arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUJUH
Erika segera mendongak tetapi tidak tahu harus berkata apa.
Lalu, Gardan mendekatinya dengan cemberut dan membantunya membuka pintu mobil.
Yulia melihat Erika masih berdiri tercengang di tempatnya, lalu sedikit mendorong gadis itu. "Anak bodoh, kenapa kau malah bengong? Sana masuk ke mobil!"
Erika menghela napas dengan lembut dari tersenyum. "Nenek, sudah malam. Kau harus masuk ke rumah. Kami akan pulang sekarang."
Setelah Yulia masuk kembali ke dalam rumah, Erika bisa pergi dan memanggil taksi.
Sepertinya aku harus segera membeli mobil
Sementara itu, Gardan masih marah dan tidak bicara apapun.
Mau tidak mau dia bertanya-tanya apakah Yulia bisa menebak niat Erika. Yulia pun terkekeh dan berkata, "Aku akan masuk setelah kalian pergi. Cepat, masuk ke dalam mobil."
Erika masih merasa sedikit ragu, tetapi Gardan sudah kehilangan kesabarannya dan berkata dengan keras, "Masuk ke mobil!"
Jadi, Erika tidak punya pilihan selain masuk ke dalam mobil. Gardan menutup pintu dan berbalik ke arah Yulia, "Nenek juga harus masuk ke dalam rumah."
Yulia mengernyit dan berkata dengan tidak sabar, "Cukup! Jangan bicara omong kosong lagi. Masuk ke mobil!"
Gardan dibuat terdiam oleh kata-katanya.
Kenapa nenek memperlakukanku dengan berbeda?
Bukankah aku ini cucunya?
Gardan tidak mengatakan apapun. Dia masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya pergi dari mansion.
Suasana di dalam mobil sangat hening hingga mereka bisa mendengar suara napas masing-masing.
Erika tidak ingin berbicara dengannya. Setelah mobil berbelok dan hilang dari pandangan Yulia, Erika berkata, "Hentikan mobilnya."
Suaranya terdengar seperti sebuah perintah, memaksa Gardan untuk mengejek dan berkata, "Mau buru-buru ke mana? Apa kau ingin pergi bertemu dengan pria lain?"
Erika mencibir. "Kenapa kau tidak menghentikan mobilnya? Jangan bilang kalau kau enggan bercerai dan ingin membawaku pulang ke rumah."
Cinitt!
Mobil tiba-tiba berhenti.
Erika menyeringai saat melihat wajah Gardan yang memerah karena amarah dan berbicara sebelum pria itu punya kesempatan untuk mendebatnya, "Jika kau ingin bercerai, lakukan secepatnya. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika aku berubah pikiran. Aku akan terus menempel padamu dan memastikan kau tidak bisa menikahinya atau menceraikanku!
Setelah mengatakan itu, Erika meraih gagang pintu untuk keluar.
Klik!
Gardan tiba-tiba mengunci pintunya.
Erika mengerutkan alis dan berbalik menatap
Gardan. "Apa maksudnya ini?"
Gardan mendengus dengan dingin. "Erika, apa menurutmu nenek akan selalu membelamu?"
"Sudah kuduga. Kau pasti curiga kalau akulah yang membocorkan rahasiamu." Erika terus menyeringai dan berkata, "Tidak masalah jika aku membocorkan rahasiamu. Bukankah bercerai lebih penting bagimu? Tuan Wistam, bisakah kau memastikan kapan kau ingin mendaftarkan perceraian kita?"
Gardan menatapnya dengan tajam. "Apakah kau berencana mengirim seseorang untuk memberitahu nenek saat kita bercerai?"
"Apa sih yang kau pikirkan?" Erika tidak bisa berkata-kata dan menjadi tidak sabar. "Jika kau terus-menerus takut, kita tidak akan pernah bisa bercerai. Jadi, Tuan Wistam, apa kau punya waktu besok?"
Gardan menjawab dengan dingin, "Aku sudah bilang padamu. Asistenku akan menghubungimu saat aku senggang! Keluar dari mobilku!"
Erika mencibir dengan marah. "Kau pikir aku mau di sini? Gardan, suatu hari nanti kau akan membayar atas sikapmu yang arogan itu!"
Setelah mengatakannya, dia tidak menoleh sama sekali dan keluar dari mobil. Melihat Gardan sudah tidak sabar ingin pergi. Erika mengejek dan sengaja membiarkan pintu mobil terbuka. Lalu, dia berjalan menjauh dengan santai dan berkata, "Aku pergi dulu, Tuan Wistam."
Gardan menggertakkan giginya. "Erika!"
Erika menyeringai sambil berbalik, tidak menoleh ke belakang sama sekali dan berjalan di trotoar.
Dua jam kemudian, Gardan sampai di perusahaan.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Dia pun segera mengangkatnya.
"Bos, dia sudah meninggalkan area perbukitan, dan aku mengikuti sampai ke rumahnya. Tidak ada yang terjadi selama perjalanan, dan dia tidak bertemu dengan siapapun."
Ekspresi wajah Gardan langsung menggelap. Matanya berkilat penuh kebencian pada Erika.
Amarahnya memuncak saat dia ingat betapa Erika bersikap seolah-olah dia tidak ingin punya hubungan apapun lagi dengannya.
"Kau tidak perlu mengikutinya lagi."
Orang di ujung telepon pun tertegun. "Baik, tuan."
Lalu, Gardan menutup telepon dengan marah. Dia tidak ingin lagi mendengar apapun tentang Erika. Itu hanya akan membuatnya semakin kesal.