"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Konspirasi Supra dan Rahasia di Balik Bulu Oranye
Sabtu pagi yang harusnya tenang berubah menjadi mendebarkan saat sebuah mobil berwarna ungu metalik—yang menurut pemiliknya adalah warna "aura proteksi"—berhenti di depan rumah Dira, Manda turun dengan kacamata hitam besar dan syal yang melilit lehernya, padahal cuaca Jakarta lagi panas-panasnya sampai aspal bisa buat goreng telur.
"Dir! Buka pintunya! Gue bawa detektor frekuensi!" teriak Manda sambil menggedor pintu.
Dira membukakan pintu dengan wajah lelah. Dia baru saja selesai berdebat dengan Bagas soal apakah Supra boleh ikut arisan komplek atau tidak.
"Man, kalau lo mau bahas soal alien yang nyamar jadi tukang paket lagi, mending lo balik kanan sekarang."
Manda masuk dengan langkah waspada. Manda menyisir ruangan, sampai matanya tertuju pada Supra yang sedang duduk dengan wibawa di samping patung Jago. Supra hari ini memakai ID Card kardusnya dengan bangga.
Manda membeku. Melepas kacamata hitamnya perlahan.
"Dir... itu apa?"
"Itu kucing, Man. Namanya Supra. Kaki pincangnya asli, bukan buatan," jawab Dira sambil kembali duduk di depan laptopnya.
Manda mendekati Supra dengan gerakan sangat pelan, seolah-olah Supra adalah bom waktu yang siap meledak. Manda memperhatikan ID Card di leher Supra. "SUPRA - MANAGER KEAMANAN".
"Dira! Lo nggak sadar?!" Manda berbisik histeris.
"Kucing oranye itu adalah entitas paling berbahaya di alam semesta! Dan lo malah kasih dia JABATAN STRATEGIS?!"
Bagas muncul dari dapur sambil membawa piring berisi kerupuk. "Eh, ada Manda. Kenapa, Man? Lo mau daftar jadi asisten Supra? Maaf ya, lowongannya udah ditutup buat manusia yang nggak bisa nangkep kecoak pake mulut."
Manda menunjuk Bagas dengan jarinya yang gemetar. "Gas! Lo tau nggak kenapa kucing oranye itu sering bertingkah aneh? Itu karena mereka punya antena rahasia di bulunya buat ngirim data ke planet lain! Apalagi si Supra ini, dia punya ID Card. Ini jelas konspirasi buat menguasai data pribadi kita!"
Bagas malah mangut-mangut sambil ngunyah kerupuk. "Pantesan, Man! Tadi pagi Supra ngetuk-ngetuk lantai pake kode morse. Gue kira dia mau minta makan, ternyata dia lagi kirim laporan bulanan ke Neptunus ya?"
"BAGAS! Jangan diajak bercanda!" potong Dira.
"Man, Supra itu cuma kucing terlantar yang dipungut Bagas. Nggak ada antena, nggak ada planet lain. Adanya cuma kutu yang baru aja gue bersihin."
Manda mengeluarkan sebuah alat kecil dari tasnya—sebuah kompas mainan yang dia klaim sebagai alat pendeteksi energi negatif. Manda mengarahkannya ke Supra. Kompas itu berputar-putar (mungkin karena Bagas naruh magnet di bawah meja).
"Liat! Energinya nggak stabil!" seru Manda.
"Terus, kenapa dia duduk di sebelah patung ayam jago ini? Ayam adalah simbol penguasa fajar. Kucing adalah penguasa malam. Dir, Bagas... rumah kalian ini sekarang jadi portal pertemuan dua dimensi!"
Supra mengeong pendek, lalu mulai menjilati kakinya sendiri dengan santai.
"Tuh kan! Dia lagi nge-reset sistem!" pekik Manda lagi.
Bagas yang dasarnya suka memanaskan suasana, langsung mendekati Supra. "Supra, tunjukkin ke Tante Manda kalau lo itu profesional. Coba... laksanakan tugas keamanan lo!"
Tiba-tiba, seekor laron lewat di depan hidung Supra. Dengan satu gerakan kilat—meski kakinya pincang—Supra melompat dan HAP! Laron itu tertangkap di cakar depannya. Supra kemudian menatap Manda dengan tatapan dingin, seolah berkata, "Gue kerja, lo bacot doang."
Manda mundur tiga langkah. "Dia... dia baru saja mengeliminasi saksi mata! Laron itu pasti intel kiriman dari mantan gue yang mau nyadap pembicaraan kita!"
Dira memijat pelipisnya. "Man, laron itu emang musimnya. Udah deh, mending lo duduk, kita makan rendang jengkol lapis emas sisa nyokap Bagas. Siapa tahu jengkol bisa menetralisir teori konspirasi di otak lo."
Manda akhirnya duduk, tapi matanya tetap tidak lepas dari Supra. "Oke, gue makan. Tapi kalau nanti malam tiba-tiba ada cahaya biru turun dari langit dan nyulik Supra, jangan bilang gue nggak kasih tau ya."
"Kalau Supra diculik alien, gue titip pesen aja ke mereka, Man," sahut Bagas santai. "Tolong balikin Supra sebelum hari Senin, soalnya dia ada jadwal audit kecoak di gudang."
Dira hanya bisa geleng-geleng kepala. Di satu sisi ada Bagas yang otaknya di luar nalar, di sisi lain ada Manda yang dunianya penuh teori gila.
Dira merasa rumahnya bukan lagi sebuah tempat tinggal, melainkan sebuah laboratorium sosial yang sangat, sangat gagal.
Sambil menikmati jengkol, Manda tiba-tiba berbisik ke Dira, "Dir, gue curiga patung ayam lo ini juga dengerin kita. Coba liat kacamata hitamnya... itu pasti lensa kamera tersembunyi."
Dira menghela napas panjang, lalu menyuapkan potongan jengkol besar ke mulut Manda. "Makan, Man. Makan. Biar mulut lo sibuk ngunyah daripada bikin gue pengen pindah planet."
Manda tidak lagi banyak berbicara, karena mulutnya di sumpal potongan jengkol besar oleh Dira.
Bagas yang melihat hal tersebut malah cekikikan kaya kuntilanak kejepit.
Bagas diam saat Dira memberikan tatapan mata mautnya.
Kini, ketiganya makan dengan tenang, Supra tetap setia di samping patung jago Bagas.
Hari itu berakhir dengan Manda yang pulang sambil membawa selembar bulu Supra yang rontok—dia bilang mau dibawa ke lab (yang sebenarnya cuma tempat fotokopi temennya) buat dicek kadar aliennya.
Sementara itu, Supra kembali tidur dengan pulas di atas ID Card-nya, dan Bagas sibuk mencatat "Kinerja Supra: 1 Laron, 0 Kecoak, 1 Teman Istri Kena Mental".
Dira menatap mereka semua dan bergumam, "Tuhan, kalau nanti aku punya anak, tolong jangan kasih frekuensi yang sama kayak mereka semua."
"Kalo gak... entah apa yang terjadi dengan diriku ini Tuhan."
"Bisa-bisa seluruh rambutku ini berdiri."
Tapi, apakah doa Dira akan terkabul? Ataukah di bab selanjutnya, justru Dira yang mulai terpengaruh teori gila mereka gara-gara token listrik yang mendadak bunyi tengah malam?
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍