Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 7
Kabar berita pernikahan Ning Alyana tersebar begitu cepat di seluruh penjuru pondok.
Nyatanya, walaupun hanya di lakukan akad saja.Namun persiapan yang hanya beberapa jam itu tak kalah ramai dengan persiapan beberapa hari.
Masalah makanan dan yang lainnya menjadi urusan kecil bagi Umma Zura.Begitupun dari pihak Altheza yang tidak ingin pernikahan sang anak laki-laki satu-satunya itu biasa-biasa saja. Apalagi yang akan di nikahi seorang Ning dari anak dan cucu pemilik nama besar di dunia perbisnisan.
Ia tak ingin mempermalukan keluarganya dan keluarga Alfath, makanya ia langsung menghubungi asisten dan juga keluarganya.
Di pondok, nampak suasana mendadak ramai.Beberapa santriwan dan santriwati membantu mempersiapkan acara sang cucu pemilik pesantren itu.
Seperti biasa, aula pondok menjadi tempat berlangsungnya acara.Aula yang biasanya polos kini berubah menjadi mewah hanya dalam waktu dua jam.
"Dad,maaf Al merepotkan." Ucap Al pada Daddy Naufal karena mengubungi sang daddy mendadak dan langsung meminta pertolongan sang daddy untuk mencari WO dadakan.
"It's Ok boy, Alya cucu daddy ini sudah menjadi tugas daddy juga." Jawab Daddy Naufal.
Ia mengusap pelan pundak Al. "Daddy percaya semua akan baik-baik saja.Dan kamu, jangan terus menyalahkan diri. Ini semua takdir dari Allah SWT. Serahkan semuanya pada Allah SWT, semua pasti akan ada hikmahnya. "
"Iya, dad." Al kembali menghela nafas berat. "aku hanya bingung akan seperti apa Alya kedepannya, umur dia masih sangat muda.Al gak kebayang di saat anak-anak seumurannya masih bebas bermain, tapi Alya mempunyai tanggung jawab lain."
"Daddy mengerti,percaya sama daddy walaupun Alya menikah tapi baginya kamu akan tetap menjadi laki-laki nomor satu di hidupnya."
Tak lama Gus Ilham datang bersama Ustadz Yusuf. "Benar apa yang di katakan Naufal,kamu jangan takut.Kamu juga tau kan kalau Ayah itu adalah cinta pertama anak perempuannya.Dalam Islam pun, ada dalil yang menunjukan betapa pentingnya peran seorang ayah dalam kehidupan anaknya. Rasulullah bersabda:“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)."
"Seorang ayah tidak akan kehilangan anak perempuannya walaupun sudah menikah.Ia memang berpindah tanggung jawab dan mendapatkan nafkah dari suaminya.Tapi kasih sayang, doa, dan hubungan dengan ayahnya tidak pernah hilang.Ia tetap wajib berbakti dan menghormati orang tuanya.Jadi, walaupun Alya sudah menikah.. Alya akan tetap menjadi Alya kita."
Ala membeku, hatinya sedikit tenang mendengar ucapan sang Abi.
"Iya,bi..Al akan mencoba ikhlas."
Abi Ilham hanya mengangguk, ia tau bagaimana perasaan sang anak karena dirinya pun pernah berada di posisi Al.Saat Zulva, anak bungsunya di khitbah ia pun butuh waktu untuk mengikhlaskan anak perempuan satu-satunya itu. Namun, seiring berjalannya waktu dan melihat kebahagiaan sang anak membuat dirinya bisa cepat menerima semuanya.
Al menoleh pada sang kaka ipar yang juga ikut melihat proses persiapan di aula. "Hyung, Appa bagaimana?"
"Appa tidak mungkin tiba tepat waktu, apalagi saat ini Appa baru saja sehat.Jadi aku minta Appa datang besok saja." Jawab Arka,ia ikut menghela nafas berat. "Yang aku bingung,Arsyaka.." Lanjutnya.
Al terdiam, ia tau apa yang di maksud dang kaka ipar."Lebih baik jangan dulu di beri tau,Hyung tau kan gimana posesif nya Arsyaka sama mbaknya.Melihat Alya tergores pisau dapur aja dia langsung ngamuk sama maid.Apalagi kalau tau kejadian ini."
"Benar kata Al, jangan dulu di kasih tau Ar. Daddy juga dengarnya ngeri-ngeri sedap.Umurnya masih bocil tapi badannya udah kaya gapura desa aja anak kamu itu.Cucu daddy yang satu itu emang luar biasa."
"Iya, dad.Arkana belum kasih tau."
Di area dapur pondok, para wanita sedang sibuk menata berbagai makanan yang di kirim cafe dan resto milik Umma Zura.
"Aku gak nyangka Ning Alya menikah cepat." Ujar salah satu santri.
"Aku penasaran siapa laki-laki yang beruntung dapat Ning Alya."
"Iya betul.Beruntung banget ya dapat Ning Alya, yang cantiknya Masyaa Allah terus juga baik, sabar, lembut,ramah seperti Bunda Alisya."
"Ustadzah setuju,Ning Alya pokoknya paket lengkap.Ustadzah aja bangga bisa kenal dan mengajar Ning Alya yang Masyaa Allah pinter banget." Jawab Ustadzah yang juga menjadi salah satu guru untuk Alyana.
"Tapi Ustadzah, Ning Alya kan nikahnya karena insiden.Berarti Ning Alya bukan lagi gadis baik-baik dong.Dia udah kotor loh karena memperlihatkan auratnya pada laki-laki yang bukan mahramnya." Ujar salah satu santri yang nampak tidak suka melihat Alyana menjadi primadona di pondok pesantren tersebut.
"Astaghfirullah, di jaga mulutnya Ainun.Kalau di dengar Kyai dan keluarga gimana? Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu? Kejadian itu bukan di sengaja,dan Alya sama sekali tidak salah" Bela salah satu santri lain.
"Tapi tetap saja nikahnya karena Insiden, pasti laki-laki nya juga gak jelas asal usulnya kan katanya cuma orang lewat aja."
"Astaghfirullahalazim, sudah-sudah. Tidak baik berbicara tentang hal yang bahkan kita tidak tau kebenarannya bagaimana.Nanti jatuhnya jadi fitnah.Lebih baik kita cepat selesaikan, takutnya keburu mulai acaranya." Lerai Ustadzah.
Lain hal nya di kamar Alyana,kini dirinya baru saja selesai sholat. Ditemani Alisya sang bunda yang sejak tadi tak pernah sedetik pun meninggalkannya.
"Bun," Panggil Alyana pada sang Bunda.
"Iya,nak." Jawab Alisya, kemudian menarik sang anak agar duduk di sisinya.
"Bun, akan bagimana ya hidup Alya kedepannya." Tanya Alyana lirih,
"Mbak Aya percaya sama takdir Allah? Qada dan Qadar Allah? "
Alyana diam terpaku, kepalanya menoleh ke arah sang bunda.
"Pernikahan juga termasuk bagian dari takdir Allah, jodoh sudah diketahui dan ditetapkan oleh Allah. Jodoh tidak akan tertukar.Tidak akan datang sebelum waktunya.Tidak akan melewati apa yang sudah Allah tetapkan." Ucap Alisya mengusap lembut tangan sang anak. "kita mungkin merasa belum siap.Kita mungkin takut atau bingung.Tapi Allah tidak pernah salah memilihkan takdir untuk hamba-Nya."
Alyana menatap kedua bola mata sang Bunda yang warnanya sama persis dengan dirinya. "Sabar bukan berarti tidak sedih.Tapi,dengan sabar kita akan percaya bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, walaupun hati belum mengerti sekarang.“Qaddarallahu wa ma syaa’a fa‘al”(Allah telah menakdirkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi). "
Alisya menggenggam kedua tangan Alyana yang terasa dingin. "Percayalah nak, Kadang kita belum siap… tapi Allah sudah tahu kita mampu"
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.