Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pernikahan
Suasana berbeda di rumah lain. Dengan menggunakan bantuan tripod. Nuha tengah berlatih memoles wajahnya sambil menonton live seorang beauty blogger. Semua ia lakukan agar bisa menggunakan make up dengan rapi seperti orang-orang.
Sebenarnya, jika hanya make up basic ibu tiga anak itu udah bisa. Namun baginya masih kurang, karena Nuha ingin look yang natural agar wajahnya tak terlihat lebih tua setelah menggunakan make up.
sementara di belakangnya, dengan jarak lebih dari dua meter, pria berkaos oblong dengan sarung terus memperhatikannya dengan ekspresi datar.
"Aa ngapain sih, di situ? Nuha jadi nggak leluasa."
"Rebahan," jawabnya singkat
"Rebahaan tapi ngeliatnya kesini terus," protes Nuha yang sudah hampir selesai. Matanya sesekali terkecoh untuk melihat suaminya yang terlihat dari pantulan cermin. "Aa, ih..."
"Naon, sih?" Faqih beralih posisi ke duduk.
"Jangan ngeliat...."
"Ya gimana? fungsinya mata kan untuk melihat, bukan buat makan, Neng "
"Maksudku, akunya jangan di liatin terus. Bikin jadi nggak fokus buat belajar."
"Belajar pake begitu biar apa sih? Udah sini..."
"Aa, nih..." balas Nuha.
"Neng?"
"Hemm..."
"Kok cuma Hemmm di panggil suami, juga! sini nggak?"
Nuha menghela nafas. Kemudian bangkit dan mendekati suaminya yang dudu di tepi ranjang.
"Buat siapa sih kamu dandan begini?" Faqih menyambutnya dengan cara meminta Nuha duduk di depannya.
"Ya nggak buat siapa-siapa juga, A. Untuk kesenangan diri aku sendiri. Aku cuma mau bisa dandan natural biar wajahku terlihat lebih segar."
"Wajahmu udah bagus dengan riasan seadanya seperti biasa. Jadi ngapain harus di tambah-tambahin. Kamu kan tau Aa nggak suka kalau kamu berias berlebihan. Tabaruj, Neng."
"Niatnya aku cuma pengen terlihat cantik buat keacara nikahan Kak Zahra besok." Nuha menunduk, berbicara sambil memajukan bibirnya.
"Emang ada gitu, yang bilang istri Aa ini nggak cantik? Itu kan cuma di perasaan kamu aja."
Nuha bergeming. Perempuan itu sedikit kesal ketika sang suami bukannya menghargai usahanya malah justru mematahkan semangatnya. Sehingga tangannya bergerak mengusap-usap wajah bertujuan untuk menghapusnya. Kedua tangan Faqih langsung menahannya, sebelum kembali mendekapnya.
"Kamu marah ya?"
"Nggak—" jawabnya ketus.
"Jujur aja riasanmu tadi bikin kamu terlihat lebih cantik lagi dari biasanya, Neng." Bisik Faqih. "Dan karena itu juga yang membuat Aa kesal."
"Istri cantik kok kesal." Nada bicara Nuha masih terdengar ketus.
"Wajar dong. Tanda Aa cemburu kalau nanti kecantikan mu malah jadi konsumsi publik."
"Lebay!" Nuha menahan senyum di bibirnya
"Serius. Umanya anak-anakku ini udah cantik tanpa riasan berlebihan. Jadi nggak usah kamu belajar begini-begini, Ya Habbibati..." Faqih memberi kecupan di kepala.
"Emang Aa nggak bosen? Aa pasti pengen kan, sekali-kali liat istrinya berias."
"Pengen, tapi nggak yang terlalu. Jangan meniru-niru kebiasan orang lain untuk berlebih-lebihan dalam merias diri. Karena dosa pandangan yang di dapat laki-laki setelah melihatmu, kamu juga akan menanggung itu. Dan Aa sebagai suami akan mendapatkan tuntutan yang berat juga nantinya. Atau kamu mau? Aa suruh kamu pakai cadar?"
"Nggak, A' aku belum siap. Maaf deh..."
Bibir Faqih tersenyum tipis. Ia lantas bergeser sedikit lalu mengangkat wajah Nuha yang tertunduk.
"MashaAllah..." gumamnya sambil memandangi wajah yang ekspresinya kini berubah malu.
"Nggak gitu juga ngeliatnya. Berlebihan..." Nuha memalingkan wajahnya sambil senyum-senyum namun Faqih malah justru membawanya kembali dan mencium bibir sang istri.
...💐💐💐...
Pagi di hari pernikahan Zahra akhirnya tiba. Wanita dengan balutan hijab warna putih yang di rias cantik memandangi dirinya di cermin. Beberapa jam lagi akad akan di mulai. Ia akan resmi menjadi istri seseorang.
Acara yang dj gelar memang tidak terlalu gegap gempita yang berlebihan. Hanya beberapa kerabat, dan teman dekat saja. Pernikahan digelar di sebuah gedung.
Sentuhan bunga segar dengan hiasan-hiasan cantik bertema putih di beberapa sudut. Kursi-kursi tertata rapi. Lantunan shalawat terdengar pelan dari pengeras suara.
Satu-persatu tamu berdatangan dengan wajah penuh doa. Bagi Adnan, ini memang pernikahan keduanya. Namun untuk pertama kalinya, ia berdiri sebagai pengantin dalam sebuah resepsi yang benar-benar dipersiapkan.
Karena dulu, ketika menikah dengan almarhumah istrinya mereka bisa menggelar pesta besar. Dan juga tidak ada rangkaian panjang acara. Semuanya sebab kondisi istri pertamanya yang sudah semakin memburuk membuat segalanya dipercepat dan disederhanakan.
Bahkan akad pun di gelar di rumah sakit pada waktu itu. Sungguh, kenangan yang begitu miris jika di ingat. Dan di adakannya acara pernikahan yang meriah kali ini, sebenarnya bukan keinginan Adnan. Namun Ibunya yang menghargai Zahra karena ini pernikahan pertamanya.
...🍂...
Saat waktu akad tiba, Adnan duduk di ruang depan, mengenakan jas putih bersih. Warna itu senada dengan kebaya yang sedang dikenakan Zahra di ruang terpisah. Wajahnya tenang. Jenggot tipisnya dirapikan. Tangannya terlipat di atas paha. Beberapa saksi juga sudah duduk di sampingnya.
“Siap, Mas Adnan?” tanya sang penghulu.
Adnan tersenyum tipis. “InsyaAllah.”
Abah duduk di hadapan Adnan sebagai wali untuk Zahra. Tangan mereka bersentuhan. Suara Abah terdengar tegas meski bergetar halus di ujungnya.
“Ya Adnan Husein. Saya nikahkan dan saya kawinkan putri saya, Azzahra Nurul Huda binti Miftahul Huda, dengan engkau Adnan Husein bin Khoirul Anwar…”
Kalimat itu meluncur pelan, khidmat, namun cukup membuat Ars Allah bergetar. Adnan menarik napas. Lalu menjawab dengan suara mantap.
“Saya terima nikahnya Azzahra Nurul Huda binti Miftahul Huda dengan mas kawin tersebut tunai.”
Kata Sah terdengar jelas dari keluarga dan para saksi-saksi lainnya secara spontan. Takbir pun di ucapkan dengan lantang. Semua bersukacita.
Sepersekian detik berikutnya, suasana mendadak mengharu biru. Beberapa tamu menunduk, menahan air mata. Umi yang berada di ruang sebelah langsung terisak pelan.Zahra memejamkan mata ketika mendengar takbir menggema. kini Ia telah sah menjadi istri seseorang.
Beberapa saat kemudian, Zahra dipersilakan masuk ke ruang akad. Langkahnya pelan. Jemarinya menggenggam ujung kebaya. Matanya sedikit sembab. Namun wajahnya tetap terjaga.
Adnan berdiri ketika Zahra mendekat. Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya dengan sangat intens setelah sah. Dengan ekspresi yang tak bisa di tebak. Pria itu terus memperhatikan istrinya yang kini sudah ada di depan mata.
Aku tidak akan melupakanmu, Marwah? Meskipun sudah ada wanita lain di kehidupanku saat ini.
Setitik air mata terjatuh, pria itu menunduk sembari menyekanya cepat. Papa memegangi bahu Adnan. Meminta pria itu untuk menguatkan hatinya. Adnan mengangguk, kemudian menghembuskan nafas berat. Tangannya yang gemetar menyentuh pucuk kepala istrinya. Bibirnya menggumankan doa kebaikan untuk mereka berdua.
Zahra tersenyum dengan sisa-sisa air mata haru yang membasahi kedua mata Indahnya memandang wajah sang suami yang telah selesai membaca doa.
Maafkan aku, Marwah. Walau aku kesal karena kehidupan ini harus terus berjalan selepas kepergianmu. Dan kini aku harus menikahi wanita lain demi keturunan yang di harapkan oleh Papa dan Mamaku.
Setelahnya, Adnan mengecup kening seorang perempuan, untuk pertama kalinya setelah delapan tahun menduda.
semoga saja otor memberi kamu kesengsaraan dan penyesalan yang lebih dari kamu kehilangan istri pertamamu.