NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis ? Gladys ?

Di lantai atas, di balkon kamar pribadinya, Nita berdiri mematung menatap hamparan kota yang gemerlap di kejauhan. Angin malam berhembus pelan membelai wajahnya, namun dinginnya udara tak mampu mendinginkan hati wanita itu yang penuh dengan api dendam.

Ia menikmati keindahan malam dengan wajah datar, seolah dunia di bawah sana tak ada artinya baginya.

Tiba-tiba, sepasang tangan kekar melingkar perlahan dari arah belakang memeluk pinggangnya erat. Hidung tajam itu menghirup dalam aroma rambut Nita, lalu mengecup puncak kepala wanita itu dengan penuh hasrat.

"Malam ini indah ya, Sayang..." bisik Bagas lembut di telinga Nita.

Nita tersenyum tipis, tangannya menimpa tangan kekar yang melingkar di perutnya.

"Ada kabar apa soal Gunawan?" tanya Nita santai, namun nadanya penuh penekanan.

Bagas menghela napas, lalu berbisik pelan memberitahu apa yang baru saja ia dapatkan dari informannya.

"Tenang saja... soal wanita yang jadi rebutan antara Gunawan dan Langit Mahesa itu..." Bagas tertawa kecil meremehkan. "Dia cuma gadis biasa, Nit. Gadis miskin yang bahkan dijual sendiri oleh orang tuanya cuma buat melunasi hutang judi. Nggak ada latar belakang apa-apa. Cuma barang murahan."

Mendengar itu, bahu Nita terlihat lebih santai. Ia tersenyum miring, merasa puas dan sedikit meremehkan.

"Oh... jadi cuma sampah masyarakat ya?" gumam Nita dalam hati. "Pantesan Gunawan suka, seleranya memang selalu begitu... murahan."

Meskipun Nita merasa lega dan meremehkan, namun di benak Bagas justru muncul tanda tanya besar. Ia mengerutkan keningnya, masih merasa tak habis pikir.

"Tapi jujur aku bingung, Nit..." ucap Bagas pelan sambil mengeratkan pelukannya. "Langit Mahesa itu kan Raja, punya segalanya. Wanita cantik, model, artis, putri orang kaya... Berderet nungguin dia. Tapi kenapa dia mau bersusah payah, bahkan berani lawan langsung keluarga Wiguna cuma demi gadis miskin, buta huruf, dan nggak punya latar belakang apa-apa kayak dia?"

Nita terkikik sinis mendengar pertanyaan kekasihnya. Ia memutar tubuhnya di dalam pelukan Bagas, menatap wajah tampan pria blasteran itu dengan tatapan merendahkan.

"Halah... pria kaya tuh emang aneh, Bagas," ucap Nita santai sambil memainkan kancing kemeja pria itu. "Bosen kali ya sama yang mahal-mahal, jadi pengen nyoba yang alami dan polos. Atau mungkin... Dia cuma lagi pengen mainin barang baru yang masih seger banget. Lagipula, selera Langit kan dulu sama kayak Gunawan, suka sama yang bekas kan?"

Nita tertawa kecil, menganggap hubungan Langit dan Gadis itu hanyalah nafsu sesaat yang tak akan bertahan lama.

"Biarkan saja dia menikmati mainannya," lanjut Nita dingin. "Nanti kalau sudah bosan, pasti dia buang juga kok. Yang penting sekarang... fokus kita sama rencana kita ya, Sayang."

Wanita itu mendekatkan wajahnya, tatapannya berubah tajam dan penuh niat jahat.

"Pastikan saja... kalau nanti Langit sudah bosan dan membuang gadis itu... dia berakhir sama nasibnya sama dengan wanita-wanita lain yang pernah dibawa pulang suamiku."

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk larut dalam hasrat. Seperti biasa, malam itu kembali menjadi milik mereka berdua sepenuhnya.

Bagas menundukkan wajahnya, mencium leher jenjang Nita dengan rakus, sementara tangan mereka saling menjelajahi satu sama lain tanpa rasa bersalah sedikitpun. Mereka bercinta dengan sangat bebas, seolah tidak ada hal lain di dunia ini yang penting selain kenikmatan yang mereka rasakan saat itu.

Suara-suara erotis dan desahan panjang mendayu-dayu lolos dari bibir Nita, terdengar jelas memecah keheningan malam. Bagi mereka, suara itu bagaikan lantunan lagu indah yang menenangkan jiwa, sebuah simfoni kenikmatan yang mereka ciptakan berulang kali.

Mereka tak sadar atau mungkin tak peduli, bahwa di lantai bawah atau di kamar lain, ada orang-orang yang mendengarnya. Bagi Nita, memuaskan kekasih gelapnya jauh lebih penting daripada melayani suami sahnya yang tak pernah ada di rumah.

Malam itu berlalu dengan panas, sementara rencana jahat dan dendam kesumat terus tumbuh subur di dalam hati wanita yang tampak sempurna itu.

****

Malam semakin larut dan udara terasa begitu dingin, menusuk hingga ke tulang. Di sudut taman kediaman Wiguna, tepat di tepi kolam yang tenang, Anin duduk sendirian memeluk lututnya.

Kepalanya berdenyut nyeri, pikirannya kacau balau memikirkan ulah kakaknya yang tak pernah habisnya. Bagaimana tidak pusing, Gunawan seolah punya magnet untuk selalu menarik masalah besar mendekat ke arah mereka.

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar pelan mendekat. Fajar duduk dengan tenang di samping Anin.

Pria itu bukan sekadar sekretaris biasa. Ia adalah mata-mata yang cerdik, tangan kanan yang paling dipercaya, dan juga... kekasih tercinta Anin yang selalu ada di saat-saat sulit.

Begitu Fajar duduk, Anin tanpa ragu langsung menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu, mendesah lega seolah baru saja menemukan tempat ternyaman di dunia ini.

Fajar menatap wajah cantik itu lekat-lekat, tangannya mengusap lembut rambut panjang yang berantakan.

"Ada apa, Sayang? Masih memikirkan Gunawan?" tanya Fajar pelau, nada suaranya terdengar sedikit kesal. "Mengapa dia selalu begitu? Selalu saja ingin merebutkan barang milik orang lain."

Anin menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke permukaan air kolam yang gelap.

"Entahlah... aku juga nggak ngerti jalan pikirannya," jawab Anin pelan. "Sepertinya dia memang punya kelainan. Dia lebih suka mengambil apa yang jadi milik orang lain, apalagi kalau barang itu bagus dan diinginkan banyak orang. Begitu dia dapatkan, obsesinya justru makin menjadi-jadi sampai dia bisa bertingkah laku seperti orang gila."

Anin terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada kecewa.

"Anehnya... dia sama sekali nggak pernah mikirin konsekuensi. Dia nggak pernah lihat siapa lawannya. Seenaknya aja bertindak, padahal kali ini dia baru saja membangunkan raksasa yang sedang tidur."

Fajar tersenyum miring, lalu mengecup kening wanita di sisinya.

"Tenanglah... ada aku di sini," ucap Fajar lembut sambil mengeratkan pelukannya, berusaha menyalurkan kekuatan pada wanita yang sangat ia cintai itu.

Wajahnya berubah serius saat membicarakan hal penting yang baru saja ia selidiki.

"Aku sudah dapat kabar, Nin... Ibu angkat yang merawat Gladys selama ini sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu," jelas Fajar pelan.

Anin menelan ludah susah payah, jantungnya mulai berdegup kencang menanti kabar selanjutnya.

"Setelah itu, Gladys sempat bekerja paruh waktu di sebuah kafe untuk bertahan hidup. Tapi saat aku datang ke sana menanyakan keberadaannya..." Fajar menghela napas panjang. "Teman-teman kerjanya bilang, Gladys sudah hampir sebulan tidak masuk kerja. Mereka coba datang ke rumah kostnya, pintunya tidak terkunci. Rumah itu kosong melompong, seolah ditinggalkan begitu saja tanpa pamit."

Mendengar itu, air mata akhirnya tak mampu lagi dibendung. Menetes perlahan membasahi pipi Anin.

Ia tahu, ini semua adalah akibat dari kesalahan masa lalunya. Ia yang dipaksa menikah, ia yang kehilangan suami, dan kini ia yang kehilangan jejak buah hatinya.

Meski begitu, di dasar hatinya yang terdalam, Anin masih menyimpan secercah harapan.

"Tidak apa-apa, Nin... yang penting dia hidup," bisik hatinya mencoba menghibur diri. "Aku tidak peduli nanti dia mau membenci aku atau tidak, atau bahkan tidak mau mengakui aku sebagai ibunya. Yang terpenting aku bisa tahu dia baik-baik saja, dia tumbuh besar dan sehat. Itu sudah cukup buat aku."

Anin memejamkan matanya erat-erat, berdoa dalam hati agar takdir berbaik hati mempertemukannya kembali dengan Gladys, putri kecilnya yang entah sedang berada di mana sekarang.

"Fajar..." panggilnya parau.

"Aku?"

"Tolong cari dia terus ya... aku mohon. Aku nggak mau kehilangan dia selamanya."

"Aku janji, Sayang. Aku akan cari sampai ketemu," jawab Fajar tegas, mengecup kening Anin penuh janji.

Apakah Fajar bisa menemukan keberadaan Gladys?

1
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!