NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 - Perlawanan Gwen

Jam sudah larut ketika Gwen melangkah masuk rumah dengan langkah lelah tapi bahu yang lebih tegak. Mini dress kuning butter masih melekat di tubuhnya, sedikit kusut karena seharian bekerja, namun warnanya tetap cerah di bawah lampu ruang tamu.

Belum sempat ia mencapai tangga, suara Linda sudah menyambutnya tajam.

“Mbak.”

Gwen berhenti. Linda duduk di sofa ruang tamu dengan wajah masam, tangannya memegang remote TV tapi matanya tertuju sepenuhnya pada putrinya.

“Kamu masih berani pulang pakai baju norak itu?” omel Linda langsung. “Minggu depan ada arisan keluarga besar di rumah Om Budi. Semua saudara dari pihak Ibu bakal datang. Ibu sudah siapkan baju hitam yang sopan untuk kamu.”

Gwen berdiri diam di anak tangga pertama. Tangan yang memegang tas kerja sedikit gemetar, tapi kali ini ia tidak langsung menunduk.

“Bu…” suaranya pelan, tapi tetap tegas. “Gwen mau pakai baju Gwen sendiri saja.”

Ruangan langsung hening. Linda mengerutkan kening, seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

“Apa katamu?”

Gwen menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Mulai hari ini, Gwen akan pakai baju dengan warna yang Gwen suka. Gwen sudah capek terus bersembunyi di balik hitam, abu-abu, atau navy hanya karena takut dibilang gemuk. Gwen sudah tiga puluh tahun, Bu.”

Linda berdiri dengan cepat, wajahnya memerah karena marah dan kaget.

“Kamu mau bikin Ibu malu di depan keluarga besar? Sudah berani membantah Ibu sekarang?!”

Gwen tidak menjawab lagi. Ia berbalik dan naik ke kamarnya. Tak lama kemudian ia turun lagi dengan membawa tas travel besar yang sudah penuh.

Linda langsung berdiri menghalangi pintu depan.

“Mau ke mana kamu, Gwen?!” teriak Linda keras, suaranya nyaring penuh amarah.

Gwen berhenti di depan pintu. Air matanya sudah menggenang.

Saat itu Cipto baru selesai memarkirkan mobil di garasi dan masuk rumah. Ia kaget melihat suasana yang tegang.

“Gwen!” panggil Cipto khawatir saat melihat tas besar di tangan putrinya.

Gwen menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca, suaranya hampir pecah.

“Maaf yah, Tapi Gwen butuh waktu. Gwen nggak sanggup lagi.”

Linda semakin marah. “Gwen! Kamu mau kabur? Balik sini!”

Gwen menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Sementara Gwen tinggal di apartemen Pandji.”

Cipto terdiam sejenak, melihat wajah putrinya yang lelah dan penuh air mata, lalu mengangguk berat.

“Ayah antar.”

Meski Linda terus berteriak marah, Cipto tetap mengambil kunci mobil lagi dan mengantar Gwen keluar rumah.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Pandji, keduanya nyaris tidak berbicara. Cipto hanya sesekali menghela napas panjang, sementara suasana di dalam mobil dibiarkan menggantung dalam diam.

Begitu sampai di basement apartemen, Cipto memarkirkan mobil lalu mematikan mesin. Namun mereka belum juga beranjak keluar, masih duduk dalam keheningan yang sama.

Sunyi memenuhi mobil. Hanya suara pelan AC yang terus berembus, menambah berat suasana di antara mereka.

Cipto menoleh ke putrinya. Gwen duduk dengan kepala menunduk, tangannya memegang tas travel erat-erat di pangkuan. Air matanya masih mengalir pelan tanpa suara.

Cipto menghela napas berat, lalu mengusap lembut puncak kepala Gwen.

“Nak… kamu yakin mau tinggal di sini sendirian? Apartemen kosong, Pandji masih di Jakarta,” tanyanya dengan suara lembut penuh kekhawatiran.

Gwen mengangguk pelan, suaranya parau. “Iya, Yah. Gwen butuh ketenangan sebentar. Di rumah… Gwen merasa sesak terus.”

Cipto terdiam lama. Matanya juga berkaca-kaca, tapi ia berusaha kuat.

“Maafkan Ayah ya… selama ini Ayah diam saja. Ayah tahu Ibu keras, tapi Ayah nggak pernah cukup melindungi kamu.”

Gwen menggeleng. “Ayah sudah banyak membantu. Malam ini aja Ayah mau antar Gwen… itu sudah cukup.”

Cipto mengangguk, lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Gwen. Ia mengambil tas travel putrinya dan mengantar Gwen sampai ke lift.

Di depan pintu apartemen Pandji, Cipto menyerahkan tas itu kembali ke Gwen. Ia memeluk putrinya lama sekali, sangat erat, seolah tak ingin melepaskan.

“Kalau ada apa-apa, langsung telepon Ayah. Kapan pun. Jangan sungkan.”

Gwen mengangguk di dada ayahnya. “Iya, Yah. Maaf udah bikin repot malam-malam.”

Cipto melepaskan pelukan, mengusap air mata di pipi Gwen dengan ibu jarinya.

“Kamu istirahat ya. Besok Ayah telepon.”

Setelah Cipto pergi dan lift tertutup, Gwen berdiri sendirian di depan pintu apartemen yang sepi. Ia memasukkan kode pintu dengan tangan gemetar, lalu masuk ke dalam.

Lampu otomatis menyala pelan. Apartemen Pandji terasa dingin dan sepi. Tidak ada suara apa pun selain langkah kakinya sendiri.

Gwen menaruh tasnya di kamar tamu yang biasa ia tempati setiap kali menginap di sana. Lampu kamar hanya menyala redup, membuat suasana terasa semakin sunyi. Ia menjatuhkan tasnya ke lantai, lalu duduk di tepi ranjang.

Baru di saat itu, pertahanannya benar-benar runtuh.

Gwen menangis tersedu di kamar tamu yang sepi. Isakannya pecah, tubuhnya bergetar hebat. Ia meraih bantal dan memeluknya erat, meluapkan seluruh lelah, sakit hati, dan tekanan yang selama ini ia simpan sendiri.

Malam itu, Gwen hanya ingin menangis sendirian sampai semua rasa itu habis.

...__KejarTenggat__...

Sementara itu, di lantai 42 Baskara Tower, suasana masih tegang meski malam sudah semakin larut..

Baby ❤ : Pandji lagi ke Jakarta, Nadine demam. Aku kerja dulu ya. Miss you.”

Aga melempar ponselnya ke meja rapat dengan geram. Ponsel itu meluncur keras di permukaan kaca sebelum berhenti di tengah meja, membuat seluruh ruangan rapat hening seperti kuburan.

Semua eksekutif senior membeku, tak ada yang berani menatap pewaris Baskara Group itu.

“Pak…” panggil Hilman, asisten pribadinya pelan.

“Lanjutkan,” ucap Aga dengan suara rendah dan tajam.

Rapat berlanjut dalam suasana tegang. Tapi pikiran Aga sama sekali tidak ada di sana. Yang ada di kepalanya hanya Gwen — senyum malu-malu dan bibir manis yang kini jadi candunya.

Begitu rapat selesai, semua orang langsung kabur seperti dikejar setan.

Aga masuk ke ruang kerjanya dengan langkah berat. Hilman mengikuti di belakang dengan hati-hati.

“Kenapa sih Nadine harus sakit sekarang,” gerutu Aga kesal sambil menjatuhkan diri ke kursi kebesarannya. “Gue cuma mau jemput Gwen, peluk dia, cium bibirnya, terus… sialan.”

Ia mengusap wajah kasar, frustrasi jelas terlihat di ekspresinya.

Hening sejenak.

“Man,” gumam Aga tiba-tiba, nadanya datar tapi berbahaya. “Apa sebaiknya gue ratain aja kantor itu?”

Hilman langsung kaku di tempat. “Maksudnya, Pak?”

Aga melirik asisten pribadinya dengan kesal. “Ish, bawakan semua pekerjaan gue. Kita lembur malam ini.”

Hilman mengangguk cepat. “Baik, Pak.”

Begitu pintu ruangan tertutup, Aga bersandar di kursi kerjanya sambil menatap kosong ke depan. Ia sama sekali tidak bisa fokus. Setiap kali mencoba membuka dokumen, yang muncul di pikirannya justru wajah manis kekasihnya.

Tak tahan lagi, Aga meraih ponselnya dan menelepon Raymond Tan—sepupunya sekaligus klien yang membuat Gwen begitu sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuknya.

“Yo, bucin!” sapa Raymond langsung dengan nada meledek.

“Lo sengaja ya ngebut deadline proyek itu?” tanya Aga tanpa basa-basi.

Raymond tertawa puas. “Gue cuma mau proyek cepat selesai, Ga. Lo kenapa? Dulu lo paling hobi ngepush deadline, sekarang malah ngomel. Bucin beneran ya lo sekarang.”

Aga diam.

Raymond semakin semangat meledek, “Eh, tapi bener sih. Gwen pas presentasi minggu lalu… aduh manis banget. Suaranya lembut, tapi tegas. Gue sampe agak lupa fokus. Lo beruntung banget, bro. Kalau gue jadi lo—”

“Tutup mulut lo sebelum gue tutup perusahaan lo,” potong Aga dingin.

Raymond malah terbahak keras. “Parah! Bucin level dewa! Lo cemburu sama sepupu sendiri? Lucu banget sih lo—”

Aga tidak menjawab.

Klik.

Telepon langsung terputus.

Belum sempat ia menurunkan ponsel, layar kembali menyala—getaran halus terasa di telapak tangannya.

Nama Pandji muncul.

Aga menghela napas sebentar, lalu langsung mengangkatnya.

“Apaan?”

Suara Pandji terdengar sedikit lelah di seberang sana.“Ga, Mbak gue lagi nginep di apartemen. Dia berantem sama nyokap. Kayaknya parah banget kali ini, soalnya Ayah yang antar dia ke apartemen malam-malam. Apartemen lagi kosong, gue masih di Jakarta.”

Aga langsung bangkit dari kursinya, suaranya berubah tegang.

“Gwen di apartemen lo sekarang?”

“Iya. Dia kelihatan habis nangis. Gue nggak enak nyuruh dia cerita panjang lebar lewat telepon. Tolong hibur dia ya, Ga. Gue lagi nyari pener—”

“Gue berangkat sekarang,” potongnya cepat. “Thanks, Ji.”

Ia mematikan telepon dan langsung meraih jas serta kunci mobilnya. Wajahnya tak lagi sedingin tadi. Yang tersisa hanya gelisah yang menumpuk di balik tatapan matanya.

“Pak, ini dokumen yang bapak minta. Sudah saya ringkas dan—”

Hilman terdiam melihat Aga yang sudah siap-siap pergi dengan wajah tegang. Ia melirik jam tangan, lalu melihat ekspresi bosnya yang jarang sekali tampak seperti ini.

“Besok saya libur,” ucap Aga tiba-tiba. “Telepon Hendra, bilang Gwen gue juga libur. Kalau nggak, gue stop dana ke perusahaannya.”

Hilman mengangguk pelan, lalu dengan muka datar tanpa dosa bertanya.

“Bapak butuh kondom?”

Aga langsung berhenti di ambang pintu. Ia menoleh pelan ke arah Hilman, alisnya terangkat tinggi. Wajahnya sempat tegang karena khawatir, lalu perlahan berubah—pipinya sedikit memanas. Sudut bibirnya terangkat pelan, membentuk senyum kecil yang tertahan, seperti tidak percaya pertanyaan itu benar-benar keluar di saat seperti ini.

Ia tidak menjawab.

Hanya menghela napas pelan sambil merapikan jasnya sekilas, lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah yang lebih ringan dari sebelumnya. Senyum itu masih tersisa samar di wajahnya, seperti enggan benar-benar hilang, meski pikirannya tetap penuh kekhawatiran pada Gwen.

Di belakangnya, Hilman tetap berdiri tenang dengan muka polos seperti biasa, lalu bergumam pelan sambil mencatat di ponselnya:

“Berarti saya siapkan satu box ya… biar aman. Dicatat.”

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!