhenti mengetik. Kalimat Elena menyentuh rasa tidak aman yang selama ini ia tekan dalam-diam.

​Malam yang Berbahaya

​Malam berikutnya, New York dan London seolah berkonspirasi.

​Ziva akhirnya menerima ajakan Julian ke pameran foto. Di sana, di bawah lampu remang dan aroma wine, Julian tidak pernah melepaskan perhatiannya dari Ziva. Saat Ziva hampir terjatuh karena kerumunan orang, Julian dengan sigap menangkap pinggangnya.

​"Hati-hati, Ziva," bisik Julian, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Ziva.

​Di saat yang sama, di London, Arkan berdiri di balkon mewah gedung The Shard, menatap kerlip lampu kota dari ketinggian. Elena mendekatinya, membawa dua gelas sampanye.

​"Dunia ini luas, Arkan. Jangan biarkan satu komitmen dari masa SMA-mu membatasi langkahmu menuju puncak," ucap Elena lembut, tangannya menyentuh lengan Arkan dengan berani.

​Sinyal yang Kembali Menguat

​Ponsel Arkan bergetar di saku jasnya. Sebuah panggilan video dari Ziva.

​Arkan menjauh dari Elena, menarik napas panjang, dan mengangkat telepon itu. Di layar, ia melihat Ziva masih mengenakan gaun yang indah, namun matanya terlihat lelah dan... penuh rasa bersalah.

​"Ar," panggil Ziva. Suaranya sedikit bergetar oleh suara musik di latar belakangnya.

​"Kamu di mana, Ziv?" tanya Arkan. Suaranya dingin, namun ada nada kekhawatiran yang dalam.

​"Gue di pameran foto sama Julian. Tapi... gue mau pulang, Ar. Gue ngerasa nggak nyaman di sini." Ziva menjauh dari keramaian, menuju sudut yang sepi. "Gue kangen lo. Gue baru sadar, pameran sehebat apa pun nggak ada artinya kalau lo nggak ada di samping gue buat dengerin gue ngoceh soal teknis fotonya."

​Arkan tertegun. Rasa curiga yang tadi sempat dipicu oleh kata-kata Elena seketika menguap. Ia melirik Elena yang masih menunggunya dengan gelas sampanye, lalu ia membelakangi wanita itu.

​"Aku juga, Ziv. Aku di pesta kantor, tapi aku ngerasa asing banget. Aku nggak butuh pesta ini. Aku cuma butuh denger suara kamu."

​Mereka berdua terdiam, saling menatap lewat layar kecil yang memisahkan dua benua. Di New York, Julian mendekati Ziva, namun Ziva mengangkat tangannya, memberi kode bahwa ia sedang berbicara dengan orang paling penting dalam hidupnya. Di London, Arkan meletakkan gelasnya dan memberi isyarat pamit pada Elena.

​"Ziv," ucap Arkan tegas. "Liburan musim panas ini, nggak usah nunggu Paris. Aku bakal pesen tiket ke New York besok pagi. Persetan sama lembur magang. Aku mau jagain kamu."

​Ziva tersenyum, air mata haru jatuh di pipinya. "Gue tunggu di apartemen, Pak Ketos. Jangan telat, atau gue kasih poin pelanggaran."

​Malam itu, gemerlap New York dan London tidak mampu menggoyahkan benang merah yang mengikat mereka. Godaan mungkin ada di setiap sudut kota besar, namun bagi Arkan dan Ziva, satu-satunya tempat yang paling indah tetaplah di samping satu sama lain, meskipun untuk saat ini hanya lewat layar ponsel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!