NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 -Sebuah Rencana Besar

Di sisi lain benua, di wilayah yang nyaris selalu diselimuti langit kelabu dan angin dingin, berdiri sebuah dinasti yang namanya sendiri cukup untuk membuat banyak kultivator menunjukkan ekspresi jijik.

Yaitu Dinasti Cangmo.

Sebuah dinasti yang dikenal karena keterikatannya dengan teknik gelap, senjata iblis, dan jalan kultivasi yang dianggap menyimpang oleh banyak pihak.

Jika dinasti lain menutupi kekejaman mereka dengan tata krama dan hukum, maka Cangmo bahkan tidak repot-repot berpura-pura suci.

Di pusat ibu kotanya, sebuah istana hitam menjulang seperti makam raksasa yang menantang langit.

Dan di balkon tertinggi istana itu, berdiri seorang pria dengan jubah gelap panjang yang dihiasi pola iblis dan rantai kuno.

Tatapannya tajam. Senyumnya tipis. Auranya membawa rasa dingin yang membuat orang normal ingin mundur tanpa sadar.

Dialah Zhu Ge Ling, Kaisar Dinasti Cangmo.

Di bawah balkon tempat ia berdiri, lautan rakyat dan kultivator Cangmo berkumpul memenuhi pelataran luas. Mereka bukan rakyat biasa yang penuh kepatuhan tenang seperti dinasti ortodoks.

Tatapan mereka penuh dengan ambisi bahkan Penuh nafsu akan kekuatan.

Zhu Ge Ling mengangkat satu tangan, dan dalam sekejap seluruh pelataran menjadi sunyi, sementara tatapannya menyapu kerumunan orang di bawahnya.

Lalu ia membuka suara—

“Dua ratus tahun.”

Suaranya menggema berat.

“Selama dua ratus tahun, Dinasti Cangmo membangun fondasi dalam diam. Menahan diri. Menyembunyikan taring. Menunggu dunia lengah.”

Mata banyak orang di bawah mulai menyala.

Aura haus perang perlahan menyebar.

Bibir Zhu Ge Ling terangkat sedikit lebih tinggi.

“Dan sekarang...”

Ia membuka kedua tangannya ke arah langit kelabu.

“...rencana besar kita hampir matang!”

Sorak-sorai meledak seperti gelombang liar.

Beberapa orang mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi. Yang lain berteriak penuh fanatisme.

Suasana itu tidak terasa seperti pidato seorang kaisar.

Lebih seperti ritual pembuka menuju bencana.

Tatapan Zhu Ge Ling menjadi lebih tajam.

“Dengarkan baik-baik.”

Suara gemuruh massa perlahan mereda lagi.

“Dalam dua puluh... atau paling lambat lima puluh tahun ke depan—”

Ia menurunkan tangannya perlahan.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti janji perang.

“—dunia ini akan berlutut... di bawah kaki Dinasti Cangmo.”

Kali ini, sorakan yang pecah jauh lebih liar.

Dan entah disadari atau tidak oleh dunia luar—

sementara empat dinasti besar memburu satu anak yang diramalkan akan menyatukan dunia...

di sudut lain benua, sebuah dinasti gelap juga sedang menyiapkan dirinya untuk menelan dunia dengan caranya sendiri.

Di wilayah bekas tanah darah dan petir itu, Dinasti Leiting masih berdiri.

Namun bentuknya kini bukan lagi seperti dulu.

Istana utama yang sempat hancur sebagian telah dibangun kembali. Pilar-pilar emas dan aula petir telah diperbaiki. Bendera kekaisaran kembali berkibar di langit. Rakyat melihat semua itu sebagai tanda bahwa Leiting perlahan pulih.

Namun hanya sedikit orang yang tahu—

bahwa beberapa bangunan yang tampak utuh dari luar... sebenarnya telah kehilangan jiwanya dari dalam.

Di sebuah ruangan gelap jauh di dalam istana, hanya satu lampu minyak yang menyala redup.

Di sana, seorang pria duduk di atas kursi tinggi dengan tubuh tegak, diam tanpa bergerak.

Wajahnya tertutup oleh topeng perak yang dingin, memantulkan sedikit cahaya lampu di ruangan remang itu.

Sosok itu adalah kaisar bertopeng Dinasti Leiting.

Di hadapannya, seorang prajurit berlutut dengan kepala tertunduk dalam.

Bahkan dari cara prajurit itu bernapas saja, jelas terlihat bahwa ia sedang menahan ketegangan luar biasa.

“Apakah ada kabar?”

Suara sang kaisar akhirnya terdengar.

Namun cukup dingin untuk membuat tulang belakang siapa pun terasa membeku.

Prajurit itu langsung menjawab,

“Belum ada informasi pasti, Baginda.”

Topeng perak itu tidak bergerak sedikit pun.

Namun entah kenapa, justru diam itulah yang terasa lebih mengerikan.

Prajurit itu buru-buru melanjutkan,

“Tetapi pasukan bayangan kami masih terus menyelidiki. Kami tidak akan berhenti sampai menemukan jejak bayi itu.”

Setelah kalimat itu keluar, ruangan menjadi hening.

Hanya suara lampu minyak yang sesekali berkeretak pelan.

Sang kaisar tetap diam cukup lama.

Lalu akhirnya, dengan nada yang nyaris seperti bisikan dingin, ia berkata—

“Temukan dia.”

Prajurit itu menunduk lebih dalam.

“Baik, Baginda!”

Namun saat pria itu hendak mundur, suara sang kaisar kembali terdengar.

“Dan jika ada orang lain yang lebih dulu menemukannya...”

Prajurit itu diam sesaat.

Aura dingin samar menyebar dari kursi tinggi itu.

Namun cukup untuk membuat napas terasa berat.

“Bunuh mereka.”

Prajurit itu menelan ludah.

“Dipahami, Baginda.”

Ia segera mundur dari ruangan itu tanpa berani mengangkat kepala.

Setelah pintu tertutup, ruangan kembali tenggelam dalam sepi.

Sang kaisar bertopeng tetap duduk dalam diam.

Namun di balik topeng perak itu, sepasang mata perlahan terangkat ke arah kegelapan di ujung ruangan.

Dan untuk sesaat—

sorot matanya tidak terlihat seperti mata seorang penguasa.

Melainkan mata seseorang...

yang sudah kehilangan terlalu banyak hal.

Beberapa Minggu Kemudian

Malam turun di atas dunia dengan tenang.

Di atas sebuah tebing tinggi yang menghadap cakrawala luas, seorang pria duduk sendirian di atas batu besar, ditemani suara angin malam dan lautan awan yang bergerak lambat di kejauhan.

Pria itu adalah Ye Chen.

Jubah gelapnya berkibar pelan tertiup angin. Pedangnya terletak di sampingnya. Wajahnya diterangi cahaya bulan tipis, membuat garis-garis tegas di wajahnya terlihat semakin sunyi.

Sudah beberapa minggu sejak ia meninggalkan Desa Jianxin.

Beberapa minggu sejak ia berjalan menjauh dari seorang anak kecil yang bahkan belum benar-benar mengerti arti perpisahan.

Namun anehnya—

semakin jauh langkahnya dari desa itu...

semakin berat pula bayangan rumah kecil di atas bukit itu tinggal di dalam kepalanya.

Ye Chen menatap langit malam yang luas.

Diam.

Lalu perlahan, ingatannya kembali melayang ke malam berdarah bertahun-tahun lalu.

Api.

Darah.

Tangisan bayi.

Tatapan terakhir Lu Feng.

Dan janji yang tidak pernah ia lupakan sampai hari ini.

Angin malam berembus lebih kencang, menerpa wajahnya.

Ye Chen memejamkan mata sejenak.

Lalu dengan suara pelan yang hanya didengar angin, ia berkata—

“Adikmu sudah tumbuh besar, Lu Feng.”

Suaranya rendah.

Serak oleh sesuatu yang tidak pernah benar-benar sembuh.

“Dia keras kepala.”

Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Suka berlatih sampai tangannya lecet. Sering memaksa dirinya lebih dari yang seharusnya.”

Tatapannya meredup.

“...dan entah kenapa, caranya menatap saat serius sangat mirip denganmu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, keheningan di sekitar Ye Chen terasa seperti percakapan dengan seseorang yang tak lagi hadir.

Ia menatap bulan cukup lama.

Lalu suaranya kembali terdengar.

“Kalau kau masih hidup...”

Nada bicaranya menjadi jauh lebih pelan.

“...maka tetaplah hidup lebih lama.”

Tangannya perlahan mengepal di atas lututnya.

“Agar suatu hari nanti, kau bisa menemuinya sendiri.”

Tatapannya menajam sedikit.

Bukan karena marah.

Tapi karena tekad.

“Karena anak itu... tidak seharusnya tumbuh sendirian.”

Angin berembus lagi.

Membawa pergi kata-kata itu ke langit malam yang luas.

Ye Chen tetap duduk di sana untuk waktu yang lama.

Sendirian.

Diam.

Namun di balik diam itu, ia tahu satu hal dengan sangat jelas—

takdir yang selama tujuh tahun berhasil dijauhkan dari Cang Li...

perlahan mulai bergerak lagi.

Dan saat hari itu benar-benar tiba...

anak kecil di Desa Jianxin itu tidak akan lagi hidup sebagai anak biasa.

End Chapter 9

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!