NovelToon NovelToon
ISTRIKU TERNYATA SULTAN

ISTRIKU TERNYATA SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
​Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
​Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
​Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
​Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Episode 7: Tamu Tak Diundang di Ruang Rapat

​Ruang rapat berkaca transparan di lantai 15 itu terasa dingin karena AC sentral, tapi bagi Rio Pratama, ruangan itu adalah panggung pertunjukannya.

​"Jadi, strategi pemasaran kita untuk kuartal depan akan fokus pada segmen milenial..."

​Rio berdiri tegak di depan layar proyektor, satu tangan di saku celana, tangan lain memegang pointer. Dia bicara dengan lancar, penuh percaya diri. Matanya sesekali melirik ke arah Siska yang duduk di ujung meja. Wanita itu tersenyum manis, memberikannya kode jempol sembunyi-sembunyi.

​Rio merasa di atas angin.

Lihat kan? Tanpa beban di rumah (baca: Kara), otaknya jadi encer. Dia merasa karismanya meningkat sepuluh kali lipat.

​"Presentasi yang bagus, Rio," puji Pak Herman, manajer divisi mereka. "Saya suka ide kamu."

​Rio tersenyum lebar. "Terima kasih, Pak. Saya cuma berusaha memberik—"

​Tok! Tok! Tok!

​Pintu kaca ruang rapat diketuk buru-buru. Rara, resepsionis kantor yang biasanya kalem, muncul dengan wajah pucat pasi. Dia membuka pintu sedikit.

​"Maaf Pak Herman, Mas Rio... Maaf mengganggu meeting-nya."

​Pak Herman melotot. "Rara? Kita lagi meeting penting. Kenapa nggak nunggu nanti?"

​"Itu, Pak... Ada tamu. Katanya urgent banget mau ketemu Mas Rio. Saya udah bilang tunggu di lobi, tapi mereka memaksa mau masuk ke sini."

​Jantung Rio berdegup. Tamu? Memaksa masuk?

Pikirannya langsung tertuju pada satu nama: Kara.

​Siapa lagi yang senekat itu kalau bukan perempuan kampung yang kurang pendidikan itu? Pasti Kara datang mau minta maaf. Pasti dia mau bikin adegan drama nangis-nangis sambil sujud di kaki Rio supaya tidak dicerai.

​Rio mendengus sinis. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan.

Dasar perempuan nggak tau malu. Mau mempermalukan diri sendiri? Oke, aku kasih panggung.

​"Nggak apa-apa, Pak Herman," potong Rio sok bijak. "Sepertinya itu urusan domestik saya. Biasa, istri saya mungkin agak... emosional karena saya lembur terus."

​Rio melirik Siska sekilas, lalu menoleh ke Rara. "Suruh masuk aja, Ra. Biar cepet selesai."

​Rara terlihat ragu. "Ta-tapi Mas..."

​"Suruh masuk," perintah Rio tegas.

​Rara menyingkir dari pintu. "Silakan, Pak."

​Rio sudah menyiapkan pose cool-nya. Dia bersiap menyambut Kara yang lusuh dengan kalimat pedas, "Ngapain kamu ke sini? Nggak malu liat baju kamu?"

​Tapi, kalimat itu tersangkut di tenggorokan.

​Yang melangkah masuk bukanlah wanita berkaos partai dan bersandal jepit.

​Dua orang pria bertubuh tegap melangkah masuk. Mereka mengenakan setelan jas navy yang potongannya sangat rapi—jelas bukan jas murah tanah abang, tapi jas tailor mahal yang harganya mungkin setara motor Rio. Sepatu pantofel mereka mengkilap, dan di tangan mereka tergenggam tas kerja kulit branded.

​Aura mereka dingin, profesional, dan mengintimidasi.

​Suasana ruang rapat hening seketika. Pak Herman sampai membetulkan kacamatanya. Siska menahan napas.

​Salah satu pria itu—yang terlihat lebih senior dengan rambut klimis—berjalan mendekati Rio. Dia tidak tersenyum.

​"Apakah benar ini Saudara Rio Pratama?" tanyanya. Suaranya bariton, tegas, dan bergema di ruangan sunyi itu.

​Rio mengerjap bingung. Nyalinya ciut sedikit. "I-iya. Saya sendiri. Kalian siapa? Debt collector?"

​Pria itu tidak menjawab pertanyaan konyol Rio. Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dengan logo emas di sudutnya: Hadiprana & Partners Law Firm.

​Semua orang di ruangan itu tahu nama itu. Firma hukum paling elit di Jakarta yang tarif konsultasinya per jam saja pakai mata uang dolar.

​"Kami adalah kuasa hukum dari klien kami, Ibu Kara Anindita," ucap pengacara itu lantang. Sengaja. Supaya satu ruangan dengar.

​"Kami di sini untuk menyerahkan surat gugatan cerai dan panggilan sidang pertama."

​JEDER.

​Amplop itu disodorkan ke dada Rio. Rio menerimanya dengan tangan gemetar, refleks.

​"Hah?" Mulut Rio menganga. "Kara? Kuasa hukum?"

​Rio tertawa. Tawa yang dipaksakan dan terdengar panik. "Tunggu, tunggu... Ini prank ya? Kalian aktor bayaran kan? Mana kameranya?"

​Rio menatap teman-temannya. "Guys, ini pasti prank. Kara itu... istri saya itu nggak punya duit! Boro-boro nyewa Hadiprana, buat beli beras aja dia minta duit saya!"

​Rio menatap pengacara itu dengan tatapan menuduh. "Siapa yang bayar kalian? Kara jual apa? Jual ginjal? Atau kalian ditipu sama dia?"

​Pengacara itu menatap Rio dengan tatapan yang membuat Rio merasa seperti kecoak. Tatapan iba bercampur jijik.

​"Saudara Rio," jawab pengacara itu tenang namun menusuk. "Masalah biaya, Anda tidak perlu khawatir. Klien kami sangat mampu membayar jasa kami. Bahkan untuk membeli gedung kantor tempat Anda berdiri sekarang pun, beliau mampu."

​Hening.

Kalimat itu menggantung di udara.

​"Tolong dipelajari isinya. Jika Anda tidak hadir di sidang pertama, putusan verstek akan diambil. Permisi."

​Tanpa menunggu jawaban Rio, kedua pengacara itu membungkuk sopan pada Pak Herman, lalu berbalik dan melangkah keluar dengan gagah.

​Pintu tertutup kembali.

​Ruangan rapat itu sunyi senyap. Semua mata tertuju pada Rio.

​Rio berdiri mematung memegang amplop cokelat itu. Wajahnya merah padam. Antara malu, marah, dan bingung setengah mati.

​"Rio..." Pak Herman memecah keheningan, suaranya canggung. "Sebaiknya... kamu selesaikan dulu masalah pribadimu. Meeting kita tunda dulu."

​"Ta-tapi Pak..."

​"Keluar, Rio," tegas Pak Herman. "Jangan bawa drama rumah tangga ke kantor."

​Rio menunduk. Dia membereskan laptopnya dengan tangan gemetar. Saat dia berjalan keluar, dia bisa mendengar bisik-bisik rekan kerjanya.

​"Gila, istrinya sewa Hadiprana? Katanya istrinya orang kampung?"

"Jangan-jangan selama ini Rio bohong?"

"Duh, malu banget digugat cerai di depan bos..."

​Dan yang paling menyakitkan, saat Rio melirik Siska... wanita itu memalingkan wajah. Siska pura-pura sibuk mencatat di bukunya, tidak mau melakukan kontak mata dengan Rio.

​Rio berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat.

Di koridor yang sepi, dia meremas amplop itu sampai lecek.

​"Bangsat!" desisnya. "Dapet duit dari mana kamu, Kara?! Simpenan om-om mana kamu sekarang?!"

​Rio tidak sadar, kehancurannya baru saja dimulai. Dan dia masih terlalu bodoh untuk menyadari siapa lawan yang sedang dia hadapi.

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...

...****************...

1
Night Watcher
terasa loncat ya thor.. tau2 mamanya kabur krn malu (kenapa?), tau2 nikah gak rencana & berunding..🤭🤭💪👌
kanjooot..
Night Watcher
loo clarisa blm ketangkep polisi too?
Arieee
mantap🤣
stela aza
lanjut thor
Night Watcher
😆😆😆🤭
Night Watcher
lah.. selama ini, ibunya rio gak punya rumah thor?
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏
Night Watcher
asyik keknya.. satset gak byk meleber.. 👌
Night Watcher
ngintip dulu...
Ma Em
Makanya Rio jadi orang jgn banyak tingkah , baru merasa senang sedikit sdh belagu selingkuh sekarang menyesal saja kamu sampai mati tapi Kara tdk akan pernah kembali lagi pada lelaki mokondo .
Ma Em
Kara kalau Rio datang langsung usir saja jgn dikasih kesempatan untuk bilang apapun .
Ma Em
Rio baru jadi menejer saja sdh sombong ga ingat waktu hdp susah bersama Kara setelah hdp nya baru senang sedikit sdh lupa sama istri yg nemenin dari nol dan malah selingkuh , Rio kamu pasti akan menyesal setelah tau siapa Kara Anindita yg selalu kamu hina itu .
tanty rahayu: emang gak tau diri tuh cowok 😔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!