Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Malam itu hujan turun pelan, mengetuk kaca jendela kamar anak-anak. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah setiap orang berjalan di jalurnya sendiri.
Melati berdiri di depan kamar anak pertama. Tangannya terangkat, ragu, lalu mengetuk pelan.
“Masuk,” sahut suara dari dalam. Datar.
Melati membuka pintu. Anak itu duduk di atas ranjang, tas sekolah tergeletak sembarangan. Wajahnya menunduk, sibuk dengan buku tulis.
“Kak,” panggil Melati pelan. “PR-mu belum dikerjakan?”
“Aku bisa sendiri,” jawabnya cepat, tanpa menoleh.
Melati mengangguk kecil. Ia melangkah masuk, mengambil buku itu dengan hati-hati. “Mama cuma mau bantu.”
Anak itu menutup bukunya tiba-tiba. Gerakannya kasar.
“Jangan panggil diri kamu Mama,” katanya dingin. “Aku masih punya Mama.”
Kalimat itu jatuh keras, tepat di dada Melati.Ia terdiam sejenak, menelan luka yang datang mendadak. “Iya,” katanya akhirnya. “Kamu benar.”
Melati berbalik hendak keluar, tapi suara itu kembali terdengar.
“Kamu cuma ada di sini karena Papa disuruh nikah,” ucapnya lirih, tapi jelas. “Bukan karena kami.”
Langkah Melati berhenti. Ia tidak berbalik.
“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Makanya aku nggak pernah maksa.”
Anak itu tertawa kecil. Bukan tawa senang. Lebih seperti mengejek.
“Percuma baik. Nanti juga kamu pergi kayak Mama yang dulu.”
Kata pergi itu menggantung lama di udara, anak sekecil itu seolah tahu rasa kehilangan yang begitu menyakitkan, meskipun ia tak tahu cerita sebenarnya.
Melati menutup pintu pelan. Baru setelah sampai dapur, ia bersandar di dinding. Dadanya sesak. Bukan karena marah, tapi karena satu kalimat itu terlalu jujur untuk anak seusianya.
"Ya Allah, kuatkan aku," katanya pelan. "Aku menikah dengan seorang pria yang masih belum sembuh dari masa lalunya."
☘️☘️☘️☘️
Di ruang kerja, Cokro menghentikan gerakan tangannya. Dari balik pintu yang setengah terbuka, ia mendengar semuanya.
Setiap kata yang terlontar. Ia menutup mata. Rahangnya mengeras. Ia tahu anaknya kejam. Tapi ia juga tahu—kata-kata itu bukan lahir dari benci, melainkan dari kehilangan yang tak pernah sembuh.
Beberapa menit kemudian, Cokro keluar, menyusul Melati yang sedang menuang air minum di dapur. Tangannya sedikit gemetar.
“Jangan masuk ke kamar dia lagi,” ucap Cokro datar.
Melati menoleh. “Dia butuh ditemani.”
“Tidak.” Nada Cokro tegas. “Dia tidak minta.”
Melati menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya, ia memberanikan diri.
“Mas,” katanya pelan. “Aku disakiti oleh anakmu, tapi aku tidak marah.”
Cokro menegang, rahangnya mengeras, namum dia tidak bisa berbuat apapun, hanya mendengar.
“Aku cuma ingin kamu tahu,” lanjut Melati. “Aku nggak datang ke rumah ini untuk menggantikan siapa pun. Tapi aku juga manusia.”
Sunyi, menyelip diantara keduanya, Cokro menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang bergetar amarah, rasa bersalah, juga ketakutan yang tidak ia ucapkan.
“Kalau kamu terluka,” katanya akhirnya, “itu risiko yang kamu pilih sendiri.”
Melati tersenyum kecil. Pahit. “Aku tahu.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Cokro berdiri sendiri di dapur.
Untuk pertama kalinya, pria itu merasa rumahnya tidak dingin karena cuaca melainkan karena ia membiarkan seseorang berjuang sendirian di dalamnya.
Dan malam itu, Cokro tidak bisa tidur.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya, seperti biasa Melati sudah sibuk di dapur, tangannya dengan cekatan mencoba untuk memasak menu kesukaan keluarga ini.
Melati tersenyum simpul saat ia mencicipi makanan yang sudah mata. "Semuanya sudah terasa pas," gumam Melati.
Ia melangkah sambil mengangkat masakan satu persatu ke meja makan sambil dibantu Bi Sum, langkahnya terhenti ketika suara kecil itu memanggil namanya.
"Mama ...!" seru bocah lima tahun itu dengan ceria.
Melati meletakkan mangkuk yang berisi sup ayam ke meja. "Selamat pagi Sayang," ujar Melati.
"Selamat pagi juga Ma," sahut anak kedua.
Seketika anak itu mulai melirik hidangan yang melati masak. "Wiiih aromanya," ujarnya begitu polos.
"Adek suka," kata Melati pelan.
"Suka dong, memang Mama gak meriksa kalau bekal Adek kemarin kosong," cerita anak itu.
Melati terkekeh kecil. "Maaf ya Nak, Mama gak meriksa, karena sudah dipegang Bi Sum," sahut Melati.
"Gak apa-apa."
Anak itu melangkah sedikit, lalu duduk di kursi makan, dengan santai ia meminta Melati untuk mengambilkan nasi, dan juga lauk yang di masak oleh ibu sambungnya itu.
"Ma," panggilnya pelan.
"Iya Nak," sahut Melati.
"Jangan pernah berhenti masak," pinta anak itu.
Kata itu sederhana, nyaris terlalu sederhana, tapi terasa sampai di dalam hati Melati, ia melihat Mahesa seperti anak yang butuh figur seorang ibu, dan dia tidak gengsi untuk mengakuinya.
"Iya Nak, Mama akan masak setiap hari untuk keluarga ini," sahut Melati.
"Enggak, itu hanya untuk Adek saja, tidak untukku dan juga Papa," suara itu terdengar dari arah belakang.
Mahendra berdiri di ambang pintu ruang makan. Seragam sekolahnya sudah rapi, tas tersampir di satu bahu. Tatapannya tidak tertuju pada Melati, melainkan pada piring di meja seolah keberadaan perempuan itu tidak perlu diakui.
Mahesa berhenti menyuap. Sendoknya menggantung di udara.
Melati membeku sejenak, lalu perlahan menoleh. Senyumnya masih ada, tapi jauh lebih tipis.
“Masak itu bukan soal untuk siapa,” ucapnya pelan. “Ini rumah. Kalau ada makanan, semua berhak.”
Mahendra mendengus kecil. “Aku nggak minta.”
Ia menarik kursi, duduk, lalu mendorong piringnya menjauh sebelum sempat disentuh apa pun.
Tak lama kemudian langkah kaki dewasa terdengar. Cokro muncul, kemeja kerjanya sudah terpasang rapi, wajahnya tetap dengan ekspresi yang sama dingin, terkendali.
Ia melihat sekilas meja makan. Melihat Mahendra yang tidak menyentuh makanan. Melihat Mahesa yang menunduk.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
Mahendra menjawab lebih dulu. “Aku nggak mau makan.”
Cokro mengangguk. “Kalau nggak mau, ya sudah.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Ringan. Tapi menghantam tepat ke dada Melati.
Ia menoleh ke arah Cokro. Untuk pertama kalinya pagi itu, nada suaranya berubah. Tidak meninggi, tapi tegas.
“Mas,” panggilnya.
Cokro menatapnya. “Kenapa?”
“Kalau soal makanan, jangan ajari anak untuk menolak dengan cara merendahkan,” ucap Melati. “Aku masak bukan untuk dipamerkan. Tapi juga bukan untuk dipatahkan di depan meja.”
Mahendra mengangkat wajahnya cepat. Tidak menyangka.
Cokro mengerutkan kening. “Kamu berlebihan.”
Melati menggeleng pelan. “Tidak. Aku cuma sedang jujur.”
Ia melangkah satu langkah mendekat ke meja makan. Menatap Mahendra, lalu Cokro, bergantian.
“Aku tidak minta dipanggil Mama,” lanjutnya. “Aku tidak minta diterima. Tapi aku juga tidak akan mengajarkan pada anak-anak bahwa usaha orang lain boleh diremehkan begitu saja.”
Mahesa menoleh dengan mata membulat. Tangannya refleks menarik ujung baju Melati.
Cokro terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras.
“Mahendra,” katanya akhirnya. “Makan atau tidak, itu pilihanmu.”
Lalu ia menoleh ke Melati. “Dan kamu—”
“Aku tetap akan masak,” potong Melati. Suaranya tetap tenang, tapi kini tak tergoyahkan. “Karena itu caraku bertahan di rumah ini.”
Sunyi menyelimuti ruang makan. Mahendra akhirnya berdiri. Ia mengambil tasnya tanpa menyentuh piring, lalu berjalan pergi tanpa pamit.
Mahesa menatap Melati dengan raut cemas. “Ma…?”
Melati mengusap kepala bocah itu lembut. “Makan saja, Nak.”
Cokro menatap Melati lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di matanya bukan marah, bukan pula dingin sepenuhnya. Sejenis keterkejutan yang tidak ingin ia akui.
“Ayo,” katanya pada Mahesa. “Kita berangkat.”
Saat mereka pergi, Melati tetap berdiri di tempatnya. Tangannya sedikit gemetar, tapi punggungnya tegak.
Ia tidak mundur. Dan untuk pertama kalinya pula, Cokro menyadari perempuan ini tidak selemah yang ia kira.
Bersambung ....
Selamat pagi semoga suka ya