NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Jembatan Darah di Jantung Alas Roban

Hawa hutan tiba-tiba berubah drastis. Jika tadi udara terasa lembap dan pengap, kini suhu anjlok secara tidak wajar. Kabut tipis yang semula berwarna keputihan mulai berubah menjadi abu-abu pekat yang berbau seperti belerang dan besi berkarat. Suara jangkrik dan burung hutan mendadak mati total, seakan pita suara alam semesta baru saja dipotong.

Rel lori tebu di bawah kaki Luna terputus di tepi sebuah tebing kecil. Di depan mereka, membentang sebuah jurang selebar sepuluh meter yang di dasarnya mengalir aliran sungai.

Tapi itu bukan air sungai biasa.

Luna menelan ludah, mundur selangkah karena ngeri. Sungai di bawah jurang itu berwarna merah kehitaman, kental bagaikan darah yang mengental. Baunya sangat amis, memuakkan, hingga membuat perut Luna bergejolak hebat. Di atas sungai itu, hanya ada sebuah jembatan gantung tua yang terbuat dari tali tambang besar dan papan-papan kayu yang sudah lapuk dan sebagian besar telah patah. Jembatan itu bergoyang tertiup angin yang tidak terlihat.

"Ini adalah pembatas spiritual," Nando berdiri di tepi jurang, matanya memicing menatap ke seberang. Pendar birunya berkedip-kedip merespons energi gelap yang memancar dari sungai di bawah mereka. "Di seberang sana, kanopi pohonnya terbuka. Kau bisa melihat sisa-sisa menara pabrik bata merah itu?"

Luna menatap lurus menembus kabut kelabu. Benar saja, samar-samar di kejauhan, terlihat dua cerobong asap tinggi berbahan bata merah peninggalan era kolonial yang diselimuti tumbuhan menjalar. Di bawah cerobong itu, terdapat reruntuhan bangunan pabrik gula yang sangat luas. Itu adalah Karang Mayit. Sarang utama sang dukun.

"Kita harus melewati jembatan itu," ucap Luna, suaranya bergetar. "Tapi jembatannya terlihat seperti bisa runtuh kapan saja."

"Bukan kayunya yang jadi masalah utama kita," potong Nando, nadanya penuh peringatan. Ia menunjuk ke arah aliran sungai darah di bawah sana. "Lihat itu."

Permukaan air sungai yang kental itu mulai bergejolak, seolah airnya mendidih. Gelembung-gelembung besar pecah, mengeluarkan asap hitam. Dari dalam pusaran air darah itu, perlahan muncul bola-bola api sebesar kepala manusia yang melayang di udara. Api itu tidak berwarna jingga, melainkan biru kehijauan yang menyilaukan, dan di tengah-tengah kobaran api itu, terdapat wajah-wajah tengkorak yang menyeringai mengerikan.

"Banaspati," desis Luna ngeri. Ia langsung mengenali entitas tersebut. Makhluk elemen api ini adalah perwujudan teluh penjaga tingkat tinggi yang biasa ditugaskan untuk menjaga benda pusaka atau daerah terlarang.

Ada sekitar lima Banaspati yang melayang naik dari dasar sungai, mengelilingi jembatan gantung kayu tersebut seperti pasukan penjaga yang menunggu mangsa. Udara di sekitar mereka seketika berubah menjadi sangat panas, mengeringkan peluh Luna dalam sekejap.

"Mereka adalah penjaga gerbang," rahang Nando mengeras. "Jika kau menginjak jembatan itu, mereka akan langsung membakar tubuh fisikmu hingga jadi abu. Dan energiku... aku tidak yakin bisa memadamkan lima api gaib sekaligus dengan kondisiku yang sekarang."

"Kita tidak punya pilihan," Luna merogoh ranselnya, jari-jarinya langsung mencari gagang Keris Pangruwat. Saat ia menggenggamnya, hawa dingin dari keris itu memberikan perlawanan terhadap hawa panas Banaspati. "Buhul ini... ia memanggil kita. Dukun itu tahu kita ada di sini."

Nando menoleh pada Luna, tatapannya memancarkan tekad yang luar biasa. "Dengarkan aku. Banaspati menyerang berdasarkan hawa kehidupan manusia. Mereka akan mengincarmu. Aku akan masuk ke tengah jembatan duluan dan melepaskan seluruh auraku untuk menciptakan perisai es dan memancing mereka menyerangku. Di saat mereka fokus padaku, kau harus lari sekencang mungkin ke seberang. Gunakan keris itu untuk membelah siapa pun yang menghalangimu. Jangan berhenti, apa pun yang terjadi."

"Nando, tidak! Kau baru saja pulih! Jika apinya membakar jiwamu, kau bisa musnah secara permanen!" protes Luna, air matanya kembali menggenang. Ia tidak siap kehilangan pria ini.

Nando melangkah maju, tubuh astralnya menembus tubuh Luna dengan sengaja, memberikan satu sentakan dingin yang membekukan aliran air mata gadis itu. "Dan jika kau mati terbakar di sini, perusahaanku akan tetap dipegang oleh pengkhianat itu. Aku tidak akan membiarkannya. Percayalah padaku, Nona. Aku belum selesai mengomelimu."

Tanpa menunggu persetujuan Luna, Nando melesat melayang ke atas jembatan gantung yang lapuk tersebut.

Begitu energi biru Nando memasuki area jembatan, kelima Banaspati itu langsung bereaksi. Tengkorak-tengkorak di dalam api itu menjerit marah. Mereka melesat dengan kecepatan kilat, meninggalkan jejak api biru kehijauan di udara, langsung menyerbu Nando dari segala arah.

"Kemari kalian, bola api murahan!" raung Nando.

Pria itu merentangkan kedua tangannya. Pendar birunya meledak, bukan ke arah luar, melainkan memadat di sekeliling tubuhnya membentuk sebuah kubah energi murni yang memancarkan hawa dingin sedingin es kutub.

BLAAAR! WUSSSSHH!

Kelima Banaspati itu menabrak kubah Nando secara bersamaan. Percikan api hijau dan energi biru meledak di atas jembatan, menciptakan kembang api gaib yang menyilaukan mata. Suara desisan uap dan jeritan tengkorak memekakkan telinga. Nando terhuyung mundur, wajahnya menegang menahan rasa sakit yang luar biasa saat api-api itu mencoba membakar perisai astralnya.

"LARI, LUNA! SEKARANG!" teriak Nando, suaranya nyaris tenggelam oleh deru api.

Luna tidak membuang waktu satu detik pun. Ia mencabut Keris Pangruwat dari ranselnya. Energi putih kuno langsung menyelimuti lengannya. Ia melompat ke atas jembatan gantung. Papan kayu lapuk berderit keras menahan berat badannya, tali tambangnya bergoyang liar.

Luna berlari secepat yang ia bisa, matanya fokus pada ujung jembatan di seberang jurang. Panas dari pertarungan di atasnya membuat kulitnya terasa seperti dipanggang.

Seekor Banaspati menyadari kehadiran manusia. Makhluk api itu melepaskan diri dari kubah Nando dan melesat ke bawah, menukik lurus ke arah kepala Luna dengan mulut tengkorak terbuka lebar, bersiap menelannya dalam api hijau.

Luna tidak berhenti berlari. Saat bola api itu berjarak kurang dari satu meter darinya, Luna memutar tubuhnya, mengayunkan Keris Pangruwat dari bawah ke atas dengan sekuat tenaga.

SRAAAAATTT!

Bilah berkarat itu membelah udara. Energi putih dari pusaka suci itu menghantam tepat di tengah tengkorak Banaspati. Sebuah ledakan api kecil terjadi, dan makhluk itu menjerit kesakitan sebelum akhirnya pecah menjadi ribuan percikan bara api yang jatuh mendesis ke sungai darah di bawah sana.

"Tinggal sedikit lagi!" Luna terus memacu langkahnya. Papan kayu di depannya patah, membuatnya nyaris terperosok, tapi ia berhasil melompat dan mendarat berguling di ujung jembatan, di atas tanah kering dan berbatu milik Karang Mayit.

Luna segera bangkit, menoleh ke belakang dengan panik.

Di tengah jembatan, Nando sudah berada di ambang batasnya. Pendar birunya kini nyaris menghilang sepenuhnya. Keempat Banaspati yang tersisa melihat bahwa mangsa utama mereka telah lolos. Mereka melepaskan diri dari Nando, berputar di udara, lalu melesat turun untuk kembali bersembunyi di dasar sungai darah, menunggu mangsa berikutnya.

Kubah energi Nando pecah seketika. Tubuh astral pria itu jatuh berlutut di atas jembatan kayu, tembus pandang layaknya selembar plastik tipis. Ia bernapas terengah-engah, nyaris tidak terlihat.

"Nando!" panggil Luna dari seberang.

Nando mengangkat kepalanya dengan susah payah. Ia tidak bisa lagi mempertahankan wujud manusianya. Dalam hitungan detik, tubuhnya kembali menyusut menjadi sebuah bola cahaya biru seukuran kelereng yang sangat redup, lalu bola itu melayang lemah, melintasi sisa jembatan, dan mendarat pelan di telapak tangan Luna yang terbuka.

Luna mendekapkan bola cahaya itu ke dadanya, melindunginya dengan tangannya. Dinginnya sangat lemah, tapi masih ada. Nando masih bertahan.

Luna berbalik, menatap menara cerobong asap merah yang menjulang angkuh di depan matanya. Reruntuhan pabrik tua itu diselimuti kabut tebal dan bau dupa kemenyan yang sangat menyengat. Ribuan aura gelap terasa mengawasi dari balik puing-puing bangunan. Ini adalah titik nol. Altar kematian yang telah menunggu kedatangannya selama lima belas tahun.

Dengan keris di tangan kanan dan bola cahaya Nando yang aman di dadanya, Luna melangkah memasuki pelataran pabrik Karang Mayit. Sang dukun pasti sudah menunggunya di dalam. Takdirnya, dan takdir kedua orang tuanya, akan segera dituntaskan hari ini.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah Nando ingat, walupun tipis tipis
Ai Emy Ningrum: jabatan yg sangat krusial 😽😽😽 sampe2 melekat ,ga didunia nyata dan dunia gaib jg itu yg terngiang 😙😗
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
yaaah Luna sendirian, gimana pulangnya weh /Shy//Slight/
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Lg dong Thor, 😭🤗🤗tanggung bngt.
nayla tsaqif
Nando punya keluarga gk thorr,,??
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Sangat menarik dan menghibur, tidak membosankan smoga tidak cpt tamat. 😃
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut kan thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Allhamdulillah akhirnya Luna tidak kesulitan melawan dukun itu, sya kira dukun itu sulit dikalahkan, scara td sangat sombongnya pd Luna, akhirnya mampus juga iblis itu. 😠😠

Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
nayla tsaqif
Ayo nando,, cepat sadar dan temukan luna,,! Ato pk tarjo balik lg, untuk nolongin luna,, 😭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Nando kembali.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut Thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤩🤩🤭🤭😆😆Ke nya bakal tumbuh nih benih2 ❤❤💘💘💘diantara mereka.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Apa kh yg mmbunuh orangtua Luna adalah dukun yg sama yg dipakai oleh Bara ya.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Teka teki nya mulai terkuak 1 per 1.
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Musuh dlm selimut ini namanya, tega bener ya teman ko jahat banget, mungkin ingin mngambil posisi Nando mungkin.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Jelas kan nanti ya thor, sebabnya Nando jd dtakuti oleh MEREKA. 😃😃😆😆
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Sakita perut q lihat kelakuan Nando, ke lg nonton drakor aja. 🤭🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mereka berdua saling mmbutuhkan, mungkin juga kalian jodoh. 😆🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Udah sadar bukan manusia lg, baru diemm, td cerewet bngt. 🤣🤣🤣hadeh.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Biasanya arogan diawal, tp bucin diakhir, 😆😆semakin mnarik thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Menarik, syng nya baru nemu, dan baru bacanya, penasaran sm judulnya. 😁😁

Semangat Thor. 😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!