Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Jam makan siang akhirnya tiba setelah pagi yang sibuk di kantor. Sejak pagi Novita hampir tidak berhenti bekerja. Berkas demi berkas datang ke mejanya, dan ia berusaha menyelesaikan semuanya dengan teliti.
Ia baru saja menyimpan beberapa dokumen ke dalam map ketika Yanti muncul di samping kubikelnya sambil menepuk pelan meja.
"Novita, makan siang yuk," kata Yanti dengan nada santai.
Novita mengangkat kepala dari komputernya. "Di mana?"
"Warteg dekat kantor. Murah, cepat, dan porsinya banyak. Kamu pasti suka," jawab Yanti sambil tersenyum.
Di belakang Yanti berdiri seorang wanita berambut pendek dengan wajah ramah. Wanita itu terlihat santai sambil melipat kedua tangannya.
"Oh iya, kenalin," kata Yanti. "Ini Risa. Temanku... sekaligus sepupuku."
Risa melambaikan tangan kecil. "Halo. Kamu Novita, kan? Pegawai baru di bagian administrasi?"
"Iya," jawab Novita sambil tersenyum sopan. "Senang bertemu denganmu."
"Akhirnya aku lihat juga orang yang katanya rajin banget itu," kata Risa bercanda.
Novita tertawa kecil. "Ah, tidak juga. Aku cuma berusaha tidak membuat kesalahan di hari pertama."
"Bagus," kata Yanti. "Kalau begitu ayo sebelum wartegnya kehabisan lauk enak."
Tak lama kemudian mereka bertiga berjalan keluar dari gedung kantor menuju warteg kecil di seberang jalan. Tempat itu sederhana dengan meja-meja kayu panjang, tetapi hampir selalu ramai oleh pegawai kantor setiap jam makan siang.
Begitu mereka masuk, aroma berbagai lauk langsung menyambut mereka.
Ayam goreng, telur balado, tumis sayur, sambal, dan berbagai lauk lain tertata rapi di balik kaca etalase.
"Aku ambil ayam goreng sama tumis buncis," kata Yanti sambil menunjuk.
"Kalau aku tempe, telur balado, sama sayur lodeh," tambah Risa.
Novita memperhatikan deretan makanan itu dengan mata berbinar.
"Banyak juga pilihannya," gumamnya.
"Tenang saja," kata Yanti sambil tertawa kecil. "Di sini hampir semua enak."
Setelah mengambil makanan masing-masing, mereka duduk di meja kosong di pojok ruangan.
Untuk beberapa menit pertama mereka hanya fokus makan.
"Kamu tinggal di mana, Novita?" tanya Risa akhirnya.
"Di kost dekat kantor," jawab Novita.
Risa mengangkat alis. "Serius? Sendirian?"
"Iya. Tapi sebenarnya aku dari Tangerang Selatan."
"Lumayan jauh juga," kata Yanti sambil mengangguk. "Berarti kamu merantau, ya."
Novita tersenyum kecil. "Bisa dibilang begitu."
Risa menunjuk Yanti dengan sumpitnya.
"Kalau aku sama dia tinggal bareng."
"Karena kami sepupu," kata Yanti menambahkan. "Daripada bayar dua tempat, lebih baik satu saja."
"Lebih hemat," kata Risa sambil tertawa.
Percakapan mereka mengalir santai. Dari makanan, tempat tinggal, hingga cerita-cerita kecil tentang kantor.
Yanti tiba-tiba menatap Novita dengan ekspresi sedikit serius.
"Ngomong-ngomong," katanya, "aku senang kamu tidak seperti pegawai sebelumnya."
Novita mengangkat alis. "Maksudnya?"
"Yang lama itu... kerja sedikit, mengeluh banyak," kata Yanti sambil menggeleng. "Setiap hari ada saja yang dikeluhkan."
Risa mengangguk setuju.
"Padahal masuk perusahaan sebesar ini tidak mudah."
Novita mengangguk pelan.
"Makanya aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini," katanya. "Perusahaan ini besar. Pengalaman di sini pasti berharga untuk masa depanku."
Yanti tersenyum puas mendengar itu.
"Bagus. Mental seperti itu yang dibutuhkan di sini."
Namun Risa tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan dan menurunkan suaranya.
"Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu," katanya pelan.
"Apa?" tanya Novita penasaran.
Risa menatap ke kiri dan kanan seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
"Pangeran tiran di kantor ini."
Novita mengerutkan kening.
"Pangeran tiran?"
Yanti tertawa kecil.
"Itu julukan untuk direktur administrasi kita."
"Kenapa disebut begitu?"
Yanti menyandarkan punggungnya di kursi.
"Karena dia tampan sekali," katanya. "Tinggi, rapi, wajahnya seperti model majalah. Kalau pertama kali lihat, kamu pasti pikir dia seperti pangeran."
"Tapi?" tanya Novita.
"Tapi sifatnya..." Yanti berhenti sejenak. "Benar-benar kejam terhadap pegawai."
Risa menghela napas.
"Kalau kamu buat kesalahan kecil saja, siap-siap kena omelan."
"Bahkan bukan cuma omelan," tambah Yanti. "Kadang dia langsung memanggil orang ke ruangannya dan membongkar semua pekerjaan mereka."
Novita sedikit terkejut.
"Se-serius itu?"
"Intinya," kata Yanti sambil menunjuk Novita dengan sendoknya, "jangan terbuai wajah tampannya. Dia itu bencana di perusahaan ini."
Risa mengangguk cepat.
"Sudah ada tujuh pegawai yang keluar karena tidak tahan menghadapi dia."
Novita terdiam beberapa detik.
Namun kemudian ia tersenyum tipis.
"Kalau cuma tekanan kerja, aku tidak akan mundur," katanya tenang. "Aku tidak datang jauh-jauh hanya untuk menyerah."
Yanti dan Risa saling bertukar pandang.
"Semangatmu bagus," kata Yanti akhirnya. "Tapi tetap hati-hati."
Tak lama kemudian jam makan siang hampir selesai.
"Ayo balik," kata Risa sambil berdiri. "Nanti telat."
Mereka bertiga kembali ke gedung kantor.
Namun ketika sampai di depan lift, mereka melihat antrian panjang pegawai yang menunggu.
Beberapa detik kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Orang-orang yang tadinya mengantri tiba-tiba bubar begitu saja.
"Eh?" gumam Novita.
Sebagian dari mereka bahkan langsung berjalan menuju tangga darurat.
Yanti menghela napas panjang.
"Aduh..."
"Kenapa?" tanya Novita.
"Karena bencana itu sedang ada di lift," kata Yanti pelan.
Risa langsung menarik lengan Novita.
"Ayo kita pakai tangga saja."
"Kenapa?" tanya Novita heran.
"Percayalah," kata Risa. "Lebih aman begitu."
Namun rasa penasaran Novita justru semakin besar.
"Aku ingin lihat," katanya.
"Novita," kata Yanti dengan nada pasrah. "Serius?"
Novita mengangguk.
"Aku cuma naik lift. Tidak mungkin langsung dimarahi, kan?"
Yanti menutup wajahnya dengan tangan.
"Kamu ini benar-benar aneh."
Namun sebelum mereka bisa menahannya lagi, Novita sudah melangkah masuk ke dalam lift.
Pintu hampir menutup ketika dia melihat sosok di dalamnya.
Seorang pria berdiri di sudut lift.
Tinggi.
Memakai setelan jas hitam yang terlihat mahal.
Rambutnya rapi.
Wajahnya tenang saat menatap layar ponselnya.
Detik berikutnya jantung Novita berdegup keras.
Ada sesuatu yang sangat familiar dari wajah itu.
Ingatan lama tiba-tiba muncul.
Pria itu...
Arya.
Mantan kekasihnya saat kuliah.
Pria yang dulu pernah menolongnya ketika ia tidak sengaja merusak barang di sebuah toko elektronik dan tidak mampu membayarnya.
Arya yang diam-diam meminjamkan uang kepadanya waktu itu.
Novita langsung panik.
"Astaga..."
Ia refleks berbalik hendak keluar dari lift.
Namun pintu sudah tertutup.
Lift mulai bergerak naik.
Ruang sempit itu tiba-tiba terasa sangat menyesakkan.
Novita berdiri kaku di sampingnya.
Sementara pria itu tampak sama sekali tidak peduli.
Matanya tetap fokus pada ponselnya.
Seolah tidak ada orang lain di dalam lift itu.
Novita menelan ludah pelan.
"Tenang... tenang..." gumamnya dalam hati.
Ia memalingkan wajah ke arah lain.
Berpura-pura tidak mengenal pria itu.
Namun tiba-tiba pria itu berbicara.
"Kamu pegawai baru?" tanyanya datar.
Suara itu membuat Novita menegang.
Ia menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Iya... Pak," katanya pelan.
Pria itu akhirnya mengalihkan pandangan dari ponselnya dan menatap Novita sekilas.
Tatapan itu tajam namun dingin.
"Divisi apa?"
"Administrasi," jawab Novita.
Pria itu mengangguk pelan.
"Setelah ini datang ke kantor saya," katanya singkat.
Jantung Novita langsung jatuh ke perutnya.
"Ba-baik, Pak," jawabnya kaku.
Lift akhirnya berhenti di lantai tujuan.
Pria itu keluar lebih dulu tanpa mengatakan apa pun lagi.
Novita berdiri beberapa detik di dalam lift dengan wajah pucat.
Ia benar-benar menyesal.
Andai saja tadi ia mendengarkan kata-kata Yanti.
Sekarang ia justru harus menemui pria yang paling tidak ingin ia temui.
Pria yang dulu pernah begitu dekat dengannya.
Dan pria yang kini dikenal seluruh kantor sebagai pangeran tiran.