"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Malam itu, tepat pukul delapan lewat lima menit, Melisa masih memegang ponselnya sambil sesekali melirik ke arah pintu, berharap Evan segera datang. Namun yang ditunggu tak kunjung tiba. Suara nada dering panggilan dari Diana akhirnya terdengar. Melisa pun segera mengangkatnya.
“Evan nginep ya, Mel, di sini. Besok sore beneran gue pulangin, sumpah,” ucap Diana dari seberang tanpa basa-basi dengan suara memelas seperti anak kecil yang sedang minta izin main.
Melisa terdiam sejenak. “Tapi, Na… nanti kalau dia rewel gimana?” Suaranya terdengar ragu. “Dia belum pernah jauh dari aku semalaman. Aku takut dia nyariin.”
“Tenang aja,” jawab Diana cepat. “Gue kan udah profesional, Mel. Ahli banget nangani bayi nangis. Lagian dia lagi seneng banget main sama adik gue, udah kaya punya kakak beneran. Please, malam ini aja. Gue beneran kangen Evan.”
Melisa menghela napas. Di satu sisi, ia rindu memeluk Evan malam ini. Tapi di sisi lain, ia tahu Diana sangat sayang pada anak itu. Dan jika Evan sedang bahagia, apa salahnya memberi ruang?
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Melisa mengangguk kecil meski tak terlihat di ujung telepon.
“Yaudah… tapi beneran ya, Na. Besok sore harus kamu pulangin anak aku.”
“Yess! Aman, Mel. Gue bakal balikin dia dengan selamat, wangi, lengkap, tanpa kurang satu helai rambut pun. Sumpah demi boba kesukaan Gue!” sahut Diana heboh, membuat Melisa tertawa kecil.
Setelah telepon ditutup, Melisa berjalan ke tengah ruang. Lampu remang-remang membuat suasana kos terasa hangat. Di atas karpet, Ethan sedang tengkurap, tangannya menghentak-hentak kecil sambil mengoceh tiada henti. Seolah sedang berdiskusi penting dengan boneka di sebelahnya.
Melisa tersenyum, lalu duduk bersila di sampingnya.
“Adik kamu nggak pulang malam ini, jadi malam ini kita cuma berdua, ya,” ujarnya sambil membelai punggung mungil Ethan yang mulai terasa hangat.
Ethan hanya merespons dengan ocehan lucunya yang tidak jelas, tapi membuat hati Melisa terasa penuh. Sungguh, ada kedamaian luar biasa setiap kali mendengar suara kecil itu.
Meski tak tahu pasti siapa yang lebih tua—Evan atau Ethan—Melisa sudah lama memutuskan dalam hatinya bahwa Ethan adalah sang kakak. Entah kenapa, instingnya mengatakan begitu. Mungkin karena Ethan terlihat sedikit lebih besar, atau mungkin karena sorot matanya yang tampak lebih ‘dewasa’ untuk ukuran bayi enam bulan entah lah ia juga tidak tau.
“Ngocehin apa sih, Nak?” tanya Melisa sambil mencubit manja pipi tembam itu. “Gemes banget, ya Ampun… pipi kamu tuh udah mau nutupin leher. Kalau Kakak bawa kamu ke lomba bayi sehat, pasti menang kategori ‘Pipi Tertembam Nasional’.”
Ethan terkekeh, lalu menggulingkan badannya ke sisi lain dengan suara ceria. Melisa tertawa kecil, lalu membaringkan diri di sampingnya. Tangannya meraih mainan kecil yang sudah ringsek, dan diberikan pada bayi itu.
Sambil memandangi langit-langit, Melisa berbisik dalam hati,
“Terima kasih Tuhan… Kau titipkan dua anak ini dalam hidupku. Aku akan jaga mereka, sekuat yang aku bisa. Meski aku bukan ibu kandung mereka, biarlah mereka tetap tumbuh dalam cinta yang nyata.”
Dan malam pun berlalu, dengan satu bayi dalam pelukan, dan satu lagi dalam pelukan orang yang juga mencintainya. Dunia Melisa mungkin sederhana, tapi bagi dua bayi itu—dunia mereka sedang dipenuhi cinta tanpa syarat dari seseorang yang rela menjadi segalanya.
Pagi itu, sinar mentari perlahan menyusup melalui celah jendela kamar kos Melisa. Udara masih sejuk, dan suasana lingkungan sekitar belum sepenuhnya ramai. Biasanya, pagi-pagi begini, Melisa sudah kewalahan mengurus dua bayi sekaligus—memandikan, mengganti popok, menyuapi mpasi, dan menyiapkan segala perlengkapan mereka sebelum berangkat kerja. Tapi pagi ini terasa sedikit berbeda.